
Ana yang berada didapur sedang makan itu menghentikan aktivitasnya, "Ibu aku dipanggil ayah dari ruang tamu," ujar Ana mendengar ayahnya memanggil dirinya.
"Iya nak kamu dipanggil," jawab ibunya sambil menganggukkan kepalanya kecil.
"Aku kedepan dulu ya Bu." Baru aja Ana hendak berdiri dari tempat duduknya namun langsung dihentikan oleh ibunya.
"Tunggu Ana, ibu siapkan nampan dulu kamu bawa ya sebagai suguhan untuk tamunya," ujar ibunya berdiri menuju dapur.
Ana menganggukkan kepalanya mengerti dia menunggu beberapa sampai ibunya memberikan nampan yang diatasnya sudah ada teko berisi teh serta dua buah cangkir kosong dan 1 cangkir berisi beberapa gula batu. Ana membawa lapar itu keruang tamu menuju ayahnya dan tamu itu duduk.
Betapa terkejut ibu Arya melihat Lia didalam kediaman Tuan A.K namun sesaat kemudian dia tidak heran karena Ana datang membawa sebuah nampan yang berisi suguhan. Membuat ibu Arya berpikir bahwa Lia hanya sebagai pelayan.
"Ini minumannya, eh-" Ana kaget karena dia tidak menyangka jika ibu angkatnya dulu yang sedang bertamu kerumahnya.
"Kamu kaget ya Lia melihat saya disini? Sama saya juga terkejut melihat kamu bisa ada disini. Bagaimana kabarmu? Kelihatannya baik-baik," ucap ibunya Arya itu sambil mengambil secangkir teh yang diberikan oleh Ana.
Ibunya Arya masih belum mengetahui bahwa Ana yang ingin dia kamar untuk putranya adalah Lia yang pernah dia adopsi dulu bersama mendiang suaminya.
"Kalian sudah saling kenal untuk apa saling terkejut seperti itu?" tanya Tuan A.K pada Ana dan ibunya Arya.
"Saya baru tau jika Lia bekerja disini. Apakah kerjanya bagus tuan? Maafkan jika dia melakukan kesalahan. Dia memang kurang begitu baik dalam bekerja," ucap ibu Arya menyerocos tanpa mengetahui seluk beluknya.
Tuan A.K tersenyum sinis melihat tingkah laku ibu Arya dihadapannya, "Jangan pernah menilai seseorang buruk hanya karena kamu membenci dirinya atau tidak kamu akan menyesal telah menilai orang yang salah," ujar tuan A.K.
"Saya tidak akan menyesal tuan A.K," saut ibu Arya.
Ana masih berdiri tanpa berniatan untuk duduk dia bingung harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini.
"Sepertinya saya tidak akan pernah menyesal karena menolak lamaran Arya dulu serta menjauhkan Arya dari putri saya," ujar tuan A.K.
Ana seketika syok mendengar perkataan ayahnya, dia tidak menyangka bahwa ayahnya yang memang sengaja menjauhkan dirinya dari Arya. Namun dia juga tidak tau bahwa sebelumnya ternyata Arya melamarnya dia baru tau hari ini.
"Maafkan saya tuan, Dimana putri yang anda panggil tadi? Kenapa masih belum datang kemari?" tanya ibu Arya melihat sekeliling ruangan.
Tuan A.K lagi-lagi hanya memasang wajah sinis, "Dia ada dihadapanmu. Ana kemarilah duduk disamping Ayah," ucap Tuan A.K.
Tampak ibu Arya kaget dan kesal dia langsung berdiri dari tempat duduknya, "Maaf tuan saya datang kemari untuk melamar putri anda. Kenapa anda memperkenalkan Lia sebagai Ana pada saya?" Ibu Arya kelihatan begitu kesal dengan apa yang terjadi.
"Inilah Ana. Anastasya Falia putri A.K putri dari tuan A.K keluarga dari A.K. Anjasmara Kusuma." kata tuan A.K menerangkan semuanya.
Ibu Arya sangat terkejut mendengar penjelasan dari tuan A.K, "Tuan tidak sedang menipu saya bukan? Tidak sedang membohongi saya?" tanya ibu Arya memastikan.
