
Perjodohan? pikiran Arya mengenai perjodohan itu terus melintas. Dia tidak ingin menghabisi sebagian hidupnya bersama wanita yang tidak dia cintai.
Arya mencengkeram erat tangan Ana menuju mobilnya.
"Kakak mau bawa aku kemana?" Tanya Ana pada Arya.
Arya masih diam tidak menjawab pertanyaan Ana.
"Kakak aku teriak nih supaya orang-orang tau kalau kakak itu lagi nyulik aku," ucap Ana.
Arya menyeringai kemudian menatap Ana, "Lakuin aja tapi pasti gagal kamu gak ingat hal yang sama waktu itu?" Tanya Arya.
Mendengar pertanyaan Arya ana berusaha mengingat, "Iya dia ngakuin aku sebagai istrinya waktu itu," kata ana dalam hatinya.
Arya membawa Ana masuk kedalam mobilnya. Sedangkan Ana hanya diam membisu dia bingung sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Arya.
Bug
Pintu mobil itu ditutup dengan keras oleh Arya. Ana terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Arya.
Dalam hitungan menit mobil Arya melaju kencang dijalan raya. Dengan kecepatan tinggi membuat jantung ana berdetak kencang, "Kakak kalau kakak mau mati jangan ajak-ajak aku," seru Ana ketakutan sambil memegang roknya.
Arya masih tidak memperdulikan ucapan Ana disaat belokan menghadang, Arya langsung berbelok dengan kecepatan tinggi. Ana benar-benar takut memegang dadanya, "Kakak sudah gila ya?! Kenapa kakak belok dengan kecepatan diatas rata-rata?! Untung saja jalannya sepi," seru ana lagi. Dia sangat takut bahkan jantungnya berdegup kencang saking takutnya.
Cit
Tiba-tiba mobil Arya mengerem mendadak. Ana yang awalnya duduk dengan tegang jadi terbentur, "Aw-" pekik ana memegang keningnya.
"Kakak nyetir kayak tadi gimana bisa dapat SIM? Kayaknya kakak harus ujian ulang untuk dapat SIM," ucap ana masih memegang keningnya yang sakit.
Arya menggertakkan giginya, dia terlihat sangat marah, "Ana.." panggil Arya terdengar dari nadanya menyimpan kemarahan.
"Hum?" Ana mengerinyitkan keningnya.
Arya menarik nafasnya berat dadanya memburu dan sesak, "Apa kamu dijodohkan dengan ayahmu?" Tanya Arya.
Ana hanya menganggukkan kepalanya kecil sebagai jawabannya.
Arya menatap manik-manik ana dengan tatapan kosong, "Ana, apa kamu akan menerima perjodohan itu?" Tanya Arya.
Ana mengerti sekarang kenapa Arya bersikap seperti orang kesetanan tadi, "Aku belum mengambil keputusan, tapi aku-" belum selesai ana berbicara Arya sudah menyanggahnya terlebih dahulu.
"Ana aku ingin kamu hanya menjadi istriku, hanya menjadi pasanganku seumur hidup. Maafkan semua kesalahanku padamu, aku mohon tolak perjodohan itu," kata Arya penuh permohonan.
"Alasan apa yang mengharuskan aku memilih mu kak?" Tanya ana.
"Karena aku mencintaimu ana aku sungguh-sungguh mencintaimu," jawab Arya terlihat wajahnya penuh permohonan.
"Cinta seperti apa yang kakak berikan padaku? Cinta birahi? Cinta yang berdasarkan hawa nafsu? Apa itu yang kakak bilang cinta?" Tanya ana memburu, tak kalah emosinya dengan Arya tadi. Emosi ana melunjak kala mengingat kelakuan Arya padanya.
"Aku hanya melakukan itu padamu ana. Cintaku membuat aku terobsesi denganmu, aku tidak pernah melakukan itu pada yang lain. Aku benar-benar mencintai mu ana," ucap Arya seraya memegang kedua tangan ana.
"Kakak sekarang berkata seperti itu padaku. Tapi bagaimana jika esok kakak menemukan wanita yang lebih daripada aku? Pasti kakak akan berkata hal yang sama pada wanita itu," jawab ana tidak ingin jatuh hati dengan perkataan Arya.
