Complicated Story

Complicated Story
31.



**


Kata orang, "Kau tidak akan pernah mengetahui kejadian yang akan datang. Jangankan waktu 2 tahun kedepan. Waktu esok saja kau tidak akan tau apalagi bulan depan bahkan waktu 5 menit kemudian kau tidak akan tau apa yang akan terjadi. Janganlah berharap yang begitu besar jika waktu adalah yang kau tunggu tanpa melakukan sesuatu untuk meraih apa yang kau inginkan."


***


2 Tahun berlalu.


Ana sudah meraih gelar sarjananya difakultas management bisnis. Semua berubah sejak 2 tahun terakhir semuanya dari segi psikis.


"Maaf permisi Nona Ana ini beberapa dokumen yang harus ditandatangani dan nanti jam sebelas lewat lima belas menit anda akan rapat dengan komisaris dari Perusahaan Victor," ujar sekretaris pada ana.


Ana menganggukkan kepalanya kecil, "Baik, Sekarang kamu boleh pergi."


Setelah 2 tahun berlalu kini Ana menjadi bagian dari perusahaan ayahnya. Pangkat yang dipegang oleh ana sendiri adalah sehari General Manager. Banyak para karyawan yang terkagum-kagum dengan posisi Ana dimana ana baru menginjak usia 22 tahun tetapi dia sudah menduduki jabatan sebagai GM diperusahaan ayahnya. Namun ada juga beberapa karyawan yang memakluminya karena itu adalah hal yang biasa.


Lainnya dengan Ana yang ikut mengurus perusahaan ayahnya diindonesia.


Dimas menjadi Presiden Direktur di Amerika yang merupakan bagian cabang perusahaan ayahnya. Kedudukan Dimas yang menjadi Presdir semenjak anak ana dilahirkan. Usia Dimas yang masih belia saat itu. Usianya masih 20 tahu, dia sudah harus mengurus perusahaan ayahnya di Amerika serta mengurus keluarga kecilnya berdasarkan perjodohan.


Ana berjalan dengan anggunnya menggunakan sepatu kantor dengan heels setinggi 7 cm berpadu padan dengan jas dan rok berwarna hitam serta kemeja putih dengan dasi pita berwarna peach membuat Ana menjadi stylish saat dikantor namun tetap terlihat formal.


"Selamat siang pak," ucap Ana kemudian menjabat tangannya pada seseorang dihadapannya.


"Selamat siang Nona Ana." Pria itu menerima jabatan tangan dari Ana.


"Senang saya bisa bekerja sama dengan nona muda seperti anda," kata pria itu dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.


"Saya juga senang bisa menjalin kerja sama yang dengan perusaan yang bapak naungi," ucap Ana sambil menuntun jalan menuju ruang rapat.


Pria komisaris dari keluarga Victor itu diketahui namanya adalah Aditya Pratama. Usianya tidak lagi muda dia sudah menikah dan memiliki 2 orang anak yang dimana anak sulungnya lebih dewasa daripada Ana.


"Mari kemari Pak Aditya." tuntun Ana menuju ruang rapat.


Rapot itu berlangsung 2 setengah jam yang dihadiri oleh beberapa direktur dari beberapa perusahaan yang ikut bekerjasama dengan perusahaan A.K. Semenjak berkarir dan menduduki jabatan diperusahaan Ana tidak lagi menggeluti dunia permodelan.


Hubungan persahabatannya dengan Nisa pun mulai merenggang, dikabarkan Nisa telah kembali ketempat asal suaminya yaitu dijerman. Semenjak Bisma kembali ketempat asalnya. Saat itulah Ana menduduki jabatan sebagai GM (General Manager) dimana sebelumnya posisi itu diduduki oleh Bisma.


Prok prok prok


Para direktur bertepuk tangan ketika Ana mempresentasikan hasil kerjanya. Para direktur begitu senang dengan presentasi Ana.


"Bagus nona pikiran anda begitu luas untuk masa depan perusahaan ini."


"Iya itu betul sekali dengan begitu ikatan kerjasama kita bisa menjadi lebih kuat."


"Dan juga kita bisa mendapatkan keuntungan yang sama dan lebih besar lagi."


Ucap para direktur yang senang dengan rencana dan ide yang dipresentasikan oleh Ana.


"Bagaimana komisaris Victor apakah anda menyetujuinya?" Tanya salah satu direktur itu pada Bapak Aditya.


Rapat disini memang membahas tentang kerjasama antara perusahaan A.K dan Victor. Sedangkan para direktur yang hadir sebagai saksi untuk rencana ini agar tidak terjadi kesalahpahaman dari sebuah keputusan yang akan terjadi.


"Ide nona Ana begitu brilian tapi tetap saja saya hanya sebagai perwakilan segala keputusan tetap dipegang oleh CEO kami," kata bapak Aditya.


Ana tersenyum mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh bapak Aditya, "Saya mengerti pak, saya akan menunggu keputusan yang akan diambil oleh tuan anda."


Beberapa direktur berdecak kagum dengan perkataan Ana, "Nona kau sangat hebat dan juga berbakat, kami senang anda begitu antusias dalam menjalin kerjasama ini."


"Saya akan sangat beruntung jika kerjasama ini benar-benar menjadi nyata," ujar bapak Aditya.


