
2 tahun berlalu sejak kematian sang nenek. Kini ana tinggal bersama dengan ayahnya bersama ibu sambung untuk ana.
"Ana semangat yha sekolahnya." Ana menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan semangat dari ibu sambungnya.
Ana sangat senang bisa merasakan tulusnya cinta dari seorang ibu. Setelah selesai bersalaman dengan ibunya itu ana kemudian masuk kedalam mobil dikursi belakang.
"Ayah apakah nanti aku ada jadwal pemotretan?."
Ana sekarang menitikkan karirnya diperusahaan ayahnya. Anjasmara Kusuma entertainment atau akrab dikenal A.K entertain. Ana menjadi model majalah dan juga beberapa model iklan sponsor. Beberapa undangan pernah dia dapatkan untuk menjadi host disebuah acara, kadang dia juga mengikuti lomba modelling.
Mendengar pertanyaan dari ana, Ayahnya itu berfikir sambil membaca proposal yang sedang dia pegang.
"Sepertinya ada jam setengah 3."
Ana mengangguk tanda dia mengerti. Tidak ada lagi percakapan didalam mobil itu. Ana memilih untuk melihat pemandangan jalanan dari jendela mobil.
"Ana nanti kamu dijemput supir setelah kamu ganti pakaian dirumah kamu langsung ketempat pemotretan." Kata ayahnya yang masih sibuk dengan proposal yang dia pegang.
"Baik ayah."
Tidak lama menunggu akhirnya ana tiba dikampus. Setelah menyalami ayahnya ana masuk kedalam kampus.
"Ehh liat dia model yang ada di majalah itu yha?."
"Iya dia cuek banget yha bahkan gak ada senyum sedikitpun dari wajahnya."
Banyak gosipin dari mereka terdengar jelas ditelinga ana. Tapi ana hanya melewati mereka dan acuh tak acuh dengan perkataan mereka.
"Lu liat bro dia jutek habis." Kata salah satu laki-laki yang sedang duduk dianak tangga
"Iya bro, lu bisa gak cairin hati tuh cewek."
"Semua cewek pasti luluh dengan gua." Kata laki-laki itu tidak takut dengan tantangan yang diberikan oleh temannya.
"Ayo taruhan."
"Siapa takut kalau gua bisa ngerebut hatinya gua traktir kalian makan seminggu." Laki-laki itu dengan sangat berani dan percaya diri menerima tantangan yang diberikan oleh temannya itu.
Ana sedang menaiki anak tangga untuk menuju kelasnya. Mendengar dari belakang percakapan mereka membuat ana risih.
"Kata yang mereka inginkan." kata ana dalam hati menggerutui para laki-laki tersebut.
Bel berbunyi semua anak-anak sudah duduk dibangku masing-masing dengan sangat rapi.
"Baik anak-anak hari ini kita akan belajar kisi-kisi soal karena Minggu depan kita sudah ulangan umum."
"Jangan lupa untuk mengumpulkan laporan yang sebelumnya belum mengumpulkan." Sambung guru tersebut menerangkan pembelajaran hari ini.
"Baik Bu." Saut semua murid dikelas.
Ana mengerjakan soal-soal tersebut dengan sangat santai. Dirinya bersandar dikursi sambil membaca dan menulis jawab soal tersebut.
Tiba-tiba ana dilempar kertas oleh salah satu anak yang duduk berseberangan dengan dirinya.
"Ana.." bisik temannya itu memanggil nama ana.
Karena merasa terusik terus-terusan dipanggil ana kemudian menoleh kearah temannya itu.
"ANA, NISA." Teriak guru itu dari meja depan.
Merasa diteriaki ana dan Nisa itu langsung menegakkan kembali posisi duduk mereka.
"Kalian sedang apa?."
"Humm anu Bu.." Nisa gugup dan lidahnya kelu ingin bicara dia bingung ingin mencari alasan apa.
"Ibu pulpen saya habis saya pinjem ke Nisa." Kata ana mencoba membela Nisa.
Mendengar itu guru tersebut menganggukkan kepalanya.
"Kalian jangan bermain-main Minggu depan kalian udah ulangan."
"Baik Bu." Ucap Ana dan Nisa berbarengan. Mereka kemudian mengelus dada merasa lega berhasil mencari alasan.
15 menit kemudian bel istirahat berbunyi semua murid bersorak ria.
"Huahhh ana makasih tadi kamu udah nyelamatin aku dari nenek sihir." Nisa bersorak senang dan memeluk ana.
"Iya Nisa sama-sama." Kata Ana dan mengumbar seidkit senyuman kepada Nisa.
"Ayo ana kekantin kita makan bareng."
"Ayo." Selesai memasukan bukunya keras ana menerima ajakan Nisa.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju kantin. Dikantin sangat ramai mereka harus berdesak-desakan untuk bisa membeli makanan.
