
Brak bruk semua tas berisi barang barang itu dilempar begitu saja.
Lia kini berada disebuah rumah. Tas yang berisikan barang barang milik Lia dilempar oleh sang ayah. Lia masih belum mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Sang nenek tiba-tiba keluar dari dalam rumah.
"Kamu pulang.."
"Kemana dia pergi.."
"Sudahlah harusnya kamu gak menangisi dia."
Ucapan sang nenek itu berhasil membuat Lia tersadar. Lia segera menghapus air matanya yang terus mengalir sejak tadi.
"Ayo masuk."
"Sini kamu duduk dulu kita makan malam dulu." Ucap sang nenek. Kemudian menghidangkan beberapa makanan dimeja makan.
"Nenek punya usaha kecil-kecilan." Neneknya itu mulai menjelaskan tentang hidupnya kepada Lia.
"Kamu belajar yang rajin yha nanti supaya jadi orang sukses."
"Makan yang banyak."
"Saya ibu dari ibu kandung kamu."Ucap sang nenek kemudian makan bersama dengan Lia.
"Nek boleh nambah?" tanya Lia tanpa memikirkan apapun, perutnya terlalu lapar saat ini.
"Makan yang banyak nenek gak mau punya cucu kayak sapu lidi hahhahahaha." Ucap sang nenek kemudian menuangkan nasi kepiring Lia.
"Nek aku mau ayamnya lagi."
"Ini ambil semua abisin gapapa."
Lia makan sangat lahap. Entah kenapa Lia merasa nyaman dan tidak merasa asing berada disini. Rumah kecil dari kayu ini membuat suasana hati Lia sangat damai. Desain minimalis seperti rumah Jepang menjadikan rumah ini idaman banyak orang.
"Udah selesai makannya?" tanya nenek itu saat Lia sudah menghabiskan makanannya.
"Udah nek." saut Lia sambil meneguk segelas air mineral.
Kemudian Lia dan sang nenek sama-sama membersihkan meja makan dan perabitan kotor yang digunakan untuk makan tadi.
"Lia ini kamar kamu."
"Hump huh berat sekali tasnya isi apa aja." gurau sang nenek membawakan tas Lia.
"Hehehhe." Lia terkekeh dengan tingkah sang nenek. Padahal tas Lia isinya hanya baju saja tapi sang nenek melebih-lebihkannya.
"Kamu gapapakan tidur sendiri."
"Iya nek gapapa."
Lia mulai membersihkan kamarnya dan menaruh beberapa barang miliknya. Menggunakan kasur matras yang tipis dan juga selimut tebal menemani tidur Lia hari ini.
Malam yang sepi.. Lia terus memandangi dinding kosong itu. Ruangan yang yang masih banyak tempat kosong tanpa hiasan.
Lia tertidur pulas dengan dinginnya malam.
"Eugh." Lia meregangkan otot-otot tubuhnya.
Baru pertama kali Lia tidur dikasur yang tipis seperti ini. Tangan dan lehernya terasa nyeri dan pegal. Berkali-kali Lia meregangkan lehernya itu.
"Kamu udah bangun?" Ucap sang nenek yang sedang menyapu itu.
Lia kemudian segera kekamar mandi. Melakukan kegiatan pagi seperti biasanya.
"Nek..." Lia ragu untuk bertanya kepada sang nenek. Namun dirinya juga ingin tau yang sebenarnya.
"Kenapa?"
"Tanya aja." Ucap sang nenek yang terus melanjutkan kegiatan rumahnya itu. Kini sang nenek melanjutkan kegiatan memasaknya.
Lia kemudian membantu sang nenek didapur. Sambil berpikir apa yang akan dia tanya terlebih dahulu.
"Nek nanti selesai makan nenek kemana?" Tanya Lia yang sebenarnya ingin mengatur waktu untuk interogasi.
"Nenek maunya jaga toko..." Ucap nenek terhenti saat memasukan ikan ke penggorengan.
"Tapi karena kamu datang jadi nenek akan menemani kamu hari ini."
"Nenek akan ceritakan semuanya."
"Besok kita keliling supaya kamu tau tempat ini."
"Hummm enak banget nek." Ucap Lia dengan bersemangat untuk makan.
Lia baru pertama kali merasakan makanan seperti ini. Bahkan Lia terus saja menambah porsi makannya itu.
"Kalau kayak gini kamu gak akan kurus lagi hahahahah." Ucap sang nenek sangat bahagia melihat tingkah laku cucunya itu.
"Nek nenek sendiri um disini." Mulut Lia yang penuh makanan itu tetep berusaha untuk bertanya. Lia tidak bisa menghentikan rasa ingin taunya yang tinggi itu.
