
"Ana.."
Ana yang baru datang dari luar itu langsung menoleh kepada sang ayah yang memanggil dirinya.
"Iya yah ada apa?." Ana kemudian mendekati ayahnya yang sedang duduk di sofa itu.
"Kamu hari Rabu ini diundang untuk menghadiri acara permodelan." Kata ayahnya yang masih sibuk memegang smartphone itu.
"Ouhm iya yah aku akan datang." Baru saja ana akan beranjak pergi namun ayahnya membahas sesuatu yang dia tidak suka.
"Ana ayah dengar kamu menolak untuk pemotretan baju pantai?." terdengar nada sang ayah bertanya namun sedikit ada penegasan pada kalimatnya.
"Iya yah, Aku tidak menyukai memakai pakaian pantai seperti itu." Ana terus terang saja dengan ayahnya namun siapa sangka jika jawaban sang ayah diluar naluri dirinya.
"Kamu tidak boleh bekerja berdasarkan hati, Kamu harus lebih profesional dan selektif dalam memilih pekerjaan." Ayahnya kemudian masuk kedalam ruangan yang merupakan ruang kerja dirumah.
Ana menghembuskan nafasnya berat mendengar perkataan ayahnya. Dia kemudian menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Drrtt drrtt getar telepon dari smartphone ana, Ana selalu mematikan suara notifikasi.
Tertulis nama
Manager Fotografer
"Iya halo?."
"Ana apa besok kamu ada acara?."
"Tidak pak tapi saya lagi ulangan selama seminggu."
"Seperti itu, Saya mendapat pesan dari ayah kamu bahwa kamu akan menerima pemotretan untuk baju pantainya."
Ana sejenak berpikir, dia belum sama sekali mengatakan apapun kenapa ayahnya bisa melakukan hal seperti ini.
"Hum iya pak."
"Kalau begitu besok kamu bisa hadir jam 3 diperusahaan nanti akan dijemput oleh tim."
"Baik pak."
"Baik ana jaga kesehatan dan jangan lupa melakukan perawatan tubuh."
Tut..
Telepon itu tertutup
Ana merebahkan tubuhnya diatas kasur. Rasa kesal dan berat hati menjalankan semua itu namun ana harus tetap melakukannya. Ana memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan rasa penat hari ini.
Esok harinya Ana sudah bersiap menuju kampusnya. Didalam mobil kini dia bersama sang ayah.
"Ana.."
Ana yang awalnya memainkan ponselnya itu segera mematikan layar ponselnya.
"Iya yah?."
"Kamu sudah ditelepon sama manager?."
Ana hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya yah sudah kemarin sore aku ditelepon oleh manager." Terang ana kemudian melihat jalanan dari dalam jendela mobil.
"Jika kamu ada masalah atau kendala segera bilang ke ayah jangan mengambil keputusan tanpa bertanya kepada ayah."
"Iya yah." Ana hanya bisa pasrah dibawah perintah ayahnya itu.
Beberapa saat kemudian ana sampai dikampus.
"Ayah aku masuk dulu." Kata ana bersalam dengan ayahnya.
"Belajar yang benar supaya masa depan kamu cerah."
Tidak ada jawaban lagi dari ana hanya menganggukan kepalanya kemudian berlari masuk kedalam kampus.
"Heyy Broo itu cewek kapan lu dapetin." Kata teman Dimas yang tidak jauh berada dari parkiran.
"Tenang.. Kasih dia bernafas dulu sebelum semuanya terjadi." Dimas kemudian berjalan dengan gaya arogannya membuat para wanita yang melihatnya dikampus berteriak histeris
"Ehhh... jangan pernah melepaskan merpati dengan mudah karena merpati selalu terbang jauh tinggi disana."
Dimas yang mendapatkan sindiran itu menatap sinis temannya.
"Sejauh merpati terbang dia mengetahui arah mata angin."
Didalam kelas ana sedang kelimpungan karena lupa membawa pulpen.
"Ana kamu kenapa?." Tanya Nisa bingung dengan ana yang terus membongkar isi tasnya sendiri.
