
Halo yang baca, mampir, jangan lupa like yha kakak kakak terima kasih💕💕
Author masih pemula jadi mohon bantuan saran dan komentarnya kak
maaf jika ada banyak kesalahan dalam penulisan
Selamat membaca ^^
Disebuah rumah makan Ana dan Nisa sedang makan. Tiba-tiba ana dihampiri oleh Yudha.
"Hey ana kamu disini?.." Tanya Yudha sambil menepuk pundak ana dari belakang.
Ana langsung kaget karena bisma menepuk pundaknya, "Uhuk Uhuk." Melihat ana yang tersedak Nisa yang duduk disampingnya langsung menyodorkan air minum.
"Bisma kamu disini sedang apa?" Tanya ana
"Beli baju ana, ya beli makanlah masa iya dirumah makan aku beli baju." Jawab Yudha menggelengkan kepalanya.
Setelah memesan makanan Yudha duduk dibangku bersama Nisa dan ana. Mereka sesekali tertawa pada pembicaraan mereka. Dari kejauhan Risa melihat Ana dimeja makan.
"Wow ana emang punya bakat setelah Dimas sekarang Yudha belum lagi kak Arya." Ucap Risa dengan senyuman liciknya.
"Nis.. ayo pulang udah sore banget." Ucap ana saat makanan mereka sudah habis.
Nisa dengan buru-buru meminum minumannya, "Tunggu ana aku habisin dulu minumannya."
"Ana.. biar aku anter kalian pulang aja?" Kata Yudha sambil memegang tangan ana untuk menghentikan langkah ana.
Risa yang melihat kejadian itu dengan senang hati merekamnya diponsel miliknya.
"Gak usah Yud dia pulang sama aku." Kata Nisa kemudian hendak berdiri.
"Ouu ya udah hati-hati dijalan." Yudha, Ana dan Nisa kemudian saling melambaikan tangan selamat tinggal.
Didekat pintu rumah makan Ana berpapasan dengan Risa.
"Hey Ana Top artis in the world, Selesai dengan Dimas sekarang dengan Yudha wow semua pria kamu godai.." Risa kemudian mendekati ana sambil tersenyum sinis.
"Nisa hati-hati ya berteman dengan dia siapa tau tunangan mu juga direbut oleh-nya." Kata Risa pergi sambil menggandeng tasnya.
Nisa yang diberi peringatan oleh Risa hanya menekukkan kepalanya bingung.
"Maaf nis buat kamu jadi gak nyaman." Ana merasa malu sudah dikata-katai oleh Risa bahkan temannya sendiri sampai diberi peringatan seperti itu, membuat dirinya semakin tidak enak.
"Gapapa kayaknya dia sirik gitu ya.. ya udah ayo pulang." Nisa berusaha menghibur ana yang memang dia sendiri juga tidak memperdulikan ucapan Risa.
Karena jam pulang kantor membuat Ana dan Nisa harus terjebak dalam macetnya jalan raya. Membutuhkan waktu cukup lama hingga akhirnya dia bisa sampai dirumah.
"Daa... Ana.." Nisa melambaikan tangannya saat ana sudah menutup pintu mobilnya.
"Daa.." Ana segera berjalan masuk kedalam rumahnya.
"Kemana semua orang?" Tanya ana pada dirinya sendiri saat rumahnya terlihat sepi tidak ada orang bahkan ibunya pun tidak terlihat.
Ana menaiki tangga menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Saat malam tiba ana sudah menyiapkan makan malam untuk semua orang. Ayahnya juga baru datang dari pulang kerja. Dimeja makan hening tanpa percakapan hanya ada suara piring dan sendok saling beradu.
Setelah selesai makan ana membersihkan piring kotor dari meja makan. Kini Dimas dan ayah sedang duduk untuk mencuci mulut.
"Bulan depan kamu akan menikah." Kata ayah tanpa aba-aba, tegas dan mutlak.
Dimas tersenyum sinis mendengar perkataan ayahnya, "Kapan ayah akan meminta pendapat untuk membuat keputusan." Kata Dimas hendak bangun pergi dari meja makan.
"Dimas duduk ayah belum selesai bicara!" titah ayahnya tanpa ingin dibantah.
