
Hayler tidak berniat mengejarnya tapi berpikir lebih dalam. Sejak dia menikahi Yuki, orang tuanya kurang puas.
Terutama ibunya. Namun tidak tahu kenapa, ibunya menjadi aktif ingin menginginkan seorang cucu dan meminta Yuki melahirkan.
Untuk mendukung tubuh Yuki, ibunya memberikan banyak obat herbal untuk diminum secara rutin.
Terutama setelah keduanya melakukan hubungan ranjang. Hayler tidak pernah curiga jadi tidak menegur tindakan Yuki ketika meminum obat.
Apakah ada yang salah dengan ramuan itu?
Tidak mungkin ibunya melakukan sesuatu kepada Yuki.
Jika tidak, Yuki tidak akan hamil pada akhirnya, bukan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rencana bersantai di pantai gagal ketika Shirley sakit. Yuki sibuk di rumah sakit dan tidak berniat untuk berenang lagi.
Nobu dan Mirain juga tidak pergi. Pada hari ketiga mereka selesai liburan, Daleon datang menjemput dan baru tahu jika Shirley dirawat.
Ketika datang ke rumah sakit, Daleon tampak tergesa-gesa.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya pada Yuki.
"Sudah membaik. Dokter bilang dia bisa keluar rumah sakit besok. Maaf tidak memberimu kabar ini. Kamu pasti sibuk di rumah sakit," jawab Yuki.
"Tidak apa-apa, tidak sesibuk itu." Daleon baru saja bekerja di rumah sakit yang baru dan tidak baik untuk cuti lebih banyak. Jadi bisa memahami apa maksud Yuki.
Shirley sudah bangun dan tampak lebih aktif setelah tubuhnya membaik. "Ayah angkat, kamu akhirnya datang." Dia sangat senang.
"Tentu saja. Maaf, Ayah Angkat tidak membelikanmu buah. Nanti aku pergi membelinya untukmu."
"Tidak apa-apa." Shirley tidak berharap Daleon akan membeli buah. Melihatnya saja sudah senang.
Ketika lahir hingga umurnya sekarang, si kembar tidak tahu ayah kandungnya. Ibunya bilang ayah mereka tidak ada dan tidak perlu bertanya lagi. Karena itu ketika Daleon menjadi ayah angkat mereka, rasanya sudah melengkapi kerinduan cinta ayahnya.
Shirley ingat saat tubuhnya tidak nyaman malam itu, rasanya dia memeluk seseorang. Tubuhnya kokoh dan nyaman saat dipeluk. Dia mengira itu ayahnya namun Yuki tidak bicara banyak.
Sedangkan Valley tidak lagi mengatakan sesuatu ketika menyangkut sosok ayah kandung mereka. Ia dan Hayler memiliki rahasia dan ibunya tidak boleh diberi tahu.
Daleon tidak bisa tinggal lama di sini. Karena rencana telah berubah, ia hanya bisa meninggalkan mobil untuk mereka dan kembali dengan naik taksi.
"Maaf merepotkanmu," kata Yuki.
"Tidak masalah. Hubungi aku jika ada sesuatu." Daleon enggan untuk pergi.
"Ya."
Daleon pergi setelah mengusap kepala Shirley dan Valley. Tak lupa dia juga membeli sekeranjang buah untuk Shirley dan dititipkan pada perawat untuk diberikan padanya.
"Bu, aku ingin makan apel," kata Shirley.
"Oke, Ibu akan mengupasnya untukmu."
Yuki segera mengambil apel dan mengupasnya dengan rapi. Khawatir putrinya kesulitan makan, apel dipotong kecil-kecil.
"Bu, apakah aku akan sembuh?" tanya gadis kecil itu dengan ekspresi sedikit sedih.
Gerakan Yuki memotong apel sedikit terhenti sejenak. "Tentu saja, Shirley pasti sembuh. Anak Ibu pasti sembuh. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja, kamu hanya perlu istirahat lebih banyak."
"Aku juga ingin main seperti anak-anak lainnya. Bisakah aku melakukannya di masa depan?"
Mata Yuki sedikit memerah ketika memikirkan penyakit putrinya lagi. "Tentu, Shirley pasti bisa bermain seperti anak-anak lainnya. Tapi tunggu sembuh dulu, ya?"
"Kapan aku bisa sembuh?"
"Segera ... segera, Shirley pasti sembuh di masa depan." Yuki menghela napas berat dan gerakannya memotong apel sedikit tidak kaku.
Valley segera menghibur adiknya agar tidak bersedih. Dia pasti akan bermain dengannya di masa depan.
