
"Ana.." panggil ibunya dari pintu kamar.
Panggilan ibunya itu berhasil membuyarkan Ana dari lamunannya, "Iya Bu masuk saja pintunya tidak dikunci," kata ana kembali menyisirkan rambutnya itu.
"Ana kamu belum selesai juga siap-siapnya ayo buruan nanti keburu tamunya datang," kata ibunya Ana.
Malam ini ana akan bertemu dengan seseorang yang dijodohkan oleh ayahnya itu. Tanpa sepengetahuan Ana ternyata ayahnya sudah membuat janji pertemuan malam ini sekeluarga.
"Ibu-" panggil Ana dengan nada takut juga bingung.
"Ada apa nak? Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya ibunya seraya menghias rambut ana.
"Aku ingin bertanya sesuatu.." tanya ana pada ibunya sambil menatap ibunya lewat kaca rias.
"Tanyakan saja," jawab ibunya balik menatap ana lewat kaca rias.
Ana menegukkan salinya gugup bingung dan takut perlahan dia menarik nafasnya sebelum bertanya, "Ibu apa itu cinta?" tanya ana.
Ibunya terkikik mendengar perkataan Ana. Ibunya melangkahkan kakinya hingga dia bersimpuh disamping Ana, "Apa kamu sekarang sudah memikirkan tentang perasaanmu?" tanya ibunya.
Ana menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan ibunya, "Ibu pernikahan antara ibu dengan ayah apa itu karena perjodohan juga?" tanya Ana.
Ibunya tersenyum manis pada Ana, dia sadar bahwa kini ana sedang bimbang hal yang lumrah pada setiap wanita jika dihadapannya akan ada sebuah pernikahan untuk dirinya.
"Ibu, kenapa diam saja? jawablah pertanyaan ku Bu," ucap ana menggoyangkan telapak tangan ibunya.
"Pertanyaan yang mana? Cinta? Atau alasan ibu menikah? Kamu memberikan ibu banyak pertanyaan. Ibu bingung harus menjawab yang mana," kata ibunya setengah tertawa melihat wajah ana.
"Apa itu cinta Bu?" kata ana mengulang kembali pertanyaannya yang pertama.
Ibunya menyeringai melihat ana yang penuh pertanyaan pada dirinya, "Cinta? Apa itu cinta? ibu tidak bisa mendiskripsikannya. Cinta itu datang tanpa diundang pergi tanpa dijemput. Cinta itu bisa datang bisa juga pergi. Saat kamu mencintai seseorang namun kamu terluka karenanya dan mulai melupakannya. Cinta mu padanya hanya sebatas itu-" kata ibunya terhenti.
"Lalu saat kamu tetap mempertahankan cintamu meskipun kamu terluka. Meskipun tau dia mengkhianati mu, tetap percaya bahwa kelak suatu saat pria yang kamu sukai akan mencintaimu. Itu adalah cinta yang bodoh-"
"Jika kamu mencintai seseorang kamu sungguh-sungguh menyayanginya, tak peduli sebesar apapun rintangannya kamu akan tetap mempertahankannya. Meskipun dia tidak akan memilihmu namun kamu tetap menyayanginya sepenuh hati. Itu adalah cinta yang sejati ana." Ibunya memegangi kedua tangan ana dengan erat.
"Jika separuh hidupmu tidak bisa berjalan tanpa memberikan dia kebahagiaan itu cinta sejati, jika hidupmu tidak bisa tenang disaat tak mendengar kabar darinya kamu sedang punya rasa padanya," ucap ibunya mengelus kedua tangan ana.
"Ana jika kamu menikah dengan seseorang yang kamu cintai tapi dia tidak mencintai mu, kamu tidak akan pernah akan bahagia. Tapi jika kamu menikah dengan seseorang yang mencintai kamu disaat kamu terluka, kamu akan bahagia karena orang itu akan memberikan apapun agar kamu bahagia. Namun jika kamu bisa mendapatkan kedua-duanya kamu akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ana."
Mata ana berkaca-kaca mendengar perkataan ibunya.
"Ana apa kamu sudah memutuskan keputusan mu saat ini?" tanya ibunya seraya berdiri.
Ana jadi menangis dia langsung memeluk ibunya itu, "Ibu, bagaimana jika seseorang yang mencintaiku kini memilih untuk melangkah pergi?" tanya ana dengan tangisannya.
Ibunya mengelus rambut Ana dengan telapak tangannya, "Seandainya itu belum terlambat kembalilah padanya, beri dia kesempatan untuk mencintaimu, dan beri kesempatan hatimu untuk mencintainya."
Ana menganggukkan kepalanya dengan sesenggukan karena tangisannya.
"Ana, ibu akan sangat bahagia jika kamu memilih keputusan yang terbaik untukmu. Walaupun kamu adalah anak sambung ibu, ibu akan selalu memberikan kamu kebahagiaan," ucap ibunya mencium kening Ana.
--
Lain ditempat dengan Arya yang sedang merebahkan dirinya dikasur.
