
[Yudha POV]
Ana pasti menyukainya.
Aku menyetirkan mobil menuju festival alun-alun kota. Tapi sebelum kesana aku membeli beberapa hadiah untuk ana. Karena ini bisa dibilang kencan aku ingin hari ini terlihat spesial dimatanya.
Banyak orang datang kesana aku cukup kesulitan memarkirkan mobil akhirnya aku memutuskan memarkir mobil didekat toko swalayan. Cukup jauh dari alun-alun yang mengharuskan aku untuk berjalan kaki.
Bruk
Saat menyeberang seseorang tidak sengaja mendorongku. Suasananya juga begitu ramai dan padat sulit untuk bisa mengakses jalan.
Brak
Smartphoneku jatuh kejalan hingga hancur lebur dilindas oleh mobil.
Kalau aku harus membeli smartphone baru butuh waktu lama. Lebih baik aku segera ke festival disana ana pasti sudah menunggu.
Ku lirik arloji ditanganku yang menunjukkan angka 18:45.
Sudah sangat terlambat dari jam perjanjian.
Hosh-Hosh-
Akhirnya aku sampai di festival benar-benar sangat padat. Aku kira jika dihari kerja festival ini akan sedikit sepi ternyata aku salah. Banyak orang yang rela datang di launching pertama festival ini. Aku berjalan melihat kekiri dan kekanan mencari sosok ana didepan pintu masuk. Tetapi tidak juga aku temukan sosoknya.
Apa dia ada didalam?
Pikirku mengingat suasana begitu ramai. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya aku memutuskan untuk masuk kedalam. Melirik kesegala arah tapi tidak juga aku menemukan Ana.
Dari kejauhan aku melihat seorang wanita yang sedang berdiri didekat dagang sosis. Dengan dress midinya bisa perkiraan ku itu adalah ana. Aku mencoba menerobos kerumunan yang masuk kedalam. Tapi saat aku mendekatinya dia digandeng oleh seorang pria.
"Arya?" tanyaku tidak percaya melihat sosok Arya disamping ana.
Ingin mendekati mereka tetapi ada rasa ingin tau apa yang terjadi jika aku tidak mendekati mereka berdua.
Aku memutuskan untuk menguntit dari belakang. Secara diam-diam dan agar tidak diketahui aku terus memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.
Mereka berdua sama sekali tidak menyadari kehadiran ku meskipun aku ada 5 langkah dibelakang mereka.
Aku melihat ana tampak senang bermain dengan Arya.
"Kakak ayo tembak kak tembak," seru ana dengan tawanya.
Aku senang ana bisa tertawa seperti itu, tak pernah aku temukan tawanya bisa lepas seperti ini.
"Akh- gagal uhhh kakak payah hahahahhaha," ledek ana disamping Arya.
Pletak
Arya menyentil kening ana. Langkah kakiku sudah akan mendekati mereka. Namun niatku kembali terkurung.
"Ahh kakak sakit, gitu aja marah." Ana terlihat manja dengan bibirnya yang sengaja dimanyunkan olehnya.
Ana kemudian beralih melihat tenda yang bernuansa magic. Aku juga melihat Arya begitu memperhatikan ana bahkan dia juga melihat hal yang sama dilihat oleh ana.
"Mau masuk kesana?" tanya Arya pada ana.
Ana kemudian melirik arloji yang melekat pada pergelangan tangannya. Aku juga kemudian melihat jam yang ada pada arlojiku, Apa ana ingin pulang? batinku bertanya.
Ana menggelengkan kepalanya, "Enggak kak udah mau malam kayaknya aku harus pulang."
"Kalau gitu kita masuk kesana bagaimana?" tunjuk Arya pada bianglala yang sedang berputar.
Aku kemudian melirik ana dan bianglala itu. Mata ana berbinar-binar melihat bianglala yang ditunjuk oleh Arya.
"Boleh," jawab ana tersenyum manis.
Sulit untuk mencoba menerima bahwa kenyataannya aku masih belum bisa mencuri perhatian ana, hingga saat ini aku belum tau apa yang menjadi sumber kebahagiaan ana.
Melihat Arya menggandeng ana menuju antrian bianglala akupun mengikuti mereka dari belakang. Berselang 6 orang dari mereka aku mengantri juga untuk bisa naik ke bianglala itu.
