
Yudha dan ana duduk bersampingan dikursi tunggu depan ruang operasi. Ana terlihat gelisah dengan keadaan Kristi didalam.
"Apa Kristi akan baik-baik saja?" tanya ana pada Yudha
Yudha yang mencangkupkan kedua tangannya didepan dagu langsung menoleh kearah ana, "Tenanglah Kristi akan baik-baik saja." Yudha mengusap lembut rambut ana.
Sudah hampir 1 jam operasi berjalan ana sesekali menguap karena suasana yang hening Yudha melihat ana tampak kelelahan, "Mau tidur?"
Ana menggelengkan kepalanya, "Enggak aku mau nungguin Kristi," jawab ana sesekali menguap.
Yudha kemudian berdiri yang langsung ditatap heran oleh ana, "Tunggu disini sebentar aku ingin kesana." Tunjuk Yudha kearah lorong rumah sakit.
Ana menganggukan kepalanya. Ana menggetarkan kakinya sambil menunggu Yudha yang entah kemana.
Kenapa lama sekali ya operasinya.
Ana terus merasa gelisah, detak jantungnya juga tidak beraturan. Beberapa saat kemudian Yudha datang membawa dua botol kopi instan dan sekantong kresek camilan, "Ini." Yudha menyerahkan sebotol kopi pada ana.
Ana menerima botol kopi yang diberikan oleh Yudha dengan senyuman, "Makasih."
Baru saja ana meneguk minumannya seorang dokter keluar dari ruang operasi, "Selamat pak Yudha, bayinya selamat dan dalam kondisi sehat."
Mendengar ucapan dokter ana terlihat senang, "Lalu dok bagaimana dengan ibunya?" tanya ana pada sang dokter.
Dokter terlihat kebingungan menghadapi pertanyaan ana.
"Ada apa dok?" tanya penasaran melihat dokter hanya diam membisu.
Dokter tampak kebingungan ingin bicara pada Yudha, "Pasien ingin bicara dengan Yudha."
Seketika ana merasa dirinya terasingkan tapi dia hanya bisa tersenyum menatap Yudha dan dokter. Mendengar perkataan dokter Yudha langsung masuk kedalam ruangan sedangkan ana kembali duduk ditempatnya dengan tatapan kosong.
Yudha perlahan berjalan mendekati Kristi yang terbaring lemah dengan segala selang yang terpasang pada dirinya, "Kris." Yudha memegangi tangan Kristi kemudian duduk dikursi yang ada disampingnya Kristi.
"Yu-dha." Kristi memanggil Yudha dalam keadaan lemah.
Yudha perlahan menitikkan air matanya, "Kamu harus kuat Kris, kamu pasti bisa." Yudha menciumi tangan Kristi.
Kristi tersenyum kecil melihat Yudha yang sangat mencintai dirinya, "Mulai sekarang kamu harus lebih mencintai istrimu," Kata Kristi seraya dengan tetesan air mata yang mengalir.
Yudha menganggukan kepalanya, "Aku pasti akan menjaga dia sama seperti aku menjagamu, bisakah kamu hidup lebih lama denganku?" sontak tangisan Yudha pecah.
"Kris aku yakin jantungmu akan sehat, bertahanlah lebih lama untuk melihat anak kita hingga dewasa." Yudha menatap Kristi kemudian mengusap lembut helai rambutnya Kristi.
"Yud- Berjanjilah kamu akan menjaga anak kita, jadilah teman untuknya saat dia dewasa nanti jangan biarkan dia merasa kesepian."
Yudha menganggukan kepalanya dengan air mata yang bercucuran dia berkata, "Kris aku mencintaimu."
Kristi berusaha untuk mengangkat tangannya Yudha untuk menyentuh bibirnya, "A-ku juga mencintaimu." Kristi mencium tangan Yudha sebelum akhirnya Kristi benar-benar kehilangan nafasnya.
Yudha dengan panik langsung memeriksa kondisi Kristi berkali-kali dia berteriak berusaha menyadarkan Kristi, "Kris bangun! Kris kamu harus sadar!" Yudha terus berusaha meskipun dia tau bahwa semua yang dia lakukan hanya sebuah kesia-siaan.
Suster dan dokter langsung menghampiri Kristi dengan keadaan panik. Yudha melangkah mundur saat dokter memeriksa kondisi Kristi. Pintu yang terbuka membuat ana ikut masuk kedalamnya. Betapa terkejutnya mengetahui keadaan yang kritis bahkan Kristi sudah tidak ada didunia ini lagi.
"Maaf, kami tidak bisa menolong pasien lagi." Dokter itu melepaskan semua selang yang terpasang pada tubuh Kristi.
