Complicated Story

Complicated Story
38. Perjodohan Ana



Embusan angin malam menerpa tubuh ana. Ana sedang dikamarnya duduk didekat jendela menatapi bintang dan bulan dilangit. Ibu bilang keluarga yang akan dijodohkan dengannya akan datang jam setengah delapan. Jika dihitung dari sekarang tersisa waktu 15 menit lagi untuk menunggu kedatangan mereka.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya ana pada dirinya sendiri sambil mengelus elus lengan kirinya.


Mungkin nanti aku akan berkata jujur mengenai perasanku. Aku tidak ingin menyakiti perasaan orang lain.


Terdengar suara mobil memasuki halaman. Ana berdiri dari tempat duduknya bersiap untuk turun.


"Ana ayo kebawah," panggil ibunya dari balik pintu kamar yang masih tertutup.


"Iya mah." Ana mempersiapkan hati dan dirinya untuk menghadapi situasi seperti ini. Hatinya yang bergemuruh dan tubuhnya yang gemetar membuat deru nafasnya tidak beraturan.


Ana menapakan kakinya dianak tangga perlahan dia turun dengan sangat anggunnya. Diruang tamu ayah, ibu dan lainnya sedang berbincang-bincang dengan suka ria.


"Dia anakmu?" tanya pria setengah baya yang sedang memperbaiki kaca matanya melihat Ana dianak tangga.


"Iya dia anakku," jawab tuan A.K dengan nada dingin.


"Malam om, tante," sapa Ana menundukkan kepalanya hormat.


Tampak yang disapa ana tersenyum senang dengan sikap Ana.


"Anakmu anggun, sopan dan ramah sekali melihatnya kami langsung jatuh hati padanya," kata wanita yang terlihat 5 tahun lebih muda dari suaminya itu.


Yang ana tau dari ibunya mereka adalah Tuan Darmawan dan nyonya Setiawati. Tuan Darmawan sendiri memiliki perusahaan yang berfokus pada dunia Busana dan nyonya Setiawati sendiri adalah seorang dokter spesialis kandungan.


Ana melihat sekitar ruang tamunya mencari sosok yang ingin dijodohkan dengannya, "Bu dimana dia?" tanya ana berbisik pada ibunya. Dia yang ana maksud adalah orang yang dia cari.


"Tadi diluar katanya mengambil sesuatu yang ketinggalan dimobil," kata ibunya berbisik.


Nyonya Setiawati tampak penasaran saat memperhatikan percakapan ibu dan anak itu, "Ada apa?" tanya Nyonya Setiawati pada ibunya ana.


Ibunya ana menggelengkan kepalanya tersenyum, "Ini ana tidak sabaran melihat calon pasangannya."


Ana langsung mencubit paha ibunya itu dia malu saat ibunya membeberkan pertanyaannya tadi, "Ibu," seru ana dengan wajah malunya.


"Maaf ya nungguin." Nada bass itu sontak membuat ana menoleh kearah pintu.


"Yudha?!" tanya ana tidak percaya dia langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Ana?" tanya Yudha sama tidak percayanya dengan ana.


"Jadi kalian udah saling kenal?" tanya Nyonya Setiawati.


Ana menganggukkan kepalanya linglung saat mengetahui bahwa Yudha lah yang ternyata dijodohkan dengannya.


Lalu bagaimana dengan Kristi?


Pertanyaan itu yang terus mengisi pikirannya saat ini. Dia tidak tau apa-apa dibalik semua ini.


"Wah bagus banget kalau kalian udah saling kenal berarti pernikahan bisa segera dilaksanakan. Kalian tidak perlu waktu lagi untuk saling dekat," kata tuan A.K.


"Gak nyangka ternyata dunia ini sangat sempit ya, ana-" kata Yudha tersenyum mendekati Ana. Yudha menyerahkan sebuah bingkisan kecil pada Ana.


"Ini, terimalah." Yudha menyerahkan kotak merah marun dengan pita silver yang menghiasinya. Kotak yang berukuran 6x6x6cm itu membuat Ana mengerinyitkan keningnya.


Perbincangan diantara dua keluarga tampak sangat menyenangkan. Hanya ana yang diam terus bertanya-tanya mengenai sahabat lamanya itu. Sedangkan Yudha ikut berbincang dengan tuan A.K juga ibunya ana sesekali Yudha melirik ana yang diam membisu.


"Eh- karena asyik mengobrol sampai lupa nawarin makanan, makan dulu ayo nanti lanjut lagi bincang-bincangnya," kata ibunya ana tertawa mengajak mereka semua untuk duduk dimeja makan.


"Ya ampun repot-repot sampai diajak makan segala kami gak ada bawa apa-apa," kata nyonya Setiawati.


Dimeja makan pun masih ada perbincangan diantara mereka. Tampak asyik dan menyenangkan.


"Yudha kerja sabagai apa nak?" tanya ibunya ana seraya menyuapkan makanannya.