"Ana aku tidak berbohong, sungguh hanya dirimu yang aku tunggu selama ini untuk bisa menjadi wanita satu-satunya yang akan menemani hari-hari masa tuaku nanti," kata Arya menatap lekat manik-manik ana.
"Kenapa kakak tidak bersikukuh saat itu untuk tetap menikah denganku mungkin hari ini kita akan menjadi keluarga kecil dengan anak kita tapi nyatanya tidak. Kakak pergi jauh sangat jauh bahkan aku tidak akan bisa menggapainya karena kondisiku saat itu," kata ana penuh kepedihan.
Dia masih mengingat kejadi 2 tahun yang lalu bagaimana dia harus berpisah dengan buah hatinya. Bahkan buah hatinya harus menganggap dia bukan sebagai ibu kandung. Ana mungkin masih gadis belia tapi hati seorang ibu selalu ada pada setiap wanita.
"Maafkan aku ana, maaf .." ucap Arya memeluk ana yang sudah mulai menitikkan air matanya.
"Sekarang semua sudah terlambat kak, bagaimana caranya kakak bisa memperbaiki semua kesalahan kakak?" Tanya ana yang menghapus air matanya.
"Aku akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan mu ana, pasti termasuk urusan kamar."
Plak
Ana memukul tangan Arya, ana tidak habis pikir kenapa Arya hanya bisa memikirkan soal kamar dan kasur pada dirinya.
"Haiyo sakitnya sudah pandai mukul sekarang," ucap Arya meringis memegangi tangannya yang sakit.
"Kakak jangan bercanda seperti itu, aku ngomong serius kak," ucap ana dengan nada agak tinggi.
Arya bukannya mendengarkan perkataan ana, kini justru dia mendekatkan dirinya dengan ana. Ana berusaha untuk menjauh namun saat dirinya sudah terbentur dengan pintu mobil, dia menutup wajah Arya dengan kedua telapak tangannya.
"Romantis dikit aja, kenapa malah ditutupi gini aku jadinya gak bisa lihat wajah calon istriku," ucap Arya melepaskan tangan ana dari wajahnya.
"Kakak otaknya mesum terus ya?!" Seru ana.
Arya terkikik pelan mendengar perkataan ana yang hanya menduga-duga, "Jangan pernah menduga-duga seseorang seperti itu nanti kamu bisa digugat pemfitnahan."
Ana mendelikan matanya, "Tau ah aku mau turun aja," ucap ana berusaha melepaskan sabuk pengamannya.
"Ana tunggu dulu, jangan turun. Aku akan mengantarkan mu kekantor," ucap Arya memasang kembali sabuk pengaman ana.
Arya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan normal, sepertinya dia sudah tidak ada emosi yang menjanggal dihatinya. Selama diperjalanan ana dan Arya tidak ada lagi percakapan. Ana pun diam seribu bahasa memikirkan perkataan Arya itu.
"Sudah sampai," ucap Arya menepuk pundak ana.
Tepukan Arya berhasil menyadarkan ana dari lamunannya. Ana menganggukkan kepalanya kecil kemudian melepaskan sabuk pengamannya.
"Ana-" panggil Arya membuat ana menghentikan tangannya untuk membuka pintu mobil.
"Iya kak?" Tanya ana namun tidak menghadap kearah Arya.
"Ana jujurlah padaku, apa pernah sekali saja kau memiliki perasaan cinta padaku? Bukan sebagai kakak, atau sahabat, tapi sebagai seseorang yang ingin kau miliki sebagai pendamping hidup-"
"Pernah tidak sepintas namaku ada di hatimu, dipikiran mu atau bahkan hari-hari tidak bisa berjalan dengan normal jika tidak mengetahui kabar tentangku?" Tanya Arya.
Ana hanya diam tidak tau harus menjawab apa.
"Sepertinya tidak ya? Hahaha aku mungkin terlalu Ke-PD-an selama ini, Maaf ana jika selama ini aku selalu membuat hatimu terluka," ucap Arya.
Ana menganggukkan kepalanya kecil. Dia membuka pintu mobil dan turun dari mobil Arya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir ana.
Arya menatap sedu dirinya sendiri. Segera dia melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum.