
"Jadi bagaimana?" Tanya pria yang merupakan ayah dari ana tersebut.
"Apanya yang bagaimana kamu kira saya ini sebentar lagi tidak akan hidup?" Jawab nenek ana menyautin ayah ana tersebut.
Mereka sejak tadi bertengkar tentang hak asuh ana.
"Anda bisa mentanda tangani surat surat ini jika ingin menjamin ana hidup bahagia." Pria tersebut terus memaksa nenek ana untuk mentanda tangani proposal yang dia beri namun tidak pernah mendapatkan hasil.
"Aku tidak bisa percaya dengan segala omongan yang kau bual itu." Nada sang nenek begitu sinis dibagian akhir kalimatnya.
Sedangkan pria tersebut hanya tersenyum smirk dengan ucapan dari nenek ana tersebut.
"Saya tidak selamanya menjadi serigala buas terkadang serigala juga punya hati untuk keluarganya sendiri." Ucapan pria tersebut berhasil membuat sang nenek miris.
"Kenapa kau menyamakan dirimu sendiri dengan serigala." Tanya sang nenek penasaran dengan ungkapan terang terangan dari pria tersebut.
"Sikap tegas dari serigala yang menerkam menjadikan panutan untuk saya." Kata ayah itu santainya.
"Baiklah." Ucap sang nenek kemudian mentanda tangani proposal yang diberikan kepadanya itu.
Setelah selesai pria tersebut hendak pergi dari kamar rumah sakit itu.
"Jangan kau permainkan dia seperti ibunya." Ucap sang nenek sebelum pria tersebut membuka pintu.
"Saya tidak akan mengecewakan anda." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan kamar rumah sakit itu.
Ana yang sejak tadi berada diluar ruangan terus khawatir tidak tenang. Hingga pria dari kamar rawat sang nenek keluar ana langsung menghampirinya.
"Pak bapak ngapain aja?" Tanya ana tergesa-gesa kepada pria tersebut.
Ana sangat khawatir dengan keadaan neneknya.
"Saya tidak melakukan apa apa silahkan masuk saya permisi dulu." Kata pria tersebut kemudian pergi meninggalkan ana yang masih tidak tenang.
"Pria aneh." Batin ana memaki pria tersebut, kemudian dia masuk kedalam kamar inap sang nenek.
"Nenek gapapa?" Ana terus memeriksa kondisi sang nenek.
Meskipun ana tidak mengerti tentang kesehatan tapi dia terus saja melakukannya. Jika dia tidak memeriksa sendiri kondisi sang nenek dia tidak akan tenang. Rasa sayang ana kepada sang nenek membuat ana tidak ingin kehilangan satu sosok yang selalu menemaninya saat ini.
"Nenek baik-baik saja ana." Jawab sang nenek dengan nada lemah terbaring.
Ana membenarkan posisi bantal neneknya tersebut.
"Kamu kenapa gak sekolah?" Sang nenek bertanya dengan ana.
Ana kemudian kaget dengan pertanyaan sang nenek langsung berpikir untuk menjawab.
"Aku pengen ngerawat nenek gak mau ninggalin nenek entar nenek kenapa-kenapa siapa yang bantu." Jelas ana secara terang-terangan.
"Nenek cuma punya aku dirumah gak mungkin nenek nyuruh karyawan nenek buat nemenin nenekkan?" Ana terus memegang tangan neneknya itu dia merasa tidak mau kehilangan sosok satu-satunya yang ada dalam hidupnya.
"Nenek bangga punya cucu kayak kamu." Ucap sang nenek sambil mengelus-elus rambut ana.
"Nenek yang tadi kesini itu siapa?" Tanya ana penasaran dengan sosok pria tersebut.
Sang nenek yang mendapatkan pertanyaan itu sedang melihat manik-manik ana. Begitu lekat dan intens. Sang nenek tidak ingin membuat ana cucu tersayangnya begitu kecewa.
"Dia pria yang memiliki perusahaan model dikota, sepertinya dia ingin merekrut mu sebagai model majalahnya."
Ana bingung harus merespon apa dia tidak mengerti tentang dunia entertainment.
Sang nenek kemudian terkikik dengan kepolosan ana yang begitu lugu dan manis.
