
Ditempat acara itu ana hanya menonton acara.
"Ehh gimana gimana dulu kita kenalan yha.." Nisa yang sedang asyik bercengkrama dengan teman lamanya itu.
Nisa, Risa, Dimas dan Yudha. Lengkap sudah kehadiran mereka didalam hidup ana. Ana yang merasa terpojok karena tidak akrab dengan mereka. Meskipun ana mengenal mereka tapi ana tidak memiliki hubungan yang cukup baik dengan mereka.
"Ana.. ehh diem aja ayo ikut nimbrung." Kata Nisa yang membuyarkan pandangan ana.
Ana hanya tersenyum manis menanggapi Nisa. Terlihat Risa begitu mesra bergelayut ditangan Dimas.
Beberapa menit sebelumnya..
Ana sedang bercengkrama dengan Nisa dan Dimas. Hingga tiba-tiba Risa datang langsung memeluk dimas.
"Selamat ulang tahun sayang." Kata Risa sambil mencium pipi Dimas.
Tanpa rasa malu Risa melakukannya didepan banyak orang.
"Ehh ana?" Risa kaget dengan keberadaan ana yang kembali hadir diantara mereka.
"Hay ana senang bertemu dengan mu kembali." Kata Risa sembari mengumbar senyum kepada ana.
Sedangkan ana yang canggung hanya menganggukan kepalanya.
"Oh yha ana aku dan Dimas sudah bertunangan." Kata Risa bahagia sambil menunjukkan cincin manis yang sudah terpasang dijari manisnya itu.
"Wow jadi kalian udah tunangan Dimas kamu gak ada kasih tau aku haha." Kata Nisa menimpali percakapan mereka.
"Eheh." Dimas hanya bisa terkekeh diantara mereka.
Nisa tertawa melihat tingkah laku Dimas yang seperti kucing itu.
"Selamat yha buat kalian berdua semoga langgeng." Ucapan selamat dari Nisa itu langsung bersalaman dengan Risa dan Dimas.
Melihat itu ana langsung ikut-ikutan mengucapkan selamat kepada Risa dan Dimas. Beberapa saat kemudian Yudha datang yang langsung disambut hangat oleh Dimas.
Yha sejak SD Dimas dan Yudha sudah menjadi sahabat dan sampai sekarang Dimas dan Yudha menjaga hubungan itu.
Dan disinilah sekarang ana berada. Duduk diantara mereka yang sangat akrab dan bahagia dalam acara ulang tahun Dimas yang ke-20.
"Ana kamu sama siapa kesini?" Tanya Yudha kepada ana membuat yang duduk dalam satu meja itu menoleh keyudha dan ana.
Ana yang merasa ditatap sedikit risih dan canggung.
"Dia sama aku berangkat tadi." Kata Nisa menjawab pertanyaan dari Yudha.
"Ouu jadi kalian saling kenal?" Tanya Yudha lagi kepada Nisa dan ana.
"Iya kami satu kampus satu fakultas dan satu kelas hahahahaha." Gelak tawa nisa membuat yang lain juga ikut tertawa.
"Ouu yha Dimas bukankah kamu juga satu kampus dengan Nisa?" Pertanyaan Risa berhasil membuat ana kaget. Dia tidak tau bahwa selama ini ternyata Dimas ada dikampusnya.
"Iya tapi beda jurusan." Kata dimas dengan santainya sambil meminum soda yang dia bawa.
"Wahh seru donk kalian satu kampus." Kata Risa bertepuk tangan ria.
Sedangkan Nisa tertawa melihat tingkah laku Risa.
"Risa gak satu kampus yha dengan Dimas?" Tanya Nisa karena dia juga tidak mengetahui siapa Risa.
Ana juga tidak mengetahui dia sedang berbicara dengan siapa. Ana hanya tau nama mereka tetapi tidak dengan identitasnya.
"Aku satu kampus dengan Yudha jurusan kedokteran." Kata Risa menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Wow hebat banget ngambil jurusan kedokteran."
"Kalau kalian?"
"Aku sama ana management bisnis." Kata Nisa sambil memegang tangan ana.
Ana hanya tersenyum saja menanggapi percakapan mereka dia tidak tau harus berbuat apa dan berbicara apa untuk menimpali perbincangan mereka.
"Ouu yha sepertinya ini udah sangat larut aku pulang dulu yha." Kata Nisa yang sudah berdiri dari tempat duduknya begitu juga dengan ana.
"Gimana kalau kalian aku antar?" Tanya Yudha menawari tumpangan.
Sedangkan ana dan Nisa hanya saling beradu tatap bingung mau jawab apa.
"Enggak usah entar aku telpon supir aja didepan." Kata Nisa kemudian hendak pamit dari acara.
Sedangkan Yudha dan Risa berhasil kaget dengan apa yang dikatakan Dimas. Ana yang mendapat tawaran tumpangan itu menggelengkan kepalanya.
"Kamu yang punya acara masa pulang?" Perkataan ana berhasil membuat Dimas terkekeh seperti kucing.
