Ex-Husband's Secret

Ex-Husband's Secret
Brim Kewalahan



Ia masih ingat malam di mana menandatangani akta perceraian. Awalnya ingin memberikan kabar bahagia bahwa dirinya hamil. Tanpa diduga, semuanya menjadi mimpi buruk.


Kemudian Yuki pergi ke rumah sakit waktu itu. Baru tahu jika dirinya hamil dua atau tiga bulan. Ia sangat syok karena usia kandungannya sudah beberapa minggu. Karena tidak tega menghilangkan anak di perutnya, ia pun pergi ke negara J.


Sekarang, si kembar lahir dan menjadi harta keluarganya.


"Aku akan menghubungi Hayler lebih dulu untuk menanyakan masalah ini. Kamu jangan panik." Yuki menenangkan Mirain.


Mirain mengangguk lemah, masih bersandar pada Nobu.


Yuki menghubungi Hayler untuk menanyakan nomor telepon Brim. Namun pria itu cemburuan dan tidak mau memberikannya. Bahkan jika itu adalah nomor telepon asistennya sendiri.


“Katakan saja padaku, ada apa? Dia ada di sini sekarang.” Suara Hayler masih terdengar santai.


"Ini menyangkut sahabatku, Mirain. Dia hamil," kata Yuki tanpa basa-basi.


Di seberang telepon, Hayler tampak terkejut sekaligus bingung. "Apa hubungannya dengan Brim?"


"Pria itu adalah pelakunya!" Yuki kesal. "Biarkan dia datang ke rumah Mirain sekarang! Selesaikan masalahnya. Apakah dia ingin mengakui anak itu atau tidak, Mirain tidak keberatan jika anak itu dihilangkan!"


Setelah berkata demikian, Yuki menutup telepon dengan kasar. Biarkan Hayler bicara dengan Brim. Dia tidak percaya jika pria itu akan diam saja. Jika Hayler benar-benar serius dengannya, pasti akan meminta Brim untuk datang.


"Bagaimana?" Nobu penasaran.


"Jangan khawatir, dia pasti akan datang." Yuki menenangkan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di kantor Hayler saat ini, Brim langsung terpana mendengar cerita Hayler. Dia memang mabuk dengan Mirain malam itu. Bahkan mengantarnya pulang. Namun tidak tahu apa yang terjadi, dia seolah-olah ingin menyentuh wanita itu dan akhirnya ... adegan terjadi di dalam mobil.


Tak heran, ia melihat bercak darah di salah satu kursi. Ia berpikir semua itu hanya mimpi. Ia tidak terlalu ingat apa yang terjadi saat mabuk. Namun memang, ia akui, menyentuh seseorang. Mirain!


"Hayler, apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyanya benar-benar panik.


"Yuki memintamu untuk datang ke rumah wanita itu dan menyelesaikan masalah ini. Kamu ingin mempertahankannya atau tidak, bicarakan saja di sana."


Brim terdiam. Ia belum pernah mengalami hal ini. Dan sekali tembak, Mirain hamil. Hayler masih terlihat santai. Ini bukan urusannya sendiri sehingga tidak peduli. Namun bukan berarti tidak memperhatikan. Ia juga ingin tahu keputusan Brim.


"Anak tidak bersalah. Kamu hanya perlu tahu itu."


Ekspresi Brim sedikit jelek. Bukan berarti dia tidak mau menjadi seorang ayah. Atau bahkan tidak bertanggung jawab. Ia hanya bingung harus memulai dari mana lebih dulu.


"Kalau begitu aku akan pergi ke rumahnya lebih dulu."


"Ya." Hayler dengan mudah menyetujuinya.


Brim langsung bergegas menuju rumah Mirain. Sedangkan Hayler memutar nomor telepon ibunya Brim untuk memberi tahu kabar tersebut. Bukan tanpa alasan. Hanya saja orangtua Brim sudah khawatir dengan pernikahan putra mereka. Bahkan tidak punya pacar sama sekali.


Sekarang Brim bukan hanya tidak punya pacar tapi justru menghamili seseorang. Brim berasal dari keluarga Clauser. Yang jarang diketahui oleh semua orang. Keluarga Clauser tidak banyak mencari perhatian selama ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Mirain, Yuki dan Nobu sedang menunggu. Waktu terus berjalan, tiap menit tidak terlewat di mata Nobu. Ia hampir kehabisan kesabaran. Pria itu mungkin tidak mau bertanggung jawab. Hayler sendiri adalah baj*ngan. Tentu saja orang-orangnya juga baj*ngan.


