
Didepan cermin ana duduk menatap dirinya yang sudah dirias oleh MUA. Wajahnya nampak begitu cantik dengan makeup ala pengantin.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu kamar ana.
"Siapa?" tanya asisten ana yang kebetulan mengawasi proses tata rias dikamar ana.
Seseorang itu membuka pintu kamar ana dan muncullah sosok Arya dibaliknya. Asisten kemudian membisikan sesuatu pada ana.
"Suruh semuanya keluar," titah ana pada asisten.
Setelah selesai merias ana para staff MUA keluar dari kamar ana termasuk asisten pribadinya. Kini ana dengan Arya sedang berdua didalam kamar ana.
"Aku kira kamu tidak akan datang kesini kak," kata ana membuka basa-basi seraya memakaikan kalung pada dirinya sendiri.
"Aku kemari untuk memberikan ini padamu." Arya menyerahkan sebuah kotak putih kecil ukuran 6x6 cm pada ana.
"Apa ini?" tanya ana penasaran ingin membuka kotak diikat dengan pita silver itu.
"Bukan apa-apa, Selamat atas pernikahan mu," kata Arya kemudian melangkah pergi.
"Aku mencintaimu-" perkataan ana membuat Arya membalikan badannya.
"Kakak selalu mengatakannya pada ku selama bertahun-tahun lamanya. Apakah kakak tidak berniat membawaku pergi dari sini? Apakah kakak tidak ingin membawaku kabur dan menjadikanku sebagai milik kakak seorang?" tanya ana menatap manik-manik arya.
Arya tersenyum sinis pada ana, "Kamu benar ana. Aku mencintaimu mu selama ini. Sudah bertahun-tahun lamanya aku mempertahankan cintaku." Arya sejenak diam dari pernyataannya.
"Selama ini aku sudah terlalu bodoh untuk terus mengejarmu seorang diri. Dulu aku selalu berharap untuk bisa tinggal bersamamu selamanya. Menjadikanku sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Tapi sekarang aku menyerah. Aku tidak akan lagi mengejarmu. Tenanglah ana aku tidak akan pernah mengganggu dirimu lagi." Arya mulai melangkahkan kakinya menuju pintu.
Dada ana rasanya begitu sesak saat mendengar semua perkataan Arya. Hatinya benar-benar hancur, rasanya ingin sekali dia menangis namun dia menahan semua air mata yang ingin keluar.
Sebelum Arya keluar, Tuan A.K lebih dulu masuk kedalam kamar ana.
"Ana kamu sudah selesai ayo cepatlah turun semua sudah menunggu mu dibawah." Tuan A.K bersiap mengajak ana untuk turun.
"Ayah-" panggil ana pada tuan A.K.
"Iya ada apa?" tanya Tuan A.K.
"Aku ingin meminta sesuatu sebelum aku pergi kerumah mertuaku," kata ana meminta sesuatu pada tuan A.K.
"Iya ana kamu mau minta apa?" tanya Tuan A.K pada ana.
"Aku ingin Kak Arya menjadi wali nikahku."
Permintaan Ana berhasil membuat Arya menghentikan langkahnya untuk menutup pintu hendak keluar dari kamar ana.
"Ana kamu yang benar saja?!" pekik tuan A.K tidak percaya dengan permintaan Ana.
"Ayah tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah anak kandungmu didepan media. Ayah hanya dikenal sebagai wali ku disetiap pertemuannya. Tapi Kak Arya sudah lama dikenal bahwa aku pernah menjadi adik angkatnya, setelah ayah angkat meninggal bukankah kakak tertuanya yang menjadi walinya?"
Kini Arya yang merasakan bagaimana dadanya begitu sesak mendengar perkataan ana. Dia tidak pernah berharap dirinya hanya dipandang sebagai kakak saja. Dia selalu berharap bahwa ana bisa menjadi pendampingnya kelak. Tapi takdir berjalan terbalik dari kemauannya. Sudah sakit melihat ana menikah dengan orang lain, kini ana ingin dia sebagai wali nikahnya.
