Complicated Story

Complicated Story
9



"Kamu mau apalagi?" Ucap nenek ana.


Nenek ana kini sedang berada disebuah kantor. Sedang berdiskusi dengan seseorang.


"Aku hanya ingin anak ku." Ucap pria berjas hitam maskulin dengan kemeja putih didalamnya.


"Jangan harap kamu bisa dengan mudah mendapatkan hak asuh mu." Ucap sang nenek yang tidak terima atas sikap bossy dari ayah kandung ana.


"Saya bisa melakukan apapun yang saya mau."


"Saya hanya ingin menebus kesalahan saya atas putri anda." Ucap pria tersebut.


Suasana yang serius diruangan itu semakin mencekam mengingat masa lalu.


"Dia adalah cucu saya, saya tidak akan membiarkan cucu saya terluka dengan luka yang sama." Ucap sang nenek beranjak bangun dari kursi.


"Mau sampai kapan anda akan menjaganya tidak lama lagi anda akan tiada dia akan sendirian tentu saya akan menjaganya setelah itu."


Ucapan pria tersebut berhasil membuat sang nenek menghentikan langkahnya.


"Kamu pengusaha besar dalam dunia gelap saya tidak akan membiarkan cucu saya ikut campur dalam usaha mu." Ucap sang nenek kemudian membuka pintu ruangan tersebut.


"Tidak masalah saya sudah memiliki seseorang untuk memegang perusahaan saya."


Kata-kata terakhir yang didengar sang nenek sebelum benar-benar keluar dan menutup kembali pintu ruangan itu.


"Bagaimana juga dia adalah putri saya, saya tidak akan membiarkan dia menderita." Ucap pria itu sambil menatap luasnya perkotaan dari ruangan kaca tersebut.


---


"Ana lu kenapa? Helo?!" ucap Kristi sambil mengibas-ibaskan tangannya didepan pandangan ana.


"Aku gapapa cuma melamun aja." Ucap ana kemudian kembali mengunyah makanannya itu.


Mereka sedang berada ditaman untuk menghabiskan jam istirahat hari ini.


"Ehhh bidadari dari neraka lu tuh kalau ngelamun jangan siang siang entar kesambet tau rasa mana lagi lu sekarang ada dibawah pohon tempatnya sepi kalau kerasukan lu gua tinggal mampu lu."


Ucapan Kristi tanpa jeda itu membuat kepala ana cenut-cenut. Ana masih bertanya-tanya tentang keberadaan temannya dan kakaknya itu yang bertemu dengannya beberapa hari lalu.


Ana merasa bingung heran campur aduk saat kenangan lamanya kembali datang menghampiri dirinya.


"Ana lu tau gak?" Ucap Kristi setengah menggantung kalimatnya.


Sedangkan ana yang ditanya sedang memikirkan hal lain dan tidak mendengarkan ucapan Kristi.


"Ana gua pengen cerita...hm..."


Kring.. alarm tanda jam istirahat telah berhenti membuat Kristi mengurungkan niatnya untuk bercerita.


Ana yang mendengar bel itu terkaget dan segera melangkah menuju kelasnya.


"WOI! Ana! Astoge gua ditinggal gitu aja." ucap Kristi kesal yang masih berada ditaman.


Brakk karena berlari dan tidak melihat-lihat ana tersandung didepan pintu kelasnya.


"Ohh bidadari jatuh dari surga."


"Ops."


"Dari depan pintu cuy ahahhahahah."


Ucap teman-teman ana yang setengah mengeledek dirinya itu.


Ana tidak memperdulikan ucapan mereka dan segera duduk dibangku.


Jam pelajaran fisika. Ana hanya menonton selayaknya menonton film action. Ana sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibahas. Ana hanya mencatat apa yang dipapan selengkap mungkin berharap dengan begitu dirumah dia akan mengulangi lagi yang dia pelajari dikelas.


Setelah jam pelajaran selesai Kristi segera kekelas ana untuk mengajaknya pulang.


"Ana ayo buruan." Ucap Kristi menarik-narik lengan ana.


Ana yang ditarik itu beberapa kali tersandung karena langkahnya yang tidak seimbang.


"Oii.. yang bener aja nenek aku pulang sore boong pinter dikit Kris."


Kristi yang mendapatkan labrakan itu merasa malu karena salah tingkah.


"Sorry ana gua gak mau ketinggalan film gua." Ucap Kristi melepaskan genggaman tangannya dengan ana dan segera mempercepat langkahnya.


"Kris tungguin." Ucap ana berusaha mengejar Kristi.


"Ayo sini cepet." Ucap Kristi setengah terkikik melihat temannya.


"Hahhahahaha dasar lelet bekecit aja lebih cepat jalannya."


"Bekecot Kris."


"Iya bekecot maksudnya huahahhahahahah."


"Jahad bener Kris sama aku."


"Bodo ahhahahahah."


Kristi dan ana pun tertawa terbahak-bahak saat berjalan menuju rumah. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti disamping mereka.


Ana dan Kristi yang malu dan salah tingkah bingung mau ngapain. Mereka saling sijut satu sama lain.


"Kris lu yang tanya."


"Lu aja."


"Lu aja."


