
Selesai membayar belanjaannya Kristi menghampiri ana dipintu, "Hey!" Kristi menepuk pundak ana membuat si empu terkejut.
"Kebiasaan-kebiasan deh beneran bikin orang sakit jantung. Demen aja bikin orang jantungan. Apalagi teriakan kamu itu duh bener-bener." Ana mengoceh dengan sikap Kristi yang selalu membuat dirinya terkejut.
"Hahah maap." Kristi cengar-cengir mendengar perkataan ana.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya ana pada Kristi.
"Pulang."
Jawaban Kristi membuat ana cemburut, "Ish kok pulang sih baru juga jam 2," gerutu ana dia tampak kesel karena Kristi meminta pulang.
"Kan udah selesai belanjanya emang sekarang kita mau ngapain lagi?" tanya Kristi bingung.
"Makan dulu yuk," usul ana mengajak Kristi makan siang.
Kristi sejenak berpikir, "Hum baiklah ayo."
Ana bersorak ria dia senang Kristi mau masih menemaninya. Ana memegang tangan Kristi mengajaknya kelantai bawah di stand makanan. Ana memperhatikan barang belanjaan Kristi membuatnya merasa empati, "Sini aku bawain pasti berat." Ana mengambil alih tas belanjaan yang dibawa Kristi.
"Eh ana gak usah biar aku aja," elak Kristi merasa tidak enak dibantu oleh ana.
"Gapapa sini biar aku aja lagipula kamukan lagi hamil gak boleh bawa yang berat-berat." Ana tersenyum manis pada Kristi.
Kristi merasa senang memiliki sahabat seperti ana, "Akh ana kamu baik sekali bikin hatiku berbunga-bunga seandainya kamu cowok udah aku nikahin sekarang," gurau Kristi membuat ana memincingkan matanya.
"Kristi lesby." Ana berjalan lebih dulu kedepan sedangkan Kristi tertawa melihat ana.
"Kris mau mesen apa?" tanya ana melihat berbagai macam makanan.
"Kita makan disana aja gimana?" tunjuk Kristi kearah bangku yang agak jauh dari asap dapur.
"Ah iya ayo duduk dulu." Ana menuntun Kristi kesalah satu bangku yang ditunjuk Kristi tadi.
"Mau mesen apa nih biar aku pesenin?" tanya ana karena stand makanan begitu ramai.
"Beli..." Kristi melirik kesemua arah melihat beberapa menu yang ada.
"Kebab sama salad aja," ujar Kristi menyebutkan menu makanannya.
Ana memanyunkan bibirnya, "Dasar dokter menu sehat selalu," ledek ana meninggalkan Kristi yang terkikik.
Ana memesankan makanan untuk Kristi tetapi dia juga membawakan makanan lainnya untuk ditaruh dimejanya.
"Tara!" seru ana membawa nampan pesanan Kristi.
"Ini makanannya nyonya," kata ana seraya memberikan makanan Kristi bagaikan pelayan.
Kristi hanya tertawa melihat tingkah ana. Belum saja Kristi mengucapkan terima kasih ana sudah pergi ketempat stand makanan lagi. Kali ini dia datang dengan dua nampan ditangannya.
"Kristi bantuin!" seru ana meminta tolong pada Kristi.
Kristi tertawa namun membantu ana menurunkan nampan dari tangannya, "Astaga ana kamu ini. Lagian udah tau gak bisa bawa barang banyak tapi masih maksa juga." Kristi menggelengkan kepalanya.
"Ayo makan!" Ana memakan makanannya begitu juga dengan Kristi.
Ana membeli gulai kambing, sate kambing, tulang iga bakar juga mie setan pedas. Kristi tidak habis pikir bagaimana bisa ana makan penuh kalori tapi badan terlihat ideal seperti model.
Ana melihat Kristi sudah selesai memakan makanannya, "Sudah habis?" tanya ana.
"Sudah."
Ana memberikan beberapa tusuk sate juga kuah gulai pada Kristi, "Bantu habisin ayo kamu juga butuh protein."
"Tidak ana, ini kebanyakan aku udah kenyang." Kristi menolak memakan makanan yang diberikan oleh Kristi.
Melihat reaksi ana yang diam Kristi menjadi tidak enak hati, "Baiklah akan aku makan." Kristi memakan makanan yang diberikan oleh ana.
Ana sumringah melihat Kristi yang mau memakan makanan yang diberinya, "Padahal aku diem aja lho gak ada marah padahal," sindir ana yang langsung diteplak oleh Kristi.
"Awas ya nakal!"
"Ayo dihabisin nanti mubazir." Lagi-lagi ana meledek Kristi.
Kristi yang dipermainkan oleh ana hanya memasang tatapan tajam. Selesai makan Ana mengajak Kristi masuk kedalam marketplace skincare.
"Ayo lah Kristi sebentar aja," rengek ana memaksa Kristi untuk ikut masuk bersamanya.
Kristi mendenguskan nafasnya kesal dengan terpaksa dia masuk kedalam mengikuti ana. Ana tampak sibuk memilih skincare yang akan dia beli.
"Udah?" tanya Kristi saat ana membawa kantong belanjaannya.
"Sudah," jawab ana cengar-cengir karena ditatap tajam oleh Kristi.
"Kris kesana dulu sebentar ya?" lagi-lagi ana memohon Kristi untuk menemaninya masuk kemarketplace lainnya.
