Ex-Husband's Secret

Ex-Husband's Secret
Steven Memulai Rencana (3)



Hayler tidak ingin mengatakan banyak hal pada ayahnya saat ini. Meski dia dan ayahnya memiliki beberapa rahasia tentang Nyonya Luff atau mungkin skema kecilnya, tapi tidak dengan urusan organisasi.


Oleh karena itu, setelah mengobrol dengan Tuan Johnson Del sebentar, dia naik ke lantai atas untuk istirahat. Jelas tidak akan pulang ke rumahnya sendiri.


Ada pun apa yang sedang dilakukan Lita, dia tidak peduli. Jika ada sesuatu, kepala pelayan rumahnya akan memberi tahu lebih awal.


Hayler sedikit mabuk saat ini. Dia butuh istirahat yang cukup untuk memulai penyelidikan besok.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dalam beberapa hari kemudian, Yuki sibuk seperti biasanya dan tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi sebelumnya. Dia disibukkan dengan urusan pekerjaan, merawat anak dan urusan pribadi.


Sudah cukup lama tidak berkumpul bersama dengan kedua sahabatnya, Nobu dan Mirain. Ia berniat untuk mengajak mereka bersantai akhir pekan ini.


Nobu berpakaian santai, tidak terlihat seperti seorang wanita bisnis yang kaya raya. Ada pun Mirain, dia berdandan sedikit hari ini.


"Sejak terakhir kali kita kumpul, aku merasa akan mati di tempat kerjaku." Mirain yang biasanya cukup pendiam namun ceria dan menghindari masalah, kini mengeluh.


Nobu bahkan lebih parah. Dia mengumpat dalam bahasa J sesekali. Rambut pendeknya sedikit memanjang sekarang.


"Apa lagi aku? Ibuku benar-benar tahu bagaimana cara untuk membuatku sibuk! Tapi dia melarikan diri ke negara J bersama ayahku untuk berkencan di rumah lama!"


Rumah lama yang dimaksud Nobu jelas tempat kelahiran orang tua ibunya.


Mirain dan Yuki merasa kasihan diam-diam. Tapi kemudian Mirain sedikit menyindirnya.


"Tsk, kupikir kamu sangat santai. Semua pesan grup penuh dengan kata-kata mu sendiri."


Nobu cemberut. "Aku hanya melampiaskan kekesalanku," gumamnya. Kemudian dia menyesal tehnya dan menatap Yuki.


"Lalu bagaimana denganmu sekarang? Beritamu sebagai wanita yang berkencan dengan CEO perusahaan Johnson Del masih menjadi berita hangat di internet. Belum lagi berita tentang anak Lita itu. Kenapa tidak ada yang maju untuk mengonfirmasi atau menekan opini publik?"


"Ini semua berada di bawah pengaturan Hayler." Yuki menggelengkan kepala. Untuk keluar bertemu dengan kedua temannya saja hari ini, dia sangat berhati-hati.


"Jadi ... Kalian berdua serius untuk rujuk kembali?"


Nobu dan Mirain merasa tidak rela jika Yuki harus kembali berkumpul dengan pria itu. Hayler bukan pria yang baik di matanya. Bukan hanya tidak baik, tapi juga tidak berperasaan.


Selain selingkuh dan haus kekuasaan, tampaknya tidak ada kelebihan lain selain ingin ahli waris.


Jika Yuki melahirkan anak perempuan saja waktu itu, apakah Hayler akan tetap memandangnya lagi?


Mirain dan Nobu tak bisa memikirkan hal ini lagi!


Jadi, Nobu mulai menasihatinya. "Yuki, dengarkan aku. Pikirkan dua kali. Hayler bukan pria yang baik dan dia bahkan memiliki anak lain di bawah lututnya. Bahkan jika dia dan Lita bercerai di masa depan, bukankah anak di rumah itu tidak akan pergi.


"Nobu benar. Ketika kamu masuk lagi ke tempatnya, tidak ada jalan untuk kembali. Semua anak kandung kadang saling membunuh diam-diam. Apa lagi tentang saudara tiri."


Mendengar kedua sahabatnya begitu mengkhawatirkannya, Yuki merasa terharu. Dia tahu beberapa kemungkinan ini pasti akan terjadi. Tapi dia belum bertanya apa yang akan dilakukan Hayler nanti.


Lagi pula, keduanya masih jauh dari kata untuk kembali bersama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada keesokan harinya, Nyonya Luff kembali dengan keadaan sedikit linglung. Penampilan ini biasa sering dilihat oleh semua penghuni keluarga besar Johnson Del. Terutama para pelayan yang bekerja di rumah utama.


Ketika wanita setengah baya itu kembali, Hayler sudah menunggunya dengan sikap santai.


Jelas saat melihat Hayler, Nyonya Luff terkejut.


"Hayler, kapan kamu pulang ke sini? Kenapa tidak menghubungi ibu?" Nyonya Luff selalu menyayangi putra satu-satunya ini.


Hanya Hayler yang bisa diandalkan untuk mengurus kebutuhan di masa depan. Sebagai pewaris sah, tentu saja Hayler memukul tanggung jawab besar di pundaknya.


Hayler menyesap tehnya, menatap ibunya yang seperti kurang tidur.


"Aku kembali tadi malam. Bu, apakah kamu kurang istirahat?" Dia mengerutkan kening.


Nyonya Luff tersenyum lembut dan sedikit menggosok pelipisnya. "Tidak apa-apa, Ibu merasa kurang enak badan jadi pulang lebih cepat."


Dia baru saja kembali dari rumah temannya. Semalam, dia cukup sibuk untuk melakukan sesuatu.


Hayler memperhatikan sebentar dan mengangguk. "Kalau begitu istirahatlah yang cukup. Aku akan berangkat kerja dulu."


Dia bangkit dan menghampiri ibunya yang terlihat tidak enak badan. Dia membenarkan rambutnya yang ditata rapi.


"Jangan terlalu banyak pikiran." Hayler mengatakan itu seolah-olah dia sangat perhatian.


Untungnya Nyonya Luff tidak punya waktu untuk memperhatikan ekspresinya. Dia mengangguk lemah dan menepuk lengan putranya dengan sedikit enggan.


"Kamu benar-benar perhatian. Pergilah, ingat untuk kembali ke rumah dan menemani istri dan anakmu." Nyonya Luff ingat jika Lita sempat mengeluh padanya tentang Hayler. Tapi ia tidak terlalu peduli.


"Ya."


Nyonya Luff menaiki anak tangga menuju lantai atas tanpa menoleh lagi.


Sementara itu, ekspresi Hayler langsung dingin. Dia masih sedikit sibuk di akhir pekan tapi itu pun sibuk untuk bertemu dengan putra dan putrinya.


Ada pun Lita dan anak itu ... bukan urusannya.