Complicated Story

Complicated Story
56. The End



Setelah mengurus semua surat-surat rumah. Yudha resmi membeli rumah yang berlokasi didekat pusat pendidikan.


Yudha sedang mengangkat barang-barang pindahannya. Ana juga ikut memindahkan barang-barang yang bisa dia angkat.


Ana memasang ekspresi bingung saat Yudha mengangkat kasur kekamar satunya, pasalnya dia baru saja mengangkat kasur dikamar yang akan ditempati ana.


Ana berjalan mengikuti Yudha dari belakang, "Apa kita pisah kamar?" tanya ana melihat ada dua kamar yang ditata rapi berisi barang-barang.


Yudha menganggukan kepalanya, "Iya kita pisah kamar." Yudha menggaruk lekuk lehernya yang tidak gatal, "Bukankah kita terbiasa dengan ini?"


Pertanyaan Yudha membuat ana tercenung mau bagaimana lagi sejak awal hubungan mereka memang tidak baik-baik saja, "Euhm anu-" ana berusaha untuk berbicara dengan Yudha.


Yudha menatap ana dengan ekspresi bingung, "Ada apa?"


Ana menautkan dua jari telunjuknya didepan perutnya, "Bisakah kita.. satu kamar? Aku begini, jika kita pisah kamar kita akan kesulitan merawat Ariana yang masih bayi. Ariana juga harus dirawat dengan beberapa alat khusus untuk beberapa Minggu kedepan selama dirumah."


"Bukankah kalau kita sekamar itu bisa mempermudah kita menjaga Ariana?" Ana bener-bener gelagapan berbicara dengan Yudha. Dia juga tidak pernah memiliki hubungan intim dengan Yudha membuat mereka berdua sedikit canggung jika harus membahas kamar.


Yudha lagi-lagi menggaruk lekuk lehernya, "Akh- iya kamu benar. Nanti aku akan beli kasur kecil untuk ditaruh dikamar mu. Disini kamarnya agak kecil, apa tidak masalah kalau kita tidur bersama dikamar mu itu?" tanya Yudha meminta ijin pada ana.


Ana menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah, kamu bisa tidur disana nanti kita gantian menjaga Ariana."


"Hum iya." Yudha menganggukan kepalanya kemudian berjalan keluar ruangan kembali memindahkan satu persatu barang kedalam rumah.


Jam menunjukkan pukul 05.00 dan semua barang sudah selesai dipindahkan hanya saja butuh beberapa penataan lagi agar rumahnya lebih terlihat rapi.


Ana menyiapkan makan malam untuk Yudha. Selesai mandi ana segera bergegas menuju dapur yang sudah lebih dulu ditata rapi terutama bagian kompor dan peralatan masak.


"Hum aromanya enak sekali," puji Yudha dari belakang.


Ana menoleh kearah Yudha yang baru saja selesai mandi. Seketika ana kembali membalikan badannya. Dia terkejut melihat badan kekar Yudha yang basah dan hanya terbalut handuk pada bagian bawahnya. Ana berkali-kali menutup wajahnya dengan sebelah tangan.


Tanpa sengaja dia menyentuh bagian matanya yang membuat dia merasa perih terkena aroma bawang dan cabai, "Ah!" ana mengibas-ibaskan matanya yang perih. Berjalan dengan meraba-raba mencari wastafel untuk mencuci matanya.


Yudha yang melihat ana panik memejam-mejamkan matanya, "Ana kamu kenapa?" tanya Yudha heran kemudian menghampiri kompor dimana masakan ana masih berada diatas wajan dengan api yang menyala.


"Apa masakannya sudah matang?" tanya Yudha pada dirinya sendiri lalu dia melihat ana yang masih berusaha mencuci matanya.


Yudha berusaha mengecek tingkat kematangannya dengan menggunakan garpu, "Mungkin sudah ya?" Yudha mematikan kompornya karena takut jika nanti masakannya gosong.


Setelah mematikan kompornya Yudha beralih menghampiri ana yang terus berusaha mencuci matanya, "Apa yang terjadi?" tanya Yudha mendekati ana di wastafel.


"Aku tidak sengaja mengucek mata ku dan tanganku belum dicuci setelah membuat bumbu tadi." Ana terus memberi air pada matanya berusaha menghilangkan perih yang ada dimatanya.


Yudha kemudian membantu ana untuk mengelap matanya dengan handuk kecil yang ada dilehernya, "Apa sudah hilang?" tanya Yudha saat ana berusaha membuka kelopak matanya.


Ana menganggukan kepalanya, "Iya sudah mendingan tidak seperti tadi."


"Baiklah kalau begitu aku mau pakai baju." Yudha berjalan menuju kamar untuk memakai baju bersiap untuk makan malam.


Ana berjalan menuju kompor melihat masakannya, "Astaga ini belum matang." Ana menepuk jidatnya kemudian kembali menghidupkan kompornya.


Aroma sedap yang dikeluarkan dari masakannya kembali menyebar setelah ana menghidupkan kompornya. Menunggu beberapa saat sampai masakannya matang, ana menyiapkan meja makan dan menata piring. Dia juga menaruh beberapa hidangan lainnya yang sudah dia masak.


Selesai ana menaruh semua masakannya, Yudha menghampiri meja makan. Dia tampak senang dengan masakan yang tersaji. Ana melepaskan celemeknya dan duduk disamping Yudha. Dia menaruh sesendok nasi diatas piring Yudha dan mengambilkan beberapa lauk untuk Yudha.