Dimas menahan kekesalannya dan tetap menurut dengan sang ayah, "Apalagi yang ingin ayah bicarakan bukankah semuanya sudah jelas?"
"Mulai sekarang kamu akan mengurus perusahaan,"
Belum selesai ayahnya bicara Dimas sudah menyela, "Bukankah selama ini aku sudah bekerja di perusahaan ayah." Kata Dimas menahan emosi.
Sejenak ayahnya mengejamkan matanya menahan amarah karena disela saat belum selesai berbicara, "Kamu emang sudah bekerja tapi maksud ayah kamu akan mulai menjalankan bisnis dan setelah menikah ayah akan memindahkan kamu ke Amerika." Titik, padat, jelas, tegas, mutlak dan terdengar tidak ingin ada perlawanan.
Sedangkan Dimas tetap tidak ingin mengalah dalam percakapan panas tersebut, "Ayah ingin mengirim ku keluar? Apakah ayah tidak pernah senang aku berada dirumah ini?" Tanya Dimas mengepalkan tangannya menahan emosi yang terpendam dalam dirinya.
"Ayah lakukan itu semua demi kebaikan mu." Kata ayahnya kemudian hendak berdiri dan pergi keruang kerja.
Prang!
Dimas melempar gelas itu asal kesembarang arah. Ana dan ibunya kaget saat tiba-tiba gelas itu pecah.
"Dimas kamu jangan marah ayo ikut ibu!" kata ibunya menggandeng tangan Dimas untuk ikut bersamanya.
"Ana kamu bersihin ya pecahan gelasnya." Ucap ibunya sebelum benar-benar pergi dari meja makan.
Ana hanya menganggukkan kepalanya kecil kemudian memungut semua pecahan kaca yang berserakan.
Pikiran ana bernostalgia saat dia dulu pernah membersihkan belingan kaca seperti itu juga.
"Kenapa aku mengingat kejadian itu lagi?..." tanyanya pada dirinya sendiri sambil terus membersihkan belingan kaca yang berserakan dilantai.
Air matanya menetes mengingat adiknya yang dulu serta keluarga angkatnya walaupun ada luka yang tersirat didalam hatinya.
"Aku rindu mereka.." Katanya bahkan hampir tidak bisa didengar karena saking kecil suaranya saat dia mengucapkannya.
Selesai membersihkan belingan kaca ana naik keatas menuju kamarnya.
Esok harinya ana berangkat kekampus untuk ulangan. Ana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat soal yang ada dihadapannya.
Puk
Nisa menepuk pundak ana, "Gimana ulangannya tadi? ahahhaha." Nisa tertawa melihat wajah kusut ana yang stres karena soal ulangan.
"Jangan ditanya nis kamu tau sendiri jawabannya." Kata ana pasrah dan segera bergegas mengemas barang-barangnya.
"Yha udah ayo pulang." ajak Nisa sambil menggandeng tangan ana menuruni anak tangga.
Didepan gerbang Ana melihat Kristi sedang berdiri terlihat dia seperti menunggu seseorang.
"Nisa kamu duluan aja yha aku mau kedepan sebentar." Ucap ana kemudian berlari menuju pintu gerbang sekolah.
"Hey ana mau kemana?!" Teriak Nisa namun sudah tidak didengar oleh ana yang sudah berlari jauh kepintu gerbang kampus.
"Hey Kristi kamu ngapain disini?" Tanya ana saat dirinya sudah berdiri disamping Kristi.
Plak!
----
Hay apakah ada yang rindu
apa disini ada pembaca setia
nongol donk author pengen tau ini ada pembacanya atau enggak
Makasih yang selalu baca cerita author maaf kalau karya author gak begitu bagus yha mohon saran dan kritikannya.
Maaf author gak bisa banyak update karena disibukkan dengan kegiatan realita
Author mungkin akan Hiatus atau slow update maaf banget author gak bisa banyak-banyak nulis atau rajin update.
Terima kasih yang selalu ngasih dukungan ke author maaf kalau ceritanya tidak begitu bagus author akan memperbaiki sebisa mungkin tetap dukung author yha terima kasih