
Ana sedang duduk di bangkunya itu. Dia memegang keningnya memijat dan sesekali dia memutar mutar bolpoinnya. Seketika migrain sakit mata menyerang saat dia berhadapan dengan soal-soal yang ada dihadapannya.
"Nisa.." panggil Ana pelan. Untungnya Nisa tidak pura-pura tuli saat ulangan.
Bahasa isyarat akhirnya diluncurkan sesekali mereka saling lirik dan memainkan jari-jemari sebagai kode, dan mereka berdua juga cekikikan saat tidak mengerti bahasa isyaratnya atau salah tangkap maksud sang lawan. Jam menunjukkan pukul 11, berakhir sudah ulangan hari ini. Semua mahasiswa beranjak untuk pulang.
"Ah.. Nisa ini ujian sekolah atau ujian hidup." keluh Ana kepada Nisa sambil memegang pundak Nisa saat menuruni anak tangga.
"Entahlah Ana aku penat ingin rebahan tapi harus ngasih surat kontrak training." ucap Nisa tidak kalah penatnya dengan Ana.
"Ana kamu pulang sama siapa?" tanya Nisa kepada Ana karena biasanya Ana selalu pulang dengan dirinya.
"Sama kamu." jawab Ana polos dan seadanya.
"Tapi hari ini aku diantar ayah huah..." jawab Nisa pura-pura menangis ditempat parkiran.
"Ya udah aku telepon supir dulu." Ana berusaha menenangkan Nisa kemudian mengeluarkan smartphonenya.
Namun tiba-tiba Dimas keluar dengan gerombolan teman-temannya.
"Hey kalian nungguin jemputan?" Tanya Dimas kepada Ana dan Nisa.
Nisa dan ana hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayo aku anter pulang." Dimas menawarkan tumpangan kepada mereka berdua.
Namun Ana dan Nisa saling beradu tatap untuk membuat kesepakatan, "Tapi kami harus keperusahaan untuk naruh kontrak training." jawab Nisa.
"Iya gapapa keperusahaan ayahkan?" tanya Dimas kepada mereka.
Nisa hanya menganggukan kepalanya, sedangkan Ana masih sibuk memegang smartphonenya.
"Kami juga mau naruh kontrak disana ayo barengan aja." kata teman Dimas itu mengajak Ana dan Nisa.
Tapi firasat Ana tidak enak dengan yang akan terjadi, dia tidak terbiasa dikeliling para anak laki-laki seperti ini.
"Gapapa kami naik grab aja." kata Nisa menolak dan menarik ana keluar gerombolan itu.
"Nis kamu udah mesen grab?." tanya Ana saat mereka sudah ada didepan gerbang.
"Sekarang pesan Gocar aja, lagian ini ada yang terdekat, tunggu 3 menit aja." kata Nisa menunjukkan smartphonenya.
Ana menganggukkan kepalanya kemudian berpikir kenapa Nisa menolak juga ajakan dari Dimas, "Nisa kenapa kamu nolak ajakan Dimas?." Tanya Ana heran.
"Udah datang itu entar aku jelasin dimobil." kata Nisa terburu-buru.
Ana hanya bingung dan kemudian mengikuti langkah Nisa untuk masuk kedalam mobil, "Nis..." ucap Ana kembali ingin bertanya kepada Nisa.
"Hufft." Nisa menghembuskan nafasnya berat.
"Aku malas berhadapan dengan Dimas dan kawan-kawannya na, dia itu terkenal nakal sejak SMA dan aku gak mau lagi berurusan dengan orang kayak dia walaupun dia sahabatku takutnya kamu juga kena nanti." Kata Nisa menerangkannya secara panjang lebar.
Ana hanya menganggukan kepalanya dan fokus kearah jalan menuju perusahaan.
15 menit berlalu mereka akhirnya sampai diperusahaan.
"Padahal kita sering disini ngambil job kenapa kita harus naruh surat kontrak training lagi." Kata Nisa mengeluh dengan berkas yang dia pegang.
"Beda Nis itu kerjaan pribadi ini kerjaan kampus." jawab Ana mencoba menenangkan Nisa yang sepertinya sudah ingin meledak karena matahari yang menyengat.
"Kita udah sering disini, kalau sampai lupa sama keterangan lokasi itu kebangetan namanya hahahhaha." Kata Nisa tertawa mengingat isi laporan training nantinya.
