
"Ana.." Panggil Kristi saat ana sedang duduk dikelasnya.
Jam istirahat sekolah Kristi selalu mengajak ana untuk makan bareng.
"Kita makan ditaman ayo.." ajak Kristi sambil menggenggam tangan ana. Kristi dan ana kemudian berlari kecil menuju taman sekolah.
Mereka berdua duduk didekat pohon tinggi yang ada dipojok taman sekolah tersebut. Kristi kemudian mengeluarkan bekal makan siangnya begitu juga dengan ana.
"Ana kamu bawa bekal?." Tanya Kristi heran.
"Iya kenapa?" saut ana balik bertanya
"Nenek kamu kan dirumah sakit siapa yang yang masak?" Tanya Kristi sambil berpikir menatap bekal yang dipegang oleh ana.
"Aku siapa lagi." Jawab ana PD kemudian memulai makan bekalnya itu.
Baru saja ana akan menyuap kemulutnya Kristi malah memakan suapan tersebut.
"Ehhh kamu ngapain Kris." Protes ana dengan sangat kesalnya.
"Nyobain makanannya siapa tau ada racun pestisida atau kandungan Baygon lainnya jadi aku bisa siapin kuburan buat lu hahhahahaha." Tawa Kristi meledek ana.
"Ishh jahat kali kamu sama sahabat sendiri." Celetuk ana membuat Kristi semakin senang menjahili temannya itu.
"Kalau sahabat gak jahat itu bukan sahabat tapi sabaik." Kata Kristi asal-asalan kemudian memulai makan bekalnya itu.
Tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Mereka pada asik sendiri dengan makanannya masing-masing.
Drrtt drrtt getar hp ana dari saku roknya itu. Ana kemudian mengangkat panggilan telepon yang masuk.
"Iya halo?"
"Apa bener ini dengan Anatasya falia putri?" Suara dari balik telepon
"Iya bener ada apa yha?"
"Kami dari pihak rumah sakit memohon maaf tidak bisa menyelamatkan nenek anda."
Brak smartphone ana jatuh lepas dari genggamannya. Ana syok dia tidak bisa berpikir apa-apa.
"Ana.." panggil Kristi sambil memegang bahu ana.
"Ana.." Kristi menepuk bahu ana membuat ana kaget.
"Ada apa?" Tanya Kristi kepada ana.
Saat Kristi melihat mata ana, ana sudah berkaca-kaca.
"Halo.. Halo.." Suara telepon itu masih tersambung.
Kemudian Kristi mengambil smartphone ana yang terjatuh itu. Baru saja Kristi mengambilnya panggilan tersebut sudah tertutup.
"Ana kamu gapapa?" Kristi terus berusaha menanyakan yang sebenarnya terjadi tapi ana tidak menjawab apapun.
"Kris..." Lirih ana pada akhirnya.
"Iya ana kenapa? Ada apa?" Bukannya mendapat jawaban tetapi ana malah menangis.
"Kris..." Lirih ana sambil memeluk Kristi.
"Eh.. ana kamu kenapa jangan nangis apa yang terjadi ayo cerita." Panik Kristi dengan sikap ana yang tiba-tiba memeluknya itu.
"Ana kenapa?" tanya Kristi lagi dan lagi Kristi tidak berhenti untuk terus bertanya.
Setelah selesai memeluk Kristi, ana kemudian berlari meninggalkan Kristi.
"Ana mau pergi kemana?!" Teriak Kristi berusaha untuk memanggil ana tetapi tidak direspon apapun oleh ana.
Ana terus berlari melewati lapangan, bangunan semua yang ada disekolah dia lewati. Bahkan sesekali dia menabrak seseorang yang dia lewati.
"Eh- Jangan lari-lari disini."
"Woi! Pelan-pelan kalau jalan."
Semua ucapan-ucapan itu ana lewati satu persatu. Sampai di gerbang sekolah ana berusaha untuk membuka pintu gerbang tersebut.
"Eh- kamu mau kemana?." ucap satpam sekolah berusaha untuk menghentikan aksi ana.
Mendengar perkataan ana dan melihat keadaan ana yang sangat panik itu, satpam tersebut langsung membukakan pintu gerbangnya.