Tuan A.K termenung dengan permintaan ana, tidak menyangka bahwa ternyata selama ini dirinya hanya menganggap ana sebagai putrinya hanya didalam rumahnya. Dia tidak akan pernah mengira bahwa ana akan mempermasalahkan ini semua.
"Bagaimana ayah apa ayah setuju?" tanya ana pada ayahnya seraya menaikan sebelah alisnya.
"Ana kamu yang benar saja?! Ayahmu berusaha begitu keras agar kamu bisa berada disisinya dalam keadaan sehat dan bahagia. Dia terus ingin menjagamu. Selama ini dia hidup dengan penuh rasa bersalah pada ibumu apa kamu tidak memikirkan perasannya?!" teriak Arya tidak menyetujui permintaan ana.
Terutama pada Arya dan tuan A.K tentunya. Dua pria yang selalu mempermainkan hidupnya dengan begitu mudahnya seakan-akan hidupnya adalah sebuah permainan.
"Apa ayah pikir selama ini aku hidup dalam kekayaan dengan segala harta akan menjamin hidupku bahagia ah?!" teriak ana bertanya pada ayahnya.
Ana yang mulai menitikkan air matanya, membuat tuan A.K termenung.
Dengan berat hati tuan A.K menyetujui permintaan ana, "Baiklah, jika itu maumu. Arya akan menjadi wali nikahmu."
Tuan A.K kemudian melangkah untuk keluar kamar ana tapi sebelumnya dia melewati Arya dan berkata, "Jaga dirimu baik-baik-" kata tuan A.K menepuk pundak Arya.
Sebenarnya hati Arya dan Ana sama hancurnya pada posisi ini. Ana semakin sesak dadanya menjadikan Arya sebagai wali nikahnya tapi dia ingin menghukum Arya karena telah melepaskan dirinya.
Dia telah melepaskan diriku. Jadi biarkan hari ini dia yang menyerahkan ku pada orang lain.
Batin Ana.
Arya menarik nafasnya sama sesaknya dengan ana.
Apa yang lebih sakit dari ini ana. Aku harus melepaskan mu pergi. Dan kini aku harus menyerahkan dirimu pada orang lain. Kamu benar-benar membuatku menderita ana. Kenapa kamu begitu menyiksa perasaan ku yang begitu mencintaimu ini.
Batin Arya.
Dipelaminan Semua orang sontak kaget melihat Arya yang mewakili ana menikah. Semua tampak tidak percaya karena selama ini yang mereka tau ana sudah lama putus hubungan dengan keluarga angkatnya itu.
"Tidak menyangka bahwa Arya yang mewakili ana hari ini."
"Aku kira tuan A.K yang akan mendampingi ana sebagai wali nikahnya."
"Bukankah Arya dan ana sudah lama putus hubungan sejak ibu angkat itu mengusir ana konon katanya seperti itu."
"Aku dengar-dengar juga bahwa Arya memiliki perasaan pada ana."
"Tidak terbayang bagaimana perasaannya."
Semua mulai berbisik-bisik membicarakan tentang hubungan ana dengan Arya.
Acara pernikahan pun dimulai. Arya menyerahkan Ana dengan sekuat perasaan yang dia miliki.
Ana semoga setelah ini kamu bisa lebih bahagia.
Batin Arya.
Kakak semoga kamu bisa menemukan seseorang yang bisa membalaskan cintamu.
Batin Ana.
Setelah acara pernikahan selesai saatnya ana untuk melemparkan bunga. Para tamu undangan sudah berbaris bersiap-siap untuk menangkap bunga.
"Kalian siap!" Teriak ana dari atas panggung. Tampak ana begitu bahagia namun sebenarnya ada ribuan air mata didalamnya.
"Siap!"
Wush
Bunga itu dilempar oleh ana. Salah satu dari tamu undangan mendapatkan bunga yang dilemparkan oleh ana.