Complicated Story

Complicated Story
34. Rencana Perjodohan



Ibunya Arya masih menyimpan emosinya hingga sampai dirumah. Arya belum pulang juga bahkan malam ini sudah menunjukkan pukul 22.30. Ibu Arya menunggu kedatangan Arya dari ruang tamu. Seakan-akan amarahnya akan bersiap untuk meledak saat Arya tiba dirumah.


Suara deru mobil terdengar. Ibu Arya segera melihat dari balik jendela yang ada didekat pintu. Tampak Arya sedang mematikan mobilnya dan menutup pintu mobilnya. Dia mulai melangkah menuju pintu masuk.


"Ibu?" tanya Arya kaget saat ibunya ternyata belum juga tidur dihari menuju tengah malam seperti ini.


"Ibu kenapa belum tidur juga?" tanya Arya seraya melepaskan mantel jasnya.


"Ibu heran sama kamu Ar," ucap ibunya dengan nada penuh emosi.


"Apa maksud ibu?" tanya Arya kebingungan. Arya melepaskan sepatunya dan menaruhnya dirak sepatu.


Ibunya menggelengkan kepala mengingat kejadian tadi saat dirumah tuan A.K, "Kamu udah buat ibu malu Ar, ibu kira Ana itu emang gadis yang baik seperti yang kamu ceritakan. Tapi ternyata tidak, ibu benar-benar bingung harus bagaimana sama kamu Ar. Kenapa kamu gak bilang sebelumnya kalau Ana itu adalah Lia?"


Arya tersenyum smirk mendengar perkataan ibunya, "Jadi ibu mengenalinya," ucap Arya dengan nada dingin.


Ibu Arya menatap tidak percaya ekspresi yang dikeluarkan oleh Arya, "Ar kamu benar-benar gila? Kamu sadarkan bagaimanapun juga dia itu adik kamu!" terang ibunya penuh emosi.


Arya memutarkan bola matanya mendengar ucapan ibunya sendiri, "Adik? Adik macam apa Bu? Aku dengan dia saja tidak memilki hubungan darah sama sekali? Adik macam apa yang ibunya bahkan membuangnya sendiri entah itu ibu kandungnya atau Ibu Angkatnya!" ucap Arya penuh penekanan pada kata terakhir yang dia ucapkan.


"Bahkan ibu saja tidak pernah menganggap bahwa Ana sebagai itu anak ibu sendiri. Tapi apa tadi ibu bilang? Ana adikku? Adik ? Hubungan adik yang seperti apa Bu?" tanya Arya terus menerus dengan emosi yang meledak-ledak.


Awalnya ibunya yang akan meluapkan emosinya kini justru malah Arya yang meluapkan emosinya, ibu Arya menatap dingin kearah Arya, "Ibu tetap tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan Ana!" ucap ibunya memperingati.


"Apa sih yang buat ibu tidak menyukai ana sama sekali? karena dia anak yang dilahirkan diluar pernikahan? itu yang buat ibu tidak mau menerima ana sebagai anak ataupun calon menantu?" tanya Arya masih dengan emosi yang sama.


"Iya! Ibu tidak menyukai dia sama sekali karena dia anak yang dilahirkan diluar pernikahan. Ibunya saja seperti itu apalagi anaknya. Seharusnya kamu tau pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," ucap ibu Arya sama emosionalnya dengan Arya.


"Ibu lebih baik menjodohkan mu dengan anak dari teman ibu saja, dia anak yang baik dari keluarga yang baik-baik dia juga anak yang pintar," kata ibu Arya ingin menyelesaikan percakapan yang penuh dengan amarah itu.


"Kalau begitu aku akan tetap mempertahankan hubungan ku dengan Ana," ucap Arya tidak ingin kalah dalam mengambil keputusan untuk kehidupannya.


Arya melangkahkan kakinya menuju kamarnya meninggalkan ibunya. Ibu Arya masih menatap Arya tidak percaya bahwa kini anaknya sudah dewasa.


Esok harinya.


Dikantor Ana sedang mengerjakan tugasnya dikantor. Duduk didepan komputer yang terus berisi data-data mengenai proposal.


Drtt drrt


Telponnya bergetar dia mengerinyitkan alisnya karena yang menelepon tertera no ponsel. Ana heran siapa yang meneleponnya diluar kontak pribadinya.


"Halo?" sapa Ana mengangkat panggilan itu.


"Halo nona Ana, Ini saya pemilik perusahaan yang kemarin rapatnya diwakilkan oleh komisaris saya," kata orang itu dari balik teleponnya.


"Ouh ya perusahaan Victor senang bisa berbicara dengan Anda langsung lewat panggilan telepon," ucap Ana tersenyum senang.


