
Lelah dengan semua rangkaian acara ana sudah lebih dulu membersihkan dirinya. Diatas kasur Ana berbaring dengan pakaian kimono piyama yang membuat dirinya lebih terlihat seksi.
"Kenapa kamu baru kembali? kemana saja sejak tadi?" tanya ana saat Yudha baru memasuki kekamar.
Yudha menutup pintu kamarnya, "Aku tadi sedikit berbincang dengan ayah," jawab Yudha berjalan seraya melepaskan pakaian pengantinnya.
Ana kemudian berjalan mendekati Yudha, "Apa kamu ingin mandi? mau ku buatkan air hangat?" tanya ana seraya memeluk Yudha dari belakang.
"Ana apa yang kamu lakukan?" tanya Yudha merasa risih dengan apa yang dilakukan ana. Yudha melepaskan tangan ana yang meraba-raba dadanya.
"Ada apa sayang bukankah kita sudah menikah? Hubungan intim setelah menikah bukankah itu wajar?" tanya ana dengan tetap menggoda Yudha.
Yudha menjauhkan ana dari tubuhnya, "Ana apa kamu mabuk? Apa kamu baru saja minum minuman beralkohol?" tanya Yudha pada ana menciumi badan ana namun tidak ada aroma alkohol pada tubuh ana.
"Iya aku mabuk dengan pesona mu Yudha," saut ana dengan tetap menggoda Yudha.
"Hentikan ana apa yang kamu lakukan sebenarnya?!" tanya Yudha pada ana dia benar-benar heran dengan perilaku ana saat ini.
Ana tersenyum sinis pada Yudha, "Kamu ini aneh sekali Yudha bukankah kita sudah menikah? Dan hal wajar jika seorang istri ingin melayani suaminya bukan?" tanya ana pada Yudha.
"Aku tidak bisa tidur dengan mu ana," terang Yudha memilih mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
Ana memegang tangan Yudha mencegah Yudha untuk masuk kedalam kamar mandi, "Ada apa kenapa tidak bisa tidur denganku? bukankah kamu juga pernah mencintaiku? apakah perbedaan aku dengan Kristi begitu terlihat jelas dimatamu?" tanya ana pada Yudha.
Yudha membalikan badannya menghadap ana, "Apa yang kamu lakukan sudah bisa membuat mu bahagia?" tanya ana.
Ana mengerinyitkan alisnya bingung dengan apa yang dikatakan Yudha.
"Setelah ayahmu bersusah payah membawamu kembali kedalam dekapannya, kamu mengecewakan dia dihari pernikahan mu. Apa kamu kira aku bodoh dengan tetap diam disana?" tanya Yudha mengintimidasi.
"Apa yang kamu tau dengan semua itu kamu bahkan tak pernah tau bagaimana sakitnya aku menjalani semuanya," elak ana menatap manik-manik Yudha.
Yudha tersenyum kecut melihat ana yang ada didepannya saat ini, "Lalu bagaimana? Sekarang kamu puas? Apa kamu udah benar-benar puas dengan semuanya? tidakkah kamu berpikir bagaimana ayahmu kecewa ana?!" tanya Yudha menaikan nadanya diakhir kalimat. Yudha tampak emosi dengan ana.
"Bagaimana apa perasaan mu sekarang senang?" tanya Yudha pada ana yang hanya diam membisu.
Yudha kemudian diam kembali masuk kedalam kamar mandi, "Aku mandi dulu, nanti kita bicara lagi." Yudha melepaskan tangan ana dan menutup pintu kamar mandinya.
Apa laki-laki hanya bisa tidur dengan wanita yang dia cintai saja? Kenapa Yudha marah seperti itu?
Batin ana bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Sebenarnya dia tidaklah benar-benar ingin tidur dengan Yudha. Tetapi ingin mengetahui bagaimana reaksi Yudha saat dia menggodanya.
Lama menunggu Yudha, ana memutuskan untuk melepaskan kimononya tiba-tiba Yudha ada dibelakang memeluknya.
"Yudha?" tanya ana. Lehernya terasa geli menempel dengan dagu milik Yudha.
"Kenapa ana apa kamu terkejut?" tanya Yudha.
"Tidak," dusta ana nyatanya tubuhnya terkejut dengan pelukan Yudha yang secara tiba-tiba.
Yudha membalikan tubuh ana yang terlihat seksi dan mulus, "Apa kamu siap melakukannya?" tanya Yudha pada ana.