"Na kamu nanti ada pemotretan?." Tanya Nisa dengan mulut penuhnya berisi mie ayam.
Nisa dan ana bekerja ditempat yang sama yaitu di A.K entertainment. Mereka berdua juga seorang model. Tapi Nisa tidak mengetahui kalau pemilik perusahaan adalah ayah ana.
"Makan selesaiin dulu nis, aku nanti ada pemotretan kenapa bisa?" Melihat Nisa yang bicara dengan mulut penuh itu ana merasa sedikit risih karena ana tidak pernah bicara saat sedang makan.
"Siapa ulang tahun nis?"
"Temen aku na dia ngundang aku bingung mau kasih kado apa."
"Dianya cowok?" Tanya Ana membuat Nisa kaget.
"Iya kenapa kamu bisa tau?."
"Wajar aja, cariin dia baju jam sepatu atau apapun sejenisnya aja nis." Kata ana mengusulkan ide.
Mendengar ide yang diajukan ana nisa sejenak berpikir.
"Bagus juga ide mu okelah entar aku beli sepatu aja."
"Kamu tau ukurannya dia?"
"Kira-kira aja hahahahha." Nisa menjawab asal pertanyaan ana. Ana juga ikut tertawa karena jawaban Nisa itu.
Selesai makan merekapun kembali kekelas untuk melanjutkan jam pelajaran. Ana sangat bosen dengan jam pelajaran. Sesekali dia melihat kejendela luar untuk merefresh otaknya. Seminggu ini dia full mendapatkan latihan soal untuk persiapan ulangan.
"Baik anak-anak sekian dari ibu jam pelajaran berakhir kalian boleh pulang."
"Baik Bu." Kata murid-murid itu serempak dan langsung memberikan salam.
Semua langsung bergegas untuk pulang. Begitu juga dengan ana, dia sedang mengemasi barang-barangnya.
"Ana entar temenin aku ditempat acara yha?"
Ana dan Nisa sedang beriringan berjalan menuruni anak tangga.
"Jam berapa nis?" Tanya ana sambil memperhatikan anak tangga yang sedang dia lewati.
"Jam 6.30 kita berangkat."
"Okeh." Ana setujú untuk ikut bersama nisa.
Mendengar persetujuan ana, Nisa sangat senang dia langsung memeluk ana erat.
"Makasih ana sampai jumpa da... Entar sore aku jemput yha.." ucap nisa melambaikan tangan saat dia hendak memasuki mobil pribadinya.
"Iya.." begitu juga ana yang hendak masuk kedalam mobilnya yang sudah dijemput oleh sang sopir.
Ana duduk di kursi belakang. Ana bosen didalam mobil yang bisa dia lakukan hanya melihat jalanan dari jendela. Sesekali dia membuka ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
Ting
Suara notifikasi dari line. Ana yang sedang memegang hpnya itu langsung menekan notifikasi yang masuk.
Ana kamu nanti ada kegiatan. By Kristoforus
Iya ada kenapa Kris?. By Analambad
Aku pengen ajak kamu keluar. By Kristoforus
Kemana Kris? By Analambad
Main kemana gitu pengen melepas rindu sama kamu. By Kristoforus
Membaca pesan dari kristi, ana jadi senyum-senyum sendiri. Cuma kristi yang selalu menemani dirinya saat dia tinggal ditempat almarhum sang nenek.
Kini ana sudah jarang bisa bertemu dengan Kristi sahabat karibnya itu.
Ana Minggu semoga bisa ketemu yha pay pay😘😘😘. By Kristoforus
Iya Kris pay muach😘😘. By Analambad
Pesan terakhir itu ditutup dan tidak ada lagi jawaban dari Kristi. Ana sendiri merasa sedih karena dirinya tidak bisa lagi seakrab dulu atau mempunyai banyak waktu dengan sahabat tercintanya itu.
Sesampainya dirumah ana langsung mengganti bajunya.
"Ana sini makan dulu."
Ana yang baru saja menuruni anak tangga terakhir itu langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ajakan sang ibu.
Ana dan ibunya itu makan dengan keadaan yang sunyi. Tiba-tiba pintu depan berbunyi membuat ana dan ibunya itu kaget.
"Itu siapa yha?" Tanya ibunya itu membuat ana bingung ingin jawab apa.
"Ibu kedepan dulu yha bukain pintu." Ana hanya menganggukkan kepalanya melihat ibunya yang sudah melangkah ke depan untuk membukakan pintu.
Karena sudah selesai makan anapun kedepan untuk melihat siapa yang datang sekalian dia ingin berpamitan untuk pergi bekerja.
"Dimas?" Tanya ana kaget melihat Dimas sedang memeluk ibu sambung ana itu.
Mendengar suara ana, ibunya dan laki-laki yang bernama Dimas itu menoleh kearah ana.
"Hey ana kamu disini?" Tanya Dimas yang juga kaget dengan keberadaan ana.