Complicated Story

Complicated Story
40. Hadiah



Ana memijat keningnya berdenyut setelah mematikan telepon dari Arya pikirannya penuh dengan masalah yang dia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


---


Esok harinya Ana berangkat kekantor. Beberapa orang sudah berbisik membicarakan tentang dirinya. Ana bingung kenapa pagi-pagi sekali dia sudah digosipkan oleh para karyawan kantor.


"Tumben hari ini nona ana mendapatkan parsel dan bucket dimejanya."


"Iya aku juga kaget saat tau ada kiriman paket untuk nona ana."


"Siapa kira-kira pengirimnya?"


"Aku juga tidak tau karena disana tidak tertera nama. Tapi jika aku membacanya sih itu kayaknya dari kekasihnya."


"Darimana kamu tau?"


"Dari kata-kata yang aku baca di greeting card."


"Apa nona ana sudah punya kekasih?"


"Tentu saja pasti punya nona ana sangat cantik baik hati anggun hatinya juga bersih enggak kayak kamu."


"Sembarangan, soalnya ya setauku nona ana tidak pernah memiliki hubungan dengan pria manapun."


Beberapa karyawan kantor terus membicarakan tentang ana. Ana jadi penasaran dengan ruangannya apa benar dia mendapatkan paket pagi ini.


Perlahan dia membuka pintu ruangannya yang ternyata sudah ada bucket dan parsel dimejanya.


"Siapa yang menaruh semua hadiah itu meja saya?" tanya ana didepan pintu ruangannya.


Para karyawan hanya diam membisu tidak ada yang bisa menjawabnya. Kemudian CS mendekati ana, "Nona mohon maaf saya yang menaruh semua hadiah itu karena tadi saya disuruh menaruhnya." CS itu gemetar takut ana marah dengan dirinya.


"Baiklah kamu boleh pergi," kata ana menyuruh CS untuk pergi.


Mendengar perkataan ana, CS itu perlahan memundurkan diri dari hadapan Ana.


Ana mulai membuka satu-persatu greeting card yang terpasang pada hadiah-hadiah yang ada dimejanya.


~~Selamat pagi Sayang


Suka dengan hadiahnya? Selamat menjalankan aktivitas hari ini. Jangan lupa makan ya jaga kesehatan selalu.


Dari kesayanganmu~~


Ana mulai membuka lagi satu greeting card lainnya.


~~Selamat Pagi sayang


Jangan lupa makan ya dan jangan lupain aku juga. Yang terpenting jangan lupain aku maksudnya jangan lupa bahagia. Selamat menjalankan aktivitasnya sayang.


Dari kekasihmu~~


Dari tulisan yang ana baca, dia tau bahwa hadiah itu dikirim oleh dua orang yang berbeda. Beberapa saat kemudian Ponsel ana bergetar.


Udah terima hadiah dariku? Bagaimana apa kamu suka dengan hadiahnya? Jika tidak aku akan memberikan yang lain untukmu. Tapi jika suka aku juga akan memberikan hadiah lagi untukmu^^


by Kak Arya.


Ana hanya bisa menggelengkan kepalanya membaca pesan Arya. Dia tidak habis pikir setan apa yang merasukinya, atau dia sedang dimasukin oleh arwah dewa asmara.


Dia membuka parsel yang dikirimkan dari Arya. Ana tertawa saat melihat semua camilan rasa keju ada didalamnya dan pada parsel kedua semua mie instan dan mie cup rasa pedas ada disana. Ana tidak habis pikir kenapa Arya mengirimkan semua makanan instan untuknya.


"Orangnya sih dokter tapi hadiahnya bikin sakit semua, apa emang sengaja supaya aku jatuh sakit terus dirawat oleh dia?" kata ana terkikik karena isi parselnya.


Dia kemudian beralih membuka paper bag dengan bucket bunga mawar merah muda. Dia tau pasti Yudha yang mengirimkan hadiah ini.


Dibukanya paper bag itu dia tersenyum menemukan kotak makan berisi roti sandwich double keju, susu kotak rasa full cream dan susu vanila.


"Satunya mau aku sehat satunya mau aku sakit." Ana menggelengkan kepalanya membuka semua hadiah itu.


Akhirnya dia menurunkan semua hadiah itu dari mejanya.


"Kalau mereka mengirimkan hadiah seperti ini, apa jadinya saat bersamaan nanti salah satunya menuliskan nama mereka?" tanya ana pada dirinya sendiri.


Maka aku sudah dipastikan sebagai bahan trending topik dikantor.


Ana menggelengkan kepalanya dia mulai fokus bekerja.


Hingga jam menunjukkan pukul setengah 12 seseorang mengetuk pintu ana.


"Siapa?" tanya ana dari tempat duduknya.


"Saya CS ingin mengantarkan paket untuk Nona," kata CS itu dari balik pintu.


Ana menganggukan kepalanya, "Silahkan masuk pintunya tidak dikunci."


CS itu perlahan masuk membawa nampan terlihat dari kejauhan ana melihat mangkuk dan cangkir.


"Ini greeting card nya nona. Disana tidak tertulis nama," kata CS itu seraya menyerahkan greeting card dari balik saku kemejanya.


