
Waktu berlalu begitu cepat. Yuki yang telah duduk di kursi roda cukup lama akhirnya bisa kembali berjalan dengan normal. Ia bahkan sudah pergi ke perusahaan untuk mengurus pekerjaannya yang tertunda.
Selama waktu itu juga, dia bertemu dengan Hayler beberapa kali secara diam-diam. Karena kerja sama yang cukup baik, keduanya bertemu untuk menyelesaikan bisnis.
Sesekali, Hayler mengajaknya ke suatu tempat untuk menikmati surga dunia yang memuaskannya.
"Apakah kamu merasa tidak nyaman?" Hayler yang telah berkeringat cukup banyak mengerutkan kening.
Yuki terlihat agak terganggu sejak menginjakkan kakinya pulau pribadi Hayler. Apalagi, keduanya tinggal di sana selama dua hari. Dan kegiatan keduanya tak lepas dari adegan ranjang yang panas.
Lebih tepatnya, pria itu selalu menipunya untuk melakukan itu.
"Aku serasa menjadi simpananmu. Dan itu tidak nyaman bagiku."
Yuki yang kelelahan sama sekali malas untuk menggerakkan tubuhnya. Tapi pria itu masih begitu bersemangat untuk mendayung di atas tubuhnya.
Tinggal di vila yang sepi tanpa ada yang mengganggu keduanya, suara wanita itu tidak ditahan lagi saat Hayler memberikan perasaan dimanjakan ke awan.
"Sudah kukatakan, kamu bukan simpananku. Kamu adalah wanitaku." Hayler menyipitkan mata. "Sulit bagimu untuk bertahan sampai sekarang."
Yuki ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi Hayler memotongnya.
"Jangan bicarakan itu sekarang. Kita sedang bersenang-senang."
Hayler memblokir mulutnya dengan ciuman. Adegan di tempat tidur kembali memanas. Di saat keduanya begitu mesra satu sama lain, ponsel Hayler berdering cukup lama.
Tapi sayangnya Hayler tak mau menerima panggilan telepon dari siapa pun. Ia tenggelam dalam dunianya sendiri.
Tapi mendengar suara ponsel berdering lagi dan lagi, Yuki terganggu. Dia segera menahan Hayler yang bersemangat seperti singa kelaparan di tubuhnya.
"Bisakah kamu mengangkat telepon mu dulu. Bagaimana jika itu penting?"
Hayler berhenti lagi dan merasa kesal. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja nakas. Melihat jika itu panggilan Brim, ia mengerutkan kening.
Tanpa pikir panjang, ia menggeser tombol hijau.
"Katakanlah sesuatu yang penting atau gajimu akan kupotong bulan ini!"
"..." Brim tampaknya sedikit memarahi Hayler dan melaporkan apa yang terjadi saat ini.
Kemudian, ekspresi Hayler sedikit aneh sebelum akhirnya mengiyakan dengan santai.
Setelah itu, panggilan telepon terputus secara sepihak oleh Hayler. Di seberang telepon, Brim mungkin memarahinya diam-diam.
"Ada apa?" tanya Yuki.
"Bukan apa-apa. Mari bicarakan nanti."
Hayler tidak terlalu peduli. Dia sudah merencanakan banyak hal bersama Steven sejak bertahun-tahun lamanya. Semuanya tidak bisa gagal.
Hingga waktu tak terasa, hari sudah sore ....
Yuki sudah mandi dan berganti pakaian. Begitu pula dengan Hayler yang kini tengah menunggunya di meja makan. Ia memasak menu sederhana saat wanita itu di kamar mandi.
"Apakah ada masalah?"
Hayler terdiam sejenak sebelum akhirnya bicara. "Seorang detektif mengambil banyak foto dan video kita. Itu bocor di internet dan semua orang heboh."
"Apa?!" Yuki terkejut sekaligus berdebar. "Bukankah kamu mengatakan semuanya baik-baik saja?"
"Memang. Dengarkan aku ... Semua ini akan segera berlalu. Jangan terlalu memikirkannya." Hayler sama sekali tidak khawatir. Tapi mungkin seseorang sedang terburu-buru sekarang.
"Siapa yang memposting semua foto itu?"
Hayler menggelengkan kepala. Dia memiliki tebakan bahkan jika Steven belum menghubunginya. Tapi dia tak perlu memberitahu Yuki semua itu.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Ingatlah untuk tetap berada di rumah setelah kembali dari tempat itu. Aku khawatir kamu akan mengalami kecelakaan lain ketika keluar rumah."
Memikirkan kecelakaan sebelumnya yang membuat wanita itu harus duduk di kursi roda, Hayler tak bisa membayangkan pukulan lain di hatinya.
Yuki hanya mengangguk seadanya. Dia ingin di rumah untuk sementara waktu dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan kedua anaknya.
Dengan kemampuan orang-orang Hayler, mereka kembali tanpa ada yang tahu. Yuki tiba di rumah pada sore harinya. Shirley dan Valley sedang membuat rumah-rumahan dari balok mainan.
Melihat Yuki pulang, keduanya sangat senang. "Bu!"
"Halo, sayang." Yuki segera memeluk keduanya dengan lembut. "Apakah kalian merindukan ibu?"
Keduanya mengangguk. Shirley tidak sabar untuk meminta hadiah. Untungnya Yuki tidak lupa dengan hadiah yang dijanjikan untuk keduanya ketiak dia bepergian. Semua hadiah itu juga dibelikan oleh Hayler untuk keduanya.
"Kalian teruslah bermain, ibu akan ke atas dulu," katanya.
Setelah menyentuh kepala keduanya, Yuki menaiki anak tangga. Di lantai atas, dia bertemu dengan kepala pelayan yang sedang sibuk mengawasi beberapa pelayan mengganti beberapa lukisan.
"Butler Fall, apakah orang tuaku sudah pulang?"
Butler Fall yang telah berusia lebih dari empat puluh tahun, menggelengkan kepalanya. Setelan pakaian kepala pelayan memang cocok untuknya. Mungkin karena Butler Fall memiliki aura yang luar biasa.
"Nona, berita di internet harus segera ditangani. Jika tidak, ini akan berdampak besar pada perusahaan," jelas Butler Fall.
Seorang kepala pelayan bukan hanya berkecimpung sebagai orang yang mengatur urusan pelayan di rumah. Tapi juga harus mampu menghadapi situasi yang tak terduga seperti saat ini.
Butler Fall telah melihat berita di internet. Tentu saja menjadi khawatir. Meski tahu bahwa wanita itu telah bersama Hayler akhir-akhir ini, rasanya agak aneh.
Jelas Hayler adalah pria beristri. Kenapa harus mencari nona muda mereka?
Belum lagi dengan Yuki yang sebenarnya tidak ingin bertemu Hayler setelah kembali ke negara A, tidak mungkin ada perselingkuhan. Sekarang berita itu bocor. Bahkan jika benar Yuki dan Hayler selingkuh, ini pasti bukan salah Yuki.
"Jangan khawatir, seseorang akan menangani ini. Aku tidak akan keluar sampai berita itu reda."
Butler Fall mengangguk setuju. "Lebih baik tetap di rumah. Saya khawatir jika reporter akan diam-diam datang untuk mewawancarai Anda, Nona."
Mereka semua bukan selebriti. Tapi siapa yang meminta reputasi keluarga yang luar biasa dan memiliki perusahaan bergengsi di ibu kota? Belum lagi Hayler sendiri bisa dikatakan sebagai pria muda yang pandai mengelola bisnis.