"Nenek punya anak satu..."
"Nanti nenek ceritain." Ucap sang nenek melanjutkan makannya.
Lia pun melakukan hal yang sama.
"Sini duduk." Ucap sang nenek menyuruh Lia duduk disampingnya.
Lia masih sibuk melihat isi kamar yang dia masuki ini. Penuh dengan foto wanita cantik putih. Tinggi body bagus layaknya model.
"Ini anak nenek." "Ibu kandung kamu." mendengar itu Lia segera mengambil salah satu foto yang ada didekatnya. Memandangi wajah cantik yang ada difotonya itu. Lia sangat ingin menjadi wanita cantik seperti difoto itu.
"Cantikkan kayak nenek."
"Ahhahahah." Nenek dan Lia tertawa serempak.
Lia bukannya duduk tetapi terus menerus menelusuri isi kamar itu. Lemari yang berisi baju-baju dan juga beberapa tas sepatu.
"Nek ibu dulu kerja apa?" Tanya Lia kepada sang nenek.
Sang nenek emang tidak ingin bercerita banyak tentang anaknya. Yang menurutnya Lia perlu tau saja dia ceritakan. Sang nenek tidak ingin Lia terluka karena kisah sang ibu.
"Ibu mu dulu seorang model cantik," "Banyak yang mengenali dirinya." Ucap sang nenek sambil mengingat anak tersayangnya itu.
"Lalu sekarang dimana ibu?" Tanya Lia yang masih sangat penasaran dengan dirinya ini.
"Ibu mu sudah meninggal." Sang nenek tidak mampu menahan air matanya. Mengingat bahwa anaknya sudah tiada itu tidak bisa dia pungkiri lagi.
"Nenek itu usaha nenek sendiri?" Alih-alih bertanya tentang sang ibu Lia memilih mengajukan pertanyaan yang lain. Lia tidak ingin membuat sang nenek menangis.
"Iya itu usaha nenek udah lama banget nenek buka toko semenjak suami nenek meninggalkan nenek."
"Meninggalkan?" Tanya Lia binggung.
"Iya begitulah." Sang nenek tidak ingin mengungkit tentang dirinya.
"Nenek hidup bersama ibu kamu yang masih dua tahun itu."
Lia mulai mendengar serius cerita dari sang nenek. Melihat raut wajah sang nenek yang penuh kesedihan itu membuat Lia ingin memeluk neneknya itu.
"Bermodalkan uang sedikit nenek banting tulang hingga bisa membuka toko, nenek hanya bisa menyekolahkan ibu kamu hanya tamatan SMP."
"Untungnya ibu kamu cantik karena gen nenek."
"Hahahahahha." Lia tertawa terbahak-bahak bisa-bisanya neneknya itu sePD ini.
"Banyak tawaran yang datang ke ibu kamu untuk menjadi seorang model, hingga ibu kamu dianiaya oleh bosnya membuat dia hamil dan melahirkan kamu."
"Nenek enggak tau kamu dibawa oleh ibu kamu saat itu, yang nenek tau ibu kamu sudah menjadi jenazah yang dibawa kerumah."
Lia yang mendengar itu menjadi penasaran dibalik yang sebenarnya terjadi. Apakah itu beneran atau bohongan Lia masih belum menemukan kebenarannya.
"Dua tahun setelahnya nenek menemukan mu disebuah perumahan, nenek saat itu ingin mengambil kamu.. tapi seorang pria dewasa itu bilang akan mengadopsi kamu dan menjaga kamu dengan baik."
Melihat raut wajah nenek yang mulai bahagia membuat Lia sedikit senang dengan ayah angkatnya.
"Jadilah nenek berpesan jika nanti ada masalah bawa dia kerumah nenek aja." Ucap sang nenek mengakhiri ceritanya
Lia masih sangat bingung dia belum menemukan ujung pangkal yang sebenarnya.
"Ouh yha nama lengkap kamu sebenernya Anastasya falia putri A.K." ucap sang nenek menyerah beberapa data yang ada di lemari.
"Nek aku mau ubah nama aku jadi Anastasya aja."
Ucap Lia yang kini ingin mengubah nama panggilan itu.
"Ana? Tasya?" sang nenek bertanya tentang sebutan panggilan yang cocok untuk cucunya itu.
"Ana aja." sudah bulat keputusan Lia tidak ingin mengingat datanya yang dulu lagi.
Ana nama itu yang kini menjadi jati dirinya. Dia tidak ingin lagi mengingat masa lalunya yang kelam itu. Esok harinya nenek mengajak ana keliling komplek perumahan dan ana berusaha untuk menghafal jalanan dan toko yang ada.
Moga suka yha jangan lupa saran dan likenya.🤗🤗