"Kenapa ana? kenapa kamu menjauh?" tanya Yudha masih dengan posisi yang sama dimana wajah mereka berjarak 5 cm.
"Bukankah kamu sudah biasa melakukannya dengan Arya? bahkan tidak pernah menolak atau memundurkan wajahmu darinya," kata Yudha menatap dingin kearah ana.
Ana sulit menelan salivanya tiba-tiba saja dia merasa takut dengan sikap Yudha.
Yudha memundurkan dirinya dari ana, "Layaknya dirimu yang memundurkan tubuhmu, sama seperti itu aku tidak bisa melakukannya denganmu." Yudha berjalan kearah kasur mengambil bantal dan mencari selimut didalam lemarinya.
"Kita sudah sama-sama tau perasaan kita masing-masing. Sepertinya tidak perlu ada sandiwara lagi diantara kita." Setelah Yudha mendapatkan selimutnya dia menutup pintu lemarinya.
"Hubungan kita hanya sebuah formalitas, hati dan raga kita tidak bisa bersatu. Satu sama lainnya sama-sama menolak untuk bersama." Terang Yudha berjalan menuju pintu kamar.
"Kamu tidurlah disini aku akan tidur dikamar lain, semoga tidur mu nyenyak dan kamu bisa bermimpi indah." Yudha menutup pintu kamarnya meninggalkan ana yang mematung mendengar semua perkataan Yudha.
Ana hanya bisa menitikkan air matanya dikala pernikahannya harus tampak semu. Rasa sakit di dadanya pun tidak bisa dielakkan.
Aku kira memberi balasan yang sama agar mereka merasakan apa yang aku rasakan bisa membuatku bahagia. Tapi kenapa hatiku semakin sakit dengan perbuatan ku sendiri.
Ana mengunci pintu kamarnya kemudian dia tidur. Sepanjang malam ana hanya memikirkan bagaimana dia bisa melanjutkan semua ini. Bagaimana dia bisa bersikap baik-baik saja setelah semuanya kacau diluar kendalinya.
--
Pagi hari yang cerah ana sudah mandi dan bersiap-siap dengan pakaian kantornya. Menuruni anak tangga dilihatnya sudah ada ibu mertua yang menyiapkan sarapan.
"Pagi Bu," sapa ana pada mertuanya.
"Pagi ana, wah kamu sangat cepat beradaptasi dengan mudahnya kamu memanggilku ibu." Nyonya Setiawati sibuk menata makanan diatas meja makan menyiapkan sarapan untuk mereka sekeluarga.
Setelah selesai tata menatanya nyonya Setiawati melihat ana rapi dengan pakaian kantornya, "Ana apa ini? Apa kamu ingin berangkat kekantor?" tanya nyonya Setiawati.
Yudha yang baru saja turun dari anak tangga menghentikan langkahnya menatap ana yang diprotes oleh ibunya, "Kenapa mah bukannya mamah juga kerja?" tanya Yudha yang tampak peduli dengan ana. Yudha berjalan seraya mengancingkan lengan bajunya.
"Ini hari pertama pernikahan kalian apa tidak berniat cuti dari dunia kerja?" tanya nyonya Setiawati pada Yudha dan ana.
Yudha tampak diam mendengar pertanyaan ibunya.
"Kalian tidak berniat honeymoon? Apa tidak ingin berlibur dulu? Bukankah kalian masih muda? Jika menunda nanti akan sulit mendapatkan waktu lagi," usul nyonya Setiawati pada Yudha dan ana.
"Ana kamu dirumah saja, kamu pasti lelah. Aku akan mengirimkan surat permintaan cuit kekantormu," kata Yudha yang sekaligus menyuruh ana untuk libur dari dunia kerja.
"Mah aku mau berangkat kekantor dulu," pamit Yudha pada nyonya Setiawati.
"Yudha kamu tidak sarapan dulu?" tanya nyonya Setiawati mengkhawatirkan anaknya.
"Tidak usah aku akan sarapan dikantor saja," jawab Yudha berjalan meninggalkan nyonya Setiawati dan ana.
Ana merasa dirinya diasingkan. Dia merasa dirinya tidak bersikap seperti seorang istri pada umumnya. Terutama sikap Yudha yang tidak memperdulikannya. Dia semakin merasa bersalah dengan Yudha.
Berapa orang yang aku kecewakan? dan berapa orang yang telah membuat ku kecewa?
Tanya ana pada dirinya sendiri seakan-akan dunia tidak berpihak padanya.