
Ana membuka pintu rumahnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Ibunya yang melihat ana sedang bahagia itu langsung menghampiri dirinya.
"Humm kenapa senyum-senyum begitu." Tanya ibunya heran mendapatkan ana yang sangat bahagia.
Ana yang ketahuan senyum-senyum sendiri itu langsung gugup dan malu didepan ibunya, "Enggak ada Bu hehe." Ana terkekeh diakhir kalimatnya.
"Sepertinya itu bukan mobil Nisa tadi." Kata ibunya berusaha mengintrogasi.
"Anu... Bu.." lidah aja seketika melilit bingung ingin berbicara apa.
"Wahhh anak ibu sepertinya udah besar yha." Ibunya itu mengusap lembut rambut ana.
"Sekarang kamu udah mulai nakal dibelakang ibu." Kata ibunya itu sambil menuntun ana menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Humm enggak Bu aku gak nakal." Ana berusaha memberikan pengakuan tentang dirinya.
Ibunya yang melihat tingkah laku ana yang malu itu hanya tersenyum-senyum.
"Ibu kenapa ibu gak hilang kalau yang ulang tahun itu anak ibu."
Ibunya itu kemudian berfikir sambil membantu ana untuk membenarkan rambut dan melepas beberapa jepit yang terpasang.
"Yha ibu lupa juga bilang." Akhirnya ibunya ketawa sendiri dengan kalimatnya itu.
Ana juga ikut tertawa mendengar perkataan ibunya.
"Ibu hari Minggu besok aku mau jalan-jalan sama sahabat aku boleh?" Ana baru ingat bahwa dia sudah membuat janji dengan sahabatnya itu.
"Siapa? Kristi yha?" Mendengar pertanyaan ibunya ana hanya menganggukan kepalanya.
"Boleh tapi jangan lama-lama diluar yha." Kata ibunya berusaha memperingati dan memberikan saran terbaik buat ana.
"Iya Bu."
"Yha udah sekarang kamu bersihin diri ganti baju terus tidur." Ibunya itu kemudian pergi menutup pintu kamar ana.
Ana segera bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri. Namun tiba-tiba saat dia melepaskan dressnya ada seorang pria sedang duduk manis diatas bath up.
"Aaaa hpmm." Yang awalnya ana berteriak tiba-tiba mulutnya ditutup rapat oleh pria tersebut.
Untungnya ana belum menjatuhkan dressnya kebawah. Kini dia menahan dressnya dengan memegang bagian dadanya.
"Halo cantik.." kata pria tersebut menggoda ana ditelinganya.
"Setelah sekian lama kita ketemu kembali." Pria itu menaruh kepalanya dipundak ana membuat ana sedikit geli karena bahunya tidak tertutup sehelai benangpun.
"Kamu semakin menggoda saja saat ini." Itu terus menjalarkan tangannya kesetiap lekuk tubuh ana.
Ana yang sedang dibungkam mulutnya itu berusaha untuk membuka mulutnya tapi tidak berhasil. Dia juga berusaha untuk menendang pria itu tetapi kakinya yang kecil itu tidak menggapai badan pria yang tinggi itu.
"Harum sekali badan mu parfum apa yang kamu pakai?" Kata pria itu sambil menaruhkan hidungnya dileher ana.
Ana berusaha untuk meronta sesekali dia menyiku dengan lengannya tetapi akhirnya kedua lengannya dipegang oleh pria itu.
"Hum.. sayang sekali jika kita harus melakukannya sekarang, ini terlalu cepat."
Mendengar perkataan itu ana tercengang matanya membulat. Rasa kaget dan takut menghantui dirinya saat ini.
"Aku akan pergi tapi aku akan menandakan dirimu bahwa kamu hanya milikku."
"Sampai jumpa sayang ku." Kata pria itu mencium bibir ana secara paksa kemudian pergi melompat melewati jendela kamar mandi.
Ana yang masih kaget itu hanya diam dan meneteskan air mata. Segera setelah dia sadar, dia langsung menutup jendela kamar mandi dan menguncinya serta menutupnya dengan korden. Ana sedang naik pitam rasa kesalnya memuncak.
Ana kemudian melanjutkan aktivitas mandinya. Setelah selesai mandi dia berkaca lehernya kelihatan dengan jelas tanda merah yang telah dibuat oleh pria itu.