"Ar, apa ibu boleh masuk?" tanya ibunya dari depan pintu kamar Arya.
"Iya Bu masuk aja pintunya tidak dikunci," ucap Arya meringkukkan dirinya sehingga memunggungi ibunya.
"Nanti aku mandi Bu."
Ibunya tau Arya sedang marah padanya. Dia beranjak untuk duduk diatas kasur sambil memegang tangan Arya, "Ar kamu marah dengan ibu?"
"Enggak," jawab Arya singkat.
"Jika seorang anak melakukan kesalahan pada orang tuanya, orang tuanya akan langsung memaafkan mereka. Tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya orang tua harus memohon maaf berkali-kali pada anaknya."
Mendengar perkataan ibunya Arya terbangun, "Tidak aku tidak marah, jangan bersedih seperti itu. Suasana hatiku hanya sedang buruk saja nanti pasti akan kembali," ucap Arya menghibur ibunya.
"Kamu tidak ingin perjodohan ini kan, jika itu yang kamu mau ibu bisa membatalkannya nak," kata ibunya.
Arya menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu, bukankah keputusan orang tua untuk anaknya adalah yang terbaik? Jika aku melawan keputusan orang tua itu sama saja dengan meminum racun untuk diriku sendiri."
"Nak ibu tidak akan memaksa dirimu lagi, ibu tidak ingin jika ibu menjadi penghalang kebahagiaan mu. Ibu ingin anak ibu bahagia," kata ibunya menepuk-nepuk punggung tangan Arya yang berurat itu.
"Kamu selama ini sudah sangat bekerja keras untuk ibu dan adik kamu. Setelah mendiang Ayahmu, kamu menggantikan posisi tulang punggung keluarga. Dulu ibu banyak memaksakan kehendak agar kamu menjadi seperti ini. Sekarang untuk masa depanku sendiri, ibu tidak lagi memaksanya," ucap ibunya berkaca-kaca.
Arya menggelengkan kepalanya dia tidak ingin ibunya bersedih seperti itu, "Ibu jangan sedih seperti itu," kata Arya seraya merebahkan tubuhnya diatas pangkuan ibunya.
"Ibu aku ingin bertanya padamu," ucap Arya pada akhirnya. Dia ingin segera menghilangkan segala keraguan pada dirinya.
"Tanyakanlah nak," kata ibunya mengusap rambut ibunya.
"Saat ibu menikah dengan Ayah, pernikahan itu atas dasar apa Bu?" tanya Arya.
Ibunya tersenyum mendengar pertanyaan Arya, "Ibu tidak ada landasan apapun untuk menikah dengan ayahmu. Saat itu Ayahmu mengajak ibu menikah begitu saja," kata ibunya.
"Benarkah sungguh?" tanya Arya tidak percaya.
"Iya sungguh kau tau kalimat apa yang ayahmu katakan?" tanya ibunya. Arya hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayah mu dulu bilang seperti ini, kamu mau menikah denganku? tapi aku tidak memiliki apapun. Apa kamu mau menemani kesusahan ku didalam hubungan rumah tangga hingga kita memiliki anak nantinya?, itulah yang dikatakan ayahmu ar."
"Lalu ibu jawab apa?" tanya Arya penasaran.
"Ibu jawab mau," saut ibunya.
Arya mengerinyitkan keningnya heran kenapa ibunya polos seperti itu, "Kenapa ibu menjawab mau?" tanya Arya.
Ibunya terkikik melihat kebingungan pada putranya, "Nak disaat ada seorang pria yang mengajaknya untuk berhubungan serius itulah yang akan dicari oleh para wanita. Karena wanita yang sudah dewasa akan mencari pria yang dewasa pula untuk kepala keluarganya nanti."
"Ibu apakah setelah itu ibu memiliki perasaan cinta pada ayah?" tanya Arya.
"Cinta itu tumbuh dari hati-" kata ibunya menunjuk dada kiri Arya.
"Disaat kamu menikah dengan wanita yang mencintaimu namun kamu tidak mencintainya itu tidak masalah karena cinta akan tumbuh setelah berjalannya waktu. Rasa nyaman, kedekatan serta perhatian itu membuat cinta tumbuh dari hati ini Ar," kata ibunya.
"Jika suatu saat kamu menemukan seseorang yang menerima kamu apa adanya, mencintaimu dengan segenap jiwanya, tidak mempedulikan rasa sakit yang dia tanggung asalkan kamu bahagia. Kamu akan beruntung memiliki wanita seperti itu-"
"Dan jika nanti kamu menemukan seseorang yang bersedia untuk menjadi ibu dari anak-anakmu, seseorang yang bersiap mempertaruhkan hidupnya untuk berkeluarga dengan mu, kamu akan bahagia menemukan wanita seperti itu," kata ibunya tersenyum menatap Arya.
Arya tersenyum kecil mendengar perkataan ibunya, "Biarkan aku berkenalan dengan wanita yang ibu jodohkan itu," kata Arya memantapkan keputusannya.
"Sungguh?" tanya ibunya tidak percaya.