Complicated Story

Complicated Story
35.



Ana tidak bisa fokus melanjutkan pekerjaannya. Dia terus termenung menatap layar laptopnya. Sulit baginya saat ini mengambil keputusan yang akan merubah hidupnya kelak.


Tok tok tok


Pintu ruangan ana diketuk oleh seseorang. Ana masih termenung tidak mendengarkan ketukan pintunya.


Tok tok tok


Suara ketukan itu masih terlalu pelan untuk didengar oleh Ana.


Tok Tok Tok


Ketukan pintu yang keras itu menyadarkan ana dari lamunannya, "Iya masuk," kata Ana lesu.


"Permisi Bu, anda diminta bendahara untuk pergi bersamanya ke bank," kata salah satu karyawan kantor.


Ana menganggukkan kepalanya mengerti dia segera mengemasi barang-barang yang akan dia bawa, "Kamu boleh pergi."


Mendengar perintah Ana karyawan itu pergi meninggalkan ruangan ana.


Ana berjalan namun pikirannya masih memikirkan mengenai perbincangan tadi bersama ayahnya. Tuan Ken yang merupakan bagian bendahara itu menyadari bahwa Ana sedang banyak pikiran, "Nona apakah anda ada masalah?" tanya tuan Ken menuruni anak tangga bersama dengan Ana.


"Tidak pak, saya baik-baik saja," jawab Ana.


Mendengar jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaannya Tuan Ken hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ana yang terlihat linglung.


Didalam mobil ana terus berpikir sepanjang jalan hingga akhirnya dia bertanya pada tuan Ken, "Pak apa boleh saya tanya sesuatu diluar topik tentang perusahaan," tanya ana pada tuan Ken.


"Tentu saja Nona, Saya sangat senang anda mengajak saya mengobrol santai seperti itu," jawab tuan Ken.


Ana sejenak berpikir tentang apa yang akan dia tanyakan.


"Nona mau bertanya tentang apa sebenarnya?" tanya tuan Ken.


Ana menarik nafasnya dia masih ragu untuk bertanya namun dia tetap bertanya pada tuan Ken, "Saya ingin tanya. Kebetulan Anda memiliki usia yang tidak terpaut jauh dengan saya. Jika anda berada digaris perjodohan apa yang akan anda lakukan tuan Ken?" tanya ana.


Tuan Ken terkikik mendengar pertanyaan Ana, "Jadi apa nona sedang ada masalah terkait sebuah perjodohan?" tanya tuan Ken.


Ana hanya diam membisu tidak menyangka jika hal itu sangat mudah ditebak.


"Perjodohan hal yang sudah lazim dan sangat lumrah dilakukan dikalangan orang terpandang terutama jika garis besar keturunannya adalah seorang pewaris. Sayapun pernah beberapa kali ditawarkan perjodohan namun saya belum siap menerimanya," jawab tuan Ken


"Saya ingin mencari seseorang yang tidak memandang saya dari harta, tapi mau menerima saya jika nanti suatu saat saya jatuh miskin atau lumpuh. Saya ingin seseorang menerima saya apa adanya bukan dengan ada apanya." lanjutnya menjelaskan.


"Tapi nona, tidak ada salahnya jika anda ingin berkenalan dengan orang yang dijodohkan dengan anda. Setiap orang bisa berbeda sesuai didikan orang tuanya," kata tuan Ken memberikan solusi.


Ana menganggukkan kepalanya mengerti dia sangat senang tuan Ken memberikan solusi terbaik dari masalahnya, "Terimakasih pak, saya sangat senang bertemu dengan orang bijak seperti anda," kata Ana menyeringai senang.


Tuan Ken menganggukan kepalanya tersenyum balik pada ana, "Saya juga turut senang bisa membantu nona," kata tuan Ken.


Ana dan tuan Ken tiba dibank setelah menempuh waktu 45 menit diperjalanan. Bank sangat ramai menuju akhir pekan meskipun Ana dan tuan Ken dari pihak perusahaan. Mereka juga harus mengantri untuk bisa mendapatkan gilirannya.


"Bu saya mohon berikan saya pinjamannya, saya sangat membutuhkannya."


"Maaf Bu anda tidak bisa melakukan registrasi kembali karena sudah diblacklist dari pihak bank."


"Tapi saya belum pernah meminjam uang dibank ini kenapa bisa diblacklist?"


"Ibu meminjam uang dibeberapa bank dan menunggak pembayaran maka semua bank diberi peringatan atas nama ibu beserta no KTP dan KK."


"Saya butuh banget uangnya Bu saya mohon."


Keributan itu berhasil memancing Ana untuk menghampiri orang tersebut. Ana melangkahkan kakinya menuju loket yang menjadi pusat keributan, "Ada apa ini?" tanya ana pada karyawan bank.


"Maaf nona kami sedang menyelesaikan masalah dengan client," kata karyawan itu menjawab pertanyaan ana.