Selesai menaruh nampan itu dimeja tamu CS itu kemudian pergi meninggalkan Ana yang masih duduk dikursi kerjanya.


Selamat makan siang


Singkat padat dan jelas. Ana mendekati makanan yang berhasil menggoda dan membangkitkan rasa laparnya. Kare kambing dan es teh lemon, ana tersenyum manis melihat sajian sedap yang ada didepannya.


Dia kemudian menicicpi kare kambing yang berhasil menggoda dirinya itu, "Masakan ibu?" tanya ana pada dirinya sendiri. Rasa yang ada dilidahnya seperti masakan yang dibuat oleh ibu angkatnya dulu.


^^Gimana kangen masakan ibu kan? Aku bawain makanan spesial dari Ibu sebenarnya aku nyuri didapur Ahahhahahahah


by Kak Arya.


Ana tertawa membaca pesan dari notifikasi diponselnya.


Dan lagi seseorang mengetuk pintu ruangan ana.


"Apa hari ini aku disuruh untuk menaikan berat badan?" tanya pada dirinya sendiri.


Cs itu masuk membawakan beberapa makanan yang dibungkus dengan Styrofoam.


"Dari siapa?" tanya ana.


"Dari pak Yudha," kata CS itu terbata-bata berusaha membaca tulisan pada greeting cardnya.


Selesai menaruh nampan itu CS itu kemudian pergi dari ruangan Ana.


"Hebat sekali kak Arya dia tidak menulis namanya di greeting card apa dia tau kalau Yudha akan menulis namanya di greeting cardnya?" Ana mulai membuka makanan yang ada didalam Styrofoam.


Batagor Ana tersenyum manis dia juga melihat kotak mika berisi buah campur didalamnya.


Fiks hari ini hidup bahagia dengan makanan yang menggugah selera. Kapan lagi kan ya dapat makanan gratis kayak gini. Kayaknya harus cari lagi orang yang mau memberikan hadiah-hadiah seperti ini tiap hari.


Ana mulai menyantap satu persatu makanannya berhubung sudah saatnya jam makan siang.


--


Sore harinya ana sudah siap untuk pulang kantor. Dia duduk dipos satpam ingin memesan ojol untuk mengantarkannya pulang kerumah.


Tin


Bel klakson itu berasal dari mobil Ayla putih yang ada disamping jalan raya. Ana berjalan keluar berusaha mencari tau apa yang diinginkan dari mobil itu.


"Ada apa pak?" tanya Ana penasaran.


Kaca mobil itu kemudian diturunkan oleh pemiliknya, "Mau ikut? Ada tumpangan gratis hari ini." Arya menaik-turunkan alisnya menawarkan tumpangan pada Ana.


Ana tersenyum melihat Arya yang kocak dihadapannya, segera dia mengambil tasnya dipos satpam.


"Aku kira bakalan ditolak ternyata langsung masuk," kata Arya mulai menancapkan gasnya.


"Bagus berarti harusnya kakak senang iya kan?" tanya ana tersenyum.


Arya bahagia melihat hubungannya dengan ana ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan. Dia kira setelah pertengkarannya dia akan tidak saling kenal dengan Ana namun ternyata tidak.


"Kak nanti berhenti di nadira aku mau beli keperluan," kata ana yang fokus memainkan ponselnya.


"Nadira ada dimana?" tanya Arya


"Didepan pom bensin kak."


"Pom bensin dimana na banyak ada pom bensin," Kata Arya yang fokus menyetir.


Ana menghela nafasnya dan memukuli keningnya sendiri, "Dijalan Gatsu timur."


Arya menganggukan kepalanya mengerti. Setelah menemukan toko yang dimaksud oleh ana, dia mulai memasang rating bersiap untuk menyeberang jalan.


"Aku kira dikiri jalan ternyata harus menyeberang," kata Arya sedikit menyesal karena cukup kesulitan menyebrang jalan diwaktu jam pulang kerja.


"Nyebrang jalan aja ngeluh gimana mau perjuangin seseorang?" Ana menutup pintu mobil dan berjalan masuk kedalam toko.


Arya mengikuti Ana dari belakang, "Kenapa anak perempuan suka banget sama alat tulis apalagi soal novel rela beli sampai menuhin rak," kata Arya berceloteh.


"Anak perempuan emang gini kak, Alat tulis, make up, pakaian emang hobyynya belanja." Ana sibuk memilih beberapa pulpen warna warni serta sticky note.


Arya menggelengkan kepalanya melihat pulpen udah mengalahkan rangkaian warna pelangi dilangit.


Bukan hanya hidup dan cat tembok yang warna-warni. Tulisanpun juga warna-warni supaya gak bikin jenuh


Batin Arya. Ini baru pertama kalinya dia menemani ana membeli perlengkapan kantornya tapi yang dia lihat seperti membeli keperluan sekolah.


"Lah kak kenapa kakak yang bayar? aku bawa dompet," tanya ana bingung juga kaget saat Arya membayari belanjaannya.


"Gapapa lagian aku tidak pernah membelikan sesuatu untuk kesayangan ku ini." Arya mengacak-acak rambut ana membuat ana tersipu malu.