
Pagi ini semua sedang duduk dimeja makan untuk sarapan.
"Ayah bagaimana dengan sekolahku? Aku baru saja training beberapa hari yang lalu."
Ayahnya yang sedang menikmati sarapannya itu menghentikan suapannya, "Kamu akan tetap berada dirumah semua akan ayah atur dan untuk beberapa bulan kedepan gurumu yang akan kerumah untuk mengajar," ucap ayahnya seraya kembali menyuapkan makanan yang tertunda itu.
Ana sangat bahagia hidupnya tidak terlalu rumit. Tampak ana terus tersenyum sambil menikmati sarapannya.
"Ana kenapa kamu tampak begitu senang?" tanya Dimas yang sudah siap untuk berangkat kekantor.
"Iya kak aku sangat senang karena aku bisa terus bersama bayiku," ucap ana sambil mengelus perutnya yang masih datar.
Risa yang baru saja menyelesaikan sarapannya mengelap bibirnya dengan tisu, "Jadi kita tidak akan ke Amrik?" tanya Risa pada Dimas.
"Mungkin tidak." Dimas bersiap menggunakan mantelnya.
Ting
Suara sendok dan garpu itu sangat keras menyentuh piringnya. Ayah ana menarik nafasnya bersiap untuk berbicara, "Dimas akan tetap berangkat ke Amrik. Setelah persalinan ana selesai Dimas akan langsung berangkat ke Amrik tanpa ada penundaan apapun!"
"Tapi ayah?!" Baru saja ana ingin melanjutkan ucapannya namun ayahnya sudah memberi peringatan bahwa ana harus diam.
"Jangan membuat ku merubah pikiran untuk kembali pada keputusan awal!" ucap ayahnya murka. Ayahnya langsung mengenakan jasnya dan berangkat menuju kantor.
Deg!
Seketika air mata ana berlinang sambil memegang perutnya ana menangisi dirinya yang akan berpisah saat nanti bayi dalam kandungannya dilahirkan.
"Ana aku berangkat dulu jaga dirimu baik-baik ya," ucap Dimas mengacak-acak rambut ana.
Ana menganggukkan kepalanya tersenyum walau hatinya saat ini sangat teriris.
"Daa ana.." Tampak Risa tersenyum penuh kemenangan sambil melambaikan tangannya pada ana.
Ana menarik nafasnya seraya membersihkan meja makan.
"Kamu masuklah kekamar melanjutkan tugas-tugas mu biar ibu yang yang membersihkannya." Kata ibunya mengambil piring yang ana pegang.
"Iya Bu."
Ana tersenyum kecil dengan wajah murung dia menaiki tangga menuju kamarnya. Pikirannya kacau, kelabu, awan hitam semua kalang kabut dipikiran ana. Dia tidak tau harus bagaimana menghadapi situasi yang seperti ini.
Drt drrt
Ponsel ana bergetar ada panggilan masuk. Ana segera menjawab panggilan tersebut.
"Iya halo Kris?" jawab ana pada seseorang yang ada dibalik telepon.
"Hana apa kau berada dikamar mu?"
Pertanyaan Kristi membuat ana berpikir kenapa Kristi terdengar begitu gelisah.
"Iya aku dikamar kenapa Kris?" tanya ana lagi namun cukup lama hingga Kristi baru menjawab kembali pertanyaan ana.
"Apa kau seorang diri?" Tanya Kristi berbelit-belit seperti ingin menyampaikan sesuatu yang rahasia namun sangat penting untuk disampaikan.
"Halo Kris apa kamu baik-baik saja?" tanya ana pada akhirnya karena dia merasa bahwa Kristi cukup panik saat ini.
"Ana apa pintu kamar mu sudah ditutup?"
Ana memijat pelipisnya mendengar perkataan Kristi yang semakin membuatnya penasaran, "Sudah Kris. Pintu tertutup aku sendirian dikamar. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang begitu penting?" tanya ana menggebu.
Tik tok tik tok
Tidak ada jawaban namun panggilan masih terus berlangsung.
"Halo Kris?" tanya ana memastikan bahwa telepon masih tersambung dengan pemiliknya.
"Aku akan mengatakan sesuatu yang begitu penting tapi aku mohon jangan hilang akal setelah aku menyampaikannya," ucap Kristi dari balik telepon.
Ana memejamkan matanya berusaha mengoperasikan pikirannya agar bisa menanggapi dengan baik apa yang akan dikatakan oleh Kristi, "Baiklah katakan Kris sebenarnya ada rahasia apa yang sejak tadi ingin kamu sampaikan?" tanya ana.
Tik tok tik tok
Lagi-lagi Kristi diam sejenak sebelum mengatakan sesuatu pada ana.
"Kris?" tanya ana lagi untuk menyadarkan Kristi bahwa telepon masih tersambung.
"A-na.." ucap Kristi terbata-bata.
"Iya Kris ada apa cepat katakanlah." Ana sudah tidak sabar menunggu perkataan yang akan dikatakan oleh Kristi.
"A-na.. Se-benarnya... A-nak.. dalam rahim mu..." Kristi sangat gugup bahkan terdengar jelas dari nada dalam teleponnya.
"Iya Kris kenapa dengan anak dalam rahim ku?" tanya ana penasaran.
"Se-benarnya.." Kristi masih tidak sanggup mengatakannya secara gamblang.
"Kris cepat katakanlah ini sudah hampir 10 menit kita berbicara di telepon," kata ana mengingat waktu yang sudah dihabiskan saat menelepon.