Air mata ana lolos begitu saja tanpa aba-aba. Saat dokter ingin menutup wajah Kristi dengan selimut ana menghentikan tangan dokter tersebut, "Biar aku saja." Ana mengambil alih selimut yang dipegang oleh dokter.
Namun Yudha kemudian menghentikan tangan ana, "Hentikan!" Yudha menghentikan tangan ana.
Ana hanya bisa diam melihat Yudha yang terus menerus meminta Kristi untuk kembali padanya. Hingga akhirnya dia berusaha untuk memeluk Yudha.
"Kembalikan Kristi ana, kembalikan dia padaku." Yudha terus menangis didalam pelukan ana.
Jenazah Kristi segera dimandikan dimakamkan. Yudha menatap anaknya yang terlahir prematur. Tubuh yang pucat bayi kecil yang malang. Ana mendekati Yudha, "Yudha, kita harus segera memakamkan jenazah Kristi."
Yudha menganggukan kepalanya dengan lemah dia menghadiri acara pemakaman dirumahnya Kristi. Ana duduk menatap foto Kristi yang terpajang diatas peti.
Ayahnya ana mendekati ana yang duduk termenung, "Apa kamu baik-baik saja?" tanya ayahnya menatap ana.
"Ayah, kenapa orang yang penting didalam hidupku harus meninggalkan ku lagi?" Tanya ana dengan air mata yang bercucuran.
Ana sejak tadi hanya diam menangis dengan air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir, "Kenapa semua orang yang ku sayang harus dipanggil lebih dulu oleh Tuhan? Apakah Tuhan begitu menyayangi mereka?"
Ayahnya yang diam mendengar pertanyaan ana. Ana lagi bertanya pada ayahnya, "Ayah siapa lagi yang akan pergi meninggalkan ku? Kenapa semuanya terjadi padaku?"
Ayahnya memeluk ana dengan erat, "Kamu harus kuat ana." Tangisan ana pecah didalam pelukan ayahnya. Dia tidak kuasa menahan tangisannya lagi.
Ana bahkan sampai sesenggukan karena menangis. Yudha kemudian menghampiri ana dan duduk dihadapannya, "Ana, Sebelum Kristi pergi dia meninggalkan surat ini untukmu." Yudha menyerahkan amplop yang sejak tadi berada disaku celananya.
Ana mengusap air matanya segera membaca surat yang ada didalam amplop. Tangisan ana semakin pecah membaca surat itu. Dia tidak percaya bahwa Kristi bisa sempat-sempatnya menulis surat untuknya.
29 Oktober 2029.
Dear ana sahabat ku tercinta.
Ana semoga kamu baik-baik saja. Mungkin setelah kamu menerima surat ini aku sudah tidak ada lagi didunia ini. Maafkan aku yang tidak pernah memberi tau semua keadaan ku padamu. Aku sudah lama mengidap penyakit jantung. Selama ini aku bertahan dengan tawa yang aku buat sendiri. Hingga akhirnya aku sudah tidak bisa mengendalikan hidupku lagi.
Ana aku titipkan dua orang yang paling aku cintai didunia ini setelah kedua orang tuaku. Tolong jaga Yudha dan anakku. Aku percayakan mereka berdua padamu karena aku yakin kamu bisa menggantikan posisi ku didalam kehidupan mereka.
Ana kuberi nama anakku Aryana jika dia laki-laki tapi jika jika dia perempuan kuberi nama dia Ariana. Nama yang terinspirasi dari cinta Arya padamu.
Semoga kalian semua sehat selalu dan bahagia selalu. Aku menyayangi kalian semua.
Salam sahabat mu
Kristi.
Tangis ana semakin pecah setelah membaca surat dari Kristi. Dia terus menggenggam erat surat yang ditulis oleh kristi.
Kenapa Kris? Kenapa?
Ana menangis tersedu-sedu memegang surat yang ditulis oleh Kristi. Pemakaman berlangsung. Ana bersimpuh disamping kuburan Kristi.
Kristi apa kamu tenang disana? Bagaimana disana? Apa kamu bahagia?
Ana seraya dengan air matanya yang mengalir dia memegangi nisan Kristi, "Kris aku akan merindukanmu."
Yudha memegangi pundak ana membuat ana terkejut menatap Yudha, "Ayo pulang." Yudha mengajak ana untuk pulang.
Ana menganggukan kepalanya namun sebelum pergi dia menciumi nisan Kristi yang seolah-olah dia mencium kening Kristi disana.
Yudha berjalan dengan memegangi kedua pundak ana.
Kristi semoga kelahiran berikutnya kita bisa bersama. Batin Yudha menatap nisan Kristi dari belakang.