
Tuan Johnson Del tidak cerita tentang masalah tersebut dan segera pergi setelah selesai. Yuki tidak berniat membawa kedua anaknya jalan-jalan dan akhirnya pulang. Si kembar mendapatkan hadiah pertemuan pertamanya dengan Tuan Johnson Del, tentu merasa sangat senang.
“Ibu, kakek sangat baik,” kata Shirley.
Yuki sedang fokus mengemudi. “Apakah kalian suka dengan kakek?”
Keduanya mengangguk. Yuki menghela napas lega. Meski Nyonya Luffs tidak menyukainya tapi Tuan Johnson Del sangat baik padanya. Ia memanggilnya dengan sebutan paman karena sebelum menikah sebelumnya, ia kenal dengan Tuan Johnson Del. Dari dulu sering memanggilnya paman.
“Lain kali jika bertemu, jangan lupa memberi hadiah untuk kakek.”
“Apa yang disukai kakek?” tanya Valley.
Yuki sepertinya memikirkan sesuatu tapi tidak tahu apa yang disukai oleh Tuan Johnson Del. “Ibu akan menanyakannya nanti.”
Maksudnya, Yuki akan bertanya pada ibunya. Mungkin Nyonya Elisa tahu kesukaan Tuan Johnson Del mengingat keduanya dulu adalah mantan kekasih. Ia berharap jika ayahnya tidak akan cemburu karena masalah ini.
Setibanya di rumah, orangtuanya belum kembali dari perjalanan bisnis. Valley dan Shirley mudah lelah setelah seharian bermain sehingga memilih untuk tidur di kamar. Yuki kembali ke ruang kerjanya untuk mengurus beberapa pekerjaan yang tersisa.
Keesokan harinya, si kembar harus bersekolah. Yuki mengantarkan Shirley dan Valley ke sekolah dan menyapa wali murid kelas di mana Shirley berada. Ia hanya berpesan untuk menjaga Shirley agar tidak kelelahan selama belajar.
Masalah nilai, ia akan mengevaluasi pekerjaan rumah putrinya. Shirley dan Valley mencium pipi Yuki sebelum masuk ke halaman sekolah.
“Ibu akan menjemput kalian setelah kelas usai. Jangan berkeliaran, okay?”
Keduanya mengangguk. Yuki mengusap kepala keduanya dan membiarkan mereka segera pergi sebelum terlambat. Melihat keduanya masuk bersama guru, Yuki pun meninggalkan kawasan sekolah. Ia juga langsung pergi ke perusahaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di perusahaan Delton Corp, Hayler mengadakan pertemuan dengan beberapa direktur mengenai perencanaan proyek baru yang akan dijalankan perusahaan mereka bulan depan. Hayler telah memenangkan tanah yang cukup luas. Setidaknya cukup untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan untuk berbagai barang luar negeri.
“Saat ini, kesukaan masyarakat terhadap barang luar negeri cukup tinggi. Ada banyak barang yang setiap hari diimpor tapi harganya cukup tinggi ketika sampai ke tangan pembeli. Belum lagi biaya lainnya. Dengan membangun pusat perbelanjaan ini, kita bisa menempatkan barang di toko melalui kerja sama dengan penjual yang ada di luar negeri. Selain mereka yang bisa menjual barang tanpa khawatir kendala, kita juga memiliki keuntungan dari transaksi.” Hayler memperlihatkan simulasi pusat perbelanjaan yang akan dibangunnya di masa depan.
Yang lainnya setuju tentang ini dan mengeluarkan pendapatnya tentang pusat perbelanjaan baru. Mereka telah bergerak di berbagai bidang selama ini. Tentu saja hasilnya juga memuaskan.
Hayler menyerahkan dokumen pada Brim yang ada di sampingnya. Dokumen itu pun diberikan pada direktur perencanaan untuk memulai kelompok.
“Dalam waktu satu bulan, aku ingin perencanaan nya selesai. Setiap satu minggu sekali, aku akan memeriksa datanya.” Hayler tidak suka menunda-nunda pekerjaan.
Jika menurutnya satu bulan harus selesai, maka tentu tidak boleh kelebihan waktu. Jika masih belum selesai, posisi penting direktur perencanaan akan hilang. Roberto selaku direktur perencanaan mengangguk serius.
“Jangan khawatir, Bos. Semuanya dalam kendali.”
