
"Dimas?" Tanya ana kaget melihat Dimas sedang memeluk ibu sambung ana itu.
Mendengar suara ana, ibunya dan laki-laki yang bernama Dimas itu menoleh kearah ana.
"Hey ana kamu disini?" Tanya Dimas yang juga kaget dengan keberadaan ana.
Sang ibu itu bingung karena ternyata kedua anaknya sudah saling kenal.
"Ehh kalian sudah saling kenal?" Kata sang ibu akhirnya kaget dan baru menyadari keakraban mereka.
"Iya mih dia dulu sekelas sama aku pas SD." Kata dimas menjelaskan semuanya.
Mendengar kata mamih keluar dari perkataan Dimas membuat ana kaget.
"Mamih?" Tanya ana masih tidak mengerti apa-apa.
Sudah lama tinggal 2 tahun disana tapi ana tidak mengetahui bahwa ternyata ibu sambungnya itu memiliki seorang anak laki-laki.
"Ana kenalin ini Dimas anak kandung ibu, Dimas kenalin ini ana adik sambung kamu." Kata sang ibu berusaha memperkenalkan mereka berdua.
mereka berdua sama-sama kaget dan tidak percaya bahwa mereka ternyata harus menjadi keluarga satu atap dengan satu ayah kandung.
"Nona mari berangkat kita sudah terlambat." Kata supir itu berhasil membuyarkan pandangan ana yang awalnya masih kaget melihat Dimas.
"Ahh iya makasih." Supir itupun pergi ke mobil untuk membukakan pintu mobil.
"Bu aku berangkat dulu yha." Kata ana berpamitan kepada ibunya. Kemudian dia tersenyum kepada Dimas. Dimas langsung mengumbar senyum yang sama kepada ana.
Didalam mobil ana masih tidak percaya kenapa dimas baru kembali setelah sekian lama.
"Kenapa dia baru menampakkan dirinya sekarang?, dan ditambah dia merupakan anak dari ibu sambung aku." Batin ana masih tidak percaya dia harus bagaimana sekarang. Dia terus melihat pemandangan jalanan sambil berpikir dia harus bersikap seperti apa saat dia pulang nanti.
Akhirnya ana sampai ditempat pemotretan. Ana segera menaiki tangga karena takut terlambat. Ditengah dia berlari menaiki anak tangga tiba-tiba heels yang dia gunakan patah.
"Aw." Pekik ana, dianak tangga dia kaget hampir saja dirinya terjatuh.
Tapi dirinya ternyata dibantu oleh seorang pria yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Kini mata mereka sedang saling tatap dengan intens. Ana segera membenarkan posisinya.
"Terimakasih." Kata ana baru hendak pergi namun tangannya dicengkeram oleh pria tersebut.
Ana jadi bernostalgia saat dia SD dulu tangannya dipegang persis seperti ini saat dia hendak pulang. Ditempat waktu yang berbeda tetapi tetap dengan orang yang sama.
"Ana kamu disini ngapain?" Tanya Yudha saat itu sedang bertanya-tanya.
"Hum aku bekerja disini." Kata ana terus terang.
"Bukankah kamu anak dari pak A.K?"
Alhasil ana berhasil kaget dengan penuturan Yudha. Karena selain keluarga tidak ada yang tau bahwa ana adanya anak dari tuan A.K.
"Hum aku hanya ingin mengisi waktu luang sambil menghasilkan uang." Terlihat raut wajah ana sedang berbohong.
Ana segera mengundurkan diri untuk pergi dari sana karena tidak ingin membahas lebih jauh tentang dirinya.
"Aku duluan yha udah terlambat." Pamit ana kembali berlari tetapi dia melepaskan terlebih heels yang dia gunakan.
Didalam ruangan ana sudah dinantikan oleh managernya.
"Pak maaf saya terlambat." Permohonan maaf ana itu membuat managernya sedikit geram karena ana identik bersikap lambat.
"Cepat keruang ganti." Kata manager membuat ana langsung pamit keruang ganti.
2 jam berlalu pemotretan yang padat ana jalani akhirnya selesai. Ana terlihat pegal dengan kegiatannya. Sesekali dia meregangkan otot-ototnya yang tegang dan menggerakkan lehernya kekanan dan keliru. Setelah selesai dengan peregangannya ana hendak keluar ruangan. Tetapi langkahnya dihentikan oleh managernya.
