Complicated Story

Complicated Story
18



"Tolong!" Teriak ana membuat para warga sekitar menoleh.


Pria yang menarik ana kemudian menatap ana malas dengan aksi ana yang sudah lumrah itu.


"Pak tolong jangan lakukan kekerasan dengan wanita." Kata salah satu warga kepada pria tersebut.


"Maaf pak dia istri saya ingin ajak dia pulang bapak gak perlu khawatir."


Jleb


Ana seketika kehilangan alam sadarnya, "Apa dia bilang?" batin ana memaki pria itu.


Ana kemudian dipaksa masuk kedalam mobil pria itu.


"Aa! Aku mau dibawa kemana?!" Ana terus mengelak tapi tetap saja dia tidak bisa melawan.


Akhirnya dia masuk kedalam mobil itu.


Blak pintu mobil itu kemudian ditutup. Pria itu kemudian masuk dan menyetir mobilnya.


"EH- Aku mau dibawa kemana?!" Teriak ana didalam mobil tapi tidak dihiraukan oleh sang pengemudi.


"WOI!" Ana terus berteriak tapi diacuhkan oleh pria itu.


"Ishhh." Ana sebal dan memanyunkan bibirnya.


Mobil itu kemudian berhenti karena lampu merah, "Itu mulutnya mau dicium?" Tanya pria itu mendekati ana.


Ana seketika memundurkan badannya hingga kepintu mobil. Tangan pria itu juga mendekati badan ana.


Blak pintu dibelakang ana itu ditutup oleh pria itu, "Pintunya belum ditutup rapat." Kata pria tersebut dengan senyum kemenangannya.


Sedangkan ana melihat aksi pria tersebut langsung memicingkan matanya.


"Alasan." Kata ana berdecak sebal sambil menyilangkan kedua lengannya didepan dada.


"Mau dicium beneran yha?." Tanya pria itu sudah memegang dagu ana.


Jantung ana seketika berdegup kencang. Gugup dan takut dia ingin mendorong pria tersebut.


Tin... TIN.... TIN...


Tiba-tiba suara klakson kendaraan lain berbunyi


Seketika ana dan pria itu kembali membenarkan posisi duduk mereka masing-masing.


"Hahahahha." Pria itu tertawa terbahak-bahak melihat ana.


Ana mungkin wajahnya sudah Semerah kepiting rebus. Dia memalingkan wajahnya dan lebih memilih melihat jalanan dari jendela mobil.


"Eh?.." ana kaget melihat kemana arah jalan yang dia lewati.


Ternyata mobil ini menuju kerumahnya sendiri.


"Ini kerumah ku?" Tanya ana kepada pria itu. Namun pria itu lagi-lagi mengacuhkan pertanyaan ana.


"Nyesel aku nanyak sama roh halus." Ana yang kesal itu langsung membukakan pintu mobilnya saat mobil itu sudah terparkir dihalaman rumahnya.


Ana kemudian berlari menuju rumahnya dan mengetuk pintu.


"Ehh ana kamu udah pulang kenapa enggak sama supir?" Tanya ibunya kepada ana.


Namun ibunya kemudian melihat sosok pemuda yang sedang menutup pintu mobil.


"Eh.. nak Arya kamu disini?"


Seketika mata ana membulat dia kaget dengan reaksi sang ibu.


"Ibu kenal dia?" Tanya ana tidak percaya dengan ayang dia lihat saat ini.


"Iya dia dokter Arya kan?"


"Hehe Tante." Kata pria itu kemudian menyalami tangan ibunya ana.


Ana yang melihat keakraban mereka serasa terasingkan.


"Kamu pulang sama dokter Arya, na?" Bukannya menjawab, ana malah memilih untuk masuk kedalam rumahnya.


"Aku tadi ketemu dia ditoko Tante jadi sekalian aja aku anter pulang." Kata dokter Arya yang masih terdengar jelas oleh ana yang sudah masuk kedalam.


Ana yang sedang menaruh barang belanjaannya dilemari dapur itu langsung memutarkan bola matanya malas dengan sosok yang diajak masuk oleh ibunya.


"Nak Arya mau minum apa biar tante buatin."


"Enggak usah repot-repot Tante saya kesini mau ketemu Tuan A.K."


Mendengar percakapan ibunya dengan dokter Arya semakin membuat ana gemas.


"Eleh malu-malu kucing." Kata ana berdecak sebal.


"Yha udah kalau gitu Tante panggil om dulu yha." Kata ibu ana kemudian beranjak menaiki anak tangga.