"Nisa pulpen ku ketinggalan aku juga tidak membawa pulpen simpanan lainnya." Ana memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Terlihat ana sangat panik dan kacau.
"Hey..." Tiba-tiba Dimas datang memasuki kelas ana.
"Dimas kamu ngapain disini?." Tanya ana kepada Dimas yang tiba-tiba masuk kedalam kelas.
"Aku tadi lihat dari jendela kamu enggak bawa pulpen jadi aku bawain ini untuk kamu." Dimas meminjamkan sebuah pulpen kepada ana.
"Makasih Dimas kamu selalu menolong aku." Ana dengan senang hati menerima pulpen yang diberikan oleh Dimas.
"Selesai ulangan aku kembalikan pulpennya."
Kringgg kringgg bel berbunyi terlihat semua mahasiswa masuk kelas.
"Enggak usah ana kamu bawa aja, Udah yha aku mau balik kekelas dulu." Dimas terburu-buru keluar dari kelas.
Tampak ana tersenyum dibalik kepergian Dimas. Ana sangat senang dengan kemurahan hati yang dimiliki Dimas.
Ana tampak serius menjawab soal-soalnya hingga jam tidak berasa berlalu sudah menunjukan angka 11. Saatnya dia untuk pulang.
"Ana?."
"Iya nis ada apa?."
Ana dan Nisa sedang menuruni anak tangga.
"Kamu nanti ada pemotretan dipantai?." Ana kaget dengan pertanyaan Nisa karena dia tidak mengatakan apa-apa tentang jobnya.
"Aku tau dari manager karena sebenarnya hari ini kita berdua yang melakukan pemotretan."
"Ouu jadi itu pemotretannya berdua?." Ana kaget dan dia tidak tau apapun mengenai pemotretan itu.
"Iya ana, nanti mau aku jemput?."
Ana sejenak berpikir perkataan managernya semalam.
"Tapi kemarin manager bilang aku berangkat sama tim."
"Yha udah aku berangkat sendiri aja entar pulangnya sama aku yha."
"Okeh Nisa." Ana kemudian berlari menuju mobil yang sudah menjemput dirinya.
Setelah sampai dirumah ana melakukan perawatan tubuh yang dia butuhkan dan tidur sejenak sebelum akhirnya dia harus melakukan pemotretan.
Dipantai terlihat ana sangat tidak nyaman dengan pakaian yang sedang dia gunakan.
"Ana apa kamu baik-baik saja?." Tanya Nisa khawatir dengan ana yang terlihat risih itu.
Ana tersenyum tanda dia baik-baik saja.
"Aku gapapa nis.. Ayo kita lakukan sesi pemotretannya."
Nisa dan ana terlihat saling adu model untuk pemotretan itu. Mereka berdua terlihat serasi namun juga berlawanan.
Ana yang polos dan lugu terlihat dari gayanya yang tidak nyaman dengan pakaian yang dia gunakan sedangkan Nisa sudah terbiasa dan terlihat profesional saat melakukan pemotretan. Namun siapa sangka jika ana mendapatkan banyak komentar positif dari staf dan berbanding terbalik dengan Nisa.
"Ana kamu terlihat sangat cantik dan polos saat pengambilan foto tadi.
"Iya ana kamu terlihat seperti anak kecil yang lugu tadi." Banyak komentar lainnya yang membuat ana senang karena dia takut akan direndahkan.
Ana takut dirinya akan menjadi bahan pembicaraan saat dirinya tidak pandai bergaya waktu memakai pakaian itu.
"Anak kecil apanya, mana ada anak kecil mempunya ukuran dada yang bisa dibilang besar itu." Nisa yang melihatnya ada sedikit iri dengan ana yang dipuji dan dipandang seperti itu. Sedangkan dia tidak mendapatkan Komentar positif apapun padahal dia terlihat sangat cantik dan menjalankan pekerjaan dengan sangat bagus.
"Ana.." Panggilan Dimas mengangetkan ana yang sedang minum air mineral itu.
"UHUK uhuk." Ana tersedak meminum air mineralnya.
