
Perusahaan Johnson Del sangat ketat. Tak mudah untuk mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi di kantor Hayler. Kecuali di saat banyak orang di tempat kejadian.
Yuki menebak jika berita ini jika berita ini bukan di sengaja, pasti ada seseorang yang sengaja menyebarkannya.
Sebelum Lita kembali menjadi sekretaris Hayler, ada sekretaris lain yang menempatinya. Belum lagi beberapa orang yang memang berada di lantai yang sama dengan kantor Hayler.
Setelah membaca berita itu, Yuki kehilangan minat.
"Lita dan Rena, menurutmu siapa yang akan menang?" tanyanya.
Daleon mengerutkan kening. "Daripada bertanya ini, bukankah kamu harus mengkhawatirkan dirimu sendiri?"
"Tidak masalah. Skandalku dengan Hayler tak akan pecah secepat itu bukan?"
Pria itu tak berdaya dan menghela napas. "Karena Rena adalah orang milik Hayler, tentu saja mungkin dia yang akan menang. Tapi tujuan mantan suamimu seharusnya lebih dalam lagi. Aku tidak tahu apa tujuannya. Tapi ... mengorbankan pernikahan kalian sebenarnya cukup ... berlebihan," jelasnya.
Bukannya mau memprovokasi, Daleon selalu merasa tak terima melihat Yuki dicampakkan pria itu. Seandainya ia bertemu dengannya lebih awal, mungkin kejadian seperti ini tak akan terjadi bukan?
Yuki tak mengatakan apa-apa. Pernikahan nya dengan pria itu mungkin bisa dikatakan gagal dan tidak gagal. Jika Nyonya Luff menyukai dirinya sejak awal, mungkin perceraian tak akan terjadi.
Masalahnya, ia bukan wanita infertilitas. Ia selalu sehat. Tapi mungkin salahnya sendiri karena terlalu percaya dengan orang lain. Terutama orang terdekat.
"Aku masih bingung dengan kondisi Nyonya Luff. Terakhir kali aku bertemu dengannya, ia tampak tidak mengenaliku," ujarnya.
"Yah, kau juga cerita tentang itu padaku. Apakah kamu merasa ada yang aneh dengan kondisinya?"
"Tidak, dia tampak seperti biasanya. Hanya saja ... Dia sedikit lebih depresi daripada saat berkunjung ke tempatku."
Yuki juga memikirkan ini. "Sekarang ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Menjadikan Lita sebagai menantu dan juga memiliki cucu darinya. Bukankah itu hal yang membahagiakan? Lalu kenapa dia tampak seperti orang linglung?"
"Kondisi kejiwaannya mungkin tidak stabil karena depresi. Sayangnya aku tak melihatnya secara langsung."
"Kamu juga bukan dokter psikiater." Yuki bercanda dengannya.
Daleon tertawa ringan. "Benar. Tapi aku suka membuatmu berada dalam suasana hati yang baik. Jangan memikirkan tentang itu lagi. Suasana hati akan menengah penyembuhan diri."
"Terima kasih."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lita sebagai istri dari Hayler sudah hampir lelah menghadapi berbagai hal di kantor. Rodney tidak peduli dengannya karena ia sendiri harus menjalankan rencana. Kenapa harus terlibat dalam urusan wanita?
Bukankah bagus membiarkan Lita mengalihkan perhatian dengan membuat Hayler sibuk?
Pada suatu malam, Rodney pergi ke salah satu bar terpencil yang ada di ibu kota. Ia memesan kamar dan menunggu Roberto datang. Lita tidak bisa datang karena ia sendiri sibuk dengan putranya, Hayrus. Di sisi lain, tentu karena larangan Hayler.
"Besok adalah jatuh tempo laporan yang harus diberikan pada Hayler. Apakah kamu sudah menyalin file nya?" tanya Rodney ketika melihat Roberto datang.
"Tentu saja. Tidak ada masalah sama sekali. Besok pasti akan menyenangkan." Roberto menutup pintu dan duduk di seberang Rodney. Ia membuka tas pentingnya. "Kali ini jika proyeknya dibuat, maka kerugiannya tidak akan kecil saat gagal. Apakah kamu yakin ingin menggunakan rencana seperti ini?"
Roberto masih sedikit khawatir. Dia menatap Rodney dengan ekspresi curiga. Lalu melihat kembali dokumen perencanaan yang telah disempurnakan sejak beberapa hari lalu.
Rodney tertawa mengejek. "Kenapa? Apakah kamu takut ketahuan? Tidak perlu khawatir, aku memastikan jika semuanya aman. Balas dendam mu juga akan terbayarkan di masa depan."
Ia melihat semua isi dokumen perencanaan. Lalu tatapannya jatuh ada dokumen lain yang tidak berhubungan dengan pengembangan proyeknya pusat perbelanjaan.
"Apa ini?" tanyanya.
Roberto menuangkan anggur ke gelasnya sendiri. Gerakannya sedikit terhenti saat melihat selembar kertas putih berisi tentang rencana pembangunan gedung baru.
"Bos sepertinya ingin memperbaiki gedung cabang lama yang sudah lama tidak menjalani perawatan. Kali ini dia ingin membangun ulang. Itu adalah rancangan dari timku yang akan diserahkan bersama besok."
"Ternyata begitu. Lumayan juga. Jika kamu menjauh rancangan ini pada perusahaan L Swan, harganya tidak murah," ucap Rodney.
"L Swan? Bukankah itu perusahaan properti?"
"Benar. L Swan juga sedang mengembangkan beberapa bangunan seperti apartemen dan hotel. Rancangan ini cocok untuk dijadikan apartemen mewah kelas atas. Sangat disayangkan jika berakhir menjadi gedung cabang yang terlupakan."
Roberto memikirkan sesuatu. "Jika kamu tertarik, ambil saja. Tapi jangan lupa uangnya."
"Oh? Bukankah dengan demikian, Hayler akan bertanya-tanya?"
"Tidak. Ia tidak tahu sama sekali. L Swan juga perusahaan yang bagus. Aku tidak tahu jika kamu mengenal perusahaan itu."
Rodney tidak menjelaskan lebih jauh tentang L Swan dan hubungan dirinya. Lagi pula, L Swan juga pionnya.
Keduanya minum beberapa gelas anggur tapi tidak terlalu mabuk. Roberto akhirnya meninggalkan bar setelah memberikan salinan tentang rancangan bangunan pusat perbelanjaan.