Complicated Story

Complicated Story
19



"Mau dimanapun kamu aku pasti ada disana." Katanya kemudian mendekati wajah Ana.


Ana yang sedang duduk dan Arya yang sedang berdiri itu membuat Arya harus sedikit membungkukkan badannya agar bisa berdekatan dengan ana.


Ana dan Arya kini sedang berada tatap lagi dan manik-manik mereka kembali bersatu.


"Ekhem kak Arya mending jauh-jauh aja hidung aku sakit ciumin bau badan kak Arya." Ana mencoba mendorong pundak Arya namun badan Arya tidak tergeser sedikitpun.


"Ish badan kakak terbuat dari apasih?" Ana kesal beberapa kali dia terus menjauhkan diri dari Arya tapi dirinya tetap saja dengan pria yang menjengkelkan bagi dirinya itu.


"Hahahahha." Gelak tawa Arya mendengar perkataan Ana. Arya memundurkan badannya dan kemudian duduk disamping ana.


"Kak Arya tadi ngomong apa sama ayah sama ibu?" tanya Ana mengingat tadi mereka bertiga terlihat serius membicarakan sesuatu.


"Membahas hubungan kita nantinya." Arya berusaha menahan tawanya dia tau ana pasti kesal dengan apa yang dia katakan.


"Kak Arya kayaknya belum dimangsa sama tante-tante makanya carinya loli kayak aku hahahhahah." Ana tertawa sendiri mengatai dirinya itu loli.


"Kalau nerkam kamu kayak semalam kira-kira masih bisa tertawa lagi atau enggak?"


Mendengar itu ana kembali memejamkan matanya dia takut jika kejadian itu kembali terjadi pada dirinya.


"Aku mau kekamar." Ana yang tidak ingin berlama-lama lagi dengan Arya memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


Arya yang sedang duduk dan ditinggal oleh ana, untuk sesaat dia melihat langit ditaman itu, "Seberapapun kamu menjauh kamu akan tetap jadi milikku."


Ana mendengar perkataan Arya sebelum akhirnya dia benar-benar masuk kedalam. Hatinya seketika bergemuruh, perasaannya tidak tenang. Namun Ana segera membuang semua pikiran negatif yang tadi datang kepadanya.


Didalam kamar ana sedang membaca beberapa novel yang sedang dia beli, "Ahh gerah sekali." Ana terus mengibas-ibaskan tangannya. Lehernya bercucuran keringat.


"Sudah jam lima sore aku mau mandi aja." Ana beranjak kekamar mandi. Namun dia pelan-pelan membuka kamar mandi tidak ingin jika kejadian semalam beneran terjadi.


Ana melihat-lihat dan menelusuri setiap sudut dan celah. Ternyata tidak ada siapapun. Ana akhirnya mandi dengan tenang.


"Ana kamu dimana?" Ibunya berteriak dikamar ana.


"Aku dikamar mandi Bu." Teriak ana menyauti ibunya itu.


"Ibu cuma mau ingetin besok kamu ada praktek diperusahaan ayah jangan lupa bawa proposalnya ini ibu udah printkan."


Ana seketika mengingat tugas kuliahnya.


"Akh.. apa ini baru juga libur besok udah sekolah lagi."


"Iya Bu makasih."


Selesai mandi ana segera menyelesaikan tugas kuliahnya. Beberapa dia membaca dokumen-dokumen itu membuatnya sakit kepala, "Berasa udah kayak orang sibuk aja." kata Ana kesal kemudian merebahkan dirinya diatas kasur.


"Kenapa juga aku masuk fakultas management hadeh." kata Ana mengingat masa lalu sebelum akhirnya dia masuk kampus.


Flashback on


Saat itu ana memasuki universitas jurusan kedokteran untuk mengikuti tes. Selama 2 jam ana mengerjakan semua soal-soal yang ada dihadapannya itu.


"Bagaimana tesnya?" tanya sang ayah saat Ana sudah keluar dari ruangan.


"Susah yah ala aku bisa lolos yah?" Ana tidak yakin dengan kemampuannya itu.


Dia mengikuti tes jurusan kedokteran karena neneknya itu menginginkan dirinya bisa masuk dikedokteran.