Karena Shirley sakit, ia tidak masuk sekolah keesokan harinya. Hal ini juga membuat orang tua Yuki tahu bahwa cucu perempuan mereka sakit dan dirawat.
Ketika pulang keesokan harinya, Nyonya Elisa dan Tuan Frangky ada di rumah. Kepulangan mereka segera disambut. Nobu dan Mirain tidak mampir dan langsung pulang. Mereka berjanji akan datang menjenguk Shirley nanti.
"Kenapa kamu tidak menelepon Ibu jika Shirley sakit?"
"Maaf, Bu. Aku tidak ingin kamu khawatir." Yuki hanya tersenyum datar padanya.
"Kamu, Nak— benar-benar tidak pernah berubah."
Nyonya Elisa menggelengkan kepala. Dia memeriksa cucu perempuannya yang baru saja sembuh. Ada jejak lubang jarum di sekitar lekukan lengan kiri Shirley. Sepertinya baru saja transfusi darah.
Ia melirik Yuki. Ingin tahu siapa yang memberi darah pada cucu perempuannya. Memikirkan pria itu lagi, mungkinkah ....
"Sayang, kamu bermain dengan kakek dulu. Nenek ingin bicara sesuatu pada ibumu." Nyonya Elisa mengelus kepala cucunya dan bicara dengan lembut.
Shirley mengangguk dan mengajak Valley untuk bicara dengan Tuan Frangky. Tentu saja Tuan Frangky tahu jika istrinya ingin bicara sesuatu dengan Yuki jadi membawa kedua cucunya ke atas.
Setelah ketiganya naik, Nyonya Elisa menunjuk ekspresi serius.
"Katakan pada Ibu, apakah Hayler yang mendonorkan darahnya?"
Yuki mengangguk. "Aku tidak tahu ini akan terjadi. Saat kondisi Shirley tidak benar saat itu, dokter menyarankan untuk transfusi darah. Tapi darah Shirley istimewa dan orang yang memiliki darah yang sama ada di negara J saat ini. Kemudian ... Hayler mengajukan diri untuk mendonorkan darahnya."
"Apakah pria itu sudah tahu jika kedua anak itu—" Nyonya Elisa tidak melanjutkan kata-katanya.
"Bu, aku curiga Hayler sudah menebaknya. Si kembar memiliki kemiripan dengannya. Apa yang harus kulakukan?"
"Apakah dia pernah membicarakan ini sebelumnya?"
Yuki menggelengkan kepala. "Tidak, tapi dia selalu ingin bertemu dengan keduanya. Aku selalu curiga dia ingin menculik kedua anakku jadi ... aku menentang keinginannya. Tapi malam itu Valley tinggal bersamanya di hotel. Aku tidak memiliki pilihan lain karena hanya dia yang bisa menjaganya."
Ia melonggarkan kewaspadaannya malam itu karena Hayler telah membantunya. Terutama mendonorkan darahnya untuk Shirley. Jadi saat Valley diajak menginap di hotel, ia tidak menolak.
"Jadi, apakah kamu sudah memutuskan sesuatu setelah semua ini terjadi?" Nyonya Elisa hanya bisa bertanya pada putrinya lagi.
Yuki mengambil keputusan yang berani. "Paling buruk ... kenali saja mereka."
Yuki tidak ingin merusak rumah tangga orang lain meski dulu rumah tangganya hancur.
Tapi demi kedua anaknya, ia tidak akan melembutkan hati untuk siapapun.
Bahkan jika Hayler memiliki istri, kedua anak itu juga butuh seorang ayah.
Tidak apa-apa untuk tidak bercerai selama Hayler tidak akan merugikan kedua anaknya.
Tapi jika pria itu menginginkan Shirley dan Valley masuk dalam silsilah keluarga Jhonson Del, maaf, dia tidak akan menyetujuinya!
Nyonya Elisa melihat putrinya yang selalu memikirkan masa lalu, mau tidak mau menghela napas.
Betapa baik putrinya dulu dan betapa kuatnya nya ia sekarang. Sayang sekali pria seperti Hayler buta karena kekuasaan.
Apa gunanya jabatan itu?
Apakah sangat penting?
Sekarang Hayler mendapatkan keinginannya, kenapa harus muncul lagi di depan putrinya sebagai mantan suami.
Dulu menyelingkuhi istrinya dan sekarang masih sama. Hayler memang bukan pria yang baik.
Kemudian memikirkan Daleon lagi, Nyonya Elisa merasa disayangkan. Yuki juga tidak menyukai pria itu dan hanya menganggapnya sebagai teman.
Bagaimana mungkin dia tidak menyadari jika putrinya masih merindukan mantan suami?