
Bayi Kristi masih dirawat dirumah sakit didalam inkubator. Dengan usia yang baru 7 bulan didalam kandungan dan berat 2,3gr bayi perempuan mungil itu diberi nama Kris Ariana. Namun sayangnya dia harus terlahir dengan detak jantung yang lemah membuatnya harus mendapatkan oksigen tambah sejak baru lahir.
Ana sepulangnya dari kantor dia menyempatkan diri untuk melihat bayi Kristi yang mungil. Didepan ruangan yang dilapisi kaca ana menatap bayi Kristi berada didalam inkubator, "Sehat-sehat disana ya." Ana berkata pelan dan tersenyum sebelum meninggalkan tempat itu.
Yudha yang baru saja datang kerumah sakit melihat ana sebelum akhirnya ana melangkah pergi. Ana tidak menyadari bahwa punggungnya ditatap oleh Yudha dari belakang. Yudha perlahan melangkahkan kakinya giliran dia melihat bayi mungilnya, "Nak apa kau senang? tadi ibu sambung mu menjenguk dirimu. Cepatlah sembuh dan pulang bersama kita, kemudian kita bermain bersama." Yudha meletakkan tangan di kaca ruangan seolah-olah dia menyentuh bayinya sendiri.
"Aku merindukanmu," kata Yudha tanpa arah tujuan dia hanya menatap bayi kecilnya.
Semenjak kematian kristi, hubungan Yudha dan ana tidak begitu baik bahkan ana tinggal bersama orang tuanya saat ini.
Ana baru saja melepaskan sepatunya mendengar berita lewat televisi yang diputar oleh ayahnya.
"Dikabarkan Butik Darmawan sedang dalam krisis keuangan. Pembelian saham anjlok besar-besaran bahkan investor yang menanamkan modalnya merasa mengalami kerugian."
Mendengar berita ana langsung duduk disofa bersama ayahnya.
"Sementara itu investor tertinggi pada butik Darmawan adalah tuan A.K yang bukan lain adalah besannya. Kabar miring yang kami dengar bahwa jika butik Darmawan terus mengalami krisis kemungkinan besar butik akan diambil alih oleh Tuan A.K sendiri."
Tuan A.K langsung mematikan televisinya setelah menonton berita yang ditayangkan, "Bagaimana ana pendapat mu tentang berita yang baru saja ditayangkan?" tanya tuan A.K pada ana.
Ana tersenyum kecil menanggapi ayahnya, "Aku tidak punya pendapat yang ingin ku sampaikan." Ana melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Sampai kapan kamu akan terus dia bungkam seperti ini?" tanya ayahnya dengan nada memburu.
Ana menghentikan langkahnya mendengar perkataan ayahnya, "Sampai aku bisa menemukan arah jalanku." Ana menghela nafasnya melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Tuan A.K merasa dirinya telah gagal membuat ana bahagia. Tuan A.K berjalan menuju meja makan dimana ada istrinya yang sedang menyiapkan makan malam.
"Kenapa murung begitu?" tanya istrinya seraya membawa hidangan pada tangan kanannya.
Tuan A.K sejenak diam menatap makanan yang terhidang, "Kenapa kamu tetap semangat memasak? Padahal yang memakannya saja belum tentu menikmatinya."
Istrinya tersenyum duduk sambil memegangi kedua tangan tuan A.K, "Aku hanya menjalankan semua sesuai dengan kewajiban ku." Istrinya terus tersenyum menatapi tuan A.K.
"Kamu memiliki hati yang besar Jesslyn." Tuan A.K menyuap hidangan yang tersaji dipiringnya.
Esok paginya. Ana berangkat kekantor bersama ayahnya.
"Ana bisa ikut keruangan ayah sebentar? kita ada private meeting dengan Direktur Victor hari ini," perintah Tuan A.K didepan pintu kantor.
Ana menganggukan kepalanya mengikuti Tuan A.K dari belakang. Banyak karyawan menggosipi tentang hubungan ana dengan Yudha. Pasalnya hubungan pernikahan mereka baru berjalan beberapa hari.
"Apakah semua ini skandal?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kenapa semuanya terlihat kacau disini?"
"Dengar-dengar anaknya dokter Kris diadopsi sama Yudha dan ana."
"Baru saja menikah kenapa nona ana tidak berbulan madu?"
Para karyawan tidak ada habisnya membicarakan tentang dirinya. Ana tetap berjalan meskipun telinganya memanas mendengar semua pembicaraan tentang dirinya.
"Meskipun banyak berita miring tentang anda tapi anda masih tetap menjalankan meeting dengan baik," puji direktur pada ana.
"Pekerja yang profesional tidak mencampur adukkan urusan rumah tangga dengan pekerjaan."
