Complicated Story

Complicated Story
23



"Dimas kamu ngapain!!." Teriak ana saat dirinya direbahkan disebuah kasur. Ana terus meronta, dia terus berusaha untuk bisa bangun dari dekapan Dimas.


"Diamlah disini ana biarkan kamu jadi milikku." Mendengar omongan Dimas yang racau itu ana berusah untuk bangun walau dia hanya memiliki setengah kesadarannya.


"Dimas jangan gila kamu!." Saat itu ana sudah benar-benar kehilangan kesadarannya. Dengan sangat senang Dimas mempermainkan tubuh ana.


Brak!


Pintu kamar itu didobrak oleh seorang Wanita.


Bag bug bag bug


Dimas mengusap bibirnya yang mengeluarkan setetes darah.


"Berani sekali kamu mensetubuhi wanita lain Dimas!" Terdengar wanita itu sangat marah hingga kalimat terakhirnya menggunakan nada yang sangat tinggi


"Kamu kira kamu siapa hah! Berani mengatur-atur hidupku." Dimas kemudian berdiri.


"Dasar wanita pengemis!." Dimas keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan Arya.


"Dimas?!" Pekik Arya tidak percaya dengan kondisi Dimas.


Arya segera masuk kedalam ruangan yang terlihat sangat berantakan.


"Hiks hiks.." Risa menangis melihat perlakuan Dimas pada dirinya.


"Ris.. Kamu kenapa?." Bukan hanya Risa, Arya juga kaget melihat ana ada disana.


"Apa yang sebenarnya terjadi!." Ucap Arya gusar mengacak-ngacak rambutnya.


Arya mengusap-usap kepalanya tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. "Risa.. Udah kamu jangan nangis.." Arya berusaha menenangkan Risa yang sepertinya sangat kecewa dengan sikap Dimas.


"Kamu urus aja kekasih harapanmu." Risa sangat kesal melihat ana yang ada disana dia melangkahkan kakinya memilih untuk keluar dari ruangan itu.


Arya hanya menatap canggung dengan korban yang tergeletak tanpa sadar itu. "Sayang sekali jika harus disia-siakan.." Kata Arya kemudian menaiki ranjang itu.


Malam yang panjang hari ini Arya habiskan bersama ana. Hingga hari menuju fajar ana tersadar. Arya sudah tidak berada diruangan itu. Dia hanya menaruh sebuah paper bag berisi pakaian untuk ana.


"Aw!." Pekik ana saat kepalanya sangat pusing.


Ana terbangun dari tidurnya namun dia merasakan kepalanya sangat pusing.


"Apa yang terjadi?." Ana berusaha untuk mengingat saat-saat terakhirnya sebelum dia tidak sadarkan diri.


Ana langsung melihat tubuhnya saat benar-benar sadar apa yang dia lewati semalam. Buliran air mata bercucuran melihat kondisinya saat ini. Dia berusaha untuk bangun walaupun badannya sakit dan penuh rasa nyeri. Tanpa sengaja dia melihat paper bag yang terletak dimeja. Dia membuka paper bag itu berisi pakaian yang saat dia keluarkan ukurannya sangat pas untuk dirinya.


Ana segera kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dengan cucuran air shower dia menangis meratapi nasibnya semalam. Dia tidak tau harus bagaimana nantinya jika ada sesuatu yang setelah kejadian ini.


Drrrtt drrtt getar telepon dari smartphone ana. Ana yang baru saja keluar dari kamar mandi itu langsung mengambil handphonenya.


"Halo?.." Terdengar suara ana sangat serak saat mengangkat teleponnya.


"Ana kamu ada dimana?." Dari seberang telepon suara sang ibu terdengar sangat panik.


"Aku ada dikamar hotel Bu sepertinya masih ditempat pesta semalam."


"Ana kenapa kamu bisa disana?!." sang ibu berteriak kaget dari seberang teleponnya.


Tidak ada jawaban dari ana. Ana bingung mau jawab apa, dia hanya diam saat ibunya bertanya seperti itu.


"Ana?.."


"Iya Bu?.." Bahkan dalam jawabnya, suara ana terdengar sedang menangis.


"Ayah mu berangkat ke bandara cepatlah kemari Supir akan menjemputmu ibu akan membawakan surat ijin kekampus."


