
Kehadiran Hayler membuat orangtua Yuki agak canggung. Keduanya tidak suka dengan Hayler. Namun sejak Tuan Frangky bicara empat mata dengan Steven, tampaknya beberapa kecanggungan menghilang sedikit demi sedikit.
Nyonya Elisa ingin tahu apa yang dikatakan Steven pada suaminya. Namun uang tahun cucunya sedang berlangsung. Tidak terlalu pantas untuk bertanya secara terang-terangan.
Ulang tahun Valley dan Shirley berjalan dengan baik. Yuki sempat bicara empat mata dengan Hayler sebelum akhirnya kedua anak itu memiliki banyak waktu dengan ayah kandung mereka.
Untungnya, Daleon bukan tipe pria yang berpikiran pendek. Meski dia tak bisa menikah dengan Yuki di masa depan, setidaknya anak-anak itu menganggapnya ayah angkat yang baik. Ini sudah cukup baginya
"Kamu asisten Hayler bukan? Ayo, minumlah! Jangan pulang sebelum kamu mabuk." Nobu tersenyum licik pada Brim yang sedang menikmati kue ulang tahun.
"Tidak, tidak. Aku akan mengemudi nanti. Tidak baik mabuk." Brim datang bersama Hayler, menjadi sopirnya. Adapun Steven, meski satu mobil, pria itu pasti akan dijemput seseorang nanti.
Nobu tertawa mengejek. "Lemah! Mirain, lihat dia, bahkan tak lebih baik darimu."
"Oh, pesta ulang tahun dan anggur orang dewasa sangat cocok. Tapi Tuan Brim sangat polos hingga tidak mau minum. Kendali alkoholnya mungkin tidak baik. Jangan paksa dia." Mirain sengaja menyindirnya juga.
Brim ingin muntah darah jika bisa. Kedua wanita itu sengaja membencinya Karena berhubungan dengan Hayler. Sebagai sahabat Yuki, keduanya layak memperhatikan hal tersebut. Apa salahnya? Dia bahkan tak ikut campur dengan perasaan Hayler ada Yuki. Kenapa dia menjadi karung tinju?!
Tanpa diduga, Daleon memberikan gelas anggur padanya. "Ini hanya anggur buah, kenapa kamu begitu takut untuk mabuk?"
Daleon tahu jika Nobu dan Mirain sengaja menggoda Brim.
"Anggur buah?" Brim terkejut.
Anggur buah tidak memabukkan karena benar-benar sari anggur yang manis. Dia mencobanya dan benar saja, tak ada rasa alkohol di dalamnya. Mau tidak mau dia menatap Nobu dan Mirain, menatapnya dengan penuh lelucon.
Brim menggertakkan gigi. "Kalian disengaja."
Akhirnya Nobu dan Mirain tak tahan lagi. Keduanya tertawa. Wajah Brim tak bisa dikatakan baik. Dia kesal dan marah tapi tak berdaya. Ia menyalahkan Hayler dalam hatinya.
"Ini ulang tahun si kembar. Bagaimana mungkin ada anggur beralkohol? Bibi Elisa tidak akan menyiapkan lebih dari satu botol anggur beralkohol di meja," ucap Mirain.
"Mari kita minum setelah si kembar selesai merayakan ulang tahun." Mirain mengusulkan idenya.
"Ya, ide bagus. Daleon, bagaimana denganmu?" Nobu melirik pria di samping Brim.
Sayangnya Daleon menggelengkan kepala. "Aku akan bekerja besok. Tidak bisa menyentuh alkohol."
Sebagai seorang dokter, alkohol adalah sesuatu yang harus dihindari. Nobu dan Mirain tidak memaksanya. Keduanya juga tahu tentang kebiasaan seorang dokter.
Jadi setelah pesta selesai, si kembar sudah tidur di kamarnya. Hayler menemani mereka sampai tidur sebelum akhirnya kembali ke ruang tempat diadakannya pesta.
Nyonya Elisa juga pegi bersama suaminya. Membiarkan anak muda bermain sendiri.
"Apakah keduanya sudah tidur?" tanya Daleon.
Hayler mengangguk. "Terima kasih sudah menjaga mereka selama ini," katanya.
"Bukan masalah. Aku adalah ayah angkat mereka." Daleon mengangguk, tidak mau kalah menentukan posisi di hati si kembar.
Hayler tidak bisa berkata apa-apa. Dia seperti dipaku di tempat. Dari kehamilan Yuki hingga si kembar lahir, dirinya tak ada di sana. Sehingga tak bisa berkomentar tentang kehidupan Valley dan Shirley di negara J saat itu.
"Di mana Yuki?" tanya Nobu.