Saat sudah masuk kedalam kursi bianglala aku bisa melihat ana begitu senang dan kagum dengan keindahan pemandangan yang terpasang. Apalagi saat malam seperti ini lampu jalanan yang terpasang memang sangat indah ditambah lampu warna-warni festival yang terpasang.
Akupun bisa melihat sosok ana dibalik keranjang besi yang aku duduki. Dia tengah berdiri memegangi besi sebagai pegangannya agar tidak terjatuh. Sesekali dia bertepuk tangan atau mengambil smartphonenya untuk memfoto indahnya malam dikota.
Namun kemudian aku tidak melihat ana berdiri lagi saat keranjang ana ada dipuncak. Cukup lama berputar hingga keranjang kami bisa saling beradu tatap aku melihat telapak tangan Arya sedang memegangi kepala ana.
Ciuman
Batinku saat itu mengatakan bahwa Arya sedang mencium ana. Beberapa saat Arya kemudian melepaskan ana dari pegangannya. Aku hanya bisa tersenyum sinis melihat Arya menunjukan kemesraannya didepan ana.
Selesai menaiki bianglala Arya dan ana terlihat canggung. Aku masih terus menguntit mereka dari belakang.
"Kamu mau pulang?" tanya Arya pada ana.
Ana kemudian menganggukan kepalanya, "Iya kak aku mau pulang ini udah terlalu malam untuk aku kembali kerumah." Ana mengambil smartphonenya dari dalam tasnya.
"Kamu nunggu jemputan?" tanya Arya lagi.
Betapa perhatiannya Arya pada ana, akupun jadi merasa kalah dari sosok Arya yang dewasa itu.
"Iya kak."
"Dimana?" tanya Arya lagi.
Ciut ciut banget rasanya bahkan dia tidak memberikan kerenggangan pada ana untuk bisa jauh darinya.
"Mungkin didepan kak," jawab ana.
Mendengar itu aku berusaha mempercepat langkah ku untuk menggapai ana. Aku ingin mengantarkannya pulang kerumah. Tapi Arya sudah memegangi pundak ana terlebih dahulu. Aku menghentikan langkahku lagi dan kembali hanya memperhatikan mereka dari belakang.
"Aku antar pulang ya? gak baik anak cewek nunggu didepan apalagi suasana ramai seperti ini," kata Arya berusaha memegangi ana. Banyak orang berkerumunan datang membuat kita yang keluar harus berdorong-dorongan untuk bisa mengakses jalan.
"Hum iya boleh." Ana menganggukan kepalanya menerima ajakan Arya.
Aku melihat mobil Arya tidak jauh dari festival mungkin dia sudah datang lebih dulu hingga bisa memarkirkan mobilnya didekat festival.
Melihat ana yang sudah masuk kedalam mobil Arya. Aku berlari menuju tempat aku memarkirkan mobilku. Mungkin butuh waktu untuk bisa mengejar mobil Arya, karena lokasi aku memarkir juga agak jauh dari festival.
Malam semakin padat sulit untuk melakukan kendaraan banyak orang yang sudah mengendarai kendaraannya untuk pulang dan ada juga yang baru datang kefestival.
Setelah melajukan mobil dibeberapa jalan akhirnya aku menemukan mobil Arya agak jauh didepan. Aku masih melakukan hal yang sama mengikuti mereka dari belakang. Hingga sampai kerumah ana. Aku hanya bisa melihat mereka dari dalam mobil. Aku meminggirkan mobil agak jauh dari mobil Arya namun aku masih bisa menatap mereka dari dalam mobil.
Ana tersenyum manis melambaikan tangannya pada Arya.
Dan disini aku berada dilema aku seperti ada diantara cinta mereka berdua. Cinta kakak adik yang melebihi batas. Aku tidak bisa menyangkalnya meskipun ana tidak menyatakan perasaannya pada Arya tapi aku tau ana pasti memiliki perasaan yang sama juga.
Apalagi mengingat dia pernah bersama Arya dulu hingga pernah mengandung anaknya. Aku harus mencari informasi tentang ana lebih lanjut.
Kini apa yang harus aku lakukan melihat cinta mereka berdua??