"Semoga itu terjadi pak," ucap Ana tersenyum.


"Sesegera mungkin saya akan mengirimkan surat atas keputusan dari tuan kami," kata bapak Aditya.


Selesai sudah rapat hari ini. Ana keluar dari ruangan rapatnya sambil menjabat tangan dengan beberapa direktur yang berjalan keluar dari ruangan itu.


***


"Welcome back to Indonesia," ucap Arya bahagia sambil meregangkan tangannya kearah langit. Dia tampak sangat bahagia setelah beberapa tahun akhirnya dia kembali ke negara asalnya.


"Dan sekarang yang harus aku lakukan adalah melakukan sesuatu yang sempat tertunda sebelumnya," ujar Arya bahagia menyeret kopernya menuju tempat pemberhentian taksi.


Beberapa kali dia melambaikan tangannya tapi tidak juga mendapatkan taksi yang mau berhenti dihadapannya. Hingga dia menatap bingung dengan mobil sedan navy yang berhenti dihadapannya.


Mobil itu menurunkan kacanya membuat sosok dibalik seseorang yang mengemudikan mobil itu menampakan dirinya.


"Hey," ujar pria itu menaikan alisnya pada Arya.


Arya melongo terkejut melihat seseorang yang menyetir mobil itu. Dia bukan lain adalah James. Sahabatnya sendiri. Dengan senang dia membuka bagasi belakang mobil itu untuk memasukan koper dan barang bawaannya.


"Aaa aku mimpi apa semalam sehingga kau bisa menjemput ku dibandara hari ini?" tanya Arya tidak percaya dengan sosok James yang ada dihadapannya.


Arya sudah duduk dibangku samping pengemudi. James segera melajukan mobilnya kejalan raya.


"Eh pertanyaan ku gak dijawab emang dasarnya kanu masih dingin," ucap Arya layaknya seorang kekasih yang sedang merajuk.


"Kamu lebih cocok jadi cewek kebanding jadi cowok. Biar ku tebak pasti selama ini kau yang mengejar-ngejar cintamu bukan wanita yang mengejar-ngejar cintamu?"


Dan Skak mat Arya dihantam batu besar dia memegang hatinya yang tertusuk oleh perkataan James, "Kau tidak pernah berubah James kata-kata mu masih sepedas cabe rawit," kata Arya dramatis.


"Eh by the way James kau kan menjadi sibuk dengan bisnismu dan ini juga masih jam kerja dihari kerja kenapa kau bisa menjemputku dibandara?" tanya Arya bingung namun asik menatap gedung-gedung pencakar langit dari kaca mobil.


"Apakah kau tidak pernah melihat gedung-gedung tinggi sehingga kau berdecak kagum melihat itu?" tanya James yang fokus menyetirkan mobilnya.


"Aku kagum dengan keindahan yang ada didepan mata selagi aku memiliki mata untuk melihatnya aku akan selalu kagum melihat apapun yang aku lihat," kata Arya yang masih tersenyum melihat ramainya jalanan lewat kaca mobil.


"Euh sepertinya Singapore adalah tempat dunia hiburan dimana semua orang akan bersenang-senang disana tapi kenapa kau jadi seperti ini apa disana kau kebanyakan meminum buku kitab?" tanya James menggelengkan kepalanya dengan sikap Arya.


"Biarkan aku tobat James sehari saja sebelum aku bertemu dengan orang yang selalu membuatku mabuk dan candu dengan tubuhnya," ujar Arya.


"Wanita selalu membuat kita mabuk dan candy Ar," kata James


Arya menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan pernyataan James "Dia berbeda James, saat kau menemukan cinta mu saat kau menemukan belahan hatimu jiwamu orang itu akan membuat mu mabuk dan candu hingga tidak ingin melirik yang lain lagi."


James menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Arya, "Terserah kau saja Ar."


"Kau pasti akan mengalami hal itu James saat nanti kau benar-benar menemukan seseorang yang merupakan bagian separuhnya dari hidupmu," kata Arya tersenyum pada James.


"Tak perlu tersenyum seperti itu kau membuatku menjadi seorang gay melihat senyummu itu," kata James yang mulai memberhentikan mobilnya.


"Apakah senyumku begitu manis?" tanya Arya membinarkan bola matanya.


"Ya manis kelewat manisnya sehingga manis itu berubah menjadi pahit, Hahahhaha." James tertawa berhasil meledek Arya.


Arya tampak kesal mendengar ucapan James. Dia membuka pintu mobilnya keluar menuju rumahnya serta menutup pintu mobil James dengan sangat keras.


"Hey mobil ini sangat mahal jangan kau rusak begitu saja." James mengusap-usap lembut mobilnya dengan penuh kasih sayang.


"Biarkan saja ku hancurkan mobil ini remuk remuk hingga menjadi remahan reginang," kata Arya tertawa terbahak-bahak.


James menyipitkan matanya kesal.


Melihat kekesalan James, Arya terus megelitiki perut James hingga akhirnya mereka berdua pun bercanda dihalaman depan rumah Arya.


**


Haiyo Yo ini apaan ahhahahah


Sabar menanti kelanjutannya ya jangan lupa like dan koment serta vote novel ini


terima kasih yang setia membaca dan menunggu novel ini untuk update 😍😘😘