
Dirumah sakit ana terbaring lemah di ranjang. Tangannya diinfus mukanya pucat kondisinya drop. Perlahan-lahan ana membuka matanya.
"Ana.." panggil Kristi pelan.
Kristi sejak tadi sudah mendampingi ana dirumah sakit. Saat pulang sekolah Kristi langsung kerumah sakit tempat nenek ana dirawat sebelumnya. Mendengar keterangan dari dokter Kristi paham tentang kondisi ana.
"Ana.. sudah sadar?.." tanya Kristi lagi perlahan.
Ana yang masih terbaring lemah itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Aku dimana?." Tanya ana perlahan ingin membenarkan posisinya untuk duduk.
Melihat itu Kristi langsung membantu ana untuk bangun.
"Kamu dirumah sakit ana kamu pingsan jadi kamu dirawat." Terang Kristi singkat.
"Mau aku panggilin suster?." Tanya Kristi melihat kondisi ana yang sudah membaik.
Ana kemudian hanya menganggukkan kepalanya kecil. Melihat itu Kristi segera keluar untuk memanggil suster. Suster itu kemudian mengecek kondisi ana yang sudah sadar. Beberapa kali suster menulis dibuku catatannya.
"Jangan stress banyakin makannya yha kamu akan cepat pulih kalau begitu saya keluar dulu jangan lupa diminum obatnya." Ucap sang suster memberikan beberapa jatah makan dan obat ana.
Ana kembali meneteskan air matanya mengingat mendiang sang nenek yang selama ini menjaga dirinya. Kristi yang melihat kondisi ana berusaha untuk mengerti walau dia tidak tau harus berbuat apa.
"Ana... Jangan nangis lagi.." kata Kristi pelan supaya tidak menyinggung perasaan ana.
"Kris... Nenek..." Kata ana sedu menahan tangisnya itu.
"Sini.." Kristi memeluk ana harapnya dengan begitu ana bisa lebih baik lagi.
Ana masih belum bisa mengikhlaskan kepergian sang nenek. Dia masih terus menangis mengingat neneknya itu. Kenangannya bersama sang nenek selama bertahun-tahun terus mengisi pikirannya saat ini. Hingga tangisnya itu membuat ana sesenggukan.
"Ana minum air dulu." Kata Kristi sambil menawarkan segelas air mineral kepada ana.
Krek.. suara pintu ruangan itu terbuka. Ana dan Kristi kaget dan langsung melihat sosok yang ada dibalik pintu tersebut.
"Permisi." Kata pria itu sopan. Yah pria ini adalah ayah kandung ana.
"Saya Ayah ana." Katanya memperkenalkan diri dengan sopan.
Kristi langsung berdiri dari posisi duduknya itu.
"Ana boleh bicara berdua saja?."
Perkataan ayah ana berhasil membuat Kristi jengkel. Secara tidak langsung ayah ana menyuruh Kristi untuk keluar.
"Ana aku keluar dulu yha mau nelpon ibu dirumah." Dusta Kristi mencari alasan untuk keluar.
Ana hanya menganggukkan kepalanya. Kristi segera keluar ruangan dengan sopan sambil menundukkan kepalanya.
"Nye nye ayah ana dihh kayak gitu tampang ayah ana gak cocok sekali."
"Ana kalem polos punya ayah kayak binatang buas gitu tampangnya."
"Bisa kah bicara berdua langsung aja nyuruh pergi apa coba susahnya dasar cowok emang ribet." Omel kristi sendirian didepan pintu membuat dirinya terus dilihat orang-orang yang melihati dirinya.
Didalam ruangan ayah ana duduk disamping ranjang ana.
"Bagaimana keadaan mu saat ini?." Kata ayah ana sambil memegang dahi ana mengecek apakah ana demam atau tidak.
Ana yang mendapat perlakuan itu sedikit tidak nyaman karena pertama kalinya dia diperhatikan oleh pria dewasa. Ana juga belum mengetahui kebenaran yang sesungguhnya kalau pria yang disampingnya ini adalah ayah kandungnya.
"Aku baik-baik saja." Kata ana mencoba mejauh dari pria tersebut.
Ayah ana yang melihat itu paham bahwa ana tidak nyaman dengan keberadaan dirinya.