"Dia ikut tidur dengan keduanya. Terlalu lelah, biarkan dia tidur." Hayler sedikit canggung.
Tentu saja tak sepenuhnya benar. Si kembar tidur lebih awal karena kelelahan. Lalu dia dan Yuki memiliki waktu sebentar untuk bersama. Keduanya sudah lama tak membakar api sehingga memadamkannya sebentar.
Untungnya mereka tak mengungkit masalah ini lagi dan mulai mabuk. Hayler minum beberapa teguk saja. Adapun Steven yang sangat pendiam, memilih untuk pergi lebih awal. Kebetulan sopirnya datang menjemput dengan alasan keluarga mencarinya.
Barulah setelah dia pergi, Daleon duduk di samping Hayler.
"Kamu memiliki perjanjian dengan Steven?" tanyanya pelan.
Hayler mengerutkan kening. "Beberapa masalah kecil. Lebih baik untuk tidak mencari tahu." Ia sedikit memeringatinya. Bukan berarti tidak mau cerita. Sayangnya ia tak bisa mengatakan apa-apa.
"Aku tahu. Aku hanya bertanya. Karena kamu kembali ke hadapan Yuki, jangan mengecewakannya lagi."
"Itu tidak akan terjadi lagi."
"Bagus."
Keduanya memikirkan obrolan yang panjang hingga hari semakin larut. Nobu dan Mirain tidak pulang dan menginap di rumah Yuki. Kamar tamu sudah disiapkan untuk mereka.
Hayler, Brim dan Daleon pulang. Ketiganya memiliki pekerjaan tersendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketika Hayler pulang, jam sudah lewat pukul dua. Dia sedikit mabuk dan tubuhnya agak gerah karena efek alkohol. Lita sebenarnya sudah tidur. Namun mendengar pergerakan dari luar, dia terjaga kembali.
"Hayler, apakah kamu pulang?" Lita yang agak mengantuk melihatnya masuk kamar.
"Ya. Kamu bisa tidur kembali." Hayler setengah mabuk dan malas bicara dengannya. Namun karena sudah kebiasaan, nada bicaranya sama sekali tidak mencurigakan.
"Tunggu!" Lita menghentikannya. "Ke mana kamu pergi? Dengan siapa kamu malam ini?"
Lita melihat jejak lipstik di leher Hayler. Walaupun agak tersembunyi, ia masih bisa menemukan jejaknya. Pikiran kita tenggelam dan dia sedikit panik. Ia curiga jika Hayler selingkuh selama ini. Tapi siapa yang bersamanya.
Menghadapi pertanyaan seperti itu, Hayler memperhatikan tatapan Lita ke arah lehernya. Ia pergi ke kamar mandi dan melihat jejak ciuman di lehernya. Yuki lagi-lagi sengaja melakukannya.
"Hayler, katakan padaku. Apakah kamu selingkuh?" Lita sangat curiga, tidak lagi peduli apakah Hayler akan marah atau tidak.
Hayler tidak menjawab. Namun setelah beberapa saat, di menjawab dengan nada enteng. "Tidak apa-apa. Hanya tidak sengaja menyentuhnya."
Lita merasa jantungnya akan berhenti di tempat. Hayler tidak mengelak kali ini. Semua itu tidak sengaja? Pulang larut malam kadang menjelang dini hari, mungkinkah pergi ke tempat selingkuhannya?
"Katakan siapa itu?" tanyanya cemas.
"Hanya wanita acak."
"Hayler—" Lita ingin mengatakan sesuatu namun melihat Hayler menatapnya, kata-katanya tertahan di tenggorokan. "Hayler, aku hanya ...."
"Lita ..." Hayler menyela ucapannya. "Tidakkah kamu tahu bahwa selingkuh itu bisa kecanduan," ucapnya datar.
Wajah Lita sedikit berubah. Walaupun tidak tahu apa artinya, ia bisa mengerti jika sekali selingkuh, akan ada kedua dan ketiga atau keempat kalinya.
Hayler berselingkuh di belakang Yuki. Kemudian Lita diselingkuhi lagi. Hayler hanya ingin memperingati Lita jika dirinya selingkuh, tak perlu repot untuk mengungkitnya.
Hayler malas untuk mandi dan dia hanya ingin tidur. "Aku akan pergi ke ruang kerja untuk mengurus beberapa pekerjaan yang tersisa. Tidurlah, ini sudah dini hari," bisik Hayler seraya menyentuh wajah Lita.
Lita terbujuk dan akhirnya mengangguk. Selama Hayler tidak meninggalkannya, tak masalah. Namun dia ingin mencari tahu dengan siapa Hayler akhir-akhir ini. Siapa wanita yang berani merayu suaminya?