
Yuki dan Hayler mengikuti dokter ke ruangannya. Sedangkan Brim dan Valley hanya bisa menunggu. Ruang dokter hanya bisa dimasuki oleh dua orang setiap kali datang. Ini adalah peraturannya.
"Dokter, bagaimana keadaan putriku? Apakah dia ... dia baik-baik saja?" tanya Yuki lagi.
"Kondisinya cukup memprihatinkan. Tapi kami berusaha semaksimal mungkin untuk membuat kondisinya kembali stabil. Penyakit yang diderita anak Ibu ini tergolong langka. Mungkin karena pasien terkena sengatan panas sebelumnya dan juga lelah, kondisi ini cukup memburuk."
Dokter juga tahu bahwa Shirley mengalami anemia aplastik. Jadi tidak perlu memperjelas lagi pada Yuki. Karena di tubuh anak itu sepertinya memiliki jejak perawatan transfusi darah sebelumnya.
Yuki langsung menangis saat mendengar penjelasan dokter. "Harusnya aku tidak membiarkannya bermain terlalu lama di pantai. Mungkin hal ini tak akan terjadi," ucapnya.
Hayler menenangkannya. Ia tidak pernah lagi melihat Yuki menangis begitu sedih selain ... saat memintanya menandatangani perceraian.
Betapa sakit perasaan nya waktu itu bukan?
Mungkin lebih sakit melihat Shirley dalam keadaan seperti sekarang.
Pria itu menatap dokter. "Apa yang harus kami lakukan sekarang untuk mengobati kondisinya? Apakah transfusi darah diperlukan?"
Dokter mengangguk. "Melihat kondisinya saat ini, transfusi darah sangat diperlukan. Sayangnya rumah sakit kami tidak memiliki golongan darah yang sama dengan anak kalian. Golongan darah anak itu relatif sulit dicari."
Mendengar ini, Yuki semakin tidak berdaya. "Bukankah itu berarti ... harus mencari pendonor dengan golongan darah yang cocok dengan putriku? Sayangnya, terakhir kali menemukan darah yang cocok waktu itu, ada di negara J."
Tidak mungkin Yuki harus terbang ke negara J untuk mencari pendonor itu. Keadaan putrinya tidak bisa ditahan lebih lama lagi.
"Cobalah darahku." Tiba-tiba saja Hayler mengajukan diri. "Mungkin darahku cocok," katanya.
Yuki tiba-tiba saja menatapnya. "Tidak, kamu bisa tidak melakukannya!"
"Kenapa tidak? Jika cocok, ambil saja. Aku tidak keberatan."
"Tapi aku keberatan!"
Hayler juga sedikit emosi. "Apakah kamu ingin melihat Shirley kesakitan seperti itu? Kenapa kamu masih begitu egois?"
"Egois?! Kamu mengatakan jika aku egois?!"
Yuki tidak menyangka akan mendengar satu kata ini darinya setelah bertahun-tahun lamanya. Pertama kali dia mendengar kata itu saat memohon padanya agar tidak bercerai.
Dia tidak keberatan jika harus membesarkan anak Lita saat itu. Tapi Hayler bilang dia egois karena ingin memisahkan ibu dan anak. Sekarang, pria itu berkata jika dia egois karena melarangnya mendonorkan darah untuk Shirley.
Ia tidak bermaksud demikian. Ia hanya tidak ingin berhubungan dengan Hayler terlalu jauh. Di masa depan, Hayler pasti akan menjadi orang yang dipanggil untuk transfusi darah.
Hayler tidak berdebat dengannya. Ia menyadari jika saat ini dirinya juga terlalu terbawa emosi. Sudah tahu Yuki tidak ingin lagi memiliki hubungan dengannya, tapi ia masih ikut campur. Dirinya lah yang egois akan semua itu. Ia ingin dekat dengan kedua anak itu.
Dokter mulai menenangkan keduanya. "Ini rumah sakit, tolong jaga ketenangan. Jadi, bagaimana dengan keputusan kalian?"
"Cek darahku, apakah cocok atau tidak." Hayler masih bersikeras untuk mendonorkan darah.
Dokter mengangguk.
Kali ini Yuki terdiam. Dia tidak tahu seperti apa masa depannya suatu hari nanti. Dia tidak bisa terus dibantu oleh pria itu. Namun memikirkan balas dendam, ia mengesampingkannya lebih dulu. Prioritas utama saat ini adalah Shirley.