"Enak," puji Yudha menyantap makanannya dengan lahap.


Ana terkekeh melihat Yudha menikmati masakannya, "Kapan Ariana akan dibawa pulang?" tanya ana mengingat sudah dua Minggu berlalu.


Yudha sejenak berpikir, "lusa tahun baru bagaimana kalau kita bawa Ariana lusa saja? besok sepertinya kita harj membersihkan rumah," kata Yudha ditengah-tengah makannya.


"Iya cepat juga ya sudah akan tahun baru."


Selesai makan malam mereka berdua menuju kamarnya masing-masing karena kasur yang dipesan Yudha belum datang dan kasur yang ada dikamar Yudha terlalu besar untuk ditaruh sekamar Yudha memutuskan untuk tidur sementara dikamarnya dia juga masih belum bisa satu kasur dengan ana.


Ana merapikan kasurnya sebelum tidur, "Hari ini semuanya tampak terlihat indah semoga tidak ada lagi masalah yang terjadi," ucap ana sebelum akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.


Kring Kring Kring


Alarm smartphone ana berbunyi dengan mata yang mengantuk dan badan yang kelelahan dia mematikan alarmnya, "Rasanya aku tidak tidur semalam. Kenapa malam cepat berlalu."


Ana meregangkan otot-otot tubuhnya rasa pegalnya masih belum hilang, "Aku tidur tanpa arwah semalam." Ana tertawa pelan mendengar perkataannya sendiri berjalan perlahan menuju kamar mandi dalam kamar dia membersihkan diri.


Yudha yang baru saja bangun keluar dari kamarnya bersamaan dengan ana yang baru keluar setelah mandi. Rambut ana yang basah karena baru selesai keramas membuat Yudha betah melihat pesona ana yang cemerlang dipagi hari.


"Pagi," sapa ana menundukkan kepalanya dia berjalan menuju dapur menyiapkan sarapan.


"Pagi juga," balasan Yudha tampak mengigau setelah ana pergi dari hadapannya.


Yudha dan ana sama-sama sepakat untuk cuti sementara untuk pindahannya tapi sepertinya tidak dengan ana, dia memutuskan untuk berhenti bekerja demi bisa mengurus Ariana yang memang keadaannya tidak seperti bayi normal pada umumnya.


Selesai sarapan mereka berdua kembali membersihkan rumahnya. Ana menyapu dari lantai atas hingga lantai bawah sambil menata satu persatu barang-barang yang ada diruangan itu.


Rumah Minimali dua lantai. Tidak seperti rumah Yudha dan ana sebelumnya yang agak besar. Yudha memilih rumah yang agak lebih sempit sebagai tempat tinggalnya. Dia tidak ingin memiliki rumah yang besar hanya untuk 3 orang penghuni.


Yudha menata kembali beberapa barang berat yang tidak bisa diangkat oleh ana mereka saling bekerjasama menata baru rumah mereka.


"Geser sebelah sana." Ana menunjuk sebelah kanan untuk menggeser meja riasnya.


Yudha mengikuti arahan ana kemana ana ingin meja dan lemarinya diletakan.


"Disebelah sini aja." Kini beralih ana menyuruh Yudha menggeser kulkas yang ada didapur.


"Eh jangan disana disini aja." Ana mengubah kembali posisi kulkasnya dia ingin kulkasnya berada ditempat yang strategi yang mudah dijangkau.


Yudha kemudian mengangkat telivisi dan menaruhnya diatas meja, "Ini mau diposisikan seperti ini?" tanya Yudha pada ana memegang televisinya.


Ana menggosok-gosokkan dagunya dengan jari telunjuknya, "Geser dikit kesana gimana?" ana mengarahkan tangannya dekat tangga.


Yudha mengikuti arahan ana sehingga televisinya ada disamping tangga. Kemudian mereka berdua-dua bersama-sama menggeser sofa untuk ditata sesuai keinginan ana.


Hampir semua penataan ruangan atas pemikiran ana, Yudha hanya mengikuti arahan ana untuk menggeser, mengangkat dan memindahkan barang-barang yang diperintahkan.


Hingga esok harinya ana dan Yudha berada dirumah sakit untuk membawa pulang Ariana, bayi mungil yang dilahirkan Kristi.


"Jangan biarkan bayinya ditempat yang dingin dan lembab, pastikan ruangan tetap hangat jika bisa jangan diruangan ber-AC atau berkipas. Dan jika ingin ruangannya diberi lampu agar suhunya lebih hangat untuk sang bayi. Pastikan juga bayinya tetap mendapatkan matahari pagi."


Ana dan Yudha menganggukan kepalanya mendengar arahan dokter untuk menjaga Ariana. Mereka juga diberi beberapa alat bantu pernapasan untuk Ariana berjaga-jaga jika seandainya Ariana mengalami sesak nafas. Karena jantung Ariana masih dalam kondisi lemah namun dia sudah bisa bernafas lebih normal dari sebelumnya.


Ana menggendong Ariana dengan senyuman yang mengembang disamping Yudha yang membawakan tas bayi mereka.


The End~


Wahhh tamat guys hahahhaha


Makasih ya udah baca karya author yang super duber berantakan dengan alur yang semerawut hahahha. Maafkan author jika ada banyak kesalahan selama penulisan dan mungkin tidak mendapatkan feel-nya. Maaf ya author bener-bener pemula banget dan author masih terus belajar dan berusaha. Terima kasih buat kalian yang udah setia membacanya.


Lope u


lope lope buat kalian semua 😘😘😘😘