
Halo yang baca, mampir, jangan lupa like yha kakak kakak terima kasih💕💕
Author masih pemula jadi mohon bantuan saran dan komentarnya kak
maaf jika ada banyak kesalahan dalam penulisan
Selamat membaca ^^
---
Orang tua ana sedang menunggu ana terbangun. Dimas cemas dengan keadaan Ana dia terus menggetarkan kakinya sambil memegangi dagunya.
"Kamu kenapa cemas sekali dim?" tanya Risa takut.
"Ini minum dulu." Risa membawakan Dimas segelas air putih.
"Terima kasih." Dimas meneguk habis air yang dibawa oleh Risa.
Bisma memegangi pundak Nisa yang tak kalah khawatirnya, "Kita pulang dulu aja gimana sekarang udah larut malam."
Nisa menganggukkan kepalanya kecil saat Bisma mengajaknya untuk pulang.
"Tuan kami pulang dulu ini sudah malam." Bisma pamit pulang pada tuan A.K
Tuan A.K itu menganggukan kepalanya menyetujui. Bisma segera pergi meninggalkan kediaman Tuan A.K itu.
Yudha menaikan alisnya bertanya pada Kristi lewat bahasa isyarat, dia meminta persetujuan yang sama untuk pulang dari kediaman Tuan A.K. Kristi menganggukan kepalanya mengajak Yudha untuk pamit pulang.
"Om kami pulang dulu ya ini sudah kemalaman." Pamit Kristi kepada kedua orang tua ana.
Orang tua ana itu menganggukan kepalanya menyetujui. Kristi dan Yudha bersaliman dengan mereka kemudian melangkahkan kakinya untuk pulang.
Setelah memeriksa kondisi ana menuruni anak tangga. Tuan A.K atau ayah ana itu langsung menghampiri Arya saat dia sudah berada dibawah.
"Arya bagaimana kondisi anakku?" tanya Tuan A.K begitu khawatir.
"Maaf Tuan anak anda sedang hamil kondisinya lemah sehingga menyebabkan dia pingsan usia kehamilannya baru 1 Minggu."
Penjelasan dari Arya itu membuat Tuan A.K begitu geram.
"Dimas!" Teriak Tuan A.K
"Ayah apa yang kau lakukan." Dimas dipegang erat kerah kemejanya.
"Kau kan yang telah melakukan ini."
Tuan A.K bersiap untuk meninju Dimas. Namun Arya menghentikan pergerakan Tuan A.K.
Risa dan ibu mertuanya begitu terkejut melihat kemarahan tuan A.K.
"Bukan dia yang melakukannya tuan," kata Arya membela Dimas.
Risa menganggukan kepalanya berjalan mendekati Dimas dan ayahnya, "Bener om, Dimas tidak melakukannya." Risa juga ikut membela Dimas.
"Bagaimana kalian tau Dimas tidak melakukannya?!" teriak Tuan A.K bertanya kepada Arya dan Risa yang membela Dimas.
"Tidak mungkin Dimas melakukannya bukankah Dimas sudah bertunangan dengan ku dan dia juga sekarang telah menikah, jika sekalipun memang Dimas yang melakukannya. Dimas tidak bisa menikahi Ana untuk bertanggungjawab." Pundak Risa bergetar hebat membela Dimas demi bisa mempertahankan statusnya sebagai seorang istri yang sah.
Arya memegang pundak Risa untuk menenangkannya, "Tuan, Biarkan saya yang menikahi Ana."
Bug
Hantaman keras tepat mengenai pipi Arya.
"Apa kau sudah tidak waras? Lancang sekali dirimu berbicara!" Ucap Tuan A.K begitu murka.
"Apa anda bisa mencari siapa ayah dari anak Ana?" tanya Arya tersenyum sinis.
Tuan A.K menatap tajam Arya yang tengah merendahkan dirinya, "Kau! Keluarlah sekarang!"
Arya tersenyum kecut melihat tuan A.K yang tidak bisa menjawab pertanyaannya, "Semoga tuan bisa segera menemukan siapa ayah dari anak dalam rahim ana." Doanya setengah meledek tuan A.K
"Argh Keluar!" Perintah tuan A.K tegas sambil menunjuk ke arah pintu.
Arya tersenyum sinis kemudian mengambil mantelnya. Dia pamit pada istri tuan A.K itu dengan menganggukkan kepalanya.
Dimas berdiri kaku diam membisu seribu bahasa, 'Yang ku ingat saat itu aku bahkan tidak menyentuh bagian tubuh Ana,' ucap Dimas dalam hatinya.
"Aku kekamar ana dulu," Kata istrinya tuan A.K
Tuan A.K menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan istrinya itu, "Jaga dia, aku akan keluar sebentar," ucap tuan A.K mengambil kunci mobilnya serta mantel bersiap untuk pergi keluar.
Istrinya menghelakan nafasnya berat, "Dimas ajak istri mu istirahat dulu dia pasti lelah," kata ibunya memandangi Risa yang masih menitikkan air matanya.
"Iya Bu." Dimas memegangi pundak Risa menuntun Risa menuju kamarnya.
Ibu ana menaiki anak tangga sambil terus berpikir ayah dari anak dalam kandungan Ana.
Ceklek
Ibunya ana membuka perlahan pintu kamar ana. Ana masih terlelap dalam tidurnya. Ibunya duduk disamping kasurnya sambil mengusap lembut rambut ana.