Tapi takdir berjalan. Setelah 3 hari hasil tes keluar ana dinyatakan tidak lulus. Ana kemudian memilih untuk masuk jurusan akuntansi. Tapi lagi-lagi dia tidak sejalur. Berakhir sudah dia harus masuk universitas swasta dengan jurusan management dan itu karena ayahnya yang memasuki dirinya.


"Terima aja lagi pula kamu udah gak lulus tes jurusan yang kamu mau."


Mendengar ucapan ayahnya, ana merasa direndahkan.


Flashback off


"Arghhh." Ana mengambil selimutnya dan beranjak untuk tidur. Dia sangat lelah membaca semua berkas-berkas yang harus dia kumpulkan.


Ditambah dia harus menyelesaikan tugas tambahan yang diberikan oleh dosen. Selesai ulangan nanti dia langsung training selama 3 bulan.


"Mendingan kerja aja deh, udah jelas aku akan dapat uang gak perlu training-training gak jelas gini." ucap ana kesal kemudian dia menenggelamkan kepalanya dengan selimut.


Namun perasannya tidak tenang karena dia belum selesai membaca bab terakhir proposalnya, "Argh.. bergadang aja dah." Ana menghembuskan nafasnya berat, akhirnya mengambil kembali berkas yang ada dimeja.


"Seandainya saja aku masuk kedokteran mungkin udah bertemu dengan Kristi, Yudha dan kak Arya.." ucapnya disaat membuka proposal itu.


Ada rasa rindu juga mengingat dirinya dimasa lalu. Arya adalah anak dari orang tua yang dulu pernah mengadopsi dirinya. Entah angin apa yang lewat. Ana kini merindukan keluarga kecilnya itu. Dia rindu dengan sosok adik yang dia asuh dulu. Yang pernah dia rawat dengan segenap hati. Air matanya mengalir mengenang masa lalu.


Kristi dan sosok sang nenek, ana juga merindukan mereka. Ditengah dinginnya malam kerinduan dengan orang-orang dimasa lalu membuat hatinya sangat teriris.


"Andai saja aku bisa menjelajahi waktu." ucap Ana asal sambil mengecek semua kertas yang dia pegang.


Setelah benar-benar selesai dengan tugasnya ana segera tidur.


Kring kring alarm berbunyi ana segera bersiap-siap menuju kampusnya.


"Ana sekarang kamu ulangankan?" Tanya ayahnya saat mereka semua sudah berada dimeja makan.


"Iya yah, selesai ulangan aku praktek ketempat ayah 2 jam." saut Ana sambil memakan sepotong roti miliknya.


Ayahnya menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti.


"Ana kamu berangkat sama aku aja." kata Dimas menawarkan tumpangan kepada ana.


"Boleh itu, ayah hari ini mau mengecek lapangan kemungkinan saat dikantor nanti manager ayah yang menangani kamu." jawab ayahnya sambil menyeruput secangkir kopi.


"Iya yah." saut Ana pasrah dengan keadaan.


Selesai makan Ana dan Dimas berpamitan untuk berangkat kekampus.


"Gimana kuliahnya?" tanya Dimas mencoba basa-basi dengan ana.


"Lancar."


"Semoga hari ini ulangannya lancar." doa Dimas yang langsung diaminin oleh Ana.


"Aminnn." jawab ana


Tidak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Setelah beberapa menit dijalan, akhirnya mereka sampai dikampus Ana segera berjalan menuju kelas.


"Ehhh dia kenapa bisa satu mobil dengan Dimas?" banyak orang-orang kampus melihat kedekatan Ana dengan Dimas dan menjadi bahan pembicaraan.


"Bukannya Dimas udah punya pacar yha?"


"Iya kenapa dia bisa satu mobil berangkatnya?"


Banyak omongan beredar dan banyak juga celetukan yang dia lewati, namun Ana tidak memperdulikan mereka yang terus mempertanyakan statusnya dengan Dimas.


Yang terpenting baginya saat ini adalah dia bisa menjawab soal ualngannya dan segera keperusahaan sang ayah untuk melaksanakan tugas praktek. Sebenarnya dia hanya akan menaruh surat kontrak training namun dia harus menganalisis tempat sebagai bahan laporan saat selesai training nantinya.