"Makasih pak." Ucap anak sambil membungkukkan badannya kemudian kembali berlari.
Ana berlari sekuat tenaga dia tidak peduli sejauh apa jarak sekolah dengan rumah sakit itu. Ana tetap berlari sambil menangis sesekali dia berteriak memanggil neneknya itu.
"Nenek..." Lirih ana mengingat kenangannya bersama sang nenek. Ana terus berlari dengan menghapus air matanya yang terus membahasi pipinya.
Bruk ana tidak sengaja menabrak tiang rambu lalu lintas.
"Aw, sakit." Kata ana sambil mengusap keningnya berciuman dengan tiang tersebut. Kemudian ana kembali berlari. Sesekali dia berjalan karena kakinya lelah namun tetap dia berlari kecil menuju rumah sakit.
"Hosh hosh hosh." Deru nafas ana yang tidak beraturan dan sesak karena berlari sangat jauh. Hingga akhirnya ana sudah melihat bangunan rumah sakit itu walaupun jaraknya masih terbentang jauh.
Air matanya sudah berhenti mengalir kini dia berjalan karena sudah sangat lelah berlari. Kakinya juga sudah bergetar tidak bisa menopang kuat badannya lagi.
Sampai dirumah sakit ana langsung bertanya kepada suster, "Suster dimana nenek saya."
"Siapa nama pasien?." Tanya suster kepada ana.
Namun ana tidak menjawabnya ana langsung masuk kedalam rumah sakit mencari ruangan yang ditempati oleh neneknya kemarin.
Ana kini kembali menangis rasa takut akan menerima kenyataan yang akan dia hadapi. Jantungnya berdegup kencang napasnya memburu, kakinya bergetar air mata mulai mengalir keringat membasahi tubuhnya.
Ceklek... Ana perlahan membuka pintu ruangan tersebut.
Dilihatnya para dokter dan suster sedang melepas semua selang-selang yang terpasang ditubuh sang nenek.
"Nenek.." panggil ana dari depan pintu. Ana kemudian masuk perlahan sang dokter dan suster kaget dengan keadaan ana yang berantakan.
"Ana.. maafin kami.." kata sang dokter sedu sambil memegang bahu ana yang gemetar.
"Nenek.." panggil ana lagi namun tidak mendapatkan jawaban dari sang nenek.
"Nenek.." air mata ana kini mulai mengalir ana tidak kuasa untuk melihat sang nenek terbaring seperti ini.
"Nenek!!" Teriak ana sambil memegang tangan sang nenek.
"NENEK BANGUN!!." Tangis ana pecah dikala tidak mendapatkan jawaban apapun dari neneknya itu.
Ana terus mengguncang badan sang nenek.
"NENEK BANGUN NEK." Teriak ana lagi dan lagi. Dia terus mengguncangkan tubuh neneknya itu.
"Nenek bangun!!" Teriak ana tidak ada hentinya dia terus berusaha membangunkan sang nenek.
"Nenek bangun..." Lirih ana terus dan terus air matanya mengalir tangisnya pecah.
Namun usahanya tidak akan pernah membuahkan hasil, sang nenek sudah kembali kepada Yang Maha Kuasa. Ana tidak bisa menolak takdir yang sudah terjadi
Sang dokter dan suster tidak bisa berbuat apa-apa mereka hanya bisa memandangi ana yang terus menangisi mayat neneknya itu.
"Nenek bangun..."
"Nenek jangan tinggalkan ana."
"Nenek... Ana sendirian.."
"Nenek ana gak punya siapa-siapa lagi selain nenek."
"Nenek bangun nek.." tangis ana sambil memeluk neneknya itu.
Ana tidak bisa berhenti menangis sambil memeluk tubuh sang nenek. Rasa kehilangan yang amat dalam sangat dia rasakan saat ini. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
"Nenek.. ana pengen sama nenek..." Ucap ana sesenggukan menangisi kepergian sang nenek. Ana masih belum bisa menerima kepergian neneknya itu.
"Nenek jawab ana... Ana dari tadi manggil nenek." Ucap ana pelan namun saat itu tiba-tiba ana sempoyongan.
Brak
Tubuh ana terjatuh dari ranjang sang nenek.
"ANA." Panik sang dokter kemudian mengangkat tubuh ana.