"Ada apa pak?" Tanya ana heran kenapa managernya menghentikan dia untuk pulang.
"Ini pakailah." Kata manager itu sembari memberikan paper bag.
Ana yang yang diberikan paper itu menaiki alisnya memasang wajah bingung. Dia segera menerima paper bag itu kemudian keluar dari ruangan. Terlihat ana sedang membuka paper bagnya diluar pintu ruangan itu.
Ana segera memakainya dan berjalan turun menuruni anak tangga untuk segera pulang. Hari ini dia sudah ada kegiatan untuk menemani nisa kepesta ulang tahun temannya itu.
Jam 6 sore ana sudah selesai berdandan dengan dress biru muda kesukaan dirinya. Dibantu oleh ibunya untuk menghiasi wajah dan rambutnya ana terlihat seperti putri dari kerjaan kecil.
"Kamu cantik banget persis seperti ibu kamu dulu."
Deg
Ana kaget. Tiba-tiba saja ibu sambungnya itu membahas ibu kandung ana. Ditambah kalimat pernyataan ana mirip dengan ibunya.
"Apa dia mengenal ibuku?" batin ana bertanya-tanya.
"Yha sudah ayo buruan sudah ditunggu teman kamu dibawah itu."
Mendengar itu ana segera turun kebawah untuk menghampiri Nisa yang sudah menunggunya diruang tamu.
"Wow ana kamu cantik banget." Puji Nisa dan terkagum-kagum dengan sosok ana yang ada didepannya itu.
Ana tersenyum manis mendengar pujian dari Nisa.
"Ayo berangkat." Ajak ana tidak ingin basa-basi lagi.
"Ayo, Tante aku ajak ana-nya keluar dulu yha." Pamit Nisa kepada ibu ana.
"Iya hati-hati dijalan."
"Iya Tan."
"Bu aku berangkat dulu." Pamit ana kepada ibunya itu.
"Iya hati-hati jangan pulang larut malam yha." Meskipun ibu sambung ana bukan ibu kandung tetapi terlihat kasih sayang yang diberikan begitu tulus.
Mendengar itu ana sangat senang dan tersenyum. Dia merasa beruntung bisa mendapat keluarga utuh seperti ini. Ana segera masuk kedalam mobil Nisa untuk berangkat ketempat acara.
"Nis kamu jadi beliin dia apa?" Tanya ana penasaran dengan bingkisan yang Nisa pegang.
Nisa yang awalnya fokus melihat jendela depan langsung menoleh kearah ana.
"Aku beliin dia sepatu kets aja." Kata Nisa setengah Terkikik.
"Kamu pasti memilih asal ukuran sepatunya?"
Mendengar perkataan ana, Nisa langsung menganggukkan kepalanya sambil menahan tawa. Begitu juga ana dia tertawa dengan tingkah laku Nisa. Ana dan Nisa duduk di kursi belakang mobil. Mereka diantar oleh sopir Nisa.
Cukup lama ana dan Nisa berbincang-bincang didalam mobil dan juga gelut tawa canda mereka akhirnya mereka sampai ditempat acara.
"Nis ramai sekali disini." Kata ana sedikit takut sambil memegang lengan Nisa.
"Ayo ana gapapa." Kata Nisa berusaha menenangkan ana.
Ana yang malu itu terus memegangi lengan Nisa, dirinya takut terpisah jauh dari Nisa.
"Hey selamat ulang tahun yha." Kata Nisa kepada temannya itu sambil memeluk temannya.
Ana yang ada dibelakang Nisa itu kaget dengan siapa yang sedang berulang tahun itu.
"Ana?" Kata pria itu membuat Nisa kaget karena temannya ternyata mengenal ana.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" Tanya Nisa kepada ana dan teman laki-lakinya itu.
"Iya kami teman SD." Kata pria itu mencoba menjelaskan.
"Ouh.. gitu."
"Ana dia Dimas teman sepermainan ku."
Ana hanya menganggukkan kepalanya menanggapi Nisa. Ana kemudian bertemu dengan beberapa lainnya dari masa lalu ditempat acara itu.