
Ana benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Sulit sekali baginya untuk bisa bertemu dengan tuan Darmawan.
Rapat tadi bermaksud berbincang mengenai perjodohannya dengan Yudha, tapi tuan Darmawan malah diwakilkan oleh manager.
Ana semakin kesal dia telah telat datang keundangan Yudha, membuatnya kesulitan untuk bisa berbicara dengan tuan Darmawan.
Malam ini ana menghadiri pesta ulang tahun Yudha. Ana sedikit kebingungan kenapa pestanya dirayakan bergitu meriah malam ini.
"Test test test one satu dua tiga." Tampak tuan Darmawan sedang mengecek mic nya diatas panggung.
Pesta yang diadakan diruang terbuka membuat para tamu undangan langsung menoleh kearah panggung.
"Baiklah saya buka acaranya. Halo semuanya," sapa tuan Darmawan dari panggung yang langsung disoraki oleh para tamu undangan.
"Saya tuan Darmawan ayah dari Yudha yang hari ini sedang berulang tahun. Saya ucapkan terima kasih karena kalian telah hadir meluangkan waktunya untuk bersenang-senang disini." Dengan sopannya tuan Darmawan memperkenalkan diri diatas panggung membuat para tamu berdecak kagum dengan karismatik dari tuan Darmawan.
"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa acaranya begitu meriah sementara anak saya bukan lagi muda. Usianya sudah bukan lagi masa-masa yang pantas untuk dirayakan hahahha," gurau tuan Darmawan diatas panggung membuat semuanya ikut tertawa.
Tuan Darmawan tampak begitu terharu, "Hari ini adalah hari yang spesial bagi anak saya dan kami sekeluarga tentunya, karena malam ini menjadi malam yang mengejutkan untuk kita semua."
"Selain merayakan hari kelahirannya, Yudha ingin melamar seseorang langsung dihadapan kalian semua."
Sontak semua kaget dengan apa yang dikatakan oleh tuan Darmawan. Termasuk ana. Seketika ana membelalakkan matanya tercengang dengan apa yang dikatakan oleh tuan Darmawan.
"Baiklah langsung saja kita suruh naik orangnya." Tuan Darmawan menunjuk kearah Yudha yang ada disebelah kiri panggung.
Ana perlahan melangkahkan kakinya mundur dia tidak siap dengan yang terjadi.
"Selamat malam semuanya," sapaan dari Yudha dijawab oleh semua tamu yang hadir.
"Terima kasih sebelumnya kalian sudah berkenan hadir di acara ulang tahun ku ini. Aku sangat senang karena dibalik perayaan aku juga membuat kejutan untuk kalian semua, hahah." Yudha tertawa melihat para tamu undangan yang tegang.
"Sebelumnya saya ingin seseorang yang ada disebelah sana naik keatas panggung."
Melihat tangan Yudha menunjuk kearah belakang semua tamu langsung menyoroti Ana yang sedang berdiri canggung. Tentu saja dia langsung berhenti melangkah mundur saat Yudha menunjuk dirinya.
"Ana kemarilah," kata Yudha menyuruh ana untuk naik keatas panggung.
Ana melangkahkan kakinya perlahan naik keatas panggung. Banyak dari tamu undangan yang hadir langsung membicarakan tentang sosok ana.
"Dia siapa?"
"Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya."
"Apakah dia teman Yudha?"
"Apa mungkin dia yang akan dilamar oleh Yudha?"
"Siapa dia? bahkan aku tak pernah melihatnya dirumah sakit tempat Yudha bekerja.
"Aku dengar dia bekerja diperusahaan A.K."
"Bukankah dulu dia pernah menjadi model di A.K entertain."
Beberapa pertanyaan tentang dirinya dibisikkan satu persatu oleh tamu undangan. Ana sangat gugup dan canggung berada di situasi seperti ini.
Dipanggung Yudha tersenyum kecil pada ana.
"Hari ini aku akan melamar seseorang yang seperti titisan malaikat. Aku beruntung jika dia mau menerima lamaranku."
Semua para tamu undangan langsung bersorak menyauti Yudha.
"Pasti mau!"
Yudha tersenyum kecil, "Tapi sebelum aku berada disisinya ada seseorang yang memperjuangkan dirinya apa dia mau menerima lamaranku?" Yudha melirik kearah ana.
Ana berdiri beku diatas panggung dia tidak tau jawaban apa yang akan dia pilih.
"Yang berjuang akan kalah sama yang ngajak kawin!" Teriak seorang bapak-bapak dari belakang yang langsung disoraki termasuk diketawai oleh tamu lainnya.
"Semoga saja dia mau menerimaku ya doakan aku." Yudha mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya.
Semua tamu undangan langsung diam melihat aksi Yudha.
