
"Beli apa ya yang bagus untuk dijadikan hadiah?" Ana sedang mencari barang yang ingin dijadikan kado untuk Yudha.
Udah 45 menit ana berkeliling mutar-mutar mall tapi tidak bisa menemukan barang apapun yang bisa dia pilih. Ana kemudian masuk kedalam toko pakaian laki-laki disana ana memilah satu persatu deretan kemeja yang ada dihadapannya.
"Duar." Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ana yang serius memilah otomatis terkejut.
Kemudian ana berbalik badan melihat sosok yang ada dihadapannya, "Yudha?" ana tidak menyangka bahwa dirinya bertemu dengan Yudha saat keadaan seperti ini.
"Hai ana, HM.. kamu sedang apa disini?" tanya Yudha menaikan alisnya.
Masa iya aku bilang sedang mencari kado untuk dirinya gak etis sekali. Gerutu ana dalam hati.
"Sedang cari kemeja untuk ayah sudah lama tidak pernah memberikan hadiah untuk dirinya," ucap ana mengalihkan pandangannya berjalan kedepan kembali berkeliling.
"Ah sungguh dalam rangka apa memberikan hadiah untuk ayahmu?" tanya Yudha berusaha berpikir.
Ana gelagapan ditanya oleh Yudha dia benar-benar tidak menyiapkan skenario apapun, "Aa tidak ada aku hanya ingin memberikan saja."
Bodoh! Bodoh! Alasan macam apa itu! Aduh ana kenapa dirimu bodoh seperti ini!. Maki ana dalam hati memejam matanya.
Yudha tertawa melihat ekspresi ana terlihat seperti tertangkap basah, "Mau makan malam denganku?" tanya Yudha mengalihkan topik dia tau ana pasti tidak akan bisa lagi menjawab pertanyaannya.
"Eh makan malam?" ana kemudian melihat kekaca dimana terlihat langit sudah menggelap.
Berapa lama aku sudah menghabiskan waktu di mall? Tanyanya pada dirinya sendiri.
"Boleh, tapi aku belum mengabari ayah dan ibu dirumah." Baru saja ana hendak mengambil handphonenya tapi dicegat oleh Yudha.
"Tidak usah, aku akan mengabari ayah dan ibu mu nanti bukankah didepan ada supir mu? Kita bisa bilang padanya dan kamu bisa naik menggunakan mobilku?" usul Yudha.
Ana sejenak berpikir sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya, "Baiklah."
Batal sudah ana hari ini untuk membeli hadiah justru dia diajak makan malam oleh Yudha.
Ana menghampiri supirnya yang berada diparkiran, "Pak, nanti saya pulangnya dengan tuan Yudha. Bapak boleh pulang tolong beritahu ayah dan ibu dirumah juga."
Supirnya menganggukkan kepalanya patuh, "Baik non, hati-hati dijalan. Tuan tolong jaga nona." Supir itu kemudian masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah kediaman tuan A.K.
Yudha mengajak ana menuju mobilnya, "Silahkan masuk tuan putri," ucap Yudha membukakan pintu untuk ana.
Ana terkikik melihat perlakuan Yudha pada dirinya, "Aku bukan tuan putri yud." Ana menggelengkan kepalanya masuk kedalam mobil.
Yudha juga ikut tertawa mendengar perkataan ana, "Sekarang kita mau makan apa?" tanya Yudha mengendarai mobilnya.
Dilajukan mobilnya menuju jalan raya dengan kecepatan sedang Yudha mengajak ana berkeliling.
"Kita makan disana aja." Ana menunjuk rumah makan yang ada didepan jalan.
Yudha menuruti keinginan ana untuk makan dirumah makan nasi campur itu.
"Ayo masuk." Yudha mengajak ana untuk memesan makanan sebelum mereka mencari meja makan.
Dari depan rumah makan ana melihat sosok yang tidak asik bagi dirinya. Didalam rumah makan itu ada seseorang yang sedang makan dengan perut yang sedikit membuncit. Seorang wanita yang ingin dia ajak bicara.
"Kristi?" tanya ana tidak percaya saat langkahnya sudah membawanya kehadapan wanita itu.
Prang
Kristi terkejut dengan kehadiran ana. Kristi perlahan bangun dari tempat duduknya tapi dia hendak terjatuh.
"Kristi!" Seru seseorang dari belakang Kristi yang langsung menolong Kristi agar tidak terjatuh.
Ana menatap tidak percaya apa yang telah terjadi.
"Kak Arya?" Ana semakin tidak mengerti dengan jalan cerita yang sedang dia mainkan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Ana berusaha untuk tidak salah paham tetapi entah mengapa dirinya terbawa suasana hingga air matapun tidak terasa sudah menetes.
"Ana?" Yudha menatap Ana dengan membawa dua piring pesanan mereka berdua.
"Kalian ada disini?" tanya Arya tidak menyangka bahwa keadaannya sangat rumit.
Ana tidak bisa menahan lagi saat melihat Arya berada sisi Kristi dia berlari meninggalkan mereka yang masih dalam keadaan canggung. Yudha yang melihat ana berlari berniat untuk menyusulnya.
Tetapi Arya menghentikan langkah Yudha, "Biar aku saja." Arya mengambil tasnya serta jaketnya kemudian menyusul ana yang berlari tanpa arah tujuan.
Dari belakang Arya terus mengejar ana hingga akhirnya ana berhenti di depan museum kota.
"Ana-" Arya mencengkeram erat tangan ana agar ana tidak lagi berlari darinya.
