Complicated Story

Complicated Story
50. Breaktime with Kristi.



Ana berjalan mendekati meja makan duduk bersama nyonya Setiawati yang bukan lain adalah mertuanya sendiri, "Ibu, ayah mana?" tanya ana pada nyonya Setiawati karena sejak tadi dia tidak melihat tuan Darmawan.


"Pagi-pagi sekali tuan Darmawan sudah berangkat entah kenapa sepertinya hari ini mereka sibuk semua padahal ada anaknya yang baru saja menikah," jawab nyonya Setiawati disela-sela makannya.


Ana menganggukan kepalanya mengerti tidak ada pertanyaan lagi uang ingin dia tanyakan.


"Ana apa hari ini kamu ada acara?" tanya nona Setiawati pada ana.


Ana menggelengkan kepalanya linglung.


"Hari ini ibu ada mau pergi kerumah sakit ada pasien spesialis, kalau kamu bosen dirumah kamu boleh keluar nanti kabari bik ja saja ya bibik ja yang mengatur rumah ini. Segala keperluannya dia yang mengatur. Kalau kamu gak ada acara kamu bisa bantu-bantu dia saja dirumah," usul nyonya Setiawati pada ana.


Ana menganggukan kepalanya mengerti.


Melihat ana yang begitu patuh nyonya Setiawati mengukir senyum diwajahnya namun dia melihat ana diam membisu dia merasa ada yang salah disini.


"Ana apa kamu ada masalah?" tanya nyonya Setiawati pelan agar tidak menyinggung perasaan ana.


Ana terkejut dengan pertanyaan nyonya Setiawati, "Ti-dak tidak Bu hanya saja aku merasa sedikit asing disini." Ana terlihat tidak enak dengan nyonya Setiawati.


"Hahahha ana kamu ini, itu hal yang wajar apalagi kamu tidak pernah kesini sebelumnya iya kan? Semua butuh waktu tidak masalah kamu bisa membiasakannya mulai sekarang," kata nyonya Setiawati tersenyum.


Nyonya Setiawati melihat jam pada arlojinya dia kaget kalau ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah 8, "Ana ibu berangkat dulu, ibu sudah terlambat kamu hati-hati dirumah." Nyonya Setiawati mencium kening ana sesaat kemudian buru-buru keluar rumah untuk berangkat ketempat kerjanya.


Ana menyendokan nasinya rasanya hari begitu bosan untuknya. Setelah selesai makan ana membersihkan meja dan merapikan kembali seperti sedia kala.


"Eh- nona kenapa anda melakukannya sini biar saya saja." Bik ja yang dibilang nyonya Setiawati tadi langsung menghampiri ana yang membawa tumpukan piring kotor.


Dirumahnya tidak ada pembantu yang mengurus rumah hanya ada satpam didepan pintu gerbangnya.


"Apa bibik yang mengurus semuanya?" tanya ana pada bik ja yang mengambil alih piring kotor dari tangannya.


"Iya Non saya yang mengurusnya sudah lama sekali saya mengabdi pada keluarga tuan Darmawan," jawab bik ja menganggukan kepalanya.


"Bik mau saya bantu? kebetulan saya tidak ada kegiatan," kata ana mendekati bik ja.


"Jangan non Nanti saya dimarah sama nyonya." Tampak bik ja tidak enak hati melihat ana yang ingin membantu pekerjaannya.


"Enggak apa-apa bik ja lagipula ibu tadi bilang kalau aku tidak ada kegiatan bisa bantu bibik untuk ngisi waktu luang."


Mendengar perkataan ana, bik ja memasang wajah tidak enak hati, "Aduh nona baik sekali, saya jadi tidak enak dengan nona."


Ana membantu bik ja mencuci piring. Dia juga membantu bik ja menjemur baju serta merapikan beberapa barang-barang ana yang baru diantar kerumahnya hari ini.


Jam menunjukkan pukul 12:00 ana tampah jenuh dengan duduk disofa.


Jika Yudha tidak bisa tidur satu ranjang denganku? kenapa dia bisa bersikap mesra padaku?


Ana masih mempertanyakan perihal sikap Yudha padanya. Menatap televisi dengan memutar-mutarkan handphonenya ana benar-benar menjadi pengangguran dirumah.