Hush
Suara hembusan nafas Kristi terdengar menggerebek ditelepon, "Ana, ayah dari anak mu itu anak dalam rahim mu itu sebenarnya dia adalah anak dari kak Arya."
Bruk
Smartphone ana seketika jatuh mendengar kata terakhir yang dia dengar dari balik teleponnya. Ana mengedarkan pandangannya menuju sekeliling kamarnya.
"Anak dalam rahim mu itu sebenarnya dia adalah anak dari kak Arya."
"Halo! Ana!" teriak Kristi dari balik teleponnya.
"Ah iya halo?" ana kembali mengambil smartphonenya saat sadar teleponnya masih tersambung.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kristi memastikan keadaan ana.
"Aku baik-baik saja tidak juga, tapi bisakah kamu memberitahukan padaku dimana kak Arya sekarang?" tanya ana bersiap-siap untuk keluar kamar.
"Aku dengar kak Arya berada di bandara."
"Apa?!" pekik ana kaget.
Ana kemudian menuruni anak tangga dengan cepat bersiap untuk menyusul keberadaan Arya.
"Ana kamu mau kemana?" teriak ibunya melihat ana yang berlari dengan tergesa-gesa.
"Ibu aku ada urusan sebentar aku akan kembali." jawab ana segera masuk kedalam mobil.
"Pak antarkan saya kebandara." perintah ana pada supirnya.
Supirnya yang mengerti itu menganggukan kepalanya segera melajukan mobilnya sesuai perintah ana. Beruntungnya ditempatnya hanya ada satu bandara yang dituju sehingga ana tidak perlu memberitahukan tempat lokasi secara detail yang membutuhkan banyak waktu.
Ana yang duduk di jok belakang itu sangat gelisah sambil melihat jam yang ada ditangannya. Dia terus memandangi jalanan yang padat lancar juga mengejar waktu yang terus berjalan.
Setelah sampai ana segera keluar dari mobilnya.
"Non mau saya tunggu atau ditinggal?" tanya supir itu saat ana sudah berlari namun belum begitu jauh.
"Tunggu saja saya akan segera kembali." jawab ana berjalan mundur kemudian membalikkan badannya kembali berlari menuju bandara.
Ana mengedarkan pandangannya melihat banyak sekali jadwal penerbangan.
"Sial! Kenapa aku tidak bertanya kak Arya akan pergi kemana??" maki ana dalam hatinya menyesali saat dirinya memutuskan panggilan telepon tanpa bertanya terlebih dahulu.
Ana akhirnya mengechat Kristi.
'Kris kak Arya berangkat kemana menaiki pesawat apa?' by ana.
Sesaat ana menunggu 5 menit kemudian baru muncul notif dari ponselnya.
'Singapore keberangkatan pertama pesawat Airlangga' by Kristi.
Ana mencari loket yang bertujuan menuju Singapore. Namun dilihat dari jendela pesawat Airlangga sudah lepas landas.
"Kak Arya!" Teriak ana saat itu melihat pesawatnya sudah terbang meninggi menuju tujuannya.
Ana menangis dari balik kaca bandara itu.
"Ana apa yang kau lakukan disini?" tiba-tiba ada suara Risa dari samping.
"Ris kamu ada disini?" tanya ana seraya mengelap air matanya.
"I-ya.. Apa kamu kesini untuk mencari kak Arya?" tebak Risa membuat ana terkejut.
"Apa sangat terlihat aku disini mencari kak Arya?" tanya ana gugup sambil menautkan telunjuknya.
"Iya sangat terlihat," ucap Risa kemudian berjalan kedepan meninggalkan ana.
Ana berjalan mengikuti Risa, "Ris bisa katakan pada ku kenapa kak Arya pergi dan berapa lama dia akan kembali?" tanya ana penasaran.
"Hum apakah dia sekarang begitu penting bagimu?" tanya Risa menaikan alisnya.
"Eum.." Ana sangat bingung mau menjawab apa atas pertanyaan Risa tersebut.
"Baiklah." Risa menghela nafasnya
"Dasar anak labil!" maki Risa pada ana dalam hatinya.
"Kamu tadi ingin tau kenapa berapa lama kak Arya pergi?" tanya Risa mengulangi pertanyaan ana tadi.
Ana menganggukkan kepalanya kecil.
"Kak Arya pergi untuk study dan pelatihannya. Dia akan kembali setelah 2 tahun kemudian," ucap Risa tetap berjalan sedangkan ana mematung mendengar perkataan Risa.
"Dua tahun Ris?" Tanya Ana seraya membentuk angka dua dengan jari jemarinya.
"Iya," kata Risa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kenapa begitu lama?.." tanya ana pada dirinya sendiri namun didengar oleh Risa.
"Karena cinta butuh waktu untuk sadar dan penyesalan selalu berada diakhir kejadian." Risa tersenyum sinis kemudian meninggalkan ana.
Ana tersenyum paksa melihat langit diluar bandara, "Apa kita bisa bertemu kembali setelah 2 tahun kemudian?" tanyanya pada dirinya sesaat sebelum memasuki mobil.
Pesawat Arya terbang diatas langit. Arya sedang menatapi awan dari balik kaca pesawat.
Mobil ana melaju dijalan. Ana sedang menatap padatnya jalan raya dari balik kaca mobilnya.
Diwaktu yang sama ditempat yang berbeda mereka berdua sama-sama memegang kaca.
"Ana aku akan merindukan mu." ucap Arya.
"Kak Arya aku akan merindukan kejahilan mu." ucap ana.
Telapak tangan mereka seolah-olah bersatu yang dibatasi oleh kaca jendela.