Complicated Story

Complicated Story
17 Hubungan Yudha dengan Kristi



"Ana!" Teriak Kristi terlihat sangat jelas dia sangat senang dan langsung memeluk ana.


Begitu juga dengan ana dia juga memeluk Kristi. Mereka bertemu didepan toko buku novel. Seperti biasa Kristi masih suka untuk mengoleksi novel. Setelah selesai berpelukan Kristi langsung menarik ana untuk masuk kedalam toko.


Didalam toko Kristi terus bercerita tentang kehidupannya dikampus.


"Ana kamu Pasti gak akan mengira kalau aku udah punya pacar." Kata Kristi sembari menutup senyumnya itu.


Ana yang mendengar itu langsung kaget.


"Serius Kris?" Tanyanya benar-benar terkejut.


"Iya ana dan kamu tau apa yang lebih mengejutkan?"


"Tidak." Kata ana bingung sambil terus memilih buku di rak itu.


"Cowok yang aku kagumi ditoko buku waktu itu kamu tau ana?" Mendengar itu ana sejenak berpikir untuk mengingat kembali masa lalu.


"Hum lupa."


"Cowok yang aku bilang keren dengan suara seksinya itu jadi pacar aku! ana." Teriak Kristi loncat loncat sambil memegang tangan ana.


Ana yang merasa sedikit risih dengan sikap Kristi langsung melihat sekeliling, "Kris dilihat orang."


Kristi yang diperingati oleh ana langsung menghentikan aksinya itu, "Ana aku seneng banget bisa jadian sama dia." Kristi yang malu-malu bahagia itu menutup wajahnya dengan buku yang dia pegang.


"Kris makan siang yuk aku lapar." Kristi kemudian mengangguk dan mengambil beberapa buku yang dia pilih untuk dibayar.


"Kris buku segitu banyak kamu pajang aja atau kamu baca?." Tanya ana heran dengan Kristi yang selalu membeli buku lebih dari 2 biji.


"Hehhehe." Mendengar pertanyaan ana Kristi hanya terkekeh dan kemudian tertawa pelan.


"Aku dirumah gak ada kerjaan yha udah baca buku aja deh kerjaannya." Kata Kristi menerangkan alasan dia membeli banyak buku.


Ana dan Kristi kemudian berjalan dipinggir jalan. Mereka dengan asyik bercerita satu sama lain menukar pikiran. Sesekali mereka tertawa saat menceritakan hal yang lucu atau hal yang menjengkelkan tentang guru mereka masing-masing.


"Ehh ana makan disina aja yuk." Tunjuk Kristi kesalah satu kedai makan yang ada diseberang jalan.


"Wahh kayaknya enak ayo kesana." Ana kemudian menarik tangan Kristi.


Ana dan Kristi kemudian melihat kekiri dan kekanan untuk menyeberang.


"Ana kamu mau pesen apa?" Tanya Kristi saat mereka melihat spanduk menu makanan yang tersedia.


"Aku mau spaghetti bolognese susu coklat sama roti keju aja." Ucap ana sambil melihat satu persatu menu yang ada disana.


"Aku juga deh." Kata Kristi kemudian memesan makanannya dimeja kasir.


Ana dan Kristi kembali bercerita saat mereka hendak memilih tempat duduk. Namun tiba-tiba ana tidak sengaja menabrak seseorang.


"Eh.. maaf maaf." Ucap ana dan seseorang yang dia tabrak secara serempak.


"Ana kamu gapapa?" Tanya Kristi dan membantu ana untuk membersihkan pakaiannya.


Ana dan Kristi kemudian melihat seseorang yang ditabrak oleh ana. Dan ternyata pria itu ada Yudha.


"Yudha kamu ada disini?" Tanya ana kaget melihat Yudha disana.


Yudha yang bingung hanya menaiki alisnya, "Iya kenapa?."


Sedangkan kristi tambah kaget lagi ternyata ana mengenal pria tersebut, "Ana kamu kenal dia?" Tanya Kristi terkejut.


"Iya aku kenal dia.." jawab ana ragu dengan apa yang dia katakan.


"Kris kamu disini?" Pertanyaan Yudha membuat ana bingung kembali.


"Kris kamu kenal dia juga?" Kristi bingung mau bicara apa seperti banyak pertanyaan dan jawaban yang ada dipikirannya.


"Ana, dia pacar aku yang aku ceritain."


Betapa terkejutnya ana mendengar pengakuan dari Kristi. Seketika ada sesuatu yang menggemparkan dirinya.


Kini mereka duduk dimeja disudut kedai yang posisinya dekat jendela depan.


"Wah.. jadi kalian itu sahabatan." Kata Yudha pura-pura belum mengetahui apa-apa.


