Complicated Story

Complicated Story
26. Hari pertama magang



"Akh telat." Pekik ana menepuk jidatnya. Dia telat 15 menit untuk berangkat kekantor.


"Ana hati-hati," Kata ibunya saat melihat ana terburu-buru menuruni anak tangga.


"Aku berangkat dulu." Ana bersaliman dengan ibunya dan segera meminta supir untuk mengantarkan dirinya.


Ana sangat gelisah dia takut akan dimarahi manager. Hari adalah hari pertama dia magang di perusahaan ayahnya. Terlalu siang untuk berangkat kekantor membuat jalanan macet. Ana harus menempuh 10 menit lebih lama untuk bisa sampai kekantor.


"Hosh Hosh-" deru nafas ana tidak beraturan dia berlari menaiki anak tangga.


"Maaf pak saya telat." Ana menundukkan kepalanya saat manager kantor melewati dirinya.


"Telat 25 menit buatkan minuman untuk rapat diruangan AB-03," kata Bisma menyuruh ana sambil menunjuk arah kebawah.


Arah yang dimaksud oleh Bisma adalah dapur bawah. Ana memejamkan matanya mengatur nafasnya dan bersiap turun lagi. Kakinya terasa lelah saat dia harus berlari dan naik turun tangga.


"Permisi." Ana mengedor pintu dapur dan ada satu staf cs disana.


"Mbak Ana kenapa ada disini?" tanya Cs itu.


Ana lupa dirinya belum menaruh tasnya, "Mbak, saya boleh taruh tas saya disini?" tanya ana meminta ijin yang lansung dianggukan oleh CS itu sebagai tanda persetujuan.


"Mbak apa aja yang harus saya bawa keruang rapat?" tanya ana saat mengambil nampan untuk menaruh keperluannya.


"Ini mbak kopi, teh sama beberapa camilan." Cs itu mengambil beberapa toples kecil yang berisi berbagai macam camilan.


"Makasih mbak." Ana menyiapkan gelas dan menyeduh beberapa minuman untuk rapat.


Ana berpikir keras berapa banyak minuman yang harus dia bawa, "Berapa gelas ya mbak minumannya?" tanya Ana pada cs tersebut.


"Biasanya lima berbanding 5 mbak," saut CS itu yang sibuk menyiapkan kotak makan.


"Itu untuk makan siang mbak?" tanya Ana penasaran.


"Iya mbak."


Selesai menyiapkan minumannya ana langsung membawa nampan itu naik keatas.


"Saya naik dulu ya mbak." pamit ana permisi hendak keluar dapur.


"Mbak ana itu ramah ya humble juga orangnya," kata Cs itu tersenyum sambil mengelap meja.


Ana dengan pelan-pelan menaiki anak tangga dan berjalan menuju ruangan rapat, "Baru pertama kali magang udah ngambil kegiatan CS hadeuh buruk sekali kesan pertama mu na.." ucap Ana mengata-ngatai dirinya sendiri.


"Permisi.." Ana ijin masuk kedalam ruangan dan memberikan gelas minuman untuk setiap karyawan yang ada dimeja rapat.


Ana bersyukur rapatnya belum mulai jadi dia tidak memotong pembicaraan mereka saat rapat.


"Saya permisi dulu." pamit ana lagi keluar dari ruangan. Dia segera kedapur untuk menaruh nampan dan mengambil tasnya.


"Dor!" Nisa mengagetkan Ana saat Ana duduk di mejanya.


"Nis.." Bisik ana memperingati Nisa.


Nisa terkikik melihat ana yang kacau karena hari pertamanya, "Muka kusut gitu baru pertamakali duduk di kursi gimana kalau udah berhari-hari berminggu-minggu berbulan-bulan udah jadi nenek-nenek kamu hihi." Nisa tertawa pelan meledek ana yang sedang semerawut itu.


"Seneng kamu aku menderita kayak gini awas aja nanti ya nis," kata Ana sambil menunjuk ke arah Nisa.


Beberapa saat kemudian Bisma datang membawa beberapa berkas kemeja ana, "Tolong direkap dijadikan satu buatkan soft copy juga saya tunggu sebelum jam makan siang," kata Bisma kemudian pergi meninggalkan ana.