"Client meminjam uang senilai 25juta dengan alasan finansial tapi kami tidak bisa memenuhinya karena beliau telah meminjam uang dengan nilai serupa dibeberapa bank namun masih belum dibayar lunas," jawab karyawan itu.


Ana kemudian melihat sosok client yang sedang terlibat kasus tersebut, "Ibu?" tanya ana tidak percaya saat membalikan badan orang itu yang ternyata adalah ibu angkatnya dulu.


"Kenapa ibu meminjam uang dengan alasan finansial bukankah anak ibu adalah seorang dokter?" tanya Ana penasaran.


"Anakku emang dokter tapi rumah sakit bukan miliknya," jawab ibu Arya itu.


"Baik tidak masalah jika saya tidak bisa meminjam uang dari bank ini," kata ibu Arya memilih untuk pergi keluar.


Ana menghela nafasnya berat melihat reaksi dari ibu Arya itu, "Pak tolong buatkan aku cek pengeluaran ke no rekening ibu itu," kata Ana menyuruh tuan Ken.


"Tapi nona pengeluaran 25 juta itu jumlah yang cukup banyak, rekening siapa yang akan saya gunakan?" tanya tuan ken.


"Pakai rekening ku bilang pada ayah kalau aku gunakan uang itu untuk hura-hura," jawab Ana.


"Baik nona, tapi akan butuh proses untuk itu," kata tuan Ken.


"Tidak masalah, Apakah urusan bank ini bisa diurus sendiri? tanya Ana pada tuan Ken mengingat jika dirinya ada janji dengan tuan Victor.


"Saya butuh tanda tangan anda untuk beberapa proposal yang akan diajukan nona," kata tuan Ken.


Ana menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah selesai berurusan dengan surat bank mengenai perusahaan serta pengeluaran yang dia lakukan, Ana meninggalkan tuan Ken yang menunggu proses itu selesai. Ana buru-buru menuju cafe untuk bertemu dengan tuan Victor.


"Sudah menunggu sejak tadi ya?" tanya Ana ngos-ngosan karena sedikit berlari tadi dari mobilnya.


"Tidak juga saya baru datang sekitar 5 menit yang lalu," kata tuan Victor sambil melihat jam yang ada ditangannya.


"Maaf membuat anda menunggu saya tadi ada urusan," kata ana tidak enak membuat tuan Victor menunggu untuknya.


"Tidak masalah anda sudah mengatakannya tadi lewat telepon, silahkan duduk nona," kata tuan Victor itu menunjuk kursi kosong yang ada dihadapannya.


"Jadi bagaimana dengan keputusan anda tuan?" tanya ana pada tuan Victor.


"Santai sedikit nona jangan tergesa-gesa seperti itu, apa anda sudah makan siang? mau saya pesankan sesuatu?" tawar tuan Victor.


"Tidak terima kasih sebelumnya saya sudah mengganjal perut saya tadi," tolak ana secara halus.


Tuan Victor menganggukan kepalanya mengerti, "Saya senang bisa bertemu wanita hebat seperti anda. Saya dengar kemarin anda memimpin dapat itu sendirian saya kagum dengan diri anda yang begitu percaya diri," kata tuan Victor mengembangkan senyumnya.


"Itu hal yang lumrah dilakukan oleh seorang karyawan biasa seperti saya," kata ana merendahkan diri.


Tuan Victor mengembangkan kepalanya tersenyum melihat kemurahan hati pada diri Ana, "Melihat sosok seperti anda, Saya menyetujui semua kerja sama. yang diajukan. Saya juga kagum karena presentasi yang anda sampaikan itu bisa menguntungkan banyak pihak terutama perusahaan saya," kata tuan Victor bahagia.


Ana menyeringai senang mendengar keputusan tuan Victor, "Terima kasih tuan, Saya bahagia bisa berbincang secara langsung seperti ini. Padahal anda adalah seorang CEO dengan banyak kesibukan tapi bersedia meluangkan waktunya hanya untuk menyampaikan keputusan anda pada saya," kata ana penuh kebahagiaan.


"Saya juga senang bisa bekerjasama dengan pihak seperti anda," kata tuan Victor.


Ting


Suara lonceng dari pintu. Seseorang yang tergesa-gesa masuk kedalam membuat tuan Victor dan Ana menoleh pada sang empu.


"Kak Arya?" tanya ana tidak percaya.


"Ana ayo ikut aku," kata Arya mencengkeram erat tangan Ana.


"Eh- Ar apa yang sedang kamu lakukan?" tanya tuan Victor pada Arya.


Ana menatap kedua pria itu dengan tatapan penuh tanya, "Kalian berdua saling kenal?"


"James nanti urusan kita bahas ditempat lain, aku mau ngomong sama kekasih ku dulu," kata Arya menarik Ana untuk keluar bersamanya.


James mengerinyitkan keningnya, "Jadi dia wanita yang dipuji Arya kemarin," tanya James pada dirinya sendiri melihat dua sejoli yang sudah berjalan jauh dari hadapannya.