Padahal Yudha selalu mencari informasi tentang ana. Semenjak SMA Yudha mengetahui keberadaan ana mulai sana Yudha mencari segala informasi tentang ana.


"Hahahah tanyain dia aja aku juga bingung mau jelasin dari mana." Kata Kristi malu malu sambil memakan rotinya itu.


Mereka kemudian makan bersama dimeja itu. Mereka juga sesekali diselingi tawa ditengah cengkrama mereka.


"Ahahhaha gimana yud perasaan kamu punya pacar kayak Kristi?" Tanya ana sedikit terkikik karena cerita Kristi dan Yudha tadi.


"Yha gitu deh na aku nyesel jadian sama dia kenapa cerewet banget aku harus rajin-rajin bersihin telinga." Kata Yudha setengah bercanda membuat ana tertawa sejadi-jadinya.


"Awas yha kamu nanti pulang gak aku bales chatnya." Ancam Kristi terlihat setengah marah namun masih menahan gelak tawanya.


"Wah-wah diancam tuh yud entar gak dikasih jatah lagi hahahahah." Ana benar-benar tertawa melihat pasangan sejoli yang sedang dimasbuk asrama ini.


Dia tidak menyangka kalau ternyata Kristi jadian dengan Yudha. Ana benar-benar bahagia saat ini.


"Eh.. udah agak sore nih aku mau pulang dulu yha." Pamit ana hendak bangun dari meja itu.


"Eh.. ana kamu pulang sana siapa?"


"Nanti aku telepon supir." Jawab ana dengan santai.


"Yha udah aku pulang duluan yha kalian diem aja disini mesra-mesraan hahaha." Canda ana kepada mereka berdua.


"Hahah ya udah hati-hati ana." Kristi kemudian memeluk ana sebagai salam perpisahan.


"Da.. ana." Kata Yudha sambil melambaikan tangan.


"Da.." Ana kemudian keluar dari kedai tersebut.


Beberapa langkah ana berjalan dia hendak mampir dulu kesalah satu toko untuk membeli camilan.


"Beli yang mana yha?" Tanya ana pada dirinya sendiri bingung ingin membeli yang mana.


Dikeranjang belanjaannya sudah penuh dengan susu, roti, biskuit, dan keju. Kini dia ingin membeli beberapa mie instan.


"Udah punya rumah masih beli stock makanan kayak anak kost aja." Ucap pria itu disamping ana.


Ana yang merasa dirinya diajak berbicara itu langsung menoleh orang itu. Ana langsung membulatkan matanya kaget. Dia kini lagi-lagi bertemu dengan seseorang yang semalam melecehkannya itu.


"Kamu ngapain disini?" Seperti tidak ada sopan santun ana tidak memakai kata yang menunjukkan orang itu lebih tua daripada dirinya.


"Humm.. sepertinya kamu sudah lupa kalau saya lebih tua daripada kamu." Kata pria tersebut kepada ana.


Sedangkan ana yang benar-benar jengkel itu langsung hendak pergi dari sana. Dia segera memasukan asal mie instan yang ada kemudian menuju kasir untuk membayar tagihannya.


Tapi pria itu menguntitnya hingga diantrian kasir.


"Buru-buru sekali nona kamu mau pergi kemana?" Pria itu tersenyum manis dibelakang ana.


Ana melihat wajah pria itu dari pantulan jendela depan. Ana benar-benar kesal dengan pria yang ada dibelakangnya saat ini.


Selesai membayar tagihannya ana segera menelepon supirnya. Namun tiba-tiba ponsel ana dimatikan oleh pria tersebut.


"Kakak maunya apa sih?" Tanya ana berusaha sedikit sopan dengan pria yang ada didepannya ini.


Tapi tetap saja ana kini sedang badmood menghadapi pria yang sangat menjengkelkan bagi dirinya.


"Gak ada." Kata pria tersebut namun tiba-tiba menarik tangan ana.


"Heh!!! Lepasin." Teriak ana dia terus memberontak untuk bisa lepas dari cengkraman pria itu.


Namun tangan pria yang besar itu dengan badan ana yang kecil serasa tidak sebanding.


"Tolong!" Teriak ana membuat para warga sekitar menoleh.


Pria yang menarik ana kemudian menatap ana malas dengan aksi ana yang sudah lumrah itu.


"Pak tolong jangan lakukan kekerasan dengan wanita." Kata salah satu warga kepada pria tersebut.


"Maaf pak dia istri saya ingin ajak dia pulang bapak gak perlu khawatir."


Jleb


Ana seketika kehilangan alam sadarnya, "Apa dia bilang?" batin ana memaki pria itu.


Ana kemudian dipaksa masuk kedalam mobil pria itu.