Complicated Story

Complicated Story
41. Festival



Ana turun dari mobilnya Arya membawa semua barang-barangnya.


"Ana-" panggil Arya terjeda.


"Iya kak?" saut ana dengan nada bingung.


"Jangan lupa makan ya jaga kesehatan." Arya tersenyum pada Ana setelah itu dia memutarkan mobilnya.


Ana menganggukkan kepalanya kecil.


Tumben kak Arya bersikap manis seperti itu.


Didalam kamarnya ana merebahkan diri memutar otaknya tentang kejadian hari ini. Seperti ada yang berbeda dan ganjil terlihat begitu mulus bahkan membuat dirinya begitu bahagia.


Drrtt drrtt


Ponsel ana bergetar.


12 panggilan tidak terjawab dari Yudha. dan ada 9 pesan dari Yudha.


Ana membuka pesan dari Yudha.


Ana kamu dimana aku tadi mencarimu dikantor


by Yudha 17:10


Ana kemudian beralih pesan Yudha yang terakhir.


Ana kamu mau pergi ke festival hari Rabu nanti? Katanya festival itu baru launching ada banyak wahana, kuliner, permainan, barang-barang bagus yang dijual dan banyak keseruan lainnya.


by Yudha 18:45


Ana berpikir sejenak hari Rabu adalah hari masuk kerja.


Hari Rabu bukankah hari kerja? tidak ada tanggal merah ataupun rencana libur.


By Ana


Sesaat kemudian pesan dari Ana dibales dengan sangat cepat oleh Yudha.


Malam jam 7 kita kesana bagaimana? Lokasinya di lapangan alun-alun kota.


By Yudha.


Ana tersenyum senang.


Baiklah


By ana


Drrt Yudha membalas pesannya lagi.


Mau aku jemput?


By Yudha


Ana berpikir sesaat


Jika menunggu jemputan maka akan semakin lama mengulur waktu.


Ana kemudian mengetik pesan untuk Yudha.


Tidak usah aku akan langsung berangkat kesana sendiri nanti kita ketemuan disana.


By ana


Drrt ponsel ana bergetar lagi ada pesan masuk dari Yudha.


Baiklah aku tunggu dipintu masuk festival


By Yudha.


--


Rabu 18:00


Ana sudah merias dirinya didepan meja rias. Dengan dress putih gradasi warna merah muda yang soft membuat tubuh ana menjadi semakin berbentuk. Alas kaki yang ana gunakan kali ini adalah flatshoes berwarna coksu.


"Bu aku mau keluar ke festival alun-alun kota," pamit ana pada ibunya.


Ibunya menganggukkan kepalanya, "Hati-hati ya jangan pulang kemalaman."


Ana kemudian mengedarkan pandangannya mencari ayahnya, "Bu, ayah dimana?"


"Ayah mungkin masih ada urusan kantor kamu berangkat aja nanti ibu bilangin keayah kamu."


Ana menganggukan kepalanya. Dia kemudian masuk kedalam mobilnya.


"Udah siap non?" tanya supirnya dari kursi pengemudi.


"Udah," jawab ana tersenyum manis.


Ana mengecek isi tasnya yang hanya berisi dompet, handphone serta power bank, "Tidak pak."


Mobil itu kemudian dilajukan kejalan raya menuju lapangan alun-alun kota tempat festival itu diadakan. Suasananya begitu ramai jalan raya juga cukup padat. Banyak yang berbondong-bondong untuk bisa meluangkan waktunya kefestival itu.


"Non mau saya tunggu atau ditinggal?" tanya supir itu saat ana sudah turun dari mobil.


"Ditinggal aja nanti kalau butuh jemputan saya telepon bapak atau naik ojol," jawab ana menutup pintu mobilnya.


Ana kemudian berjalan melihat kekanan dan kekiri melihat orang-orang yang berjalan menuju pintu masuk utama festival. Didepan pintu ana mengecek smartphonenya untuk mengabari Yudha. Namun dia tidak jadi mengetik.


Tiba-tiba seseorang menutup mata ana dari belakang, karena tidak ingin smartphonenya jatuh di situasi keramaian ana memasukan kembali ponselnya kedalam tas selempangnya.


"Siapa?" tanya ana meraba telapak tangan yang menutupi matanya.


"Hum ayo coba tebak," kata orang itu disamping telinga ana.