"Jadi begini maksud saya menelepon ingin mengajak anda untuk makan siang bersama sambil berbincang-bincang lebih lanjut mengenai kerja sama antar perusahaan."


Ana sejenak berpikir mengenai jadwalnya hari ini, "Tapi pak saya nanti siang akan pergi ke bank terlebih dahulu," ucap ana tidak enak hati menolak ajakan pemilik perusahaan Victor.


"Tidak masalah kita bisa mengatur jadwalnya lagi," kata pria itu.


"Bagaimana perjumpaan kita jam 2 siang nanti apakah bapak mempunyai waktu?" tanya Ana.


"Tentu saja hari ini kebetulan jadwal saya kosong. Saya tunggu kedatangannya jam 2 siang nanti dicafe dekat simpang 6," kata pria itu.


Ana menganggukan kepalanya, "Baik pak saya akan kesana nanti setelah selesai urusan dibank," kata Ana menyetujui ajakan.


"Ba-" Tut


Belum saja ana menyelesaikan perkataannya tapi telepon itu sudah ditutup.


Tok Tok tok


Seseorang mengetuk pintu ruangan ana. Ana langsung menoleh kearah pintu, tampak itu adalah sekretaris perusahaan.


"Iya masuk," kata ana mempersilahkan.


"Nona anda dipanggil oleh tuan A.K untuk menghadap ke ruangannya," kata sekretaris itu.


Ana menganggukkan kepalanya mengerti, "Baik setelah menyimpan file saya akan langsung menghadap ke tuan A.K," saut ana.


Sekretaris itu mengangguk mengerti dan segera dia memundurkan diri dari ruangan ana.


"Ada apa ayah memanggilku keruangannya tumben sekali." Ana bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Selesai menyimpan filenya diflashdisk dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan ayahnya.


Ana mengetuk perlahan pintu ruangan ayahnya.


"Masuk!" perintah ayahnya dari dalam ruangan.


Ana membuka pintu itu dengan sangat hati-hati dia benar-benar gugup karena diperhatikan oleh beberapa karyawan. Setelah masuk Ana menutup pintunya.


"Ayah memanggilku?" tanya ana memastikan.


"Iya ayah memanggilmu," jawab tuan A.K masih menatap serius dokumen-dokumen yang dia pegang.


Ana duduk di sofa yang ada, "Ada apa ayah hingga memanggilku kemari apakah ada hal yang penting?" tanya ana bingung.


Tuan A.K kemudian menghentikan aktivitasnya beranjak untuk duduk di sofa bersama ana, "Ayah ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu," kata ayahnya membuat jantung ana berdegup kencang karena gugup.


"I-ya ayah kamu membicarakan apa?" tanya ana.


"Ayah ingin membuat perjodohan dengan teman ayah. Dia memilki seorang putra yang layak untuk menjadi calon pasangan untukmu. Dia menelepon ayah tadi untuk membicarakan perjodohan itu, tapi ayah bilang ingin bicara denganmu terlebih dahulu," ucap Tuan A.K menjelaskan.


Otak ana yang dangkal itu tidak bisa menanggapi semua perkataan ayahnya, "Jadi?" tanya ana ingin to the point saja.


"Apa kamu mau menikah dengan jalan perjodohan?" tanya Tuan A.K.


Ana sejenak diam memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan masa depannya, "Kalau ayah sendiri ingin aku bagaimana?" tanya Ana.


Ayahnya tersenyum melihat yang penurut, "Ayah ingin yang terbaik buat kamu, karena ayah punya rasa bersalah pada ibumu dan masa kecil mu jadi ayah ingin menebus semua kesalahan ayah," kata tuan A.K sedu.


Ana terhenyak mendengar perkataan ayahnya, "Ayah tidak perlu merasa bersalah. Ayah sudah memberikan aku masa depan yang cerah seperti ini. Berkat ayah aku bisa menjadi wanita terpandang yang berkarier," kata ana seraya mengelus pundak ayahnya.


"Aku akan pikirkan dulu mengenai perjodohan itu ayah. Setelah aku memikirkannya dengan matang baru aku memberi tau ayah apa keputusan yang akan aku ambil nanti," kata tersenyum pada ayahnya.


Tuan A.K tersenyum lebar mendengar perkataan Ana. Diapun memegang tangan ana dengan kedua tangannya, "Apapun yang menjadi keputusanmu ayah akan mendukungnya, tapi ayah akan tetap menuntun kejalan yang benar," kata Tuan A.K


Ana mengangguk, "Baik ayah."


Ana kemudian keluar dari ruangan Tuan A.K dengan penuh pertimbangan yang ada dipikirannya.