Direktur tersenyum bangga mendengar perkataan ana, "Anda emang wanita hebat yang berbakat suami anda pasti bangga memiliki wanita seperti anda." Direktur terus saja memuji-muji ana.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan menuju lapangan kerja? kebetulan disana dekat dengan resto dan makanannya enak-enak." Direktur mengajak ana dan tuan A.K untuk pergi kelapangan tempat yang akan menjadi photoshoot sekaligus mengajak mereka berdua untuk makan bersama.
Ana menganggukan kepalanya setelah melihat ana menganggukkan kepalanya tuan A.K tersenyum kecil, "Boleh juga ayo mari, semakin cepat semakin bagus dan segera selesai." Tuan A.K mengarahkan tangannya menuju pintu keluar.
Didalam mobil ana hanya diam duduk menyibukkan diri dengan laptopnya. Tuan A.K dan direktur tampak bercengkrama ria meskipun begitu tuan A.K mencuri pandang menatapi ana yang tampak mengisolasikan dirinya.
Sesampainya ditempat yang dituju Tuan A.K kagum melihat keindahan tempat tersebut, "Tempatnya bagus sekali, tidak heran anda memilih lokasi ini untuk shootnya."
Direktur tersenyum menanggapi perkataan tuan A.K, "Sebenarnya tuan Victor sendiri yang memilihnya dia memang suka dengan yang berbau aesthetic."
Tuan A.K termangu-mangu berjalan mengikuti langkah direktur. Ana dari belakang mencatat semua pembicaraan antara tuan A.K dengan direktur Victor.
"Tuan A.K disana resto yang saya maksud makanannya lumayan lezat apa anda ingin mencobanya?" Direktur menunjuk restoran yang ada sebelah kanan lokasi.
Tuan A.K melirik resto uang dimaksud dia menganggukkan kepalanya, "Boleh juga ayo kita makan bersama."
Mereka berjalan menuju restoran yang direkomendasikan oleh direktur Victor. Duduk didekat sound dan telivisi ana menunggu tuan A.K dan direktur memesan makanannya.
"Tempatnya benar-benar rileks dan santai. Tempat yang cocok untuk melepaskan penat dari semua pekerjaan yang melelahkan," puji tuan A.K melihat sekitar restoran.
Direktur tersenyum, "Saya senang anda puas berada disini." Beberapa saat kemudian pelayan mengantarkan pesanan mereka.
Baru saja director menyuap hidangan tiba-tiba dering telepon berbunyi dari balik sakunya, "Maaf permisi saya keluar dulu mengangkat panggilan telepon." Direktur berjalan keluar dari resto yang memang tempat duduk mereka cukup jauh dari pintu depan.
Ana meminum minumannya kemudian dia mendengar berita di tv.
"Butik Darmawan resmi menjadi hak milik Tuan A.K. Tuan Darmawan menyebutkan bahwa dia tidak bisa lagi mengendalikan krisisnya dibutik tersebut."
"Kabar mengejutkan dibalik kematian kristi serta alih hak milik butik Darmawan kembali mengungkapkan hubungan tuan muda Yudha dengan dokter Kristi. Dikabarkan bahwa anak yang dilahirkan adalah anak kandung Yudha yang kini diadopsi oleh Yudha dengan istrinya Ana yang merupakan putri dari Tuan A.K."
Ana mengunyah pelan makanannya tak ada satu katapun untuk berita yang dia dengar.
"Ana apa kamu ingin cerai dari Yudha?"
Pertanyaannya ayahnya sontak membuat ana terkejut, "Apa yah?" tanya ana meminta ayahnya mengulang kembali pertanyaannya.
"Bukankah ini yang kamu inginkan? dari meminta Arya sebagai wali nikah hingga kini bukankah kamu tidak menginginkan hubungan ini?"
Ana terdiam mendengar perkataan ayahnya.
"Sekarang Ayah sudah mengambil alih butik tuan Darmawan kamu tidak akan diancam lagi. Dulu Tuan Darmawan mengancam ayah dengan kasus ibu kamu. Kini dia sendiri memakan kasus anaknya."
Tuan A.K berusaha membuat ana tersenyum meskipun dia gagal melakukannya, "Ana bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu tidak bisa hidup bersama dengan Yudha bukan? maka bercerailah jika kamu tidak ingin melanjutkan lagi hubungan ini. Ayah tidak ingin kamu murung terus-terusan seperti ini."
Tuan A.K memegang tangan Ana dengan kedua tangannya, "Ayah memang bukan ayah yang hebat. Tapi setidaknya ayah ingin kamu bahagia. Menjadikan dirimu terisolasi seperti ini diam membisu membuat hati ayah sakit. Carilah bahagiamu ana, ayah tidak akan memaksamu."