"Hehhehe iya-iya maap ya udah ayo pulang." Akhirnya ana menuruti Kristi yang sejak tadi ingin pulang.
Ana sejak tadi membawakan barang belanjaannya juga barang belanjaan Kristi.
"Ana kamu duluan deh aku mau kekamar mandi dulu," kata Kristi menunjuk arah kamar mandi yang tidak jauh dari pintu utama mall tersebut.
"Oh iya deh aku taruh ini dulu di mobil nanti aku jemput kamu lagi disini," kata ana menunjukan tas belanjaannya.
Kristi menganggukan kepalanya kemudian dia masuk kedalam lorong kamar mandi. Ana berjalan menuju parkiran untuk menaruh barang belanjaannya.
Sesampainya di parkiran ana langsung menuju mobilnya, "Pak tolong buka bagasinya!" titah ana pada supir yang langsung dituruti oleh supirnya.
Selesai menaruh barang belanjaannya dimobil ana langsung melangkahkan kakinya mencari Kristi dimall. Namun dilorong utama terlihat kerumunan orang-orang sedang panik.
"Ada apa disana?" tanya ana melihat kerumunan orang-orang dia langsung menghampiri kerumunan.
Ana terkejut melihat sosok yang tergeletak dilantai, "KRISTI!" Ana berteriak dan langsung menghampiri Kristi yang tergeletak dilantai.
Seseorang yang sejak tadi mengkerumuni Kristi ternyata sudah memanggikan ambulance. Ana benar-benar panik dengan keadaan Kristi yang tidak sadarkan diri, "Kristi bangun Kris," seru ana menggoyangkan tubuh ana yang sudah dibawa oleh petugas ambulance.
Kristi langsung diberikan oksigen dan dimasukan kedalam mobil ambulance. Ana menemani Kristi di mobil ambulance dengan terus menyuruh Kristi untuk dasar, "Kris, ayo bangun Kris." Ana mengusap-usap tangan ana berusaha keras agar Kristi sadar.
Ana benar-benar tidak tau kenapa Kristi bisa tidak sadarkan diri seperti ini.
"Nona apa anda keluarganya?" tanya petugas ambulance pada ana.
"Bukan tapi saya temannya," jawab ana.
"Tolong kabari siapapun keluarganya kami butuh keterangan pasien."
Ana menganggukan kepalanya mengerti dia kemudian menelepon ibunya Kristi.
Tut Tut Tut
Beberapa kali mencoba tetapi tidak ada jawaban bahkan nomornya tidak diangkat.
Tut Tut Tut "Maaf nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan silahkan coba beberapa saat lagi."
Ana menepuk-nepukan ponselnya dia berpikir siapa yang harus dia telepon lagi.
Yudha.
Satu nama yang tertuju dia langsung menelepon yudha.
"Yudha! Tolong kerumah sakit pusat kota Kristi pingsan di mall!" seru ana saat teleponnya sudah tersambung seraya turun dari mobil ambulance karena mereka sudah sampai dirumah sakit.
"Apa?!" pekik Yudha terkejut mendengar perkataan ana.
Yudha langsung mematikan telepon ana dan bersiap-siap menuju rumah sakit. Baru saja dia hendak membuka pintu dia kembali kemejanya. Membuka lacinya mencari sebuah amplop. Saat sudah menemukan amplopnya Yudha langsung bergegas menuju rumah sakit.
"Tolong batalkan semua jadwal praktek saya ada acara mendadak," kata Yudha pada asistennya.
Asistennya hanya bisa mengangguk karena Yudha sudah berlari jauh meninggalkan dirinya.
Yudha terlihat terburu-buru menuju mobil. Dia langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia benar-benar panik mendengar telepon dari ana. Sesampainya dirumah sakit Yudha langsung mencari sosok ana disana.
"Dimana Kristi?" tanya Yudha pada ana yang duduk dikursi.
"Kristi ada didalam sama dokter katanya dia dalam keadaan kritis," terang ana menjelaskan kondisi Kristi.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan, "Apa anda keluarganya?" tanya dokter pada yudha.
"Iya dok saya pihak keluarganya," saut yudha.
"Baik ikuti saya, saya butuh keterangan mengenai pasien." Dokter kemudian menuntun Yudha menuju salah satu loket administrasi.
Ana terlihat ketakutan dia juga kebingungan dia sama sekali tidak tau menahu mengenai keadaan Kristi. Beberapa menit berlalu Yudha menghampiri dirinya ana langsung bertanya-tanya pada Yudha, "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kristi? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya ana beruntun.
"Tenanglah Kristi tidak apa-apa doakan saja Kristi semoga bisa segera sadar," kata Yudha menenangkan ana.
Namun beberapa saat kemudian dokter keluar lagi dari ruangan, "Maaf pak keadaan pasien benar-benar kritis kami butuh ijin untuk operasi sesar."
Ana menutup mulutnya tidak percaya melihat keadaan Kristi bahkan tetesan air mata sudah membasahi wajahnya.
"Lakukan yang terbaik dok, saya ingin ibu dan bayinya selamat," kata Yudha pada dokter.
"Baik akan saya lakukan, melihat anda yang juga seorang dokter semoga anda bisa mengerti dengan keadaannya."
Yudha menganggukan kepalanya mengerti, "Baik dok."
Yudha dan ana menunggu dikursi tunggu. Ana terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Apa yang sebenarnya terjadi Kris?