
Di depan Valley, dia tidak mau terlihat seperti pria yang malas.
Valley menguap dan masih duduk di tempat tidur. "Apakah ini sudah siang?"
"Ini masih pagi. Bukankah kamu ingin segera pergi menemui adikmu?"
Tentu saja aku ingin! Valley membatin.
"Mungkinkah kamu ingin aku membantumu mandi?" Hayler menyipitkan mata.
Apakah anak kecil ini masih manja dan ingin dimandikan oleh Yuki?
Valley cemberut. "Aku sudah besar! Aku mandi sendiri!" Dia langsung turun dan pergi ke kamar mandi.
Sebelum Valley menutup pintu, Hayler memberi tahu. "Hati-hati di kamar mandi. Panggil aku jika butuh sesuatu."
"Aku tahu. Kamu benar-benar paman yang cerewet!"
Seketika, pintu kamar mandi ditutup agak keras. Dan pada saat yang bersamaan, Hayler juga berwajah kesal.
Menyentuh wajahnya yang segar, apakah dia terlihat seperti seorang paman?
Dia jelas sudah memperhatikan wajahnya di cermin kamar mandi, tidak ada kerutan, kecuali wajahnya yang lelah karena lembur kerja.
Mungkin ia harus melakukan perawatan wajah agar terlihat lebih segar dan tidak kusam. Lalu olahraga rutin untuk menjaga tubuhnya tetap bagus.
Bagaimana mungkin dia kalah dari pria bernama Daleon itu?
Tidak mungkin!
Kemudian Brim datang dengan membawa pakaian ganti untuk Valley.
"Di mana sarapannya?" tanya Hayler.
"Tidakkah kamu ingin sarapan di bawah?" Brim merasa bingung.
"Bawa saja ke sini dan pesan makanan yang tidak terlalu berat di perut. Aku akan membayar lebih."
Brim sedikit tidak senang. "Kamu menyalahi aturan hotel ini."
Tapi Hayler mencibir. "Setidaknya aku adalah pemilik hotel ini. Kamu bisa apa?"
"..." Sangat jahat! Brim tidak berdaya dan pergi lagi untuk memberi tahu koki hotel.
Setengah jam kemudian, Valley keluar kamar mandi dengan rambutnya yang masih menetes air.
Hayler membantunya mengeringkan rambut dan berpakaian. Dia tidak canggung saat melakukan ini karena terkadang membantu Hayrus berpakaian.
Tapi dia sama sekali tidak memikirkan Hayrus saat ini. Dan Lita menelepon semalam untuk menanyakan kabarnya.
Hayler telah mengatur orang-orang di perusahaan dan dia berpura-pura sedang melakukan perjalanan ke luar kota. Setiap gerakannya akan dirahasiakan.
"Paman, apakah kamu kenal ibuku?" tanya Valley basa-basi.
Setelah bergaul dengan pria itu semalam, dia memiliki sedikit kesan baik.
"Bagaimana menurutmu?"
Hayler percaya jika anak laki-laki itu lebih pintar dan sulit diatur. Tapi jangan salah, pikirannya berbeda dari anak-anak seusianya. Ia mengetahui jika si kembar memiliki nilai sekolah yang sangat bagus.
"Tapi ibu tampaknya tidak suka denganmu."
Hayler tersenyum padanya dan mengambil sisir untuk merapikan rambut Valley.
"Aku dan ibumu adalah mantan suami-istri. Kami dulu menikah dan bercerai kemudian. Kamu harusnya tahu apa artinya kan?"
"Tapi ... kamu tidak memiliki riwayat pernikahan sebelumnya. Bagaimana kamu dan ibuku bisa menikah?"
Hayler tertegun sejenak lalu terkekeh setelah memikirkan artinya.
"Oh, tampaknya kamu sudah mencari tahu tentang aku? Tampaknya kamu sangat pintar menggunakan internet."
Merasa keceplosan, Valley sedikit canggung. "Aku ... hanya tidak sengaja mencari tahu!"
"Mungkinkah anak yang menghubungi asistenku sebelumnya adalah kamu?" Hayler menebak.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Tidak ada anak yang lebih berani dari mu untuk melakukan hal tersebut."
"..." Valley tidak bisa berkata-kata.
Apa maksudnya?
Apakah pria itu ingin bilang jika dirinya nakal?
"Seandainya aku adalah ayah kandungmu, apakah kamu senang?"
Tiba-tiba saja Hayler melontarkan pertanyaan tersebut. Mengingat si kembar bermain dengan gembira bersama Daleon, ia sedikit cemburu.
Sudut mulut Hayler sedikit berkedut. "Dari mana kamu mendapatkan kata-kata seperti itu?"
"Tidak perlu tahu."