Ana mengenali nada suara yang ada dibelakangnya saat ini, "Kak Arya?" kata ana saat dia membuka telapak tangannya dan membalikan badannya.


"Hy ana.." Sapa Arya tersenyum pada ana.


"Kakak ngapain disini?" tanya ana bingung.


Arya juga sama bingungnya, "Kamu juga ngapain disini?" Arya kemudian beralih melihat sisi kanan ana.


"Ana awas." Dengan sigap Arya menangkap ana yang hampir terjatuh karena didorong oleh beberapa orang yang ingin masuk ke festival.


Alhasil ana berada didada bidang Arya yang membuat dirinya dalam posisi pelukan.


"Ayo masuk." Arya beralih memegang tangan ana untuk membawanya masuk kedalam agar lebih leluasa. Wajah Arya yang memerah saat ini karena posisinya tadi bersama ana cukup membuat jantungnya lari estafet.


Ana berdiam diri kedatangannya kesitu adalah untuk bertemu dengan Yudha yang mengajaknya bermain tapi dia malah bertemu dengan Arya, "Kakak." Panggil ana membuat langkah Arya terhenti.


"Iya?" Arya menghentikan langkahnya pada salah satu dagang sosis goreng. Alih-alih bersitatap dengan ana Arya memilih untuk mengganjal perut supaya tidak baper.


"Tadi tujuan ku kesini mau ketemu sama Yudha dia ngajakin aku kefestival ini," kata ana melirik semua orang berusaha mencari sosok Yudha.


"Terus dia dimana sekarang?" tanya Arya yang memfokuskan matanya memilih beberapa nuget dan sosis.


"Aku juga gak tau," jawab ana linglung.


"Coba kamu telepon dia dulu," kata Arya mengusulkan ide.


Ana menganggukan kepalanya dia kemudian menelepon Yudha. Tapi beberapa panggilan dia luncurkan tidak ada jawaban dari sang pemilik nomor.


"Gak dijawab?" tanya Arya menatap ana yang memasang wajah sedih.


Ana menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Arya.


"Mau?" tanya Arya menawarkan sosis dalam cupnya.


Ana menggelengkan kepalanya.


Melihat wajah ana yang kecewa Arya berniat untuk menghiburnya, "Ayo main." Arya mencengkeram tangan ana dengan erat.


"Mau main apa?" tanya Arya melihat sekeliling permainan yang tersedia.


"Kak aku mau popcorn." Ana menunjuk salah satu dagang yang ada disebelah kanannya.


Arya menganggukan kepalanya dia berusaha mengakses jalan yang memang difestival itu sangat ramai.


"Mau apa lagi?" tanya Arya setelah membelikan ana popcorn.


"Kak main itu yuk." Tunjuk ana kesalah satu permainan.


Arya menganggukan kepalanya. Beberapa mainan pun mereka mainkan. Mulai dari masukan koin mengambil boneka. Memukul tikus, memancing ikan juga tembak-tembakan.


(Maaf kalau author gak nyebutin nama permainannya author gak ingat/ gak tau kwkw)


Ana kemudian beralih melihat tenda biru kecil yang penuh gambar tentang magic.


"Mau masuk kesana?" tanya Arya pada ana.


Ana menggelengkan kepalanya, "Enggak kak udah mau malam kayaknya aku harus pulang." Ana melirik jam tangannya.


"Kalau gitu kita masuk kesana bagaimana?" tunjuk Arya pada bianglala yang sedang berputar.


"Boleh," jawab ana tersenyum manis.


Arya dan ana pun mengantri untuk bisa masuk kedalam bianglala. Setelah menunggu 15 menit gini giliran mereka berdua masuk kedalam bianglala itu.


Pemandangan malam didalam bianglala itu terlihat sangat indah. Ana semakin senang saat dirinya ada dipuncak bianglala. Kotapun terlihat sangat jelas lampu-lampu yang menerangi jalan terlihat seperti lentera lampion.


"Ana-" panggil Arya terjeda.


"Ada apa kak?" tanya ana kemudian membenarkan posisi duduknya.


"Aku mencintaimu," ujar Arya menyatakan perasaannya kemudian mencium bibir ana dengan lembut.


Ana membelalakkan bola matanya kaget saat tiba-tiba Arya melakukan itu padanya. Ana membiarkan itu terjadi beberapa saat hingga akhirnya Arya melepaskan dirinya.