"Apa sih maunya dia itu!" Kata ana kesal melempar handuknya kesembarang arah.
Selesai memakai baju tidurnya ana langsung merebahkan dirinya dan menuju alam mimpinya.
Kring.. suara alarm hp ana berbunyi. Ana meraba-raba diatas kasur mencari hpnya. Belum saja dia mendapatkan handphonenya suara alarm itu sudah berhenti.
Ana baru akan melanjutkan tidurnya namun tersadar bahwa dia tidak mematikan alarmnya dia langsung bangun dari mimpinya itu. Ana berusaha mengucek matanya dan membenarkan pandangannya dengan orang yang sedang duduk diatas kasur miliknya.
"Dimas?!" Pekik ana kaget melihat Dimas sudah berada diatas kasur dengannya. Segera ana menoleh bagian tubuhnya yang ternyata masih utuh tertutupi baju tidurnya.
"Eh- dasar mesum aku gak melakukan apapun ya hahahaha." Kata dimas tertawa melihat reaksi ana yang kaget itu.
Ana yang dikatai mesum oleh Dimas itu malu dan akhirnya menundukkan kepalanya.
"Cepat turun sarapan bareng apa kamu gak ingin sarapan bareng dengan saudaramu ini?" Kata dimas sambil mengusap lembut rambut ana.
Namun seketika Dimas menghentikan gerakannya karena kaget melihat bekas tanda yang ada dileher polos ana itu.
"Aku akan segera mandi." Ana sadar apa yang dilihat oleh Dimas. Akhirnya dia memutuskan untuk bangun dan pergi kekamar mandi.
"Cepatlah mandi! Jangan seperti tuan putri yang mandinya harus berabad-abad hahahhahaha." Teriak Dimas mengejek ana berusaha mencairkan suasana.
Sedangkan ana yang sedang didalam kamar mandi terlihat kesal dengan ejekan Dimas. Selesai mandi ana segera memakai pakaiannya. Dia kali ini memilih memakai kemeja putih dengan celana jeans. Dilengkapi sepatu kets berwarna putih membuat ana terlihat stylish.
Ana kemudian turun untuk sarapan bareng bersama keluarga sambungnya itu. Terlihat Dimas sudah duduk disana dan berbincang-bincang ria bersama ayah dan ibu.
"Ehh putri ibu udah bangun ayo sini sarapan dulu." Kata ibunya sambil memberikan piring kepada ana.
"Rapi sekali kamu mau kemana?" Tanya ayahnya terlihat tidak senang dengan penampilan ana yang akan keluar rumah.
"Aku hari ini janji ketemu dengan kristi yah." Kata ana sedikit takut dengan ayahnya itu.
"Kenapa kamu gak bilang dari kemarin." Kata sang ayah sambil sibuk menatap handphonenya.
Ibunya yang melihat ketidak akuran itu langsung melerai percakapan, "Kemarin ana sudah bilang ke aku lagian dia sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya itu." Ibunya juga berusaha untuk membela ana.
Ana sangat senang dia bisa dibantu oleh ibunya. Ana senang ibunya bisa mengerti dirinya.
"Jangan main jauh-jauh kamu dianter sopir saja." Kata ayahnya yang bersikap bossy dan terlihat tidak ingin ada perlawanan apapun.
Ana hanya menganggukan kepalanya tanda dia setuju karena tidak ingin memperpanjang masalah lagi.
"Ayo dihabiskan dulu sarapannya." Kata ibunya sembari memberi roti kepada ana. Ana dengan senang hati memakan roti tersebut.
Selesai sarapan ana segera menelepon Kristi untuk janjian ketemuan. Didalam mobil terlihat ana masih memikirkan hal yang terjadi semalam. Dia masih tidak percaya bahwa dia akan kembali menghadapi keadaan seperti itu.
"Ana!" Teriak Kristi terlihat sangat jelas dia sangat senang dan langsung memeluk ana.
Begitu juga dengan ana dia juga memeluk Kristi. Mereka bertemu didepan toko buku novel. Seperti biasa Kristi masih suka untuk mengoleksi novel. Setelah selesai berpelukan Kristi langsung menarik ana untuk masuk kedalam toko.