"Yha udah kami pulang dulu yha." Kata Nisa sambil memeluk dimas dan Risa kemudian bersalaman dengan Yudha.
Ana hanya mengumbar senyum dan mengikuti langkah Nisa. Didepan ana dan Nisa sedang menunggu supir dan ditemani oleh Yudha karena didepan jalanan sepi.
Yudha yang takut mereka kenapa-kenapa saat didepan nanti akhirnya menemani mereka berdua didepan.
"Kemana supirnya kenapa belum datang?." Tanya Yudha kepada Nisa yang sedang terus berusaha menelepon supirnya itu.
Sudah hampir 15 menit Mereka menunggu supir yang ditelpon oleh Nisa.
"Halo pak bisa jemput kami?" Suara nisa menelepon seseorang.
"Ouhh baik pak." Tak perlu lama Nisa menutup panggilan teleponnya itu.
"Ana supirnya sedang jemput ayah jadi gak bisa jemput kita disini." Kata Nisa sedih
Ana kemudian mengelus bahu Nisa, "Mau aku telepon supir ku?" Tanya ana menawarkan ide.
"Kalian bareng aku aja." Ucap Yudha menawarkan tumpangan.
Mendengar itu ana dan Nisa kembali beradu tatap membuat kesepakatan bersama.
"Yha udah ayo numpang sama Yudha aja." Kata ana mengajak bisa untuk ikut pulang bersama Yudha.
Nisa kemudian menganggukan kepalanya dan mengikuti langkah Yudha yang menuntun jalan menuju mobilnya.
Ana dan Nisa duduk di kursi belakang. Tidak ada percakapan selama diperjalanan selain arahan jalan menuju rumah masing-masing. Rumah Nisa yang memang lebih sampai terlebih dahulu membuat ana akhirnya pindah tempat duduk kedepan karena Yudha terus menyuruh dan memaksa dirinya.
"Gimana kuliah mu?" Tanya Yudha membuka percakapan basa-basi kepada ana.
"Lancar." Kata ana menjawab acuh tak acuh pertanyaan dari Yudha.
"Jadi kamu udah pindah tinggal bersama ayah kamu?"
Pertanyaan Yudha membuat ana kaget. Ana tidak pernah memberitahukan kepada siapapun tentang kisah hidupnya. Kecuali dengan Kristi sahabat karibnya itu.
"Bagaimana kamu tau semua tentang diriku?" Tanya ana to the point mengintrogasi Yudha.
Sedangkan Yudha hanya tertawa melihat ana yang terheran-heran dan bingung itu.
"Mungkin kita memiliki ikatan batin yang kuat." Kata Yudha tengah bercanda dan mengumbar gelak tawa.
Ana hanya terkikik menanggapi Yudha yang sedang ngelawak didepan dirinya.
"Ana aku masih bertanya-tanya kenapa kamu bisa menjadi anak tuan A.K."
Ana enggan untuk menjawab pertanyaan Yudha yang bagi dirinya itu merupakan sebuah privasi. Ana memilih diam untuk lari dari pertanyaan yang diajukan oleh Yudha. Walau dia sebenarnya ternganga ngungu bingung ingin menjawab apa.
"Setelah ini belok kemana?"
"Belok kanan." Kata ana langsung menunjuk kekanan.
Namun tiba-tiba saja mobil yang dikemudikan Yudha belok secara mendadak membuat ana terguncang dan akhirnya menimpa tubuh Yudha.
Yudha akhirnya mengerem mobilnya. Kini ana dan Yudha sedekat denyut nadi. Jantung mereka beradu berdegup kencang. Manik-manik mereka menyatu dalam pandangan satu sama lain.
Akhirnya ana tersadar karena ada suara kucing yang membuyarkan lamunan mereka berdua. Namun hendak kembali ke posisi duduknya. Rambut panjang ana ternyata tersangkut dikancing baju Yudha.
Yudha yang kaget langsung membenarkan rambut ana itu agar terlepas dari kancing bajunya. Tapi karena gugup Yudha tidak berhasil melepaskan rambut ana yang tersangkut.
Ana kemudian memegang kancing baju Yudha itu dan perlahan memutar rambutnya yang terlilit dikancing baju Yudha.
Yudha yang kembali dekat dengan ana itu menikmati pemandangan wajah cantik dari ana. Setelah tiba-tiba ana selesai dengan kegiatannya Yudha langsung melihat-lihat keatas dan kesamping karena takut ketahuan mencuri pandang dari ana.
Setelah selesai Yudha kembali melanjutkan menyetir mobilnya menuju rumah ana.
"Makasih Yudha." Kata ana mengumbar senyum kemudian menutup pintu mobil Yudha.
"Sama-sama." Kata Yudha yang mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengumbar senyumannya.
Malam itu rembulan dan bintang menjadi saksi mereka berdua yang sedang bahagia dan tersenyum sendiri mengingat kejadian yang terjadi didalam mobil tadi.