
"ANA!!!!." Teriak Kristi dari depan rumah.
Sedangkan si empu yang dipanggil namanya itu sedang tertidur pulas dengan alam mimpinya.
"Oh Ana!!!!." Teriakan Kristi berhasil mengagetkan nenek ana yang baru saja datang dari toko.
"Kristi cari ana yha?." Tanya sang nenek sambil membukakan pintu untuk Kristi.
"Iya nek.. nenek udah pulang?."
"Iya baru aja pulang bentar yha nenek bangunin ana dulu kayaknya dia lagi tidur."
Nenek masuk kedalam menuju kamar ana, sedangkan Kristi duduk diruang tamu sambil menunggu ana.
"Iya nek."
Beberapa menit kemudian ana pun datang sambil mengucek-ucek matanya.
"Apa Kris?." Tanya ana kepada Kristi yang setengah menguap.
"Nenek aku mau ajak ana kelapangan yha gapapa kan?." Ijin Kristi kepada sang nenek.
"Iya gapapa."
Tanpa pamit Kristi segera mengajak ana untuk kelapangan. Sedangkan nenek ana yang melihat Kristi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bruntal sekali anak itu hihi." Kata sang nenek setengah terkikik setelah ana dan Kristi sudah keluar rumah.
"Ana cepetin jalannya." Ucap Kristi yang udah geram karena Ana yang sangat lambat dengan langkah jalannya.
"Bentar Napa sih emangnya kita mau kemana?." Ana benar-benar terusik dengan sikap Kristi.
Belum lagi yang tadi tidur siangnya harus terbangun karena teriakan si Kristi yang mengajaknya untuk kelapangan kota.
"Kalau gak buruan nanti telat."
Kristi pun menarik tangan ana untuk segera mempercepat jalannya. Sedangkan si ana yang belum siap dengan tarikan dari Kristi hampir saja tersandung.
"Pelan Kris kakiku tabrakan terus ini." Seru Ana sambil melepaskan genggaman dari Kristi.
"Huah ayo donk ana aku mau nonton latihannya."
"Latihan apa sih??" Ana bener bener binggung dengan apa yang dimaksud Kristi.
"Udah ah ayo buruan." Ajak Kristi kembali menarik ana.
Setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai dilapangan. Lapangannya cukup ramai dengan spanduk, dan pedagang kaki lima. Banyak orang-orang berkumpul seakan-akan ada event acara.
"Kris lagi ada apa disini?" Tanya ana yang masih membaca satu persatu spanduk yang terpasang.
"Ini tuh lagi latihan lari buat lomba gitu nah gua kesini mau lihatin ayang bebeb gua." Jelas Kristi sambil melihat-lihat lapangan.
"Emangnya kamu punya doi yha Kris?" Tanya ana heran kepada Kristi.
Kristi merasa jengkel dengan pertanyaan ana. Kristi emang tidak memiliki pacar atau kekasih. Tetapi dia sedang ngefans dengan seseorang lewat akun sosial media.
"Ehh itu dia ayang akuh astaga ganteng banget." Girang Kristi jingkrak-jingkrak membuat Ana menggeleng-gelengkan kepalanya karena sikap alay dari Kristi.
"Ana gua kesana dulu yha mau belanja lu jangan kemana-mana okeh." Ucap Kristi kemudian meninggalkan ana.
Kristi segera menuju salah satu pedagang kaki lima disana. Sedangkan ana mulai berkeliling melihat-lihat lapangan ini. Sesekali dia melihat gedung GOR yang tidak jauh dari keberadaannya.
Bruk
"Aaaa." Ucap ana saat kaget tiba-tiba dia terjatuh.
Ana tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang berlari.
"Aaw." Aduh ana tangannya terasa nyeri saat ditekuk.
Dilihatnya ternyata tangannya terluka cukup parah dibagian siku. Lututnya juga berdarah.
"Kamu gapapa?" Tanya seorang pria dengan nada bass-nya.
Ana kemudian menoleh seseorang yang dia tabrak tadi.
"Ehh?" Kaget Ana karena merasa pernah melihat sosok pria tersebut namun dia tidak ingat dimana.
"Kita ketemu lagi..." batin pria tersebut namun segera buyar karena melihat darah yang berada di kaki dan tangan Ana.
"Sini aku anter kamu ke posko PMR." Ucap pria tersebut kemudian menuntun Ana.
Ana tertatih-tatih saat berjalan. Karena merasa kasihan dengan wanita disampingnya pria tersebut menggendong ana. Ana jadi sedikit canggung karena tiba-tiba tubuhnya dibopong oleh pria tersebut.
Sesampainya diposko PMR ana dibaringkan disebuah matras yang tersedia disana.
"Ada apa ini?" Ucap seorang pria dengan jas putih yang menyerupai dokter.
"Eh-" batin pria perawat itu melihat Ana yang sedang duduk diatas matras. Namun segera dia mengambil kotak P3K untuk mengobati luka-luka yang ada ditubuh ana.
"Nama kalian siapa?" Ucap pria yang sambil mengobati luka ana tersebut.