"Yha nenek gak mau kamu jadi model kamu harus belajar dulu baru bekerja lagian ada nenek yang masih bisa mencari uang." Perkataan sang nenek membuat ana mengerti tentang kerja keras dibalik kulit keriputnya dan badan yang terbaring lemah saat ini.
"Ana akan jadi murid yang rajin belajar nek, ana akan buat nenek bangga nanti." Ana kemudian tersenyum kepada sang nenek sambil terus memegangi tangan neneknya itu.
"Kamu cita-citanya mau jadi apa?" Tanya sang nenek yang lagi-lagi mendapatkan ekspresi linglung dari ana.
Ana kemudian berpikir ingin menjadi apa setelah tamat sekolah ini. Ditambah dia baru SMA jadi dia harus memilih kampus untuk menentukan pekerjaannya nanti.
"Ana bingung nek." Ucap ana akhirnya menyerah dia tidak bisa berpikir lebih panjang lagi. Dia tida pernah berpikir jika dia kini sudah akan bekerja.
Sang nenek hanya tersenyum sambil menatap wajah ana.
"Kamu harus punya cita-cita dan tujuan hidup untuk bisa menjalani kehidupan ini ana, kamu tidak bisa hanya menikmati dunia ini."
"Terkadang hidup ini ada jatuh dan bangunnya setiap saat tidak akan pernah semulus jalan tol dan kadang bisa secepat jalur kereta atau selambat keong berjalan." Sambung sang nenek menjelaskan tentang rumitnya perjalanan hidup.
Ana paham dengan apa yang dikatakan neneknya, namun ana tidak tau kelak dia akan menjadi apa suatu hari nanti.
"Nek kalau nenek pengennya ana jadi apa?" Tanya ana begitu semangat menantikan jawaban dari sang nenek.
Sang nenek kemudian melihat langit-langit ruangan yang ada dikamar rawat tersebut. Dia nampak berpikir sejernih mungkin.
"Nenek pengen kamu jadi dokter." Jawab sang nenek pada akhirnya.
Namun bukannya senang ana malah cemberut mendengar jawaban dari sang nenek.
"Kenapa dokter sih nek ana kan bisa jadi yang lain misalnya koki? Atau mungkin guru? Kenapa harus dokter?" Tanya ana beruntun membuat sang nenek geli mendengarnya. Baru kali ini sang nenek mendengar ana bertanya seperti itu.
"Kalau jadi dokter kamu itu berjasa banget merawat orang sakit membantu orang susah juga gajinya besar." Ucap sang nenek sambil menarik turunkan alisnya terutama pada kalimatnya yang terakhir.
"Kalau guru nek?" Tanya ana penasaran seakan-akan dia tidak benar-benar tau dengan pekerjaan profesi tersebut.
"Guru juga bagus kamu mengajarkan orang-orang hingga pandai dan merubah masa depan anak-anak bangsa semua profesi memiliki jasa mereka masing-masing." Jelas sang nenek panjang lebar.
Ana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia mengerti. Tapi sepertinya ana belum bisa memilih ingin menjadi apa dirinya kelak.
"Ana.." sela sang nenek ditengah ana yang terus berpikir keras.
"Iya nek?" Saut ana kemudian kembali menatap mata neneknya itu.
"Nenek tidak pernah memaksa kamu akan jadi apa nantinya, nenek pengen kamu selalu bahagia dan yang terpenting kamu tidak salah dalam mengambil langkah dalam setiap keputusan." Ucap sang nenek sambil mengeratkan genggaman tangan ana.
"Ana jadilah orang yang terus bahagia menebar cinta dan kasih sayang jadilah seseorang yang terus memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan dirimu." Amanat sang nenek membuat ana tersedu dan tersentuh.
"Ana.." lagi-lagi sang nenek memanggil nama ana.
"Iya nek?"
"Jangan pernah patah semangat dan tetap jalani walaupun hidup seberat mengangkat jemuran." Sang nenek kemudian tertawa dengan apa yang dia ucapkan.
Ana juga tertawa dengan apa yang dikatakan sang nenek. Bisa-bisanya sang nenek ngelawak ditengah perbincangan serius batin ana saat itu.
"Nenek aku akan selalu ingat semua perkataan nenek makasih yha nek selalu jadi motivator terbaik ana." Ucap ana kemudian mencium tangan sang nenek.
Semoga suka yha jangan lupa like komentar sarannya dan juga vote 💕💕💕