
Setelah buang air kecil, Valley keluar. Nobu sudah menunggu di depan dan memeriksa apakah ada yang salah dengannya. Lalu mereka berdua kembali ke restoran.
"Kenapa kalian begitu lama?" Yuki merasa khawatir.
Valley menyentuh perut nya. "Agak sakit."
Sakit perut?
Yuki khawatir jika Valley mengalami masalah gangguan pencernaan. Shirley sudah dalam keadaan tidak sehat sejak lahir dan dokter mendiagnosis nya terkena anemia aplastik. Ini membuat Yuki patah hati tapi juga lebih menyayangi anak perempuannya.
"Makanannya cukup pedas. Gak nyaman," kata Valley lagi, khawatir ibunya akan meminta dia minum obat atau pergi ke dokter.
Bukankah kebohongannya akan terungkap?
"Kalau begitu minumlah air. Ibu sudah bilang sausnya pedas tapi kamu masih ingin memakannya. Lihatlah adikmu, dia untungnya tidak suka pedas."
Valley tidak banyak bicara. Kondisi adiknya kurang sehat. Walaupun dia tidak tahu adiknya sakit apa, ibunya tidak pernah membiarkan Shirley bermain terlalu lelah.
Bahkan di sekolah sendiri, Shirley memiliki perlakuan khusus dari guru yang dipercayakan oleh kakeknya.
Setiap kali Shirley kelelahan, pasti wajahnya pucat, kadang mimisan atau memar tanpa alasan. Dia bahkan tidak memukul sama sekali. Untungnya ibunya tahu ada yang salah dengan Shirley sejak beberapa gejala aneh tanpa sebab itu muncul.
Pada waktu itu, ibunya membawa Shirley ke rumah sakit dan pulang dengan wajah penuh air mata. Dia bilang adiknya sakit.
Sejak saat itu, ibunya tidak mengizinkan Shirley untuk bermain terlalu lelah dan kadang pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin.
Mereka makan dan mengobrol cukup lama lalu pergi ke bioskop untuk menonton film. Kemudian pulang jam sepuluh malam.
Si kembar terlihat mengantuk dan sudah tertidur pulas di pelukan Nobu dan Mirain. Keduanya berhati-hati membawa mereka ke dalam mobil Yuki. Setelah itu mereka berpisah.
"Kabari kami jika urusan di kantormu sudah diatasi. Mari pergi ke pantai." Nobu mengingatkan.
"Aku tahu itu." Yuki memutar bola matanya. Lalu pamitan.
Di perjalanan pulang, si kembar tampaknya setengah terbangun. Tapi karena terlalu mengantuk, keduanya tidur lagi dengan saling bersandar satu sama lain. Yuki yang melihat ini dari kaca spion dalam hanya bisa tersenyum.
Mereka tumbuh setiap hari dan penampilannya semakin mirip dengan pria itu ....
Yuki hanya fokus menyetir dan tidak ingin mengingat pria itu lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian di perusahaan utama Delton Corp, kantor Hayler.
"Bagaimana, apakah kamu sudah mencari tahu tentang nomor itu?" tanya Hayler ketika Brim datang dengan setumpuk dokumen.
"Ya. Itu adalah nomor telepon berdomisili di salah satu kota di negara J. Tampaknya nomor telepon yang bisa digunakan secara internasional."
"Nomor telepon internasional?" Hayler terkejut. "Negara J?"
"Ya, ini jelas nomor khusus yang dibuat di negara J. Tapi tampaknya anak itu menelepon dari negara ini. Kemungkinan besar ada di negara ini."
"Siapa nama pendaftarnya?"
Brim menggelengkan kepala. "Karena ini nomor khusus yang dilindungi, aku tidak bisa mengetahui pemiliknya."
"Jika pihak lain menelepon lagi, katakan untuk bertemu."
"Kenapa tiba-tiba kamu tertarik dengan anak itu? Apakah kamu punya anak haram di luar?" Brim curiga.
Wajah Hayler sedikit terdistorsi. "Apakah aku begitu buruk?" tanyanya langsung tersenyum tapi tidak mencapai matanya.
"Tidak, tidak. Aku hanya bercanda." Brim mendesis dalam hatinya.
Hayler mendapatkan informasi yang diinginkannya tentang perjalanan Yuki sehari-hari. Ternyata wanita itu berniat untuk pergi ke pantai bersama dengan dua sahabatnya. Tapi bukan hanya itu, ada kemungkinan besar pria bernama Daleon itu juga ikut.