"Yudha." "Ana." ucap mereka barengan.
Sedangkan ana yang mendengar nama Yudha itu berhasil tercengang. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
"Ana?" Ucap kedua cowok itu berbarengan yang sama terkejutnya.
Yudha mengernyitkan alisnya kaget bingung tidak percaya. Sedangkan pria perawat itu memejamkan matanya seolah-olah berpikir dari keterkejutannya itu.
"Sudah selesai."
"Astaga! Ana!" Teriak Kristi tiba-tiba masuk ke posko PMR itu. Kaget bukan main Kristi saat melihat keadaan ana.
"Astaga ana kenapa bisa kayak gini?"
"Astaga Kristi kenapa kamu bisa tau aku ada disini?" Bukannya menjawab tapi ana juga kaget karena tiba-tiba Kristi bisa tau dia masuk posko PMR.
"Udah selesai? Ayo pulang." Ajak Kristi segera menuntun ana untuk keluar dari posko PMR itu.
Namun ..
"Ehhh tunggu." Pria perawat itu berusaha menghentikan langkah Ana dan Kristi.
"Sini saya bantu kalian pulang kebetulan saya bawa mobil." Ajak pria tersebut menawarkan tumpangan.
Kristi setengah terkikik mendengar ucapan dari pria tersebut.
"Saya? Hmpphh."
"Kris!" kata ana sambil menyenggol Kristi.
"Sorry ana, Yha udah ayo ikut numpang aja gak mungkinkan gua terus-terusan nuntun elu yang jalannya lambat pegel iya capek lama."
Ana benar-benar kesal dengan ucapan Kristi yang mengolok-olok dirinya.Sedangkan kedua pria yang ada disana seakan-akan tidak dianggap kehadirannya.
"Jadi ikut? Jika iya mari ke mobil saya." Ajak pria perawat tersebut.
Ana dan Kristi mengikuti langkah pria tersebut.
Yudha hanya menghela nafas berat karena dia sama sekali tidak dianggap. Bahkan dirinya seperti tidak dilihat kehadirannya. Karena penasaran juga dengan tempat tinggal ana. Yudha mengikuti mereka dari belakang secara diam-diam.
Didalam mobil ana dan Kristi duduk dibangku belakang.
"Nama kakak siapa?" Tanya Kristi membuka percakapan.
"Saya Arya."
"Umur kakak?"
"25 tahun."
"Udah nikah?"
"Belum."
"Pekerjaan kakak apa?"
"Seperti yang kamu lihat."
Mendengar jawaban dari pria tersebut Kristi jengkel dan kesal. Sedangkan Ana terkikik melihat ekspresi Kristi.
Ana heran bisa aja Kristi bertanya-tanya mengintrogasi pria yang sedang menyupir itu.
"Sekarang belok mana?"
"Kiri." "Kanan." Kata Ana dan Kristi berlawanan.
"Jadi belok mana?" Tanya pria tersebut sambil mengarahkan mobilnya kepinggir terlebih dahulu.
"Kriss." panggil ana sambil membuat puppy eyes dihadapan Kristi seolah-olah memohon.
Kanan adalah gang kerumah Kristi. Sedangkan kiri adalah gangnya Ana. Mereka berbeda gang.
"Ah.. iya kiri."
Mendengar arahan itu pria tersebut kembali menyetir mobilnya.
"Dimana rumahnya?"
"Lurus dikit pintu kayu ada lonceng kayu disana." Terang ana sambil menunjukkan sebuah rumah dengan identik tradisional yang sudah tidak jauh keberadaannya.
"Stop."
Mendengar itu pria tersebut menghentikan laju mobilnya.
Ana dan Kristi turun berbarengan.
"Makasih kak." Ucap Kristi kemudian meninggalkan ana yang masih disana.
"Makasih banyak yha kak."
"Ehh itu temen kamu dimana rumahnya?" Tanya pria tersebut kaget karena salah satu dari dua wanita itu berjalan sudah cukup jauh.
"Dia di gang seberang kak."
"Ouhh yha udah sampai bertemu kembali."
"Iya kak."
Pria tersebut memutarkan mobilnya. Setelah melewati beberapa rumah pria tersebut berpapasan dengan Kristi.
"Mau ikut tumpangan?" Tanya pria tersebut.
Kristi langsung menoleh karena tidak sadar ternyata pria tersebut menawarkan tumpangan lagi.
"Tidak usah kak rumah aku ada didepan dekat makasih kak." Ucap Kristi setengah malu kemudian segera mempercepat jalannya.
"Baiklah sampai bertemu kembali." Ucap pria tersebut kemudian meninggalkan Kristi yang masih berjalan.
Mendengar ucapan itu Kristi menganggukkan kepalanya.
"Jadi ini rumah ana." Ucap Yudha dari kejauhan
"Jadi dia mengubah namanya." Ucap pria yang sedang menyetir mobil tersebut.
"Falia."
"Lia."
Ucap Yudha dan dokter Arya barengan dilain tempat.
Moga suka yha jangan lupa bagi like saran dan votenya 😘😘😘