"Ibu." Ana perlahan bangun saat dirinya sudah cukup sadar.
"Apa yang terjadi bu?" tanya ana penasaran kenapa dirinya bisa berada dikamar.
"Ini minum dulu." Ibunya memberikan segelas air putih.
Ibunya terus berpikir bagaimana caranya memberi tau Ana bahwa dirinya sedang mengandung.
"Ibu ada apa? Apakah ada masalah?" tanya ana penasaran saat ibunya menatapnya serius.
"Ana janjilah pada ibu bahwa kau tidak akan marah atau melakukan hal yang gila," kata ibunya menggenggam tangan Ana.
"Ada apa Bu?" tanya Ana bingung.
"Berjanjilah padaku,' kata ibunya semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Ana menatap tangannya yang digenggam erat oleh ibunya, "Iya Bu aku janji."
"A-na.. ka-mu.. ka-mu.. a-na.." kata ibunya terbata-bata.
"Ibu ada apa katakanlah." Ana penasaran apa yang akan dikatakan oleh ibunya.
"Ana kamu sedang mengandung."
Jeder
Terasa tersengat petir. Ana membelalakkan matanya terkejut mendengarkan perkataan ibunya. Dia tidak percaya dirinya sedang mengandung.
"Ibu apa kau sedang membohongi ku?" tanyanya berusaha tidak mempercayai bahwa dirinya benar-benar sedang mengandung.
"Iya ana kamu hamil," kata ibunya menganggukan kepalanya.
Ana menggelengkan kepalanya, "Gak mungkin Bu bagaimana bisa aku hamil. Ibu bohongkan ibu pasti sedang berbohong kan." Ana terus mengguncang pundak ibunya.
Namun ibunya terjs menganggukkan kepalanya, "Ibu tidak berbohong ana, kamu sedang mengandung. Dan kini dalam rahim mu sudah ada benih kehidupan didalamnya," kata ibunya memegangi perut ana yang masih datar itu.
"Tidak Bu aku tidak mungkin hamil. Bagaimana mungkin aku bisa hamil." Ana menangis sambil memegangi perutnya itu.
Terdengar suara mobil dari bawah Ayahnya terdengar sudah datang.
"Sepertinya itu ayahmu," kata Ibunya berjalan menuju pintu.
"Kamu diamlah disini sebentar." Ibunya menutup pintunya dan berjalan keluar menghampiri tuan A.K.
Diluar sedang hujan tuan A.K melepaskan mantelnya yang basah itu disamping pintu.
"Kau kemana saja?" tanya istrinya yang sedang menuruni tangga.
"Aku keluar," jawab suaminya dengan nada dingin.
"Apa yang sedang kau lakukan tadi?" tanya istrinya.
"Berkaitan dengan keadaan ana." Jawab suaminya lugas.
Istrinya itu menatapnya redup mengetahui bahwa suaminya sedang menyembunyikan sesuatu, "Apa kau mendapatkan informasi?" tanyanya.
"Aku tidak mungkin menikahkan ana dan membiarkan ana melahirkan anak itu," ucap Tuan A.K sambil menatap jendela disamping pintu.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya istrinya.
"Gugurkan bayi dalam kandungan ana."
Prang
Suara gelas pecah jatuh dari tangga. Pasangan suami istri yang sejak tadi berbicara itu langsung menoleh kearah tangga.
"Ana?" Tanya ibunya langsung menghampiri ana.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa sejak tadi kau menguping pembicaraan kami?" tanya Ayahnya geram melihat ana ditangga.
"Aku tidak akan melenyapkan nyawa yang tidak bersalah ini ayah."
Ibu ana menatap kaget saat ana angkat bicara untuk mempertahankan bayinya.
"Apa yang kau pikirkan?! Apa kau sudah tidak waras dengan tetap mempertahankan bayimu?!" teriak ayahnya tidak setuju dengan apa yang ana katakan.
"Jika bayi adalah berkah untuk setiap pasangan yang bersuami istri, jika anak adalah anugrah dan amanah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Apakah bayi yang aku dapatkan diluar pernikahan meninggalkan segala berkah karunia Tuhan?"
Jeder
Suara petir menyambar. Begitu juga perkataan ana kilat seperti petir. Ayahnya menatap terkejut dengan apa yang dikatakan ana. Sulit dipercaya jika kini ana berani angkat bicara.
"Tapi ayah tetap tidak bisa membiarkan mu hidup sebagai seorang single parent." Ayahnya masih bersikukuh dengan pendiriannya.
"Biarkan aku yang merawat anak itu."
Tiba-tiba Dimas keluar dari sudut ruangan.
Ayahnya tidak habis pikir dengan semua jalan pikiran anak-anaknya, "Apa yang kau lakukan Dimas?" tanya ayahnya mempertanyakan keputusannya.
"Aku dan Risa sudah menikah, tentu buah hati adalah hal yang diinginkan dari setiap pasangan yang baru menikah. Biarkan bayi itu kami yang merawatnya dan ana bisa bebas tanpa hinaan dari orang-orang," ucap Dimas
Ibunya menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dimas, "Iya pah biarkan itu terjadi dan selama itu ana harus tetap dirumah sementara Risa berpura-pura hamil," ucap ibunya mengusulkan ide.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kalian pikirkan, tapi jika itu memang yang terbaik aku akan menyetujuinya," ucapnya menyetujui keputusan Ana, Dimas dan istrinya.
Ana tersenyum bahagia mengelus perutnya yang masih datar itu.