Entah angin apa yang datang ingin sekali ana menangis saat ini. "Terima kasih Bu.."


Tut telepon itu dimatikan oleh ana. Dia tidak bisa lagi memendam tangisnya. Hatinya sangat hancur saat ini dia tidak bisa menahan diri lagi untuk menangis. Kecewa kacau hancur semua jadi satu dan ana tidak bisa berkata banyak tentang apa yang telah terjadi.


"Apa yang terjadi?." Ibunya mengajak ana untuk duduk sofa.


Ana jadi sesenggukan karena tangisannya.


"Apa kamu baik-baik saja saat ini?" Tanya ibunya sambil mengusap lembut rambut ana.


Ana hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari ibunya walaupun dalam hatinya dia tidak sedang baik-baik saja.


"Kamu ingin menyusul ulangan dikampus?."


Ana sejenak berpikir sebelum akhirnya dia menjawab iya.


"Ayo sarapan dulu sebelum berangkat masih ada banyak waktu kamu bisa bercerita terlebih dahulu dengan ibu." Lagi-lagi ana menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah ibunya menuju meja makan.


Saat selesai makan ana bercerita tentang semuanya yang terjadi semalam. Ana bercerita bahwa Dimas melakukan semua pada dirinya. Mendengar itu ibunya sangat marah besar dan segera mengirim pesan kepada ayah ana.


Ana hanya menghembuskan nafasnya berat sebelum melangkah kedalam mobil.


"Kamu hati-hati yha jangan keluyuran lagi." Ucap sang ibu dan tersenyum untuk menyemangati ana.


"Iya Bu terima kasih." Pamit ana dan kemudian bersaliman dengan ibunya.


Ana berangkat menuju kampus siang hari untuk menyusul ulangan. Didalam mobil ana sudah lama tidak mengecek ponselnya. Banyak sekali pesan masuk. Mulai dari Nisa yang mempertanyakan keberadaannya sejak semalam dan bertanya kenapa tidak masuk. Serta beberapa pesan dari job photo shotnya.


Beberapa saat setelah selesai melaksanakan ujian. Ana meregangkan otot-ototnya yang pegal-pegal dan nyeri itu.


"Aahh pegal sekali.." Ucap ana sambil menggerakkan lehernya kekanan dan kekiri.


"ANA!." Teriakan histeris Nisa itu langsung menyambar ke telinga ana.


"Nis kamu belum pulang?." Tanya ana saat mengetahui ternyata Nisa masih dikampus.


"Bagaimana aku bisa pulang dengan tenang sementara kamu tidak terlihat sejak semalam?!" Nisa memasang ekspresi marah.


"Kemana saja sejak semalam aku mencari mu dipesta tapi tidak ku temukan juga penampakan sosok dirimu disana..." Nisa kemudian menggandeng tangan ana berjalan keluar kampus.


"Dikira hantu sosok penampakan." Nisa tertawa mendengar perkataan ana.


"Kamu kenapa bisa tidak hadir saat tadi ulangan hah! Kenapa malah menyusul?."


Mendengar pertanyaan Nisa, Ana menggaruk kepalanya bingung mau menjawab apa.


"Aku telat bangun." Dusta ana saat itu sambil mengendarkan pandangannya sekeliling kampus.


"Dasar siput malas lambat Hahahahah." Gurau Nisa pada ana.


Ana kemudian menunggu jemputan didepan gerbang.


"Ana kamu pulang saja dengan diriku?."


"Ehh nis kamu tidak kesorean pulang jam segini nanti dimarah ayah kamu gimana?."


"Engga na pulang sama aku aja yuk nanti aku bilang ketante ya ya ya??.." Nisa terus memaksa ana untuk bisa pulang bareng bersamanya.


"Hufft yha sudah ayo pulang."


"Tapi sebelum itu kamu harus temani aku makan terlebih dahulu." Kata Nisa penuh kemenangan.


Mendengar perkataan nisa, ana hanya menghembuskan nafasnya. "Sudah ku duga."


"Hahahaaha ayo ana nanti aku bayarin makanannya."


"Ayo!." Ana dengan semangat mendengar traktiran.


Nisa tertawa melihat aksi ana itu. "HAHAHA Ayo let's go!." Nisa dan ana masuk kedalam mobil dan segera menuju cafe untuk makan bersama.