"Udah diem aja bodo amat kalau dia tanya juga dia buka jendelanya."


Beberapa saat kemudian jendela pintu mobil itu terbuka dan mengeluarkan sosok pengemudi yang menyetir mobil tersebut.


"Selamat siang."


"Siang pak." Ucap Kristi dan ana berbarengan.


Kristi dan Ana bingung karena alamat itu tertera adalah alamat rumah ana.


"Maaf pak bapak siapa yha?" Ucap Kristi memberanikan diri.


Kristi tau tidak mungkin ana berani bertanya jadilah dia membuka mulut.


"Saya disuruh atasan saya untuk kealamat ini, saya sudah muter-muter sepertinya saya tersesat." Ucap orang tersebut sambil melihat kiri kanan jalanan.


Sedangkan Kristi dan ana yang mulai takut itu saling beradu tatap.


"Maaf pak saya tidak tau alamat ini mungkin alamatnya salah atau bapak tanya orang lain saja saya permisi dulu pak." Ucap Kristi kemudian menarik tangan ana.


"Permisi pak." Ucap ana kemudian mempercepat langkahnya.


"Bapak? Emangnya aku kelihatan Tua apa?" Ucap pria tersebut melihat ana dan Kristi yang sudah jauh berlari.


"Astaga ana itu tadi siapa."


"Mana aku tau."


"Lu diem diem banyak fans yhak."


"Idih kagak."


Ana dan Kristi akhirnya kembali kerumah mereka masing-masing.


Ana membuka pintu rumahnya dan terkejut saat neneknya berada dirumah.


"Nenek tidak ketoko hari ini?" Tanya ana heran kepada sang nenek.


"Nenek hari ini ingin mengajak kamu ketoko sekalian jalan-jalan."


Ana yang diajak untuk pergi itu sangat senang. Betapa senangnya dia hingga loncat-loncat.


"Asik ayo nek." Ucap ana tidak sabaran.


"Kamu ganti baju dulu kemudian makan baru kita berangkat."


"Ahhh aku kira makan diluar." Ucap ana bersedih hati dia kira akan makan diluar namun ternyata tidak.


"Kalau lama jalan-jalannya kita nanti makan disana."


Mendengar rayuan itu ana sangat senang. Dia segera mengganti bajunya.


Setelah beberapa saat ana selesai makan mereka pun pergi berjalan-jalan ke pusat kota.


"Nenek kita mau kemana?" Tanya ana heran saat berada dibangunan yang tinggi dan megah.


"Kita hari ini belanja beli baju aja sama beli beberapa bahan untuk ditaruh ditoko."


Ana masih kagum dengan kemewahan yang dia baru lihat saat ini. Menaiki lift dan melihat beberapa ruangan berbeda-beda membuat dirinya sangat senang.


Mencuci mata yang saat ini ana lakukan.


"Nek bajunya bagus banget." Ucap ana sambil menunjuk satu baju ditoko sebelah kanannya.


"Iya bagus kamu mau beli?"


Ana yang mendengar tawaran dari sang nenek sangat senang betapa senangnya dia bisa mendapatkan baju yang indah itu.


"Serius nek boleh?"


"Iya boleh buat cucu nenek apa aja boleh."


"Apa sih yang enggak buat cucu kesayangan nenek." Sambung sang nenek menimpali ucapannya.


"Asyik." Ucap ana senang


Mendengar ucapan itu ana sangat senang dan segera masuk ketoko tersebut.


"Nenek makasih udah mau beliin baju ini buat aku." Ucap ana sambil memeluk sang nenek.


Setelah selesai berbelanja mereka segera kembali berjalan untuk menuju rumah. Namun ditengah perjalanan menyebrang tiba-tiba ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi.


"Nenek Awas!." ucap ana berusaha menghentikan langkah sang nenek.


Namun semua terlambat.


Brak cit mobil itu hancur menabrak dinding jalan. Sang nenek terlempar jauh dengan keadaan penuh darah.


"Nenek!" ucap ana menghampiri sang nenek dan mengangkat kepala sang nenek.


"Hiks..nenek bangun nek." Ucap ana menangis melihat keadaan sang nenek.


Ana terus berusaha untuk membangunkan sang nenek.


Beberapa orang-orang juga berdatangan menolong ana dan sang nenek.


Ngiung ngiung suara ambulan dan mobil polisi menghampiri keadaan kecelakaan.


Sang nenek segera dilarikan kerumah sakit setelah seseorang menelepon ambulance.


"Nek bangun nek hiks..." Ucap ana terus menangis didalam mobil.


Seorang suster berusaha untuk melakukan perawatan pertama pada pasien.


Ana gelisah dan terus menangis melihat keadaan sang nenek. Dia terus saja menyuruh sang nenek untuk membuka matanyam beberapa kali dia menggosok tangan sang nenek yang penuh dengan darah itu.


--


"Pak ada kecelakaan yang menabrak nenek ana tidak jauh dari pusat kota dan Mall."


"Kirim lokasi rumah sakitnya saya akan segera kesana."


"Baik pak."


Pria yang mendapat laporan kejadian kecelakaan itu segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Moga suka yha jangan lupa like coment dan votenya 😘😘😘