"Wah anaknya ngikutin jejak ibunya toh, kenapa gak ngurusin perusahaan ayahnya aja? lumayan kan itu perusahaannya gede," kata ibunya Ana bertanya pada Yudha.


Ayahnya Yudha tertawa mendengar pertanyaan ibunya ana, "Dia katanya malu ngurusin baju gitu. Kalau ditanya ayahnya pasti dia jawab kalau ngurusin baju itu tugas anak perempuan. Saya sampai geleng-geleng kepala sama anak sendiri," kata tuan Darmawan.


Tuan A.K tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan dari tuan Darmawan, "Astaga Yudha Yudha kamu ini nak," kata tuan A.K menggelengkan kepalanya.


Ana terus saja diam sejak tadi bahkan makanan yang disajikan dipiringnya dia suap sedikit demi sedikit.


"Kalau ana sendiri dia kerja jadi apa?" tanya Nyonya Setiawati.


Ana langsung terkejut saat dirinya ditanya oleh nyonya Setiawati, "Saya- saya jadi GM diperusahaan ayah, tante," jawab ana ragu dan malu.


"Wah nak ana hebat sekali bisa menjadi seorang GM di perusahaan entertainment yang besar itu berarti ana memiliki kecerdasan yang luar biasa." Puji tuan Darmawan terkagum-kagum dengan ana.


"Ah tidak juga dia seorang pemula," sanggah tuan A.K


"Saya dengar kemarin ana memimpin rapat dengan komisaris perusahaan Victor?" tanya tuan Darmawan.


"Iya dia memimpin rapat kemarin karena saya lagi sibuk ngurus lapangan diluar kota tidak bisa hadir disana jadi ana yang memimpin disaksikan oleh beberapa direktur utama," kata tuan A.K


Ekspresi tuan Darmawan semakin kagum dengan sosok ana, "Luar biasa perusahaan Victor itu banyak produksinya, beberapa baju yang kita produksi juga pesanan dari tuan Victor," kata tuan Darmawan.


"Kalau anak kita menikah kerjasama perusahaan kita juga meningkat," sambung tuan Darmawan.


Tuan A.K menganggukkan kepalanya kecil menanggapi perkataan tuan Darmawan, "Iya betul sekali lagipula sudah sangat lama kita bekerjasama."


"Gak habis-habisnya ini perbincangan sampai jam udah mau pukul 10," kata nyonya Setiawati.


Ibunya ana tertawa terbahak-bahak, "Kalau udah kumpul terus ngobrol emang lupa waktu bahkan makanpun bisa menjadi lebih lambat karena terlalu asyik mengobrol," kata ibunya ana tertawa.


"Hahahha iya kami senang bisa cepat akrab dengan kalian tidak menyangka kalau hubungan ini dimulai dengan kebahagiaan," kata nyonya Setiawati.


Ibunya ana menganggukkan kepalanya, "Yang terpenting kedua anak kita udah saling kenal, tidak sulit bagi kita untuk menyatukan mereka," kata ibunya ana seraya memegang kedua pundak ana.


"Makasih nih udah diajak makan. Enak banget makanannya," puji tuan Darmawan.


"Istri saya ini yang masak dia yang selalu mengurus segala urusan rumah," kata tuan A.K.


Nyonya Setiawati tampak begitu bahagia, "Wah ibunya saja pandai mengurus rumah pasti anaknya juga sama."


Sejenak Ibunya ana tersenyum canggung jika mengingat kenyataannya bahwa ana bukan anak kandungnya.


Tuan A.K yang melihat istrinya itu tidak ingin nyonya Setiawati curiga, "Tentu saja, Istri saya ini selalu mendidik anak-anaknya dengan sangat baik. Saya bangga punya istri seperti dia." tuan A.K memegangi tangan istrinya itu berusaha menyadarkan istrinya dari lamunannya.


"Eh iya Dimas dimana?" tanya tuan Darmawan.


Yudha tercengang mendengar perkataan ayahnya, dia baru menyadari tentang kejadian 2 tahun yang lalu.


Apa yang terjadi sejak kejadian itu? Aku tidak melihat Dimas Risa juga anaknya ana.


Tanya Yudha pada dirinya sendiri.


"Dia di Amrik ngurusin perusahaan disana," kata tuan A.K.


"Wah anak tuan A.K semuanya sukses dikarirnya tidak heran jika banyak yang memuji-muji tuan dengan segala kesuksesan yang tuan raih bahkan keluarga juga terbina dengan sangat baik," puji nyonya Setiawati.


"Ahhahah tidak juga dibalik itu semua ada juga kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan." sanggah tuan A.K


"Kalau gak buat kesalahan bukan manusia namanya hahahaha," canda tuan Darmawan.


"Semoga saja anak kita bisa jadi pasangan yang serasi juga serta menjadi keluarga yang bahagia juga nantinya," kata nyonya Setiawati tersenyum memegang tangan Yudha seraya menatap ana secara bersamaan.