"Saya tidak berbohong Nyonya dia memang putri saya."
Mendengar dari Tuan A.K tampak ibu Arya menggelengkan kepalanya tidak percaya, "Jika Ana adalah Lia yang saya kenal. Saya tidak akan pernah melamar Ana untuk menjadi istri Arya," ujar ibunya Arya.
Tuan A.K tersenyum smirk mendengar ucapan ibu Arya, "Mendengar perkataan Anda sepertinya saya juga tidak akan pernah menerima lamaran dari Arya walaupun ibunya sebagai perwakilan atau polisi atau penjabat negara. Saya tidak akan pernah menerima lamarannya," ucap tuan A.K.
"Maaf tuan, tapi dia tidak akan pernah pantas bersanding dengan anak saya Arya. Anak yang dilahirkan diluar pernikahan tidak akan pernah mempunyai attitude yang bagus untuk menjadi calon ibu dari anak dari anak saya."
Tuan A.K berdiri dia sudah naik pitam mendengar perkataan ibu Arya, "Jaga cara bicaramu Nyonya berhati-hatilah berbicara," ujar tuan A.K memperingati ibu Arya.
Ibu Arya tersenyum sinis melihat kemarahan tuan A.K, "Tentu anda akan membelanya, dia adalah putri anda. Anda yang membuatnya dengan wanita simpanan anda diluar pernikahan. Anda begitu mencintai wanita itu sehingga bisa melakukan apapun untuknya."
Tuan A.K menggelengkan kepalanya tidak percaya jika ibu Arya begitu angkuh, "Ya pasti saya lakukan apapun untuk Ana bahkan saya akan mencarikan calon suami yang lebih baik dari Arya. Saya orang terpandang disini tentunya dengan mudah menemukan calon pria yang baik untuk Ana," ujar tuan A.K tersenyum penuh kemenangan.
"Bagaimanapun juga Lia terlalu buruk untuk calon suami terbaik yang anda cari tuan A.K bahkan Arya yang seorang dokter bergaji jutaan tidak akan pernah pantas bersanding dengannya," ucap ibu Arya sambil menunjuk ke arah Ana.
Ana sudah tidak tahan untuk berdiam diri sejak tadi ibu Arya sangat merendahkan dirinya, "Maaf Bu saya juga tidak pantas bersanding dengan anak ibu yang hanya bekerja sebagai dokter. Saya putri dari tuan A.K sendiri adalah seseorang yang cukup terpandang dan bermartabat. Saya juga telah menerima gelar sarjana saya sehingga bisa bekerja dengan gaji belasan juta setiap bulannya anda tidak akan pernah pantas menerima uang dari hasil kerja keras saya," ujar Ana.
Ibu Arya tersenyum sinis mendengar pengakuan dari Ana, "Tentu saya tidak akan pernah menerima uang yang kau hasilkan karena uang itu pasti uang Haram."
"Cukup nyonya pintu disebelah sana Anda bisa keluar dari sini," ujar tuan A.K mengusir ibu Arya dengan nada tinggi.
"Tapi tunggu dulu," ucap Ana membuat Ibu Arya menoleh pada dirinya begitu juga Ayahnya.
"Kak Arya telah mengambil kesucian saya, dia juga telah membuat saya mengandung seorang bayi dua tahun yang lalu sehingga saya juga harus berada jauh dengan anak saya sendiri sama seperti ibu saya dulu," ujar Ana sesaat membuat ibu Arya terkejut mendengar penuturan Ana.
"Dengan begitu setelah semua yang dilakukan kak Arya pada saya. Saya tidak akan pernah membuat hidup kak Arya tenang. Saya pasti akan melakukan apapun agar Arya menyesal melakukannya walaupun jika nanti Arya menikahi orang lain saya tidak akan pernah membiarkan itu berhasil," ujar Ana dengan nada pedasnya.
Selesai berbicara Ana memilih untuk pergi dan menaiki tangga. Ibu Arya yang mendengar itu hanya bisa bungkam dan memilih untuk pergi tanpa pamit kerena dia juga telah diusir sendiri oleh tuan A.K.