"Ish Gila berapa file ini." Ana menghitung map file yang ada dimejanya.


"Semangat ana haha," kata Nisa meledek ana yang sibuk dengan berkas-berkasnya.


Ana langsung memijat kepalanya pening melihat huruf-huruf dan diagram yang ada di file itu, "Ini soft copynya kemana kenapa dari hardcopy ke soft copy yang ada tuh dari soft copy ke hard copy." Ana mengoceh dengan semua berkas dihadapannya.


4 jam lamanya Ana duduk didepan laptop fokus dengan dokumennya. Sejak tadi pagi perut Ana sudah berdemo ria meminta jatah karena dia belum sarapan dan kini jam sudah menunjukkan pukul setengah 12.


"Masih ada yang belum selesai.." Cemburut ana karena masih ada 2 map lagi yang belum dia salin.


"Aku kasih ini aja dulu ya kepak Bisma." Ana akhirnya memutuskan menyerahkan flashdisk dan map yang sudah dia salin.


Tok Tok Tok


"Permisi." Ana perlahan membuka pintu ruangan Bisma.


"Iya masuk," ucap Bisma yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Ini pak yang baru saya kerjakan ada 2 map lagi yang belum saya kerjakan," kata Ana menyerahkan hasil kerjanya.


"Baik, kamu istirahat dulu kemudian lanjutkan lagi nanti pekerjaannya," kata Bisma tanpa berkutik ataupun menatap Ana.


"Baik pak." Ana kemudian menutup pintu ruangan Bisma.


Saat ana keluar Nisa sudah menunggu ana didepan pintu, "Ayo nis makan." Ajak Nisa sambil menggandeng tangan ana.


Ana dan Nisa duduk disebuah kedai makan dipinggir jalan. Nisa yang sangat ingin makan nasi campur itu memaksa ana berjalan agak jauh dari kantor.


"Nis kamu kenapa pengen makan nasi campur nyariknya jauh banget kenapa gak warung Padang yang ada disamping kantor aja?" keluh ana mengelap keringatnya yang bercucuran.


"Pengen na enak lagi pengen makan yang pedes," kata Nisa yang yang melahap nasinya.


"Ayo nis buruan nanti kita telat sampai kantor," ujar ana saat mereka sudah selesai makan.


Sesampainya dikantor Ana langsung duduk di kursinya dan kembali mengerjakan pekerjaannya, sedangkan Nisa pergi kekamar mandi terlebih dahulu.


"Tidak usah serius seperti itu rileks saja." Bisma tiba-tiba berdiri disamping ana membuat ana kaget.


"Udah selesai?" Tanya Bisma tersenyum mengejek melihat laptop ana yang masih kosong.


"Belum pak saya baru sampai." Ana menggaruk tekuk lehernya malu dihadapan Bisma.


"Cepat kerjakan ya," kata Bisma sambil mengacak-acak rambut ana kemudian pergi.


Saat Bisma pergi, Nisa dan Bisma berpapasan. Betapa panas hati Nisa melihat Bisma dengan diam-diam bermesraan dengan sahabatnya sendiri.


Nisa memegangi tangan Bisma mengehentikan langkah Bisma, "Kita harus bicara." Nisa kemudian menggenggam tangan Bisma menuruni anak tangga mengajak Bisma pergi ke suatu tempat.


Beberapa anak kantor membicarakan hubungan Bisma dengan Nisa. Riuh-riuh gosip mulai beredar.


"Bisma dan Nisa itu udah nikah ya kan?" kata salah satu karyawan tetap disana yang didengar oleh Ana.


Ana yang masih sibuk mengetik itu dengan diam-diam mendengar pembicaraan mereka. Kabar burung sedang beredar bahwa ternyata Bisma manager perusahaan memiliki hubungan Nisa. Dari kabar yang didengar oleh Ana. Nisa sudah menikah dengan Bisma sejak Nisa sudah tamat SMA. Namun kedua pihak tidak mempublikasikan hubungan mereka berdua.