Membayangkan Yuki dengan baju pantai yang seksi, Hayler tak bisa menahan diri memiliki mata panas. Ini juga kesempatan baginya untuk mengenal si kembar dan mencari tahu tentang mereka.
"Atur jadwalku untuk hari Sabtu dan Minggu. Aku ingin pergi ke pantai."
"Hah? Pantai? Bos, apakah kamu ingin melakukan liburan keluarga dengan anak dan istrimu?"
"Tidak. Aku pergi sendiri. Lita sedang menjaga Hayrus di rumah sakit." Pria itu mendesah tidak berdaya.
"Anakmu masih di rumah sakit dan kamu ingin berlibur?" Lalu Brim teringat dengan sesuatu. "Tampaknya istrimu sedang dekat dengan seorang pria akhir-akhir ini."
"Pria itu adalah orang yang mendonorkan darah untuk putraku," kata Hayler datar. Dia menekan kata 'putraku' cukup dalam.
"Aku tidak bermaksud membuat hubungan kalian memburuk. Tapi tampaknya kedekatan mereka agak tidak biasa. Tidakkah kamu khawatir Lita selingkuh?"
"Selingkuh? Jika dia selingkuh, bukankah aku pantas mendapatkannya? Aku juga selingkuh di masa lalu."
Brim tampak tidak percaya dengan jawaban itu. "Tampaknya kamu berniat untuk mengejar mantan istrimu itu," tebaknya. "Aku serius, kamu tidak marah saat istrimu nanti selingkuh dengan pria itu? Bagaimana pun, kamu jarang bersamanya sekarang dan sibuk di kantor. Istrimu mungkin kesepian."
"Heh, dia sudah lama kesepian," gumam Hayler dengan tatapan yang dalam tapi Brim tidak bisa mendengarnya dengan jelas. "Kamu tidak perlu memikirkan masalah ini. Aku tahu apa yang harus kulakukan," katanya.
Brim tidak lagi mengungkit masalah Lita dan pria asing itu. Dia juga malas untuk membicarakan wanita itu yang menurutnya pandai berpura-pura.
"Aku mendapatkan kabar terbaru lagi tentang mantan istri dan kedua anaknya itu. Kamu pasti akan sangat terkejut ketika mendengarnya."
"Katakan."
"Bukankah Yuki datang ke rumah sakit sebelum berangkat ke negara J sebelumnya? Aku menginterogasi dokter yang memeriksanya secara diam-diam. Dan kamu tahu apa yang aku temukan?"
"Katakanlah dengan jelas." Hayler tidak suka bertele-tele.
"Ck!" Brim suka melihatnya kesal. "Dokter bilang bahwa Yuki memang hamil saat itu. Usia kandungannya masih sangat muda. Dia juga mengatakan bahwa saat wanita itu mengetahui kehamilannya, ada ekspresi tidak percaya dan putus asa. Dokter itu mengira jika Yuki hamil di luar nikah karena pacarnya. Lagi pula, Yuki terlihat masih muda saat itu. Dia menyarankan Yuki agar tidak melakukan aborsi," tuturnya tanpa sempat mengambil napas dalam-dalam.
Kali ini, Hayler benar-benar terkejut. "Apakah informasi ini akurat?"
"Tentu saja. Aku mengancam dokter itu dengan anaknya yang ada di luar negeri. Jadi dia memberi tahuku segalanya. Tapi memintaku juga untuk tidak membocorkan masalah ini, apa lagi jika tuan Frangky tahu."
Tuan Frangky pasti telah melakukan sebuah kesepakatan dengan pihak rumah sakit. Atau setidaknya dengan dokter yang memeriksa Yuki tahun itu.
Memang benar, jika ini semua dilakukan oleh Tuan Frangky, maka semuanya masuk akal. Hanya Tuan Frangky yang akan melakukan perlindungan seperti itu untuk Yuki.
"Jika dia hamil, lalu kenapa tidak datang padaku?" gumam Hayler tidak mengerti.
"Apa gunanya datang padamu? Bertengkar dengan wanita yang kamu besarkan di luar? Menurutmu, siapa yang akan menang, Lita atau Yuki?" Brim mencibir. "Kamu condong membela Lita, bagaimana mungkin peduli dengannya? Kamu mungkin mengira Yuki berbohong bukan?"