Tamu undangan yang belum menyadari bahwa ternyata yang dipanggil Yudha adalah wanita yang akan dilamar olehnya. Tamu undangan langsung menutup mulutnya tidak percaya. Dan beberapa lainnya terharu dengan keromantisan yang ditunjukkan oleh Yudha.
Yudha berlutut dihadapan ana sambil memegang kotak cincin lalu dia berkata, "Ana kita sudah pernah kenal sebelumnya. Bahkan kita sudah tidak asing. Hari ini dihari yang spesial ini aku ingin melamar dirimu."
"Aw-" tamu undangan terbuai dengan aksi Yudha diatas panggung.
"Tak ingin bermain-main lagi aku tidak ingin bertunangan denganmu."
Perkataan Yudha membuat para tamu undangan bertanya-tanya apa yang sebenarnya dikatakan oleh Yudha.
Yudha perlahan membuka kotak cincinnya, "Ana jadilah istriku dan ibu dari anak-anakku. Will you marry me?"
Tamu undangan terkagum-kagum dengan aksi Yudha yang begitu romantis.
"Terima!"
"Terima!"
Tamu undangan sangat mendukung Yudha. Bahkan tamu undangan juga mendesak ana untuk mengatakan iya.
Jika aku menolaknya dia akan dipermalukan. Tapi kemana aku harus pergi. Aku terjebak.
Ana sejenak berpikir tentang rapatnya tadi dengan manager tuan Darmawan.
"Perusahaan akan terancam skandal, dan akan mengalami kerugian besar jika kasus itu kembali terkuak. Banyak para investor yang menanamkan modalnya akan menarik modal dan akhirnya membuat perusahaan terancam bangkrut," Kata manager tuan Darmawan
Ana menarik nafasnya sebelum menjawab lamaran Yudha, "Yes! I Do!"
Tamu undangan langsung bertepuk tangan. Mereka tampak senang dengan Yudha yang berhasil melamar ana.
Yudha yang kegirangan dia juga tidak percaya jika ana mau menerima lamarannya. Dia langsung memakaikan cincin dijari manis Ana.
"Terima kasih." Yudha memeluk ana dengan perasaan bahagianya.
Perayaan pesta kemudian dilanjutkan. Mulai dari memotong kue sampai berdansa bersama.
Saat dansa dimulai ana menangkap penglihatannya menemukan sosok Arya yang dia cari sejak tadi.
Karena posisinya jauh membuat ana harus menerobos kerumunan tamu undangan.
"Kak Arya, aku ingin bicara," ucap ana memegang siku Arya.
Arya yang sedang berbicara dengan rekan-rekannya memohon permisi untuk bicara dengan ana.
Arya membawa ana jauh dari kerumunan membuat mereka bisa berbicara bebas. Arya membawa ana keteras yang sepi dan dipastikan tidak ada siapapun disana.
"Ada apa?" tanya Arya pada ana.
Lidah ana kelu ingin mengatakan yang mana terlebih dahulu, "Apa kakak sejak tadi ada disana?" tanya ana pada Arya.
Arya menganggukan kepalanya, "Iya aku juga menyaksikan kamu dilamar oleh Yudha." Tampak Arya begitu tenang dan santai.
"Kenapa kakak tidak menghentikannya?" tanya ana dengan amarah yang mulai memuncak.
"Untuk apa?" tanya Arya.
Ana benar-benar tidak mengerti dengan Arya, "Bukankah kakak bilang kakak mencintaiku? kenapa kakak tidak menghentikan Yudha? Apa perasaan kakak sudah mulai memudar? apa kakak sudah tidak ingin aku jadi milik kakak?"
Arya tersenyum miring mendengar pertanyaan ana, "Semua sudah berlalu, kamu sudah punya Yudha," kata Arya yang kemudian memilih untuk melangkah pergi meninggalkan ana.
"Aku mencintaimu."
Arya terkejut dengan pernyataan ana dia langsung membalikan badannya.
"Kakak dulu selalu bilang begitu padaku. Apakah semua itu sudah berhenti?"
Arya kembali tersenyum miring dia kira bahwa ana menyatakan perasaannya namun ternyata tidak, "Iya dulu aku begitu mencintaimu. Menyimpan rasa hingga belasan tahun. Impianku dulu adalah hidup bersama denganmu. Tapi tenanglah mulai hari ini aku tidak akan menggangu dirimu lagi."
Arya kembali melangkah pergi namun sesaat dia menghentikan langkahnya lalu berkata, "Ana apapun yang terjadi jangan mencoba menentangnya hadapilah dan ikuti arusnya."
Hati ana begitu sakit rasanya hatinya tersayat oleh ribuan pedagang. Ana hanya bisa meneteskan air matanya melihat kepergian Arya.