Ana dan Nisa kemudian menaiki anak tangga menuju meja staff untuk menaruh surat kontrak.
"Permisi Bu ini saya ingin menaruh surat kontrak training sama teman saya." Kata Nisa menunjuk ana yang ada disampingnya.
Ana yang ditunjuk itu hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Kira-kira nelpon siapa yha??" Tanya Nisa kepada ana.
Sedangkan ana hanya mengangkat bahunya tanda dia tidak mengetahui apapun.
"Silahkan masuk keruang manager." Kata ibu tersebut kemudian mengantar mereka berdua kesalah satu ruangan yang bertulis manager kantor.
"Tunggu disini yha." Kata ibu tersebut yang mendapatkan anggukan dari ana dan Nisa.
Ana dan Nisa kemudian dipersilahkan masuk setelah ibu itu keluar.
"Jadi kalian Ana dan Nisa dari kampus jurusan Management Bisnis?" Kata pria itu sambil memegang berkas yang berisi data mereka berdua.
"Iya pak." jawab Ana dan Nisa serempak.
"Kalian mulai prakteknya Minggu depan selesai ulangan yha?" tanya pria tersebut setelah selesai membaca semua berkas-berkas dan data-data yang tertera disana.
"Iya pak." jawab mereka lagi serempak.
"Selamat yha kalian diterima untuk praktek trainingnya semoga bisa bekerjasama." Kata pria tersebut kemudian menjabat tangan kepada mereka berdua.
"Terima kasih pak." Jawab Nisa menerima jabatan itu, begitu juga dengan ana.
"Panggil saja saya pak Bisma." Kata pria tersebut kemudian mengajak Ana dan Nisa berkeliling untuk mengetahui tugas apa aja yang akan mereka dapatkan nantinya.
Nisa dan Ana hanya menganggukan kepalanya saat mereka diberi tau satu-persatu tugas ruangan dan sebagainya.
"Bagaimana terbayang apa yang akan kalian lakukan nantinya?" Tanya Bisma kepada mereka berdua setelah selesai menerangkan semuanya.
Ana dan Nisa hanya mengangkat alisnya tanda mereka hanya memahami setengah beberapa atau hanya sebagiannya.
"Hahahhaha tidak masalah setelah kalian langsung praktek pasti akan langsung mengerti." kata Bisma mencoba menghibur mereka berdua.
Sedangkan ana Nisa hanya tertawa mendengar perkataan bisma.
"Hehehe iya pak semoga." Kata Nisa terkekeh seperti kucing.
"Kalian berdua ini model disinikan?."
Ana dan Nisa hanya senyum-senyum mendapatkan pertanyaan itu dari Bisma.
"Iya pak kami model yang biasanya ngambil job disini." Kata ana menganggukan kepalanya.
Bisma yang mendapat penjelasan itu hanya menganggukan kepalanya mengerti. Mereka kemudian menuruni anak tangga untuk pamit pulang dari sana. Namun mereka bertemu dengan Dimas dan teman-temannya dibawah.
"Hay.. kita pulang duluan yha..." Kata Nisa memegang tangan Ana dan mengajaknya untuk keluar dari sana.
Dimas yang melihat mereka seperti itu sedikit tidak senang karena merasa mereka berdua menghindari dirinya.
"Wehh bos gimana itu ceweknya belum juga bisa lu dapatin hatinya." Kata teman Dimas mengingat taruhannya saat itu.
"Ada waktu sebelum akhirnya mangsa jatuh ketangan kita." Kata dimas mencoba tenang dia belum ingin kalah dari taruhannya.
"Sepertinya dia tidak pernah melirik bos sedikitpun." Temannya itu mencoba memanas-manasi Dimas.
Namun Dimas hanya tersenyum smirk, "Tenang aja kalian pasti akan lihat, gua bisa dapatin hati cewek itu."
Teman-temannya yang mendengar perkataan Dimas itu hanya mengangkat bahunya dan kemudian mereka menaiki anak tangga.
Diluar ana dan Nisa sedang berjalan menuju cafe untuk makan siang.
"Ana kamu mau makan apa?" Tanya Nisa kepada Ana yang terlihat lelah berjalan.
"Makan pizza aja yuk nis pengen." Kata Ana menunjuk salah satu menu jenis pizza.
Akhirnya merekapun memilih pizza dan hamburger untuk makan siangnya ditemani dengan teh lemon.