"Ana buatin dokter Arya minum yha ibu mau panggilin ayah diatas dulu."


"Iya Bu.." jawab ana setengah berteriak karena masih kesal.


Didapur ana membuatkan jus tomat untuk Arya. Namun karena kekesalan ana dengan Arya muncullah ide untuk menjahili si dokter Arya tersebut. Dia memasukan cukup banyak bubuk cabe didalam blender bersama dengan tomat dan juga garam.


Ana tertawa pelan melihat racikan minuman yang dibuat. Yang seharusnya tomat gula dan susu dia ganti dengan cabe dan garam. Ana terus membayangkan bagaimana reaksi Arya nantinya saat meminum minuman itu.


Dengan hiasan yang menarik ana mengisi gelas itu dengan susu kental manis. Selesai menghias dan menuangkan jusnya ana kemudian membawakan Gela situ dengan nampan menuju meja tempat Arya duduk.


"Ini minumannya." Tampilan ana yang menawan bagaikan pelayan restoran membuat siapa saja tertarik hatinya dengan ana.


"Terima kasih calon istri ku." Kata pria itu setengah menggoda ana.


Ana yang mendapatkan godaan itu hanya memutarkan bola matanya malas dan kemudian kembali kedapur untuk memasak mie instan kesukaannya.


Dari dapur ana melihat reaksi Arya meminum minuman yang dia buat. Dia terkikik sendiri hingga mie yang dipegang jatuh.


"Hahahha rasain." Ana tertawa pelan sambil mengambil mie instan yang jatuh tadi.


Namun seketika dia kaget bahwa ternyata Arya sudah ada dibelakangnya. Kini Arya sedang berjongkok dengan ana didapur.


"Kamu nakal yha." Kata Arya mendekati wajah ana.


Mereka saling beradu tatap manik-manik mereka bersatu.


Tek Tek Tek. Suara langkah kaki dari anak tangga mengangetkan dua insan yang sedang berada didapur.


Dengan gelagapan Arya pura-pura mengambil segelas air putih kemudian kembali ke tempatnya tadi.


"Pinter sekali bikin anak orang senam jantung." Kata ana Pela pada dirinya sendiri sambil mengelus dadanya.


Ana terus memegang dadanya yang berdegup kencang itu.


Terlihat ayahnya, ibunya dan Arya sedang berbicara dengan serius. Ana hanya melihat mereka dari meja dapur sambil menyeruput mie instan yang dia buat.


Masih merasa lapar dia mengambil beberapa roti kemudian pergi ke taman belakang untuk menemani suasana. Dia ingin keatas menuju kamarnya tapi dia tidak ingin melewati seseorang yang sedang berbicara. Jadilah dia kebelakang lewat pintu dapur menuju taman belakang.


Disana dia memutar musiknya dan duduk disebuah kursi sambil memakan roti yang dia bawa.


Suasana yang damai dan sejuk membuatnya sangat rileks disina. Ana sesekali mengingat kenangannya dulu bersama sahabatnya itu. Dia tidak menyangka jika kini Dimas berpasangan dengan Risa dan Yudha sudah berpasangan dengan Kristi.


Siapa sangka jika dirinya saat ini belum ada pasangan. Dia tertawa sendiri mengingat status jomblonya itu.


"Makanya jadian sama aku."


Seketika ana kaget dan mengelus dadanya. Sosok Arya itu lagi-lagi muncul tiba-tiba disamping dirinya.


"Ngomong apa sih." Ana kesal dengan Arya seperti bersikap semaunya sendiri.


"Aku tadi ngomong apa?" Bukannya menjawab Arya malah balik bertanya.


"Mana aku tau aku enggak dengar." Ana yang terasa sedang pms padahal bulanannya sudah lewat beberapa 2 Minggu yang lalu.


"Kamu ngapain ketawa sendiri disini kayak orang gila hahaha." Tawa Arya menggelegar membuat ana memicingkan matanya.


Sejenak kemudian ana berpikir.


"Dari tadi ngawasin aku yha?" Tanya ana menyelidiki Arya.


"Mau dimanapun kamu aku pasti ada disana." Kata dua kemudian mendekati wajah ana.


Ana yang sedang duduk dan Arya yang sedang berdiri itu membuat Arya harus sedikit membungkukkan badannya agar bisa berdekatan dengan ana.


Ana dan Arya kini sedang berada tatap lagi dan manik-manik mereka kembali bersatu.