
Seperti perkataan author sebelumnya author bakalan update 😳 kalau likers Dan pembacanya banyak. Semoga suka ya dan selamat membaca
---
"Mereka bukannya sudah menikah?" salah satu karyawan tetap sedang menggosip.Â
Ana yang sedang fokus dengan laptopnya mencoba menguping pembicaraan mereka.Â
"Aku dengar mereka sudah menikah sejak sicewek tamat SMA."Â
"Iya aku menghadiri pernikahannya."Â
"Iya kenapa aku tidak."Â
"Hanya beberapa karyawan penting, dan beberapa orang kepercayaan saja yang menghadirinya."
"Iya tau dah tau yang dipercaya sangat dengan pak Bisma."Â
"Bukan begitu pernikahan yang diselenggarakan juga bukan pernikahan megah hanya pernikahan biasa. Tapi jika merchandisenya saja sebuah tas dan sandal aku tidak yakin itu tidak megah."Â
"Itu toko atau gimana merchandisenya saja tas sama sepatu."
"Ust sudah sudah ada orangnya."Â
Ana langsung menoleh seseorang yang datang dari arah tangga dan benar saja Nisa sudah menaiki anak tangga. Para karyawan mulai berbisik-bisik saat Nisa mendekat. Ana berpura-pura fokus pada laptopnya dan tidak mengetahui apapun.Â
Jam menunjukkan pukul 5 sore semua hendak bersiap-siap untuk pulang namun ana masih harus mengetik beberapa kata lagi pada laptopnya.Â
"Ana aku pulang dulu ya," Kata Nisa cuek.
Ana yang merasa dicuekin menghentikan langkah Nisa, "Kamu kenapa nis?" Tanya anaÂ
"Aku gapapa emangnya aku kenapa?" Nisa bertanya balik.Â
Ana langsung memicingkan matanya, "Ada gitu ditanya malah tanya balik."Â
Nisa terkekeh melihat perkataan ana, "Udah aku mau pulang kamu kapan pulang masih banyak tugasnya?" Tanya Nisa seraya melihat laptop ana.Â
"Lagi dikit," kata Ana menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal itu.Â
"Aku pulang dulu semangat ya." Nisa berjalan meninggalkan ana.Â
"Apa Nisa lagi ada masalah?" Tanya ana pada dirinya sendiri.Â
Selesai ana mengerjakan tugas-tugasnya ana membawa semua file itu keruangan Bisma.Â
"Permisi." Ana mengetok pintu ruangan itu namun didalamnya tidak ada siapapun.Â
Ana dengan deg-degan masuk dan menaruh berkasnya. Dia buru-buru keluar takut jika terjadi kesalahpahaman saat dia masuk sendiri keruangan itu tanpa ada pemiliknya.Â
Ana kemudian berjalan keluar kantor. Beberapakali dia menelepon supirnya namun tidak diangkat. Ana terpaksa harus berjalan kaki. Baru beberapa meter berjalan ana sudah kelelahan. Dia sejenak berhenti ditrotoar dan duduk sambil memijat kakinya yang pegal.Â
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang sengaja berhenti didepan ana. Ana membenarkan posisi kakinya takut dilindas mobil tersebut. Ana berdiri saat kaca pintu mobil itu dibuka. Ternyata pak Bisma yang mengendarai mobil tersebut.Â
"Kamu jalan?" Tanya Bisma.Â
Ana memejam-mejamkan matanya mendengar ucapan Bisma, "Iya pak kenapa?" Tanya ana heran.Â
"Daripada jalan sini ikut sama saya rumah kamu jauhkan dari kantor?" Bisma menawari tumpangan ke Ana.
Ana tidak enak takut jika dirinya akan memilki masalah kalau menerima ajakan Bisma, "Gak usah pak saya udah biasa." Dusta ana.
"Ayo sini ikut aja saya gak akan makan kamu."Â
Mendengar itu Ana berpikir kembali ajakan Bisma, kakinya juga terlalu lelah dia akhirnya menerima ajakan Bisma.
"Terima kasih pak."Â
"Belum sampai udah bilang makasih hahahahha." Bisma melajukan mobilnya menuju rumah ana.Â
Didalam mobil ada sesuatu yang menjanggal dihati ana untuk ingin bertanya, jantungnya berdegup kencang takut untuk bertanya namun ana ingin segera membuang rasa penasarannya.
"Pak saya boleh tanya sesuatu?" Tanya ana
"Mau tanya apa?" Bisma masih fokus menyetir mobilnya.