Hayler tidak memiliki apa-apa untuk dibahas dan mengakhiri rapat. Ia kembali ke kantornya dan memijat pelipisnya. Hari sudah siang dan ia juga lapar.
“Pesan kan take away,” katanya.
Brim baru saja mengambil secangkir kopi untuknya. “Tidakkah kamu makan di restoran?”
“Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Lita juga memutuskan untuk kembali ke perusahaan sehingga aku harus mengurus sisanya sebelum dia kembali.”
Hayler mengerutkan kening. “Tidak terlalu baik. Kali ini sepertinya Lita ingin mengawasiku secara pribadi dan juga melakukan pertemuan dengan Rodney. Terakhir kali aku bertengkar dengannya, ibu memintaku untuk membiarkan Lita menjadi sekretarisku lagi.”
“Dulu dia menolak, sekarang melamar. Pikiran wanita sungguh berubah-ubah,” gumam Brim.
Hayler meminum kopinya sedikit demi sedikit seraya melihat sisa lembaran dokumen yang harus ditandatangani. Tak lama ponselnya berdering. Nama Baby Shirley tertera di layar.
Suasana hati Hayler menjadi cerah seketika. Membuat Brim memutar bola matanya. Sepertinya menebak sesuatu yang indah. Jika bukan Yuki yang menelpon, pasti salah satu dari si kembar.
Baru saja menjawab panggilan telepon, suara Shirley yang menangis membuat senyum Hayler seketika memegang.
"Putriku sayang, kenapa menangis? Apakah seseorang menggertakmu di sekolah?" tanyanya.
Brim sedikit serius ketika mendengarnya.
Udara Shirley di ujung telepon sedikit terputus-putus hingga akhirnya digantikan oleh Valley. Dia juga sama-sama menangis namun setidaknya masih lebih kuat daripada adiknya.
Mendengar apa yang terjadi, wajah Hayler akhirnya menegang dan senyumnya menghilang seketika. Ia bangkit dan mengambil jasnya yang tersampaikan di punggung kursi.
"Jangan panik, ayah akan segera datang ke sana. Tetap bersama guru, okay? Apakah kamu mendengar kata-kata ayah?"
Setelah memastikan jawaban Valley, Hayler langsung menutup panggilan dan berjalan lebar keluar kantor seraya memakai jasnya.
"Kamu mau ke mana? Apa ada sesuatu terjadi?" tanya Brim juga mengikutinya.
"Yuki mengalami kecelakaan," jawab Hayler. Ia menyipitkan mata. "Periksa persimpangan jangan menuju ke sekolah tempat si kembar berada. Apakah ada sesuatu yang janggal di sana," katanya.
Dengan kata lain, Brim tidak bisa pergi dengannya saat ini.
"Kecelakaan mobil?" Brim terkejut. "Lalu si kembar ...."
"Mereka aman. Yuki mengalami kecelakaan saat sedang menjemput si kembar pulang sekolah. Dia bersama wali kelas kepercayaan Yuki sekarang. Aku akan pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Yuki. Kamu urus sisanya."
Hayler tidak berbasa-basi lagi dengannya dan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Adapun Brim, dia melakukan apa yang diminta Hayler. Tentu saja memanggil kantor kepolisian setempat untuk meminta bantuan mereka memeriksa kamera keamanan di sekitar lokasi kejadian.
Namun saat mendapatkan jawaban setelah cukup lama menunggu, Brim terkejut.
"Kamera pengawas di persimpangan rusak beberapa hari lalu? Ini aneh. Sejak kapan kota besar ini bahkan tak bisa membeli kamera pengawas yang bagus?" gumamnya.
Sebenarnya kecurigaan Brim saat mengetahui kamera pengawas telah rusak sangat besar. Ads banyak kemungkinan. Yuki hanya memikirkan atau musuh yang taknlain adalah Lita. Sedangkan uji
Brim kembali menghubungi beberapa kenalannya untuk memastikan apakah kecelakaan di sana murni kecelakaan atau ada maksud lain. Dia curiga dengan Rodney yang sengaja ingin membuat Yuki mengalami kecelakaan.
Jika benar, maka Rodney mungkin sudah mencari tentang hubungan Yuki dengan Hayler. Brim melihat dokumen yang harus diperiksa serta menyelesaikan masalah pemeriksa kamera pengawas di persimpangan jalan ....
"Sial! Kenapa Hayler sldallu melemparkan pekerjaannya padaku. Aku ingin bonus bulan ini!"