Ketika Hayler dalam pemeriksaan, dokter berkata jika darah Hayler memiliki kecocokan dengan Shirley. Dan darahnya bisa diambil. Yuki tidak mau berhutang pada Hayler dan tidak mau menundukkan kepala padanya.
Setelah proses transfusi darah selesai, kondisi Shirley sedikit lebih baik. Dia tidak terlalu pucat seperti sebelumnya.
Sementara Hayler yang baru saja selesai mendonorkan darah, wajahnya sedikit pucat. Ia telah kehilangan sedikit darahnya tapi sudah cukup membuatnya seperti orang sakit.
"Aku tahu."
Hayler sudah meminta dokter untuk mengecek kecocokan darah dia dan anak itu. Ia ingin memastikan jika Shirley adalah putri kandungnya. Namun hal ini dilakukan diam-diam dari Yuki.
Jika wanita itu tahu, mungkin kemarahannya tidak akan terbendung. Bagaimana jika Yuki nantinya sengaja menjauhkan kedua anak itu darinya?
Dan hasil pemeriksaannya akan terlihat besok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Nobu dan Mirain pergi ke rumah sakit tempat Shirley dirawat. Yuki masih memakai pakaian semalam dan tak bisa tidur nyenyak semalam.
Pikirannya penuh dengan kondisi anak-anak. Hingga ia tidak menyadari jika Valley telah pergi dengan Hayler semalam dan menginap di hotel terdekat.
"Yuki, bagaimana kondisi Shirley?" tanya Mirain.
"Dokter bilang sudah stabil. Dia akan keluar rumah sakit dalam beberapa hari sampai kondisinya benar-benar stabil." Yuki memiliki sedikit kantung mata dan menjawab dengan nada lelah.
"Apakah kamu tidak istirahat semalam?"
"Aku hanya tidur sebentar. Orangtuaku belum tahu dengan keadaan Shirley. Daleon juga tidak diberitahu. Jangan beri tahu mereka dulu." Yuki tidak mau terlalu ramai di rumah sakit.
Nobu penasaran. "Di mana Valley?"
"Dia ikut Hayler di hotel terdekat."
Mirain tampak tidak senang. "Tidakkah kamu khawatir pria itu menculik putramu?"
"Dia tidak akan berani." Yuki sedikit mencibir. "Lagi pula aku tidak punya pilihan lain. Valley masih anak-anak dan tidak nyaman tinggal di rumah sakit terlalu lama. Jadi mau tidak mau aku hanya bisa menitipkan anak itu padanya."
Nobu dan Mirain tampak bersalah karena tidak datang semalam. Belum lagi, Yuki tidak mengizinkan mereka untuk datang sebelumnya.
"Kalau begitu, bersihkan diri dulu. Kamar VIP ini ada kamar mandinya. Aku akan membawa baju ganti untukmu." Mirain dengan cepat memberikan perhatian padanya. "Sekalian aku ambil sarapan untukmu."
"Ya, Mirain benar. Aku yang akan menjaga Shirley di sini. Kamu bisa tenang." Nobu mengangguk.
"Kalau begitu ... terima kasih." Yuki tidak keberatan. Dia memang ingin sekali mandi.
"Hey, apa gunanya terima kasih. Kita adalah sahabat." Mirain tidak suka dengan ucapan Yuki tapi dia hanya bercanda.
Setelah Mirain pergi dengan langkah cepat, Nobu mulai bertanya lagi. "Anak buah ayahmu tidak mengikutimu kali ini?"
"Aku meminta mereka untuk kembali. Aku tidak suka diikuti diam-diam. Jadi biarkan mereka kembali. Jika tidak, ayah ku mungkin akan menelepon semalam tentang keadaan Shirley."
"Itu juga benar. Lalu ... bagaimana kamu akan menghadapi Hayler di masa depan?"
Kali ini, Yuki tidak langsung menjawab. Dia tidak tahu harus berkata apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat Hayler menginap saat ini, suasananya sedikit canggung. Terutama Valley yang tidak menyangka akan berada dalam satu atap yang sama dengan pria itu malam tadi. Karena kamar hotel hanya memiliki satu tempat tidur besar, keduanya tidur bersama semalam.
Valley tidak pernah tidur dengan pria lain selain Daleon. Rasanya agak canggung. Berpikir jika pria itu mungkin adalah ayah kandungnya, sedikit tidak nyaman.
"Apakah kamu sudah bangun? Ayo mandi dan siap-siap sarapan." Hayler sudah bangun sejak awal dan membersihkan diri saat anak itu masih tidur.