"Apa ini kak? Apa?! Apa yang aku lihat tadi itu?! Sebenarnya apa yang terjadi?! Siapa ayah dari anak yang dikandung oleh Kristi?! Kenapa Kristi bisa hamil?! Kemana dia selama ini?! Kenapa aku tidak mengetahui apapun tentang dirinya?!" Ana terus memukul-mukul dada Arya dengan sangat kencang.
Arya hanya bisa membiarkan ana meluapkan semua emosinya. Saat ana sudah tidak memukulinya lagi, Arya memeluk ana membiarkan dia menangis dalam pelukannya.
Arya hanya tersenyum tanpa ingin menjawab pertanyaan tersebut.
"Kakak ayo jawab, apa hubungan kakak dengan Kristi?!" tanya ana dengan nada tingginya.
"Apa kamu cemburu?" alih-alih untuk menjawab Arya justru menanyakan perasaan ana yang terlihat cemburu dimatanya.
"Kakak aku serius nanyaknya!" hardik ana.
Arya hanya tersenyum melihat kemarahan ana, "Aku juga serius nanyaknya."
Ana semakin jengkel dengan Arya yang terlihat sedang bermain-main dengannya dia memilih membuang kan wajahnya dari hadapan Arya.
"Kamu mau tau semuanya kan?" tanya Arya akhirnya membuat ana menatap Arya kembali.
Ana hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Arya.
"Tapi semuanya ada harga untuk itu."
Ana membelalakkan matanya tidak percaya, "Kakak dia itu sahabat aku masa iya aku harus bayar hanya untuk mencari tau tentang dirinya?" tanya ana tidak percaya.
"Diakan sahabat kamu kenapa tidak kamu tanyakan saja padanya langsung? Dan lagipula setiap privasi orang itu tidak bisa dibeberkan begitu saja bukan?" tanya Arya berusaha menggodai ana.
Ana benar-benar tidak percaya dengan sikap Arya. Dia tidak habis pikir kenapa Arya dilahirkan seperti ini.
"Kenapa tidak sanggup untuk membayar harganya?" tanya Arya menaik-turunkan alisnya.
"Harganya saja tidak tau bagaimana bisa aku bilang tidak sanggup untuk membayarnya?" ucap ana jengkel pada Arya.
"Berapa yang harus aku bayar untuk mengetahui yang sebenarnya?" tanya ana penasaran dengan apa yang terjadi.
Arya berseringai berusaha memanfaatkan keadaan, "Tidak mahal kamu hanya cukup menciumiku saja lalu foto bersama sebanyak 10 kali."
Ana mengerinyitkan alisnya bingung, "Yang benar saja bayaran macam apa itu?" tanya ana tidak menyangka bahwa dirinya dipermainkan seperti itu oleh Arya.
"Ya sudah kalau tidak mau." Arya hendak melangkah pergi walaupun dia hanya pura-pura.
Ana sejenak berpikir, "Baiklah aku akan membayarnya. Tapi kakak harus janji memberi tau yang sebenarnya!"
"Tentu saja," ucap Arya dengan senyum kemenangannya.
"Kita foto dulu baru setelah itu aku mencium kakak," ucap ana dengan pipi yang merah merona. Dia terlihat malu dengan apa yang dia ucapkan.
Setelah berfoto ana kemudian beralih hendak mencium pipi Arya tetapi Arya justru memegangi kedua pipi ana agar bibir mereka saling bertautan.
Ana membulatkan bola matanya terkejut dengan perlakuan Arya yang secara tiba-tiba. Arya tidak pernah membiarkan ciuman itu sebentar setelah beberapa saat akhirnya ciuman mereka berakhir.
"Sudah puas?" pekik ana kesal telah dimanfaatkan oleh Arya.
"Sudah," jawab Arya perlahan melangkahkan kakinya pergi.
"Eh- kakak mau kemana?!" ana berlari mengejar Arya yang meninggalkan dirinya seorang diri.
"Kakak tadi udah janji untuk memberi tau semuanya!" ana terus berusaha untuk menghentikan langkah Arya tapi tidak berhasil.
Hingga akhirnya ana justru diajak Arya untuk masuk kedalam mobilnya.
"Apa?" tanya ana saat Arya membukakan pintu mobil untuknya.
"Mau masuk tidak? kalau enggak ya aku tutup lagi," ucap Arya hendak menutup pintu mobilnya.
"Ah tunggu." Ana menuruti keinginan perintah Arya.
Ana masuk kedalam mobil Arya namun tidak hanya disana ana terus mengoceh bertanya mengenai Kristi. Arya tetap bersikukuh diam tidak menjawab pertanyaan apapun dari ana.
"Kakak kenapa kakak gak mau jawab pertanyaan satupun dariku?" tanya ana sedu karena sejak tadi dia tidak dihiraukan sama sekali oleh Arya.
"Kenapa kamu begitu penasaran hubunganku dengan Kristi?" goda Arya membuat ana jengkel.
"Apa kamu cemburu?" tanya Arya.
Ana menggelengkan kepalanya kemudian dia melihat kejalan bahwa ternyata Arya mengantarkan dirinya pulang.
Ana memanyunkan bibirnya kesal saat apa yang dia lakukan tadi hanya sia-sia.
"Ana-" Arya mencegat ana untuk turun dari mobilnya.
"Ada yang ingin ku berikan." Arya mengambil tasnya dibelakang kemudian mengeluarkan sebuah map kertas.
"Apa ini?" tanya ana saat diberikan map berwarna coklat itu.
"Ini ada beberapa berkas yang entah itu berguna untukmu atau tidak," jawab Arya tersenyum kecil.
Ana menghela nafas, "Terima kasih." Dengan kesal ana turun dari mobil hingga menutup pintunya dengan sangat kencang.