"Saya ayah kandung kamu saya tidak berbohong saya juga membawa berkas-berkas resmi dari hukum yang menyatakan bahwa saya adalah ayah kandung kamu." Katanya panjang lebar kemudian mengeluarkan surat-surat dari dalam tasnya yang dia bawa sejak tadi.
Ana yang tercengang karena diberi surat-surat hukum tersebut. Ana perlahan membuka dan membaca data-data yang tertera dari surat-surat itu. Ana tidak menyangka jika surat-surat itu begitu banyak ana jadi malas membacanya terutama kondisinya saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk membaca semua surat-surat itu.
"Ini." Kata ana mengembalikan semua berkas itu.
"Kamu harus segera pulih, apakah kamu akan melewatkan pemakaman nenek kamu?."
Pertanyaan Ayahnya itu membuat ana kembali berpikir untuk tidak terus menangis seperti ini.
"Hum." Ana tidak tau harus berkata apa-apa lagi. Sulit baginya untuk bisa mengikhlaskan semua yang telah terjadi.
"Apakah keadaan mu sudah membaik? Jika iya ayo kita pulang nenek sudah menunggu kehadiran kita." Kata ayah ana mengajak ana untuk pulang dan segera melakukan pemakaman sang nenek.
Hembusan nafas ana begitu berat menerima kenyataan yang terjadi. Ayah ana kemudian memanggil suster untuk menanyakan kondisi ana. Setelah semua data administrasi dan persyaratan memenuhi ana diperbolehkan untuk pulang.
Ana dituntun jalan oleh ayahnya, badannya yang masih lemah membuat ana sulit berjalan tegak. Sesekali langkah ana tersandung terutama saat dia menuruni 2 anak tanggal yang ada didepan pintu rumah sakit.
Selama diperjalanan ana terus memandangi jalanan dengan tatapan kosong didalam mobil. Ayah ana yang menyetir terus melihat kesamping, melihat kondisi ana yang down dia merasa pilu dengan apa yang dialami oleh ana.
Tidak ada percakapan apapun selama diperjalanan hingga akhirnya mereka sampai dikediaman ana dan sang nenek. Sudah banyak yang sayang kerumah mulai dari kerabat, tetangga, teman, dan juga karyawan nenek.
Ana yang masih pucat dan lemah untuk tersenyum dengan orang-orang yang dia lewati saja sangat sulit. Saat dia masuk kedalam rumah sudah ada banyak rangkaian bunga bahkan peti juga sudah tersedia termasuk foto yang dipajang diatas peti itu.
Ana memejamkan matanya melihat foto sang nenek. Semua kenangan bersama selalu mengisi pikirannya, air matanya juga masih mengalir dengan lancar. Ana kemudian duduk disisi tembok yang tidak jauh dari keberadaan peti itu.
Menatap kosong peti itu sambil menganggukkan kepalanya kepada para tamu yang hadir.
Setelah beberapa lama menunggu peti itu kemudian dipindahkan ketempat pemakaman menggunakan mobil.
Ana terus dituntun oleh sang ayah selama diperjalanan. Bahkan sang ayah terus memeganggi tangan ana. Doa-doa terakhir diucapkan oleh yang lainnya kecuali ana. Ana terus melamun dan sesekali meneteskan air matanya.
"Ana... Kamu ucapkan doa juga untuk nenek supaya nenek bisa tenang jalannya.."
"Kamu harus ikhlas ana.. supaya nenek tidak ada hambatan menuju Yang Kuasa.." sambung ayah ana memperingati ana untuk turut serta mendoakan sang nenek.
Mendengar itu ana menganggukkan kepalanya dan segera mengucapkan doa. Didalam doanya itu ana terus meneteskan air matanya bahkan sesekali dia sesenggukan karena tangisannya itu.
"Udah ayo pulang apa kamu ingin lebih lama lagi berada disini?."
Ana menggelengkan kepalanya kemudian dia menaruh sekuntum bunga yang sejak tadi dia bawa dari rumah. Bunga mawar merah kesukaan neneknya itu. Setelah selesai memeluk terakhir nisan sang nenek ana kemudian kembali menuju rumahnya bersama sang ayah.