"Dimas kamu ngapain kesini?." Tanya ana pada akhirnya setelah batuknya hilang.
"Aku kesini mau jemput kamu sekalian ngajak makan malam."
Ana yang melihat kebaikan Dimas dia kaget karena pertama kalinya dia diajak keluar oleh Dimas.
"Ayah dan ibu sedang keluar untuk kerumah saudara aku disuruh makan bersama sama kamu." Kata dimas sambil memutar-mutarkan kunci mobil dijarinya.
"Hum baiklah aku ganti baju dulu."
Karena sesi pemotretan telah selesai ana segera mengganti bajunya dan mengikuti Dimas untuk makan malam.
Nisa yang melihat percakapan Dimas dan ana dari jauh langsung mendekati Dimas.
"Dimas kamu ngapain kesini?." Tanya Nisa saat ana sudah berjalan jauh menuju ruang ganti.
"Ouh aku kesini mau jemput ana." Terlihat Dimas sedikit gugup sambil menggarukan kepalanya yang tidak gatal
Nisa yang melihat itu sedikit bingung dan menaikan alisnya
"Ehh tapi aku akan mengantar ana pulang."
"Tidak masalah nis.. Ana pulang bareng aku aja."
"Baiklah jaga ana yha dim aku mau pulang dulu." Nisa kemudian berjalan menuju ruang ganti sebelum akhirnya dia pulang.
Beberapa saat kemudian ana keluar dengan pakaian dress berwarna merah muda yang panjangnya diatas lutut. Terlihat manis dan anggun saat ana memakainya.
"Udah siap?." Tanya Dimas kepada ana yang hanya mendapatkan anggukan dari ana.
Ana kemudian masuk kedalam mobil dimas. Tidak ada percakapan apapun sampai akhirnya mereka tiba disebuah restoran kecil.
"Ana kamu mau makan apa?." Tanya Dimas saat mereka berdua berada dikasir untuk memesan menu makanan.
"Aku mau makanan yang ringan saja." Kata Ana kemudian mencari tempat untuk duduk.
Dimas kemudian memesan beberapa makanan untuk mereka berdua. Setelah selesai memesan Dimas menyusul Ana yang sudah duduk sambil memandang lilin yang sengaja dipasang untuk menghias ruangan.
"Kamu suka tempatnya?." Pertanyaan Dimas itu berhasil membuat ana kaget.
"Iya aku menyukainya."
Dua orang pelayan kemudian datang kemeja Dimas membawakan makanan yang dipesan. Ana yang melihat makanan tersaji itu sudah ingin menyantapnya karena terlihat makanan itu sangat menggoda dirinya.
"Ana makannya pelan-pelan aja masih banyak kalau habis nanti aku pesankan lagi." Dimas menahan tawanya saat melihat ana sangat lahap menyantap makanan itu.
"Ehhh hahahha iya dim."
Dimas melihat ada noda makanan disamping bibir ana. Dimas kemudian mengelap noda itu dengan jarinya.
Tanpa mereka sadari Risa sedang menyaksikan kemesraan mereka dari kejauhan. Karena sudah panas dengan adegan Dimas, Risa langsung melabrak ana.
"Dasar wanita perebut laki orang."
Byurr
Minuman yang ada dimeja itu disiram ke ana begitu saja oleh Risa.
"Risa apa yang kamu lakukan." Dimas berusaha menjauhkan Risa dari ana.
"Kamu apa apaan ngedeketin dia udah jelas jelas kamu punya kekasih yaitu aku!." Risa sangat marah besar dengan perlakuan Dimas.
"Kamu sekarang pulang!." Dengan nada tingginya Dimas mengusir Risa.
Risa tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Dimas.
"Kamu yang benar aja nyuruh aku pulang Dimas!."
"Kalau kamu bisa datang sendiri kesini kenapa harus aku antar untuk pulang?." Dimas tidak memperdulikan Risa, dia lebih memilih membantu ana untuk mengelap pakaiannya yang basah.
"Awas kamu ana!." Risa yang marah itu menghentakkan kakinya pergi dari restoran itu.