"Apa aku ajak Kristi jalan-jalan aja ya?" tanya ana beralih menelepon Kristi.


Beberapa menit berdering akhirnya telepon dari ana diangkat oleh Kristi.


"Halo na?" sapa Kristi dari balik telepon.


"Kris apa kamu ada waktu?" tanya ana dari telepon.


"Kenapa na? Bukannya hari ini hari pertama kamu setelah menikah kenapa kamu menelepon ku?" tanya Kristi heran.


"Moon maap sejak kapan ana putri tidur menjadi cacing kepanasan begini?" tanya Kristi terkikik.


Ana memanyunkan bibirnya kesal, "Kamu masih belum berubah Kris masih sama seperti dulu," ucap ana mengumbarkan senyumnya.


"Iya masih gimana? jelas lah masih kan aku masih hidup," kritik Kristi yang membuat ana memutarkan bola matanya.


"Kris keluar yuk aku gak bisa diem dirumah orang," ajak ana pada Kristi.


"Astaga ana itu rumahmu sekarang. Kamus udah menikah terus kamu bilang gak bisa diem dirumah orang? apa selamanya kamu bakalan pergi seperti itu?" tanya Kristi heran pada ana.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan untuk meluangkan waktu bersama? secara aku sudah menikah akan sulit untuk bisa kumpul lagi bersama teman lama iya kan?" rujuk ana memaksa Kristi untuk keluar bersamanya.


Karena Kristi sejak tadi sudah dipaksa ana untuk keluar rumah kebetulan juga hari ini adalah jadwal periksa kandungannya diapun menyetujui permintaan ana, "Baiklah-" belum selesai bicara ana sudah bersorak ria.


"Yey! Makasih Kristi cantik jelita sedunia setelah," puji ana kegirangan karena Kristi mau menemaninya keluar rumah.


"Aku belum selesai bicara ana," kata Kristi membuat ana menghentikan sorak rianya.


"Ahhaha maaf Kris aku terlalu seneng," ucap ana terkekeh.


"Tapi hari ini aku harus kedokter kandungan untuk memeriksa kondisi kehamilan ku saat ini."


"Baiklah baiklah tidak masalah selesai pemeriksaan kita akan jalan-jalan membeli perlengkapan bayi," usul ana.


"Baiklah."


Selesai mematikan teleponnya ana bersiap-siap untuk pergi keluar menjemput Kristi.


"Bik ja, aku mau keluar dulu ya nanti sama Kristi jalan-jalan. Kalau ada yang nanyakin nanti kabarin ya bik ja," pamit ana pada bik ja.


"Baik non." Bik ja menganggukan kepalanya. Melihat ana yang berjalan sambil loncat-loncat membuat bik ja menggelengkan kepalanya, "Nona ana terlihat bahagia sekali," ucapnya melihat kepergian ana menuju parkiran.


"Mau kemana non?" tanya supir membukakan pintu untuk ana.


"Mau jalan-jalan sama temen pak, jemput dia dulu ya pak?" Ana memberitahu alamat Kristi pada supir.


"Baik non." Supir itu mengantarkan ana menuju rumah Kristi.


Didalam mobil ana tampak ceria dia begitu senang bahkan bersenandung duduk di jok belakang.


"Tampak nona senang sekali non?" tanya supir melihat ana bahagia dari kaca.


"Hahaha iya pak sudah lama sekali saya tidak menghabiskan waktu dengan sahabat lama," ujar ana pada supir.


"Oalah pantas saja nona tampak begitu bahagia."


Beberapa menit duduk didalam mobil ana akhirnya sampai dirumah Kristi. Perjalanan yang cukup lama karena situasi jalan padat lancar membuat ana butuh waktu lebih lama dari kecepatan rata-rata.


"Kristi!" panggil ana dari depan pintu.


Menunggu ana keluar dari rumah ana melihat kesekitarnya. Sudah lama sekali dia tidak berkunjung ketemlat itu. Banyak yang sudah berubah terutama dari segi jalan yang sudah diperbarui. Dia jadi bernostalgia bagaimana dulu dia menghabiskan waktu SMA disana.


"Hey!" Kristi menepuk pundak ana membuat ana kaget dengan kemunculan Kristi.


"Udah siap?" tanya ana pada Kristi.


"Sudah, Hayo tadi lagi lamunin apa?" tanya Kristi mengintimidasi.