"..." Hayler memiliki keinginan untuk mendidiknya seharian.
"Apakah kamu benar-benar ayahku?" Valley ragu-ragu. Dia memiliki tebakan tapi belum ada bukti.
"Tidakkah kamu melihat ada kemiripan denganku?"
"Kenapa aku harus mengetahui ini?"
"..." Lupakan saja. Anak-anak tidak memiliki otak yang besar. Hayler hanya bisa bersabar.
Tapi Valley tiba-tiba saja membuat keputusan. "Jika kamu benar-benar ayah kandungku, jadi apa? Kamu tidak menginginkan kami dan membuat ibu sedih. Kamu punya keluarga sendiri bukan? Kami tidak membutuhkanmu."
"Hey, Nak—" Hayler tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak bisa menjelaskannya sekarang. "Aku selalu mencintai ibumu. Tapi ... Ada sesuatu yang membuatku harus berpisah dengan ibumu. Dan itu juga berat bagiku."
Valley tidak mengerti karena masih anak-anak. Jadi Hayler tidak menjelaskannya lebih jauh. Ia hanya meminta Valley merahasiakan topik tersebut.
Tak lama, Brim datang dengan pelayan yang mengantarkan sarapan. Kebetulan Hayler juga selesai mengusir rambut anak itu.
"Ck, kalian tampak harmonis. Berapa indahnya jika kalian adalah sepasang ayah dan anak kandung," ucap Brim menggodanya.
"Paman, apakah kamu belum menikah?" tanya Valley.
"Hah? Menikah? Belum. Nak, kenapa kamu tahu tentang hal ini? Apakah ibumu memberi tahu?"
Valley menggelengkan kepala. "Aku membaca berita dan melihatnya di TV. Paman, karena kamu belum menikah, tidak heran emosimu berubah-ubah."
"Apa maksudnya? Jangan membuatku bingung."
Brim sebenarnya agak kesal dengan anak ini. Temperamen anak itu sama menyebalkan nya dengan Hayler.
"Suaramu tidak enak didengar."
"...??!" Brim mendapatkan alasan yang tidak diduga.
Sebelumnya anak itu hilang dia memiliki kerutan di wajah.
Sekarang dia mendengar suaranya tidak enak didengar?
Dia bukan penyanyi!
Lagi pula, apa hubungannya orang yang sudah menikah atau belum dengan emosi yang berubah-ubah?
Anak itu tidak masuk akal. Pasti hanya sengaja ingin membuatnya tersinggung.
Mau tidak mau, Brim menunjuknya dengan kesal. Ingin marah tapi tidak berdaya. "Kamu— kamu—"
Ujung-ujungnya, Hayler membiarkan Valley duduk dan sarapan.
"Berhentilah berdebat dengan anak kecil. Kamu mengganggu pemandangan. Keluar."
"Hah?? Hayler! Kamu sangat tidak berperasaan! Aku juga belum makan!" Brim menggertakkan gigi.
"Pergilah makan sendiri."
"...."
Brim ingin menangis di hatinya. Bos macam apa yang dia miliki?
Kenapa begitu kejam pada bawahannya?
Sebelum pergi, Brim memberi tahu. "Laporan yang kamu tunggu semalam sudah keluar. Aku akan mengambilnya untukmu nanti."
"Ya."
Akhirnya Brim pergi dan keduanya bisa sarapan dengan tenang.
Setelah sarapan, Hayler mengantarnya ke rumah sakit dan sempat bertemu Yuki sebentar. Dia menanyakan keadaan Shirley yang semakin membaik hari ini. Untungnya masalah tidak semakin serius.
Valley yang telah berpisah dari Yuki selama semalam pun akhirnya bisa memeluknya.
Hayler tak tinggal lama karena ada sesuatu yang harus diselesaikannya. Oleh karena itu, dia pergi lebih awal tanpa memberi tahu Yuki.
Ketika kembali ke hotel, Brim sudah menunggu di ruangan. Pria itu menyerahkan sebuah map pada Hayler, berisi laporan tes DNA yang dilakukannya kemarin. Map masih tersegel. Brim tidak berani untuk membukanya.
Hayler tidak langsung membuka map. Dia sedikit ragu dan takut. Jika keduanya bukan anak kandungnya sendiri, ia merasa sedikit disayangkan.
"Kenapa? Tidak memiliki keberanian?" Brim menggodanya.
Hayler dibuat kesal olehnya. "Jika kamu menganggur, pergilah bekerja."
"Jangan, jangan! Aku juga lelah dan ingin tahu."
Brim menyesali mulutnya yang suka sekali bicara sembarangan. Usianya sudah hampir kepala tiga, bagaimana dia bisa menikah di masa depan?