"Mau tanya tentang hubungan bapak dengan Nisa."Â
Mobil Bisma kemudian berhenti karena perhentian lampu merah.Â
"Iya pak tadi tidak sengaja saya mendengar perkataan para karyawan kantor." Ana gugup hingga meremas-remas roknya.
"Sepertinya mereka perlu diisolasi hahhahah." Gurau Bisma menghilangkan ketegangan.
"Iya saya sudah menikah dengan Bisma, tapi saya hanya menganggapnya sebagai adik tidak kurang dan tidak lebih." Terang Bisma.
Ana merasakan bagaimana posisi Nisa, tapi dirinya tidak yakin jika apa yang dia rasakan itu benar atau salah.
"Bapak apa tidak pernah benar-benar menganggap Nisa sebagai istri bapak?"Â
Cit
Tiba-tiba mobil Bisma berhenti. Tidak ada orang menyebrang, tidak ada lampu merah, ataupun orang yang menghentikan mobilnya. Tapi mobil Bisma berhenti mendadak mendengar pertanyaan ana.Â
"Selebihnya privasi," kata Bisma lugas dan tegas.
Ana meneguk salivanya mendengar perkataan Bisma yang tidak ingin dibantah. Ana kemudian diam sambil menatap jendela mobil. Beberapa saat dia akhirnya sampai dirumahnya.Â
"Terimakasih pak atas tumpangannya." Ana menutup mobil Bisma pelan.
"Iya."Â
Terlihat sepertinya Bisma agak marah dia langsung melajukan mobilnya kencang. Ana jadi merasa bersalah karena mencampuri urusan mereka berdua.Â
Ana membuka pintu rumahnya betapa kejut dirinya dia melihat Risa sedang asyik mengobrol dengan ibunya.
"Hey ana udah pulang." Ibunya menghampiri ana yang masih berdiri didepan pintu.Â
"Ayo sini jangan berdiri disana saja ibu kenalin kamu sama calon istrinya Dimas."Â
Ana dipegang pundaknya oleh ibunya menuntunnya kearah Risa.
"Kenalin ana dia Risa calon istrinya Dimas, dan Risa kenalin ini ana anak sambung Tante."Â
Risa tersenyum namun diam-diam dia memasang muka sinis kearah ana, "Kita udah saling kenal tan."
"Wah jadi kalian udah saling kenal ibu tidak susah-susah menyatukan kalian hahahhaha." Ibunya terlihat sangat senang ana yang melihat itu hanya bisa tersenyum kaku.
"Ibu aku mau bersihin diri dulu." Pamit ana hendak pergi ke kamarnya.
Risa langsung tersenyum berpura-pura baik kepada ana dihadapan calon mertuanya, 'Pak Bisma juga kamu godai dasar wanita penggoda,' kata Risa didalam hatinya.
Flashback on
Beberapa menit sebelum ana datang.
Risa sedang asyik mengobrol didapur bersama calon mertuanya. Tiba-tiba ada suara mobil dari arah depan. Risa langsung melihat dari arah pintu depan. Risa kenal mobil itu adalah mobil Bisma suami sah dari Nisa. Melihat itu Risa langsung merekam dari ponselnya.
Tiba-tiba calon mertuanya menepuk pundaknya, "Kamu sedang apa?" Tanyanya saat Risa memegang ponsel.
"Ini Tante tadi temen aku nelpon dan dia bilang gak sabar ingin lihat aku bunting hahahha."Â
Calon mertuanya itu tertawa mendengar perkataan Risa, dia tidak tau kalau sedang dibohongi oleh calon menantunya.Â
Saat mereka tertawa tanpa menyadari keberadaan ana sudah berada didepan pintu.
Flashback off
Ana merebahkan tubuhnya diatas kasur selesai mandi dia merasakan dirinya begitu lelah. Terutama kakinya dia tidak memilki balsem atau apapun untuk mengurangi rasa pegal-pegalnga itu.
"Ana kamu sudah selesai mandinya?" Teriak ibunya dari balik pintu kamar.
"Sudah Bu," saut ana dari dalam.
"Cepat turun yang lain udah nunggu untuk makan malam."Â
"Iya Bu."
--
Terima kasih udah mau baca karya author. Terima kasih yang udah memberikan tombol likenya. Author seneng banget kalian mau setia membaca karya author yang tidak seberapa bagusnya ini. Semoga kalian suka ya.
Dan jika ada kesalahan mohon saran dan komentarnya agar author dapat belajar menjadi lebih baik lagi. Terima kasih buat kalian yang selalu mendukung author.Â
Ayo yang baca novelnya ini siapa aja author pengen tau ayo donk muncul dikolom komentar hahahahahah 🤣