Namun tak lama, bel pintu ditekan tiga kali. Seorang pelayan membukakan pintu dan memberi tahu mereka tentang kedatangan Brim.


“Biarkan dia masuk!” kata Mirain.


“Kamu akhirnya di sini!” Nobu menatap Brim, sedikit tidak senang. “Sekarang penjelasan apa yang akan kamu berikan?”


Brim belum sempat menyapa dan Nobu sudah mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Yuki menenangkannya lebih dulu. Biarkan Brim bicara tentang masalah ini.


Kemudian Brim meminta maaf atas apa yang terjadi malam ini. Padahal jika Mirain datang padanya tentang kehamilan, ia pasti akan bertanggung jawab. Hanya saja dia belum pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya sehingga bingung untuk sementara waktu.


Tentu saja Brim ingin Mirain menjaga anak itu. Masalah pernikahan, ia akan memikirkannya. Lagi pula di negara A yang bebas ini, memiliki anak sebelum menikah tidak masalah sama sekali. Atau, keduanya bisa mengambil sertifikat lebih dulu sebelum melakukan pesta pernikahan di masa depan.


Mirain juga bingung. Ia berniat menghilangkan anak di perutnya. Tapi tidak menyangka jika Brim akan bertanggung jawab.


“Siapa tahu, mungkin kamu punya tunangan atau pacar tersembunyi.” Nobu masih curiga.


“Aku tidak punya pacar sama sekali, apa lagi tunangan.” Brim bersumpah.


“Mungkin kekasih masa kecil!” Nobu menuduh lagi.


“Tidak ada.”


Brim tidak berbohong tentang ini. Ia memang tidak memilikinya sama sekali. Jika tidak, orangtuanya tak akan repot membuatnya bebas dan menjadi asisten Hayler di perusahaan.


“Percayalah, bahkan jika aku hanya seorang asisten, uangku banyak.” Brim meyakinkan. “Orangtuamu, aku punya cara sendiri untuk meyakinkannya.”


“Memangnya kamu berasal dari keluarga mana?” tanya Nobu.


“Aku berasal dari keluarga Clauser. Brim Clauser adalah nama lengkapku.”


Nobu dan Mirain terdiam. Hanya Yuki yang agak terkejut kemudian menghela napas lega. Clauser … ini bukan keluarga kecil. Walaupun Yuki tidak tahu banyak, namun ia tahu Clauser bukan keluarga sederhana.


Nobu sepertinya sedang berpikir keras. Tapi Mirain tampaknya mengetahui sesuatu.


“Clauser … apakah ini pengusaha tambang minyak di Timur Tengah?” tebak Mirain.


Brim sedikit canggung dan akhirnya mengangguk. “Yah … ini memang keluargaku. Bagaimana kamu tahu?”


“Aku tak sengaja melihat berita keluarga Clauser yang menjadi salah satu investor tambang minyak terbesar di sana.”


Nobu menjadi bodoh di tempat hingga tak bisa berkata-kata. Sial! Apakah baj*ngan itu masih generasi kedua yang kaya? Keluarga tambang minyak di Timur Tengah? Ia ingin bertanya pada Yuki. Tapi wanita itu tampaknya sudah tahu sejak lama.


“Tahukah kamu?” bisiknya pada Yuki.


“Tahu sedikit.”


“Lalu kenapa tidak bilang?”


“Kamu tidak bertanya.”


Masalah kehamilan akhirnya diatasi dengan cepat. Brim akan bertanggung jawab sehingga Mirain bisa membesarkan kandungannya dengan tenang. Hanya saja Mirain sedikit takut untuk memberi tahu orangtuanya tentang masalah ini.


Ketika Brim meninggalkan rumah Mirain, ponselnya berdering. Panggilan itu berasal dari Nyonya Clauser, ibunya sendiri yang berada di Timur Tengah.


“Bu, tumben kamu menelponku sekarang?” Brim selalu sopan pada ibunya.


“Ibu akan pulang ke negara A besok. Kebetulan, diskusikan masalah pertunanganmu.” Suara Nyonya Clauser di seberang telepon tidak hangat atau dingin.


Brim terkejut. “Pertunangan apa? Bu, apakah kamu mencarikan wanita acak untukku diam-diam? Bukankah aku sudah bilang jika masalah ini, aku akan mengatasinya?”